Javascript must be enabled to continue!
Colletotrichum spp. Penyebab Penyakit Antraknosa Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum) di Ciapus, Bogor, Jawa Barat
View through CrossRef
AbstrakAntraknosa merupakan penyakit utama penyebab rendahnya produksi cabai. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi Colletotrichum penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabai di Ciapus, Bogor, Jawa Barat. Identifikasi morfologi dilakukan dengan mengamati pertumbuhan, warna, dan bentuk koloni miselium. Karakter mikromorfologi dievaluasi dengan mengamati bentuk, panjang, dan lebar konidia. Identifikasi secara molekuler dengan mengamplifikasi DNA cendawan menggunakan primer ITS5F dan ITS4R, sekuensing, analisis BLAST, serta analisis filogeni. Uji patogenititas dilakukan dengan menginokulasi buah cabai menggunakan 20 mL suspensi inokulum (105 konidia/mL), dilanjutkan dengan mengamati luas gejala hingga 6 hari setelah inokulasi (hsi). Semua isolat menunjukkan koloni berbentuk bulat, berwarna putih dan keabuan dengan kecepatan tumbuh koloni berkisar antara 2,0–6,4 mm/hari. Keempat isolat memproduksi konidia berbentuk silindris, berujung tumpul dengan panjang dan lebar yang beragam. Hasil analisis molekuler menunjukkan bahwa isolat CSColl-2, CSColl-3, dan CSColl-4 teridentifikasi sebagai Colletotrichum gloeosporioides, sedangkan CSColl-7 sebagai C. brevisporum. Semua isolat patogenik terhadap buah cabai yang diuji menyebabkan luas gejala berkisar antara 3,6–10,0 mm2. Informasi spesies Colletotrichum spp. dari penelitian ini bermanfaat untuk menentukan tindakan pengendalian yang tepat dan prapemuliaan perakitan cabai tahan penyakit antraknosa.AbstractAnthracnose is the main disease causing low chili production. This research aims to identify Colletotrichum which causes anthracnose disease in chili plants in Ciapus, Bogor, West Java. Morphological identification is carried out by observing the growth, color and shape of the mycelium colonies. Micromorphological characters were evaluated by observing the shape, length and width of the conidia. Molecular identification by amplifying fungus DNA using primers ITS5F and ITS4R, sequencing, BLAST analysis, and phylogeny analysis. The pathogenicity test was carried out by inoculating chili fruit using 20 μL of inoculum suspension (105 conidia/mL), followed by observing the extent of symptoms up to 6 days after inoculation (hsi). All isolates showed round, white and gray colonies with colony growth speeds ranging from 2.0–6.4 mm/day. The four isolates produced cylindrical, blunt-tipped conidia with varying lengths and widths. The results of molecular analysis showed that isolates CSColl-2, CSColl-3, and CSColl-4 were identified as Colletotrichum gloeosporioides, while CSColl-7 was C. brevisporum. All pathogenic isolates tested for chili fruit caused symptom areas ranging from 3.6–10.0 mm2. Species information Colletotrichum spp. This research is useful for determining appropriate control measures and pre-breeding of anthracnose-resistant chili plants.
LP2M Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Title: Colletotrichum spp. Penyebab Penyakit Antraknosa Pada Tanaman Cabai Merah (Capsicum annuum) di Ciapus, Bogor, Jawa Barat
Description:
AbstrakAntraknosa merupakan penyakit utama penyebab rendahnya produksi cabai.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi Colletotrichum penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabai di Ciapus, Bogor, Jawa Barat.
Identifikasi morfologi dilakukan dengan mengamati pertumbuhan, warna, dan bentuk koloni miselium.
Karakter mikromorfologi dievaluasi dengan mengamati bentuk, panjang, dan lebar konidia.
Identifikasi secara molekuler dengan mengamplifikasi DNA cendawan menggunakan primer ITS5F dan ITS4R, sekuensing, analisis BLAST, serta analisis filogeni.
Uji patogenititas dilakukan dengan menginokulasi buah cabai menggunakan 20 mL suspensi inokulum (105 konidia/mL), dilanjutkan dengan mengamati luas gejala hingga 6 hari setelah inokulasi (hsi).
Semua isolat menunjukkan koloni berbentuk bulat, berwarna putih dan keabuan dengan kecepatan tumbuh koloni berkisar antara 2,0–6,4 mm/hari.
Keempat isolat memproduksi konidia berbentuk silindris, berujung tumpul dengan panjang dan lebar yang beragam.
Hasil analisis molekuler menunjukkan bahwa isolat CSColl-2, CSColl-3, dan CSColl-4 teridentifikasi sebagai Colletotrichum gloeosporioides, sedangkan CSColl-7 sebagai C.
brevisporum.
Semua isolat patogenik terhadap buah cabai yang diuji menyebabkan luas gejala berkisar antara 3,6–10,0 mm2.
Informasi spesies Colletotrichum spp.
dari penelitian ini bermanfaat untuk menentukan tindakan pengendalian yang tepat dan prapemuliaan perakitan cabai tahan penyakit antraknosa.
AbstractAnthracnose is the main disease causing low chili production.
This research aims to identify Colletotrichum which causes anthracnose disease in chili plants in Ciapus, Bogor, West Java.
Morphological identification is carried out by observing the growth, color and shape of the mycelium colonies.
Micromorphological characters were evaluated by observing the shape, length and width of the conidia.
Molecular identification by amplifying fungus DNA using primers ITS5F and ITS4R, sequencing, BLAST analysis, and phylogeny analysis.
The pathogenicity test was carried out by inoculating chili fruit using 20 μL of inoculum suspension (105 conidia/mL), followed by observing the extent of symptoms up to 6 days after inoculation (hsi).
All isolates showed round, white and gray colonies with colony growth speeds ranging from 2.
0–6.
4 mm/day.
The four isolates produced cylindrical, blunt-tipped conidia with varying lengths and widths.
The results of molecular analysis showed that isolates CSColl-2, CSColl-3, and CSColl-4 were identified as Colletotrichum gloeosporioides, while CSColl-7 was C.
brevisporum.
All pathogenic isolates tested for chili fruit caused symptom areas ranging from 3.
6–10.
0 mm2.
Species information Colletotrichum spp.
This research is useful for determining appropriate control measures and pre-breeding of anthracnose-resistant chili plants.
Related Results
Pengaruh Aplikasi Kitosan Antifungi Untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa Pada Cabai
Pengaruh Aplikasi Kitosan Antifungi Untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa Pada Cabai
Penyakit antraknosa (Colletotrichum spp.) dapat menyebabkan rendahnya kuantitas maupun kualitas buah yang dihasilkan. Untuk menghindari penggunaan pestisida sintetik maka diperluka...
Penerapan Model Biointensif untuk Mengendalikan Hama pada Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.)
Penerapan Model Biointensif untuk Mengendalikan Hama pada Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.)
Tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura dari famili solanaceae yang banyak dibudidayakan secara komersial di Indonesia khususnya di Sulaw...
Kompatibilitas persilangan interspesifik pada spesies cabai
Kompatibilitas persilangan interspesifik pada spesies cabai
SariPeningkatan produksi cabai (Capsicum sp.) dapat dilakukan dengan melakukan diversifikasi jenis baru dari hasil persilangan antar spesies. Tujuan penelitian ialah untuk mempelaj...
Change in Iodine Contents during Ripening of two <i>Capsicum annuum L.</i> Cultivars Fruits at Brazzaville, CONGO
Change in Iodine Contents during Ripening of two <i>Capsicum annuum L.</i> Cultivars Fruits at Brazzaville, CONGO
To identity iodine, assessits concentration and analyse the variation of this concentration following the ripeness stages, its titrating from Capsicum annuum L. dried fruit extract...
EFISIENSI USAHATANI CABAI MERAH DI KECAMATAN MIRIT KABUPATEN KEBUMEN
EFISIENSI USAHATANI CABAI MERAH DI KECAMATAN MIRIT KABUPATEN KEBUMEN
Usahatani cabai merah di Kabupaten Kebumen sebagian besar berada di Kecamatan Mirit. Produksi cabai merah di Kecamatan Mirit mengalami peningkatan produksi pada tahun 2012 dan meng...
Perancangan Interface Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Tanaman Cabai dengan Metode Extreme Programming (XP)
Perancangan Interface Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Tanaman Cabai dengan Metode Extreme Programming (XP)
Para petani masih sering mengalami kendala pada proses pemeliharaan tanaman cabai, petani masih sering menemui kendala penyakit sehingga sangat merugikan petani karena hasil panen ...
EFEKTIVITAS KITOSAN ASAL CANGKANG RAJUNGAN DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT MOSAIK YANG DISEBABKAN Tobacco mosaic virus (TMV) PADA TANAMAN CABAI MERAH
EFEKTIVITAS KITOSAN ASAL CANGKANG RAJUNGAN DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT MOSAIK YANG DISEBABKAN Tobacco mosaic virus (TMV) PADA TANAMAN CABAI MERAH
Rendahnya produktivitas cabai merah (Capsicum annuum L.) disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya gangguan penyakit yang disebabkan oleh cendawan, bakteri, dan virus. Tobacco m...
Uji Ketahanan Beberapa Varietas Tanaman Cabai Rawit Terhadap Penyakit Antraknosa
Uji Ketahanan Beberapa Varietas Tanaman Cabai Rawit Terhadap Penyakit Antraknosa
Telah dilakukan penelitian pada beberapa varietas tanaman cabai rawit yang duji ketahanan dan masainkubasinya dari cendawan Colletotrichum spp penyebab penyakit antraknosa. Rancang...

