Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PERILAKU JURNALIS DALAM PENYELENGARAAN PERS DI BIMA

View through CrossRef
Penelitian  ini  berjudul “Perilaku  Jurnalis  dalam  Penyelenggaraan  Pers  di  Bima”. Setelah rezim Orde Baru tumbang “Revolusi Mei 1998”, kini Indonesia mulai memasuki era keterbukaan. Rakyat Indonesia, termasuk Pers, juga mulai menikmati kebebasan berbicara, berkumpul dan berorganisasi. Departemen Penerangan, yang dulu dikenal sebagai lembaga pengontrol  media,  dibubarkan.  UU  Pers  pun  diperbaiki dengan  UU  No.  40  tahun  1999 tentang Pokok Pers. Dihilangkannya pembredelan Pers oleh negara. Dibukanya kesempatan untuk  mendirikan  Pers  seluas-luasnya.  Bima  sebagai  salah  satu  kota  administratif  yang berada di pulau Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat tentu saja memiliki lembaga pers yang didirikan oleh masyarakatnya. Keberadaan pers dalam suatu sistem masyarakat Bima menjadi sangat penting untuk membangun Bima (Kota Bima dan Kabupaten Bima) terutama dalam penyebaran informasi. Untuk mengetahui bagaimana perilaku jurnalis dalam penyelenggaraan  pers  di  Bima,  maka  penelitian  ini  dilakukan.    Dengan    menggunakan metode  penelitian  kualitatif, peneliti menemukan fenomena perilaku jurnalis di Bima: (1) Subyek penelitian mengklaim diri sebagai jurnalis professional. Kalau dilihat dari perilaku mereka dalam menjalankan aktivitas jurnalismenya, hanyak hal yang menyalahi etika jurnalis professional. Mereka lebih mengandalkan formalitas, seperti mereka memiliki media resmi, ada kartu pers, melakukan aktivitas jurnalisme secara teratur, tidak memeras dan berbagai perilaku yang mereka anggap itu tidak menyalahi UU maupun KEJI, padahal banyak hal yang diatur dalam regulasi tersebut yang mereka langgar. (2) Membangun relasi yang sangat akrab dengan sumber berita.   Padahal, relasi yang "mesra bisa saja akan mempengaruhi jurnalis dalam memberitakan suatu kasus. Ketika jurnalis sudah akrah dengan pejabat yang memiliki kasus, maka akan mempengaruhi suhjektivitas jurnalis dalam memberitakan kasus tersebut. (3) Sebagian subyek penelitian mengatakan sulit untuk membuktikan jurnalis yang menerima amplop.  Tapi ada  juga  instrumen penelitian  yang  mengaku  menerima amplop berserta isinya, asalkan tidak meminta kepada sumber berita. (3) Selain menjalankan aktivitas resminya sebagai pencari informasi, ada juga jurnalis yang melakukan kegiatan-kegiatan lain. Seperti menjual hasil karya foto hasil dari foto saat menjalankan tugas jurnalistiknya. (4) Perilaku  terakhir  yang  berhasil  diidentifikasi  dalam  penelitian  ini  adalah  adanya  istilah jurnalis bodrek. Jumalis bodrek ini merupakan istilah yang diberikan para jurnalis resmi/profesional kepada seseorang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan seperti kegiatan jurnalis resmi/profesional.      
Title: PERILAKU JURNALIS DALAM PENYELENGARAAN PERS DI BIMA
Description:
Penelitian  ini  berjudul “Perilaku  Jurnalis  dalam  Penyelenggaraan  Pers  di  Bima”.
Setelah rezim Orde Baru tumbang “Revolusi Mei 1998”, kini Indonesia mulai memasuki era keterbukaan.
Rakyat Indonesia, termasuk Pers, juga mulai menikmati kebebasan berbicara, berkumpul dan berorganisasi.
Departemen Penerangan, yang dulu dikenal sebagai lembaga pengontrol  media,  dibubarkan.
 UU  Pers  pun  diperbaiki dengan  UU  No.
 40  tahun  1999 tentang Pokok Pers.
Dihilangkannya pembredelan Pers oleh negara.
Dibukanya kesempatan untuk  mendirikan  Pers  seluas-luasnya.
 Bima  sebagai  salah  satu  kota  administratif  yang berada di pulau Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat tentu saja memiliki lembaga pers yang didirikan oleh masyarakatnya.
Keberadaan pers dalam suatu sistem masyarakat Bima menjadi sangat penting untuk membangun Bima (Kota Bima dan Kabupaten Bima) terutama dalam penyebaran informasi.
Untuk mengetahui bagaimana perilaku jurnalis dalam penyelenggaraan  pers  di  Bima,  maka  penelitian  ini  dilakukan.
    Dengan    menggunakan metode  penelitian  kualitatif, peneliti menemukan fenomena perilaku jurnalis di Bima: (1) Subyek penelitian mengklaim diri sebagai jurnalis professional.
Kalau dilihat dari perilaku mereka dalam menjalankan aktivitas jurnalismenya, hanyak hal yang menyalahi etika jurnalis professional.
Mereka lebih mengandalkan formalitas, seperti mereka memiliki media resmi, ada kartu pers, melakukan aktivitas jurnalisme secara teratur, tidak memeras dan berbagai perilaku yang mereka anggap itu tidak menyalahi UU maupun KEJI, padahal banyak hal yang diatur dalam regulasi tersebut yang mereka langgar.
(2) Membangun relasi yang sangat akrab dengan sumber berita.
   Padahal, relasi yang "mesra bisa saja akan mempengaruhi jurnalis dalam memberitakan suatu kasus.
Ketika jurnalis sudah akrah dengan pejabat yang memiliki kasus, maka akan mempengaruhi suhjektivitas jurnalis dalam memberitakan kasus tersebut.
(3) Sebagian subyek penelitian mengatakan sulit untuk membuktikan jurnalis yang menerima amplop.
 Tapi ada  juga  instrumen penelitian  yang  mengaku  menerima amplop berserta isinya, asalkan tidak meminta kepada sumber berita.
(3) Selain menjalankan aktivitas resminya sebagai pencari informasi, ada juga jurnalis yang melakukan kegiatan-kegiatan lain.
Seperti menjual hasil karya foto hasil dari foto saat menjalankan tugas jurnalistiknya.
(4) Perilaku  terakhir  yang  berhasil  diidentifikasi  dalam  penelitian  ini  adalah  adanya  istilah jurnalis bodrek.
Jumalis bodrek ini merupakan istilah yang diberikan para jurnalis resmi/profesional kepada seseorang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan seperti kegiatan jurnalis resmi/profesional.
     .

Related Results

FUNGSI DEWAN PERS DALAM MELINDUNGI KEMERDEKAAN PERS
FUNGSI DEWAN PERS DALAM MELINDUNGI KEMERDEKAAN PERS
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis fungsi Dewan Pers dalam perannya untuk melindungi kemerdekaan pers berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang ...
PERAN PERS PADA MASA ORDE BARU DI PONTIANAK TAHUN 1966-1974
PERAN PERS PADA MASA ORDE BARU DI PONTIANAK TAHUN 1966-1974
<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p>Tujuan Penelitian ini adalah untuk melihat peran pers pada masa Orde Baru di Pontianak tahun 1966-197...
KEDUDUKAN HUKUM TERHADAP LEMBAGA PERS MAHASISWA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS
KEDUDUKAN HUKUM TERHADAP LEMBAGA PERS MAHASISWA DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS
The press is the realization and actualization of the freedom to express an opinion in writing. The press his an informative function, namely providing information to the general p...
Tinjauan Yuridis Peranan Dewan Pers Dalam Peningkatan Profesionalme Wartawan
Tinjauan Yuridis Peranan Dewan Pers Dalam Peningkatan Profesionalme Wartawan
Perkembangan Dewan Pers sejak era Reformasi telah mengalami perubahan yang signifikan. Pada era orde baru, Dewan Pers dibawah bayang-bayang intervensi pemerintah. Kini Dewan Pers t...
FENOMENA JURNALISME WARGA SEBAGAI HOMELESS MEDIA DALAM PRODUKSI BERITA LOKAL
FENOMENA JURNALISME WARGA SEBAGAI HOMELESS MEDIA DALAM PRODUKSI BERITA LOKAL
Jurnalisme warga telah menjadi fenomena yang memungkinkan masyarakat umum untuk turut serta dalam proses pembuatan berita. Proses pengolahan informasi dan membagikannya di media so...
ANALISIS PROFESIONALISME JURNALIS BERITAGAR.ID DI ERA POST TRUTH
ANALISIS PROFESIONALISME JURNALIS BERITAGAR.ID DI ERA POST TRUTH
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan fenomenologi untuk mengeksplorasi pengalaman profesional jurnalis Beritagar.id, sehingga pengalaman itu memberi kontribusi p...

Back to Top