Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Identifikasi Pemenuhan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau berdasarkan Kebutuhan Oksigen

View through CrossRef
Abstract. Oxygen is needed by humans to live. The fulfillment of oxygen needs can be met by developing green open spaces, which actually have a function as the lungs of the city that have not been replaced. In Bandung, green open space is below 30%, or around 12.25% in 2020, so the fulfillment of oxygen in Bandung is not necessarily fulfilled. The purpose of this study was to analyze the need for green open spaces in the city of Bandung in general and specifically in selected location based on their urgency of oxygen demand. This study uses a quantitative, descriptive and spatial approach. The area of ​​the green open space requirement is calculated using the Gerakis method that modified in Muis (2005). The determination of development priority locations is carried out using the overlay and scoring methods. Overlays are carried out on parameters, namely land use parameters, building density levels, vegetation density levels and distance to the main road. The results showed that Bandung requires 2,847,513,466.35 grams of oxygen each day, while the oxygen produced by the existing green open space is only 947,567,824.25 grams/day, so it still requires an oxygen supply 1,164,177,415.75 grams/day. Based on the calculation of the area of ​​green open space needed to fulfill the oxygen needs of Bandung, which is 2,812.36 Ha, with an urgent location requiring the development of green open space, namely SWK Tegalega which still requires an area of ​​429.12 ha of green open space. The results of the overlay carried out have resulted of the green open space development in SWK Tegalega covering an area of ​​85.87 Ha which is prioritized and an area of ​​1,156.98 Ha including the category of medium priority location. Abstrak. Oksigen merupakan hal esensial yang diperlukan oleh manusia untuk hidup. Pemenuhan kebutuhan oksigen dapat terpenuhi dengan pengembangan Ruang Terbuka Hijau atau RTH yang sejatinya memiliki fungsi sebagai paru – paru kota yang merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan. Kota Bandung memiliki jumlah luasan RTH yang masih dibawah 30%, atau sekitar 12,25% pada tahun 2020 maka pemenuhan akan oksigen di Kota Bandung belum tentu terpenuhi. Dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di wilayah Kota Bandung secara umum dan secara khusus di SWK terpilih yang dilhat dari urgensinya berdasarkan kebutuhan oksigen. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara kuantitatif, deskriptif dan spasial. Luas kebutuhan RTH dalam dihitung menggnakan metode gerakis yang dimodifikasi dalam Muis (2005). Sedangkan penentuan lokasi prioritas pengembangan dilakukan dengan metode overlay dan skoring. Overlay dilakukan pada parameter yang sebelumnya ditentukan terlebih dahulu dan akhirnya dipilih yaitu parameter penggunaan lahan, tingkat kepadatan bangunan, tingkat kerapatan vegetasi dan jarak terhadap jalan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Bandung membutuhkan oksigen sebanyak 2.847.513.466,35 gram oksigen per harinya, sedangkan oksigen yang dihasilkan RTH eksisting hanya sebanyak 947.567.824,25 gram/hari, sehingga masih memerlukan pasokan oksigen sebanyak 1.164.177.415,75 gram/hari. Dan berdasarkan pada perhitungan gerakis luas RTH yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan oksigen Kota Bandung yaitu seluas 2.812,36 Ha, dengan lokasi yang menjadi urgensi membutuhkan pengembangan RTH nya yaitu SWK Tegalega yang masih membutuhkan luas RTH sebesar 429,12 Ha. Hasil overlay yang dilakukan, menghasilkan luasan serta lokasi pengembangan RTH di SWK Tegalega seluas 85,87 Ha yang diprioritaskan dan seluas 1.156,98 Ha termasuk kategori lokasi prioritas sedang.
Title: Identifikasi Pemenuhan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau berdasarkan Kebutuhan Oksigen
Description:
Abstract.
Oxygen is needed by humans to live.
The fulfillment of oxygen needs can be met by developing green open spaces, which actually have a function as the lungs of the city that have not been replaced.
In Bandung, green open space is below 30%, or around 12.
25% in 2020, so the fulfillment of oxygen in Bandung is not necessarily fulfilled.
The purpose of this study was to analyze the need for green open spaces in the city of Bandung in general and specifically in selected location based on their urgency of oxygen demand.
This study uses a quantitative, descriptive and spatial approach.
The area of ​​the green open space requirement is calculated using the Gerakis method that modified in Muis (2005).
The determination of development priority locations is carried out using the overlay and scoring methods.
Overlays are carried out on parameters, namely land use parameters, building density levels, vegetation density levels and distance to the main road.
The results showed that Bandung requires 2,847,513,466.
35 grams of oxygen each day, while the oxygen produced by the existing green open space is only 947,567,824.
25 grams/day, so it still requires an oxygen supply 1,164,177,415.
75 grams/day.
Based on the calculation of the area of ​​green open space needed to fulfill the oxygen needs of Bandung, which is 2,812.
36 Ha, with an urgent location requiring the development of green open space, namely SWK Tegalega which still requires an area of ​​429.
12 ha of green open space.
The results of the overlay carried out have resulted of the green open space development in SWK Tegalega covering an area of ​​85.
87 Ha which is prioritized and an area of ​​1,156.
98 Ha including the category of medium priority location.
Abstrak.
Oksigen merupakan hal esensial yang diperlukan oleh manusia untuk hidup.
Pemenuhan kebutuhan oksigen dapat terpenuhi dengan pengembangan Ruang Terbuka Hijau atau RTH yang sejatinya memiliki fungsi sebagai paru – paru kota yang merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan.
Kota Bandung memiliki jumlah luasan RTH yang masih dibawah 30%, atau sekitar 12,25% pada tahun 2020 maka pemenuhan akan oksigen di Kota Bandung belum tentu terpenuhi.
Dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di wilayah Kota Bandung secara umum dan secara khusus di SWK terpilih yang dilhat dari urgensinya berdasarkan kebutuhan oksigen.
Penelitian ini menggunakan pendekatan secara kuantitatif, deskriptif dan spasial.
Luas kebutuhan RTH dalam dihitung menggnakan metode gerakis yang dimodifikasi dalam Muis (2005).
Sedangkan penentuan lokasi prioritas pengembangan dilakukan dengan metode overlay dan skoring.
Overlay dilakukan pada parameter yang sebelumnya ditentukan terlebih dahulu dan akhirnya dipilih yaitu parameter penggunaan lahan, tingkat kepadatan bangunan, tingkat kerapatan vegetasi dan jarak terhadap jalan utama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Bandung membutuhkan oksigen sebanyak 2.
847.
513.
466,35 gram oksigen per harinya, sedangkan oksigen yang dihasilkan RTH eksisting hanya sebanyak 947.
567.
824,25 gram/hari, sehingga masih memerlukan pasokan oksigen sebanyak 1.
164.
177.
415,75 gram/hari.
Dan berdasarkan pada perhitungan gerakis luas RTH yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan oksigen Kota Bandung yaitu seluas 2.
812,36 Ha, dengan lokasi yang menjadi urgensi membutuhkan pengembangan RTH nya yaitu SWK Tegalega yang masih membutuhkan luas RTH sebesar 429,12 Ha.
Hasil overlay yang dilakukan, menghasilkan luasan serta lokasi pengembangan RTH di SWK Tegalega seluas 85,87 Ha yang diprioritaskan dan seluas 1.
156,98 Ha termasuk kategori lokasi prioritas sedang.

Related Results

PERSEPSI  MASYARAKAT TERHADAP RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA PALEMBANG
PERSEPSI  MASYARAKAT TERHADAP RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA PALEMBANG
Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat didefinisikan sebagai ruang terbuka, dimana merupakan tempat tumbuh tanaman, baik tanaman yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Ru...
ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) KOTA LANGSA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) KOTA LANGSA MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi kondisi yang ada di lapangan (eksisting) ruang terbuka hijau di Kota Langsa, melihat perubahan ruang terbuka hijau di Kota Langsa ...
Strategi Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Ditinjau dari Aspek Pertanahan
Strategi Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Ditinjau dari Aspek Pertanahan
ABSTRAKRuang terbuka hijau (RTH) merupakan area yang wajib disediakan untuk wilayah kota dan perkotaan dengan proporsi sebesar 30% dari total wilayah. Fakta di lapangan menunjukkan...
Analisis Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Menggunakan Pendekatan Indeks Hijau-Biru Indonesia Di Kelurahan Tamalanrea
Analisis Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Menggunakan Pendekatan Indeks Hijau-Biru Indonesia Di Kelurahan Tamalanrea
Abstract. The purpose of this study is to determine the availability of green open space in Tamalanrea Village and how the strategy to maximize green open space in Tamalanrea Villa...
Penelitian ini bertujuan untuk. 1) memetakan perkembangan ruang terbuka hijau publik tahun 2000-2018 di Kecamatan Tampan. 2) menghitung kebutuhan ruang terbuka hijau publik di keca...
KAJIAN LITERATUR RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP KEBUTUHAN OKSIGEN
KAJIAN LITERATUR RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP KEBUTUHAN OKSIGEN
Abstract Green open space is a producer of oxygen that is needed by humans. Oxygen is a major human need for breathing and respiration, so green open space is needed by humans as h...
Konsep Pemanfaatan Ruang Terbuka Di Kawasan Kota Lama Semarang
Konsep Pemanfaatan Ruang Terbuka Di Kawasan Kota Lama Semarang
ABSTRACTMorphologically, the Semarang Old Town area has a very important role in the development of Semarang City and also has an important value for the development of urban area ...
Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan Sumedang
Strategi Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan Sumedang
Abstract. Green open space has an important role in shaping the quality of sustainable urban life and ensuring the welfare of urban communities. However, currently Regional Governm...

Back to Top