Javascript must be enabled to continue!
Keefektifan Metode Modelling Simbolik Berbantu Media Wayang Kartun Profesi Terhadap Kemampuan Berbahasa dan Keterampilan Bercerita
View through CrossRef
<p align="center"><strong>Abstrak</strong><strong></strong></p><p> Guru dituntut untuk dapat menerapkan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan media sehingga dapat membantu menumbuhkan kemampuan berbahasa dan keterampilan bercerita peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh, ketuntasan belajar, dan beda rata-rata metode <em>modelling</em> simbolik berbantu media wayang kartun profesi terhadap kemampuan berbahasa dan keterampilan bercerita. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan desain penelitian <em>posttest-only-control-design</em>. Populasi penelitian ini seluruh peserta didik kelompok B TK Nurul Bahri 02 Batang. Sampel dipilih secara <em>cluster random sampling</em>, terpilih B1 sebagai kelompok eksperimen dan B3 sebagai kelompok control. Instrumen yang digunakan antara lain RPP, <em>posttest </em>kemampuan berbahasa, dan <em>posttest</em> keterampilan bercerita. Data diolah menggunakan uji manova, uji ketuntasan belajar, uji beda rata-rata, dan uji <em>N-Gain Score</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode <em>modelling</em> simbolik berbantu media wayang kartun profesi berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan keterampilan bercerita, ditinjau dari <em>t</em><em>able </em><em>m</em><em>ultivariate </em><em>t</em><em>est</em><em> </em>dan <em>table test of between subject effect</em><em> </em>pada uji manova dengan masing-masing nilai Sig. 0,000 < 0,05. Uji ketuntasan belajar diperoleh nilai sig. 0,002 pada kemampuan berbahasa dan nilai Sig. 0,032 pada keterampilan bercerita, karena nilai Sig. < 0,05 disimpulkan persentase peserta didik yang mendapat nilai <em>posttest</em> ≥ 75 lebih dari 75%. Uji beda rata-rata diperoleh nilai sig. 0,039 pada kemampuan berbahasa dan nilai sig. 0,001 pada keterampilan bercerita, karena nilai Sig. < 0,05 disimpulkan terdapat perbedaan rata-rata dari dua kelompok. Rata-rata uji <em>N-Gain Score</em> 0,71 pada kemampuan berbahasa termasuk dalam kategori tinggi tafsiran cukup efektif dan 0,67 pada keterampilan bercerita termasuk dalam kategori sedang tafsiran cukup efektif.</p><p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong> Keefektifan; Kemampuan Berbahasa; Keterampilan Bercerita; Metode <em>Modelling</em> Simbolik; Wayang Kartun Profesi.</p>
Title: Keefektifan Metode Modelling Simbolik Berbantu Media Wayang Kartun Profesi Terhadap Kemampuan Berbahasa dan Keterampilan Bercerita
Description:
<p align="center"><strong>Abstrak</strong><strong></strong></p><p> Guru dituntut untuk dapat menerapkan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan media sehingga dapat membantu menumbuhkan kemampuan berbahasa dan keterampilan bercerita peserta didik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh, ketuntasan belajar, dan beda rata-rata metode <em>modelling</em> simbolik berbantu media wayang kartun profesi terhadap kemampuan berbahasa dan keterampilan bercerita.
Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan desain penelitian <em>posttest-only-control-design</em>.
Populasi penelitian ini seluruh peserta didik kelompok B TK Nurul Bahri 02 Batang.
Sampel dipilih secara <em>cluster random sampling</em>, terpilih B1 sebagai kelompok eksperimen dan B3 sebagai kelompok control.
Instrumen yang digunakan antara lain RPP, <em>posttest </em>kemampuan berbahasa, dan <em>posttest</em> keterampilan bercerita.
Data diolah menggunakan uji manova, uji ketuntasan belajar, uji beda rata-rata, dan uji <em>N-Gain Score</em>.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode <em>modelling</em> simbolik berbantu media wayang kartun profesi berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan keterampilan bercerita, ditinjau dari <em>t</em><em>able </em><em>m</em><em>ultivariate </em><em>t</em><em>est</em><em> </em>dan <em>table test of between subject effect</em><em> </em>pada uji manova dengan masing-masing nilai Sig.
0,000 < 0,05.
Uji ketuntasan belajar diperoleh nilai sig.
0,002 pada kemampuan berbahasa dan nilai Sig.
0,032 pada keterampilan bercerita, karena nilai Sig.
< 0,05 disimpulkan persentase peserta didik yang mendapat nilai <em>posttest</em> ≥ 75 lebih dari 75%.
Uji beda rata-rata diperoleh nilai sig.
0,039 pada kemampuan berbahasa dan nilai sig.
0,001 pada keterampilan bercerita, karena nilai Sig.
< 0,05 disimpulkan terdapat perbedaan rata-rata dari dua kelompok.
Rata-rata uji <em>N-Gain Score</em> 0,71 pada kemampuan berbahasa termasuk dalam kategori tinggi tafsiran cukup efektif dan 0,67 pada keterampilan bercerita termasuk dalam kategori sedang tafsiran cukup efektif.
</p><p><strong><em>Kata Kunci:</em></strong> Keefektifan; Kemampuan Berbahasa; Keterampilan Bercerita; Metode <em>Modelling</em> Simbolik; Wayang Kartun Profesi.
</p>.
Related Results
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Abstrak Indonesia merupakan Negara yang mempunyai banyak budaya dan artefak peninggalan nenek moyang salah satu yang mendunia adalah Wayang, Wayang di Indonesia sangat banyak jenis...
Kiat dan keberhasilan masyarakat Jawa: “Memayu hayuning bawana” dalam bidang budaya seni wayang
Kiat dan keberhasilan masyarakat Jawa: “Memayu hayuning bawana” dalam bidang budaya seni wayang
Masyarakat Jawa sejak dulu sampai sekarang, merasa diri bagian dari sistem dunia, hingga merasa wajib memayu hayuning bawana dalam bidang apapun termasuk budaya seni wayang, agar d...
PENGARUH MEDIA WAYANG KARTUN TERHADAP KETERAMPILAN MENYIMAK PADA SISWA KELAS IV SDN 18 MUARA TELANG
PENGARUH MEDIA WAYANG KARTUN TERHADAP KETERAMPILAN MENYIMAK PADA SISWA KELAS IV SDN 18 MUARA TELANG
ABSTRAC
This research is motivated by the lack of use of learning media in SD Negeri 18 Muara Telang, especially the use of wayang cartoon media. The purpose of this study wa...
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN
<p><em>The life of modern society offers a variety of entertainment media, so traditional entertainment such as wayang is no longer interesting. Some religious institut...
Bagaimana Literasi Dini dengan Cerita Sebelum Tidur?
Bagaimana Literasi Dini dengan Cerita Sebelum Tidur?
Bercerita menjadi tradisi sejak jaman dahulu. Aktivitas bercerita dilakukan sebagai pengantar tidur. Bercerita dipercaya menstimulasi perkembangan literasi anak. Namun, tidak semua...
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
ABSTRACT This paper is a study on the potential  of puppet (wayang)  in the scope of Sundanese  culture of  Priangan subculture,  especially  dance.  Formerly  the term  ...
Inti pati dan nilai kartun rejabhad dalam majalah gila-gila
Inti pati dan nilai kartun rejabhad dalam majalah gila-gila
ABSTRAK Majalah kartun tidak hanya dinilai melalui luaran sahaja namun mempunyai inti pati dan aspek nilai melalui pendekatan cerita yang di bawa sama ada daripada ekspresi watak k...
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG
Wayang merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang ada di Bali. Sebagai sebuah kesenian wayang tentunya memiliki nilai yang sarat dengan religiusitas. Wayang merupakan kesenian yan...

