Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan

View through CrossRef
ABSTRACT This paper is a study on the potential  of puppet (wayang)  in the scope of Sundanese  culture of  Priangan subculture,  especially  dance.  Formerly  the term  of wayang  means  to call dolls made of wood which  are  played  by a puppeteer (dalang)  in a performance  of puppetry  art or to tell  the story  of its performance,  and  it is also directly  to call the art of Wayang   Golek puppetry. Later, the potential  of wayang affects strongly  to the various  aspects of life which are related  to belief and art, including  to Sundanese  dance of Priangan style. Since  wayang con- sists of religious sense which is implied in the story, thus wayang in Sundanese  dance of Priangan style is not  separated from the mission  or moral  value to the guidance  of life. The emerge of Wayang Wong Priangan  revealed as a dance drama with dialogue carrying  the story of wayang in complete or partly,  and there are always,  conflicts  between the evil wayang  characters  and the ones who extinguish  the evils. Keywords: Priangan subculture, Wayang Dance, Priangan style   ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian terhadap potensi wayang dalam lingkup budaya Sunda subkultur Priangan, khususnya seni tari. Awalnya kata wayang diartikan untuk menyebut boneka dari kayu yang dimainkan dalang dalam pertunjukan seni pedalangan atau untuk menunjukkan ceritanya dalam pertunjukan seni padalangan, dan juga bisa secara langsung untuk menyebut seni padalangan Wayang Golek. Selanjutnya potensi wayang ini berpengaruh kuat ke dalam beberapa aspek kehidupan yang berbau kepercayaan dan juga kesenian, termasuk ke tari Sunda gaya Priangan. Karena wayang mengandung makna religius yang tersirat dalam isi ceritanya, maka wayang dalam tari Sunda gaya Priangan tidaklah lepas dari misi atau pesan moral ke arah tuntunan hidup. Lahirnya Wayang Wong Priangan, terungkap sebagai bentuk dramatari berdialog dengan membawakan cerita wayang secara utuh atau sebagian, dan senantiasa adanya pertentangan antara tokoh wayang yang jahat dengan yang menumpas kejahatan. Kata kunci: subkultur Priangan, Tari Wayang, gaya Priangan
Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Title: Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
Description:
ABSTRACT This paper is a study on the potential  of puppet (wayang)  in the scope of Sundanese  culture of  Priangan subculture,  especially  dance.
 Formerly  the term  of wayang  means  to call dolls made of wood which  are  played  by a puppeteer (dalang)  in a performance  of puppetry  art or to tell  the story  of its performance,  and  it is also directly  to call the art of Wayang   Golek puppetry.
Later, the potential  of wayang affects strongly  to the various  aspects of life which are related  to belief and art, including  to Sundanese  dance of Priangan style.
Since  wayang con- sists of religious sense which is implied in the story, thus wayang in Sundanese  dance of Priangan style is not  separated from the mission  or moral  value to the guidance  of life.
The emerge of Wayang Wong Priangan  revealed as a dance drama with dialogue carrying  the story of wayang in complete or partly,  and there are always,  conflicts  between the evil wayang  characters  and the ones who extinguish  the evils.
 Keywords: Priangan subculture, Wayang Dance, Priangan style   ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian terhadap potensi wayang dalam lingkup budaya Sunda subkultur Priangan, khususnya seni tari.
Awalnya kata wayang diartikan untuk menyebut boneka dari kayu yang dimainkan dalang dalam pertunjukan seni pedalangan atau untuk menunjukkan ceritanya dalam pertunjukan seni padalangan, dan juga bisa secara langsung untuk menyebut seni padalangan Wayang Golek.
Selanjutnya potensi wayang ini berpengaruh kuat ke dalam beberapa aspek kehidupan yang berbau kepercayaan dan juga kesenian, termasuk ke tari Sunda gaya Priangan.
Karena wayang mengandung makna religius yang tersirat dalam isi ceritanya, maka wayang dalam tari Sunda gaya Priangan tidaklah lepas dari misi atau pesan moral ke arah tuntunan hidup.
Lahirnya Wayang Wong Priangan, terungkap sebagai bentuk dramatari berdialog dengan membawakan cerita wayang secara utuh atau sebagian, dan senantiasa adanya pertentangan antara tokoh wayang yang jahat dengan yang menumpas kejahatan.
 Kata kunci: subkultur Priangan, Tari Wayang, gaya Priangan.

Related Results

Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Abstrak Indonesia merupakan Negara yang mempunyai banyak budaya dan artefak peninggalan nenek moyang salah satu yang mendunia adalah Wayang, Wayang di Indonesia sangat banyak jenis...
PERANAN LASYKAR HIZBULLAH DI PRIANGAN 1945-1948
PERANAN LASYKAR HIZBULLAH DI PRIANGAN 1945-1948
AbstrakPenelitian ini menggambarkan Peranan Lasykar Hizbullah di Priangan dalam kurun waktu 1945 hingga 1948. Untuk merekontruksi permasalahan ini digunakan metode sejarah yang ter...
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN
<p><em>The life of modern society offers a variety of entertainment media, so traditional entertainment such as wayang is no longer interesting. Some religious institut...
Perubahan Fungsi Ketuk Tilu Di Priangan (1900-2000-an)
Perubahan Fungsi Ketuk Tilu Di Priangan (1900-2000-an)
ABSTRACT Ketuk tilu is one of traditional arts which lives and thrives in Priangan community. At the beginning of its creation, Ketuk tilu was allegedly an art having ritual funct...
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG
Wayang merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang ada di Bali. Sebagai sebuah kesenian wayang tentunya memiliki nilai yang sarat dengan religiusitas. Wayang merupakan kesenian yan...
Struktur Tritangtu pada Siger Aksesoris Pengantin Sunda Priangan
Struktur Tritangtu pada Siger Aksesoris Pengantin Sunda Priangan
The bride is a symbol of changes in the cycle of human life which is interpreted sacredly. One of the symbols of its sacredness is the use of siger as one of the accessories for Su...
KREATIVITAS WAHYU JATMIKO DALAM TARI BEDHAYA MEDANG KAMULAN DI SANGGAR KRIDHA RASA TUNGGAL KABUPATEN NGANJUK
KREATIVITAS WAHYU JATMIKO DALAM TARI BEDHAYA MEDANG KAMULAN DI SANGGAR KRIDHA RASA TUNGGAL KABUPATEN NGANJUK
Tari Bedhaya Medang Kamulan merupakan tari bedhaya peringatan kemenangan Mpu Sindok. Penelitian ini mengungkap masalah yang berkaitan dengan tari Bedhaya Medang Kamulan karya Wahyu...
Pembelajaran gamelan gender wayang pada generasi z di sanggar swasti swara denpasar (persektif pendidikan agama hindu)
Pembelajaran gamelan gender wayang pada generasi z di sanggar swasti swara denpasar (persektif pendidikan agama hindu)
Generasi muda saat ini mengalami krisis karakter yang ditandai dengan ketidakpedulian terhadap budaya sejak adanya perkembangan teknologi yang telah memasuki perkembangan era 4.0. ...

Back to Top