Javascript must be enabled to continue!
INVENTARISASI PENGUASAAN LAHAN (TENURIAL) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG LIANG ANGGANG
View through CrossRef
Protected a whose existence is protected because it is useful in maintaining the ecosystem. De jure land in the Liang Anggang protected forest area is state-owned land, but de facto is used, controlled and even owned by the community with land titles, until now there is no latest data regarding the status of land tenure (tenure) and community settlements that exist in the Liang Anggang protected forest, so the problem raised in this study is how the status of land ownership is controlled by the community in the Liang Anggang protected forest land tenure boundaries take an inventory the existing tenure status in the Liang Anggang Protected Forest Area. The method used is descriptive method, which aims to describe the object of research or research results, the data analysis used is spatial analysis, land tenure boundary data is analyzed using image overlays, land tenure status data is analyzed by tabulation and for the presentation of inventory data is in the form of maps and Tables. Most of the Protected Forest area has been controlled by the community since decades ago and the community said that they had obtained the land from generation to generation and part of the proceeds came from buying and selling. Based on the field survey, the land controlled by the community is 19.25 ha. The status of land tenure cultivated by the community does not have a certificate but there are some who hold cultivation permits issued by the RT, namely 15 lands, in the form of SKT issued by the Kelurahan as many as 6 lands and having cultivation permits from the Social Forestry Decree as many as 14 landsHutan lindung adalah hutan yang dilindungi keberadaannya karena bermanfaat dalam menjaga ekosistem. Secara de jure adalah milik negara, tetapi secara de facto dimanfaatkan, dikuasai bahkan dimiliki oleh masyarakat dengan adanya surat-surat tanah, sampai saat ini belum adanya data terbaru mengenai status penguasaan lahan (tenurial) dan pemukiman masyarakat yang ada di hutan lindung liang anggang, sehingga masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah bagaimana status kepemilikan lahan yang dikuasai oleh masyarakat dalam hutan lindung Liang Anggang. Tujuan dari Penelitian ini adalah mengidentifikasi batas-batas penguasaan lahan dan menginventarisasi status penguasaan lahan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu bertujuan untuk mendeskripsikan objek penelitian ataupun hasil penelitian, analisis data yang digunakan yaitu analisis spasial, data batas penguasaan lahan dianalisis menggunakan overlay citra, data status penguasaan lahan dianalisis dengan tabulasi dan untuk penyajian data hasil inventarisasi adalah dalam bentuk Peta dan Tabel. Kawasan Hutan Lindung sebagian besar telah dikuasai oleh masyarakat sejak puluhan tahun lalu dan masyarakat menyampaikan bahwa mereka mendapatkan lahan tersebut secara turun temurun dan sebagian hadil dari jual beli. Berdasarkan survey lapangan lahan yang dikuasai masyarakat adalah seluas 19,25 ha. Status penguasaan lahan yang digarap oleh masyarakat tidak memiliki sertifikat namun ada beberapa yang memegang izin garap yang dikeluarkan oleh RT yaitu 15 lahan, berupa SKT yang dikeluarkan oleh Kelurahan sebanyak 6 lahan dan memiliki izin garap dari SK Perhutanan Sosial sebanyak 14 lahan
Center for Journal Management and Publication, Lambung Mangkurat University
Title: INVENTARISASI PENGUASAAN LAHAN (TENURIAL) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG LIANG ANGGANG
Description:
Protected a whose existence is protected because it is useful in maintaining the ecosystem.
De jure land in the Liang Anggang protected forest area is state-owned land, but de facto is used, controlled and even owned by the community with land titles, until now there is no latest data regarding the status of land tenure (tenure) and community settlements that exist in the Liang Anggang protected forest, so the problem raised in this study is how the status of land ownership is controlled by the community in the Liang Anggang protected forest land tenure boundaries take an inventory the existing tenure status in the Liang Anggang Protected Forest Area.
The method used is descriptive method, which aims to describe the object of research or research results, the data analysis used is spatial analysis, land tenure boundary data is analyzed using image overlays, land tenure status data is analyzed by tabulation and for the presentation of inventory data is in the form of maps and Tables.
Most of the Protected Forest area has been controlled by the community since decades ago and the community said that they had obtained the land from generation to generation and part of the proceeds came from buying and selling.
Based on the field survey, the land controlled by the community is 19.
25 ha.
The status of land tenure cultivated by the community does not have a certificate but there are some who hold cultivation permits issued by the RT, namely 15 lands, in the form of SKT issued by the Kelurahan as many as 6 lands and having cultivation permits from the Social Forestry Decree as many as 14 landsHutan lindung adalah hutan yang dilindungi keberadaannya karena bermanfaat dalam menjaga ekosistem.
Secara de jure adalah milik negara, tetapi secara de facto dimanfaatkan, dikuasai bahkan dimiliki oleh masyarakat dengan adanya surat-surat tanah, sampai saat ini belum adanya data terbaru mengenai status penguasaan lahan (tenurial) dan pemukiman masyarakat yang ada di hutan lindung liang anggang, sehingga masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah bagaimana status kepemilikan lahan yang dikuasai oleh masyarakat dalam hutan lindung Liang Anggang.
Tujuan dari Penelitian ini adalah mengidentifikasi batas-batas penguasaan lahan dan menginventarisasi status penguasaan lahan.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu bertujuan untuk mendeskripsikan objek penelitian ataupun hasil penelitian, analisis data yang digunakan yaitu analisis spasial, data batas penguasaan lahan dianalisis menggunakan overlay citra, data status penguasaan lahan dianalisis dengan tabulasi dan untuk penyajian data hasil inventarisasi adalah dalam bentuk Peta dan Tabel.
Kawasan Hutan Lindung sebagian besar telah dikuasai oleh masyarakat sejak puluhan tahun lalu dan masyarakat menyampaikan bahwa mereka mendapatkan lahan tersebut secara turun temurun dan sebagian hadil dari jual beli.
Berdasarkan survey lapangan lahan yang dikuasai masyarakat adalah seluas 19,25 ha.
Status penguasaan lahan yang digarap oleh masyarakat tidak memiliki sertifikat namun ada beberapa yang memegang izin garap yang dikeluarkan oleh RT yaitu 15 lahan, berupa SKT yang dikeluarkan oleh Kelurahan sebanyak 6 lahan dan memiliki izin garap dari SK Perhutanan Sosial sebanyak 14 lahan.
Related Results
RANCANGAN PENATAAN BLOK HUTAN LINDUNG LIANG ANGGANG KOTA BANJARBARU
RANCANGAN PENATAAN BLOK HUTAN LINDUNG LIANG ANGGANG KOTA BANJARBARU
Peningkatan jumlah penduduk di suatu wilayah mengakibatkan peningkatan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Menyadari bahwa jumlah lahan yang tersedia relatif tetap dan tidak seban...
POTENSI BAHAN BAKAR SERASAH SEBAGAI INDIKATOR KERAWANAN KEBAKARAN DI KAWASAN HUTAN LINDUNG LIANG ANGGANG, KALIMANTAN SELATAN
POTENSI BAHAN BAKAR SERASAH SEBAGAI INDIKATOR KERAWANAN KEBAKARAN DI KAWASAN HUTAN LINDUNG LIANG ANGGANG, KALIMANTAN SELATAN
This study aims to analyze the types of vegetation that dominate in the Liang Anggang Protected Forest area, South Kalimantan and study the potential of litter fuel that causes fir...
Alih Fungsi Lahan Kawasan Hutan Lindung (Studi Di Kawasan Pengelolaan Hutan Lindung Kayu Tangi Blok I Kota Banjarbaru)
Alih Fungsi Lahan Kawasan Hutan Lindung (Studi Di Kawasan Pengelolaan Hutan Lindung Kayu Tangi Blok I Kota Banjarbaru)
Alih fungsi lahan dapat diartikan sebagai berubahnya fungsi sebagian atau seluruh kawasan dari fungsinya semula, seperti direncanakan menjadi fungsi lain yang berdampak negatif ter...
Valuasi Ekonomi Hutan Lindung Liang Anggang di Banjarbaru
Valuasi Ekonomi Hutan Lindung Liang Anggang di Banjarbaru
Hutan Lindung memiliki peran penting dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencegah bencana ekologis, sehingga pelestarian dan pemulihannya menjadi perhatian dunia. Penelitian ...
Penetapan Pola Rehabilitasi Pemulihan Fungsi Ekosistem Hutan Lindung Gambut Sungai Bram Itam di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi
Penetapan Pola Rehabilitasi Pemulihan Fungsi Ekosistem Hutan Lindung Gambut Sungai Bram Itam di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi
Seluas 5.000 hektare areal hutan lindung gambut Sungai Bram Itam telah mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang didominasi oleh perkebunan sawit, pinang, d...
PEMETAAN TUTUPAN VEGETASI PADA PETAK 76 DI DESA PITU KECAMATAN PITU KABUPATEN NGAWI JAWA TIMUR
PEMETAAN TUTUPAN VEGETASI PADA PETAK 76 DI DESA PITU KECAMATAN PITU KABUPATEN NGAWI JAWA TIMUR
Perubahan tutupan hutan akibat rusaknya hutan dapat diatasi dengan rehabilitasi. Rehabilitasi hutan dilakukan untuk menjaga prinsip kelestaria hutan. Keberhasilan rehabilitasi dini...
ISUE STRATEGIS KAWASAN HUTAN PADA PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH
ISUE STRATEGIS KAWASAN HUTAN PADA PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH
Tata ruang adalah wujud dari struktur ruang dan pola ruang; Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah. Penetapan Kawasan Hutan adalah suatu penegasan tentan...
Pemanfaatan citra sentinel-2a untuk analisis rehabilitasi lahan kritis menggunakan fuzzy logic di Kecamatan Kertasari
Pemanfaatan citra sentinel-2a untuk analisis rehabilitasi lahan kritis menggunakan fuzzy logic di Kecamatan Kertasari
Kecamatan Kertasari merupakan wilayah dengan lahan kritis terluas di Kabupaten Bandung. Lahan kritis disebabkan oleh faktor seperti kerapatan vegetasi sangat buruk, kemiringan lere...

