Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Integrasi Ekoteologi dalam Pendidikan Agama Islam

View through CrossRef
The global environmental crisis has driven the Indonesian Ministry of Religious Affairs (Kementerian Agama RI) in 2025 to integrate ecotheology into the Islamic Religious Education curriculum as a response to the need for developing faith-based ecological awareness at the secondary level. This study aims to analyze the concept of ecotheology in the 2025 Ministry policy, examine strategies for integrating it into Islamic Religious Education (PAI), and identify problems and strategic solutions for Senior High Schools/Islamic Senior High Schools (SMA/MA). The method used is a descriptive-analytical literature study of policy documents, scientific articles, and relevant books. The findings show that ecotheology in the policy is built upon five Islamic principles: Tawhid, the concepts of Khalifah and Amanah, Mizan, the prohibition of israf and the encouragement of ihsan, as well as the recognition of God’s sovereignty over nature. The policy also emphasizes the concept of “social dhikr,” which interprets environmental care as an act of worship. Integration is recommended across five learning domains (Qur’an-Hadith, Creed, Ethics, Fiqh, and the History of Islamic Civilization) and aligned with the P5 Sustainable Lifestyle theme and Local Wisdom. The challenges include issues at the levels of: policy (weak technical guidelines and monitoring), curriculum (implicit material and limited teaching resources), teachers (limited pedagogical competence), students (low awareness and a gap between theory and practice), and schools (minimal facilities, limited budgeting, and low community awareness). Strategic solutions include the development of technical guidelines, the establishment of explicit competencies, funding mechanisms and monitoring indicators, module development, continuous teacher training, action-based learning, cross-institutional collaboration, and transformation toward eco-schools/eco-madrasahs. Abstrak Krisis lingkungan global mendorong Kementerian Agama RI pada 2025 mengintegrasikan ekoteologi ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam sebagai respons atas kebutuhan pembentukan kesadaran ekologis berbasis iman di jenjang menengah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ekoteologi dalam kebijakan Kemenag 2025, menelaah strategi integrasinya ke PAI, serta mengidentifikasi problematika dan solusi strategis untuk SMA/MA. Metode yang dipakai adalah studi literatur deskriptif-analitis terhadap dokumen kebijakan, artikel ilmiah, dan buku relevan. Temuan menunjukkan bahwa ekoteologi dalam kebijakan tersebut dibangun atas lima prinsip Islam, yaitu Tauhid, Khalifah dan Amanah, Mizan, larangan israf dan anjuran ihsan, serta pengakuan kedaulatan Tuhan atas alam, kebijakan juga menonjolkan konsep “zikir sosial” yang memaknai merawat lingkungan sebagai ibadah. Integrasi disarankan melalui lima ranah pembelajaran (Al-Qur’an-Hadits, Akidah, Akhlak, Fikih, dan Sejarah Peradaban Islam) dan selaras dengan tema P5 Gaya Hidup Berkelanjutan serta Kearifan Lokal. Problematika meliputi dimensi kebijakan (juknis dan monitoring lemah), kurikulum (materi implisit, bahan ajar terbatas), guru (kompetensi pedagogis terbatas), siswa (kesadaran rendah, kesenjangan teori-praktek), dan sekolah (sarpras dan anggaran minim, kesadaran masyarakat rendah). Solusi strategis mencakup penyusunan juknis, penetapan kompetensi eksplisit, mekanisme pendanaan dan indikator pemantauan, pengembangan modul, pelatihan berkelanjutan bagi guru, pembelajaran aksi, kolaborasi lintas lembaga, dan transformasi menuju eco-school/eco-madrasah.
Title: Integrasi Ekoteologi dalam Pendidikan Agama Islam
Description:
The global environmental crisis has driven the Indonesian Ministry of Religious Affairs (Kementerian Agama RI) in 2025 to integrate ecotheology into the Islamic Religious Education curriculum as a response to the need for developing faith-based ecological awareness at the secondary level.
This study aims to analyze the concept of ecotheology in the 2025 Ministry policy, examine strategies for integrating it into Islamic Religious Education (PAI), and identify problems and strategic solutions for Senior High Schools/Islamic Senior High Schools (SMA/MA).
The method used is a descriptive-analytical literature study of policy documents, scientific articles, and relevant books.
The findings show that ecotheology in the policy is built upon five Islamic principles: Tawhid, the concepts of Khalifah and Amanah, Mizan, the prohibition of israf and the encouragement of ihsan, as well as the recognition of God’s sovereignty over nature.
The policy also emphasizes the concept of “social dhikr,” which interprets environmental care as an act of worship.
Integration is recommended across five learning domains (Qur’an-Hadith, Creed, Ethics, Fiqh, and the History of Islamic Civilization) and aligned with the P5 Sustainable Lifestyle theme and Local Wisdom.
The challenges include issues at the levels of: policy (weak technical guidelines and monitoring), curriculum (implicit material and limited teaching resources), teachers (limited pedagogical competence), students (low awareness and a gap between theory and practice), and schools (minimal facilities, limited budgeting, and low community awareness).
Strategic solutions include the development of technical guidelines, the establishment of explicit competencies, funding mechanisms and monitoring indicators, module development, continuous teacher training, action-based learning, cross-institutional collaboration, and transformation toward eco-schools/eco-madrasahs.
Abstrak Krisis lingkungan global mendorong Kementerian Agama RI pada 2025 mengintegrasikan ekoteologi ke dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam sebagai respons atas kebutuhan pembentukan kesadaran ekologis berbasis iman di jenjang menengah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ekoteologi dalam kebijakan Kemenag 2025, menelaah strategi integrasinya ke PAI, serta mengidentifikasi problematika dan solusi strategis untuk SMA/MA.
Metode yang dipakai adalah studi literatur deskriptif-analitis terhadap dokumen kebijakan, artikel ilmiah, dan buku relevan.
Temuan menunjukkan bahwa ekoteologi dalam kebijakan tersebut dibangun atas lima prinsip Islam, yaitu Tauhid, Khalifah dan Amanah, Mizan, larangan israf dan anjuran ihsan, serta pengakuan kedaulatan Tuhan atas alam, kebijakan juga menonjolkan konsep “zikir sosial” yang memaknai merawat lingkungan sebagai ibadah.
Integrasi disarankan melalui lima ranah pembelajaran (Al-Qur’an-Hadits, Akidah, Akhlak, Fikih, dan Sejarah Peradaban Islam) dan selaras dengan tema P5 Gaya Hidup Berkelanjutan serta Kearifan Lokal.
Problematika meliputi dimensi kebijakan (juknis dan monitoring lemah), kurikulum (materi implisit, bahan ajar terbatas), guru (kompetensi pedagogis terbatas), siswa (kesadaran rendah, kesenjangan teori-praktek), dan sekolah (sarpras dan anggaran minim, kesadaran masyarakat rendah).
Solusi strategis mencakup penyusunan juknis, penetapan kompetensi eksplisit, mekanisme pendanaan dan indikator pemantauan, pengembangan modul, pelatihan berkelanjutan bagi guru, pembelajaran aksi, kolaborasi lintas lembaga, dan transformasi menuju eco-school/eco-madrasah.

Related Results

EKOTEOLOGI DALAM KONSEP TRI HITA KARANA: INOVASI GERBANG LILIN PADA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BANGLI
EKOTEOLOGI DALAM KONSEP TRI HITA KARANA: INOVASI GERBANG LILIN PADA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BANGLI
Situasi lingkungan di Bali menghadapi tantangan serius akhir-akhir ini. Lonjakan pariwisata pasca pandemi telah menyebabkan peningkatan permintaan energi, air bersih, dan pengelola...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar
Mengkaji Konsep Ekoteologi Menurut Nasaruddin Umar
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep ekoteologi menurut Nasaruddin Umar. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan metode studi kepustakaan, penelitian ini menganalisi...
Etika Politik dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam
Etika Politik dalam Perspektif Pendidikan Agama Islam
Tantangan yang sering dihadapi dalam menerapkan Pendidikan Agama Islam sebagai fondasi etika politik beberapa di antaranya adalah dualisme sistem pendidikan, di mana di beberapa ne...
Integrasi Ilmu: Signifikansi dan Modelnya dalam Menggapai Kemajuan Peradaban Bangsa
Integrasi Ilmu: Signifikansi dan Modelnya dalam Menggapai Kemajuan Peradaban Bangsa
Integrasi ilmu merupakan salah satu upaya strategis untuk mengatasi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum yang berkembang dalam tradisi pendidikan modern. Dikotomi t...
KOMPETENSI SOSIAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP DARUL QUR’AN AL-MAFTUH DESA PARIT KECAMATAN SUNGAI GELAM
KOMPETENSI SOSIAL GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP DARUL QUR’AN AL-MAFTUH DESA PARIT KECAMATAN SUNGAI GELAM
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyara...

Back to Top