Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

EKOTEOLOGI DALAM KONSEP TRI HITA KARANA: INOVASI GERBANG LILIN PADA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BANGLI

View through CrossRef
Situasi lingkungan di Bali menghadapi tantangan serius akhir-akhir ini. Lonjakan pariwisata pasca pandemi telah menyebabkan peningkatan permintaan energi, air bersih, dan pengelolaan sampah, sementara konversi lahan telah mengurangi daerah resapan air dan menjadi pemicu banjir selama musim hujan dan kekeringan selama musim kemarau. Sampah, khususnya plastik menjadi masalah utama, dengan volumenya yang meningkat dapat mencemari daerah pesisir dan laut, mengancam terumbu karang dan kehidupan laut. Situasi ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik terhadap pembangunan yang selaras dengan alam. Dalam konteks ini, ekoteologi merupakan solusi yang relevan untuk upaya konservasi lingkungan dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Salah satu contoh konkret ekoteologi adalah inovasi Gerbang Lilin (Gerakan Kemenag Bangli Bersih dan Peduli Lingkungan) oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli, yang menekankan pada penghijauan, pengelolaan sampah, dan partisipasi masyarakat. Program ini mencerminkan implementasi Tri Hita Karana dan berfungsi sebagai contoh praktik konservasi lingkungan berdasarkan kearifan lokal di Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pemahaman ekoteologi dalam kerangka filosofis Tri Hita Karana, menganalisis relevansi nilai-nilai Tri Hita Karana terhadap upaya konservasi lingkungan di Bali, dan mengkaji bagaimana inovasi Gerbang Lilin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli merepresentasikan penerapan ekoteologi dalam kerangka Tri Hita Karana. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan riset pustaka. Dengan hasil bahwa ekoteologi, melalui penelitian ini, dipahami sebagai implementasi konsep Tri Hita Karana, yang menempatkan alam sebagai ruang spiritual yang perlu dilestarikan. Ketika dikaitkan dengan literasi lingkungan, Tri Hita Karana pada dasarnya mewujudkan keterkaitan sistem sosial dan alam untuk kehidupan berkelanjutan. Hubungan ini dapat dijelaskan melalui tiga pemahaman: parahyangan dan ekoteologi, yang menekankan kesadaran bahwa alam adalah ciptaan Tuhan, menumbuhkan rasa hormat dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Dalam tradisi Hindu, hal ini diungkapkan tidak hanya melalui praktik keagamaan tetapi juga melalui tanggung jawab untuk melindungi dan merawat alam sebagai bagian dari pengabdian kepada Tuhan. Pawongan dan ekoteologi menekankan solidaritas, keadilan ekologis, dan tanggung jawab bersama. Pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas hanya dapat terwujud jika hubungan antar manusia harmonis dan sinergis dalam melindungi lingkungan. Palemahan dan ekoteologi merupakan ekspresi paling konkret dari ekoteologi dalam aksi ekologis, yang mengambil bentuk keberlanjutan, konservasi, dan keseimbangan ekosistem, yang merupakan fondasi kehidupan masyarakat Bali.
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Title: EKOTEOLOGI DALAM KONSEP TRI HITA KARANA: INOVASI GERBANG LILIN PADA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN BANGLI
Description:
Situasi lingkungan di Bali menghadapi tantangan serius akhir-akhir ini.
Lonjakan pariwisata pasca pandemi telah menyebabkan peningkatan permintaan energi, air bersih, dan pengelolaan sampah, sementara konversi lahan telah mengurangi daerah resapan air dan menjadi pemicu banjir selama musim hujan dan kekeringan selama musim kemarau.
Sampah, khususnya plastik menjadi masalah utama, dengan volumenya yang meningkat dapat mencemari daerah pesisir dan laut, mengancam terumbu karang dan kehidupan laut.
Situasi ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik terhadap pembangunan yang selaras dengan alam.
Dalam konteks ini, ekoteologi merupakan solusi yang relevan untuk upaya konservasi lingkungan dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis.
Salah satu contoh konkret ekoteologi adalah inovasi Gerbang Lilin (Gerakan Kemenag Bangli Bersih dan Peduli Lingkungan) oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli, yang menekankan pada penghijauan, pengelolaan sampah, dan partisipasi masyarakat.
Program ini mencerminkan implementasi Tri Hita Karana dan berfungsi sebagai contoh praktik konservasi lingkungan berdasarkan kearifan lokal di Bali.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pemahaman ekoteologi dalam kerangka filosofis Tri Hita Karana, menganalisis relevansi nilai-nilai Tri Hita Karana terhadap upaya konservasi lingkungan di Bali, dan mengkaji bagaimana inovasi Gerbang Lilin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli merepresentasikan penerapan ekoteologi dalam kerangka Tri Hita Karana.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan riset pustaka.
Dengan hasil bahwa ekoteologi, melalui penelitian ini, dipahami sebagai implementasi konsep Tri Hita Karana, yang menempatkan alam sebagai ruang spiritual yang perlu dilestarikan.
Ketika dikaitkan dengan literasi lingkungan, Tri Hita Karana pada dasarnya mewujudkan keterkaitan sistem sosial dan alam untuk kehidupan berkelanjutan.
Hubungan ini dapat dijelaskan melalui tiga pemahaman: parahyangan dan ekoteologi, yang menekankan kesadaran bahwa alam adalah ciptaan Tuhan, menumbuhkan rasa hormat dan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.
Dalam tradisi Hindu, hal ini diungkapkan tidak hanya melalui praktik keagamaan tetapi juga melalui tanggung jawab untuk melindungi dan merawat alam sebagai bagian dari pengabdian kepada Tuhan.
Pawongan dan ekoteologi menekankan solidaritas, keadilan ekologis, dan tanggung jawab bersama.
Pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas hanya dapat terwujud jika hubungan antar manusia harmonis dan sinergis dalam melindungi lingkungan.
Palemahan dan ekoteologi merupakan ekspresi paling konkret dari ekoteologi dalam aksi ekologis, yang mengambil bentuk keberlanjutan, konservasi, dan keseimbangan ekosistem, yang merupakan fondasi kehidupan masyarakat Bali.

Related Results

TRI HITA KARANA SEBAGAI IDEOLOGI KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA PENGLIPURAN BALI
TRI HITA KARANA SEBAGAI IDEOLOGI KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA PENGLIPURAN BALI
Tri Hita Karana is a Balinese philosophy of life that contains three elements that build a balance and harmonious relationship between humans and God (Parahyangan), fellow humans (...
IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM MENINGKATKAN KARAKTER MAHASISWA DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI HINDU DHARMA KLATEN
IMPLEMENTASI AJARAN TRI HITA KARANA DALAM MENINGKATKAN KARAKTER MAHASISWA DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI HINDU DHARMA KLATEN
Perkembangan zaman dan globalisasi mampu menunjukkan perubahan yang sangat signifikan di segala aspek kehidupan khususnya pada aspek kehidupan bermasyarakat dan beragama terutama d...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Aplikasi filosofi tri hita karana dalam pemberdayaan masyarakat tonja di denpasar
Aplikasi filosofi tri hita karana dalam pemberdayaan masyarakat tonja di denpasar
Tujuan penulisan artikel ini untuk mengkaji filosofi Tri Hita Karana dalam praktik pemberdayaan masyarakat Tonja. Pariwisata Bali tidak berkembang pesat di kelurahan Tonja, Denpasa...
ESENSI KONSEP TRI HITA KARANA PADA PEMBELAJARAN DARING SD DI MASA PANDEMI COVID-19
ESENSI KONSEP TRI HITA KARANA PADA PEMBELAJARAN DARING SD DI MASA PANDEMI COVID-19
Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada segala aspek kehidupan, salah satunya adalah aspek pendidikan. Pendidikan di masa Covid-19 ini mengalami perubahan sistem, yang dari pembela...
IMPLEMENTASI NILAI TRI HITA KARANA DALAM PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5) DI SMP NEGERI 5 DENPASAR
IMPLEMENTASI NILAI TRI HITA KARANA DALAM PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5) DI SMP NEGERI 5 DENPASAR
This study aims to examine 1) the value of Tri Hita Karana as a guideline in the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) at SMP Negeri 5 Denpasar, 2) the process of im...
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
Pemimpin desa adat dalam hal ini kelian desa merupakan pemegang otoritas utama dalam kepemerintahan desa adat di desa adat Penglipuran, Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten ...

Back to Top