Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Alternasi Bunyi Bahasa Indonesia dalam Kognat Melayu Ulu Kapuas

View through CrossRef
Indonesian is derived from Standard Malay; while Ulu Kapuas is a dialect of Malay. Sameness between the two language codes is shown by their identical cognates. There are other cognates showing sound alternations. This article describes the sameness and the sound alternations undergone by the cognates. The alternations involve segments (consonants, vowels, diphthongs, and soundclusters) and show morphophonemic alternations involving replacement, addition, deletion, and syllabic position replacement of segments; the alternations also involve one of the suprasegmental features, i.e., length. The data corpora are in forms of the phonological forms of the cognates. The phonological forms of Ulu Kapuas cognates are obtained from and/or based on previous studies on phonological aspects of Ulu Kapuas lexical items conducted by Yusriadi (2007). Meanwhile, Indonesian cognates are Indonesian lexical items available in Kamus Besar Bahasa Indonesia becoming the equivalents for Ulu Kapuas lexical items afore-mentioned; and their phonological forms are determined by referring to the rules of graphemephoneme correspondences in Indonesian proposed by Fauzi (2015). Consonant weakening, consonant strengthening, lenition, fortition, vowel laxing, vowel tensing, diphthongization, monophthongization, tongueposition change in vowel production, metatheses, sound deletion, haplology, sound addition, assimilation, dissimilation, glottalization, nasalization, sound lengthening, word shortening, word lengthening, and dereduplication become findings. Phonotactics and the distributions of segments in the cognates shared by the two language codes also become findings.AbstrakBahasa Indonesia terderivasi dari bahasa Melayu Baku; dan Ulu Kapuas merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Kesamaan di antara dua kode bahasa itu ditunjukkan oleh kognat identik yang dimiliki bersama. Terdapat kognat lain yang menunjukkan alternasi bunyi. Artikel ini mendeskripsikan kesamaan dan alternasi bunyi yang dialami oleh kognat tersebut. Alternasi bunyi melibatkan segmen (konsonan, vokal, diftong, dan untaian bunyi) serta menunjukkan sejumlah alternasi morfofonemik yang melibatkan penggantian, penambahan, penghilangan, dan perubahan posisi silabis segmen; alternasi morfofonemik itu juga melibatkan perpanjangan bunyi sebagai salah satu aspek prosodi. Korpus data berupa bentuk fonologis kognat. Bentuk fonologis kognat Ulu Kapuas diperoleh dari dan/atau didasarkan pada kajian terdahulu atas aspek fonologis satuan leksikal Ulu Kapuas yang dilakukan oleh Yusriadi (2007). Sementara itu, kognat Indonesia merupakan satuan leksikal Indonesia yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan merupakan padanan bagi satuan leksikal Ulu Kapuas tersebut di atas; dan bentuk fonologisnya ditentukan dengan merujuk ke kaidah grafem-fonem dalam bahasa Indonesia yang dianjurkan oleh Fauzi (2015). Pelemahan konsonan, penguatan konsonan, lenisi, fortisi, pengenduran vokal, penegangan vokal, diftongisasi, monoftongisasi, perubahan posisi-lidah dalam produksi vokal, penggabungan bunyi, metatesis, penghilangan bunyi, haplologi, penambahan bunyi, asimilasi, disimilasi, glotalisasi, nasalisasi, perpanjangan bunyi, pemendekan kata, pemanjangan kata, dan de-reduplikasi kata menjadi temuan. Kaidah fonotaktis serta persebaran segmen dalam kognat yang dimiliki oleh dua kode bahasa itu pun menjadi temuan.
Balai Bahasa Bali
Title: Alternasi Bunyi Bahasa Indonesia dalam Kognat Melayu Ulu Kapuas
Description:
Indonesian is derived from Standard Malay; while Ulu Kapuas is a dialect of Malay.
Sameness between the two language codes is shown by their identical cognates.
There are other cognates showing sound alternations.
This article describes the sameness and the sound alternations undergone by the cognates.
The alternations involve segments (consonants, vowels, diphthongs, and soundclusters) and show morphophonemic alternations involving replacement, addition, deletion, and syllabic position replacement of segments; the alternations also involve one of the suprasegmental features, i.
e.
, length.
The data corpora are in forms of the phonological forms of the cognates.
The phonological forms of Ulu Kapuas cognates are obtained from and/or based on previous studies on phonological aspects of Ulu Kapuas lexical items conducted by Yusriadi (2007).
Meanwhile, Indonesian cognates are Indonesian lexical items available in Kamus Besar Bahasa Indonesia becoming the equivalents for Ulu Kapuas lexical items afore-mentioned; and their phonological forms are determined by referring to the rules of graphemephoneme correspondences in Indonesian proposed by Fauzi (2015).
Consonant weakening, consonant strengthening, lenition, fortition, vowel laxing, vowel tensing, diphthongization, monophthongization, tongueposition change in vowel production, metatheses, sound deletion, haplology, sound addition, assimilation, dissimilation, glottalization, nasalization, sound lengthening, word shortening, word lengthening, and dereduplication become findings.
Phonotactics and the distributions of segments in the cognates shared by the two language codes also become findings.
AbstrakBahasa Indonesia terderivasi dari bahasa Melayu Baku; dan Ulu Kapuas merupakan salah satu dialek bahasa Melayu.
Kesamaan di antara dua kode bahasa itu ditunjukkan oleh kognat identik yang dimiliki bersama.
Terdapat kognat lain yang menunjukkan alternasi bunyi.
Artikel ini mendeskripsikan kesamaan dan alternasi bunyi yang dialami oleh kognat tersebut.
Alternasi bunyi melibatkan segmen (konsonan, vokal, diftong, dan untaian bunyi) serta menunjukkan sejumlah alternasi morfofonemik yang melibatkan penggantian, penambahan, penghilangan, dan perubahan posisi silabis segmen; alternasi morfofonemik itu juga melibatkan perpanjangan bunyi sebagai salah satu aspek prosodi.
Korpus data berupa bentuk fonologis kognat.
Bentuk fonologis kognat Ulu Kapuas diperoleh dari dan/atau didasarkan pada kajian terdahulu atas aspek fonologis satuan leksikal Ulu Kapuas yang dilakukan oleh Yusriadi (2007).
Sementara itu, kognat Indonesia merupakan satuan leksikal Indonesia yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan merupakan padanan bagi satuan leksikal Ulu Kapuas tersebut di atas; dan bentuk fonologisnya ditentukan dengan merujuk ke kaidah grafem-fonem dalam bahasa Indonesia yang dianjurkan oleh Fauzi (2015).
Pelemahan konsonan, penguatan konsonan, lenisi, fortisi, pengenduran vokal, penegangan vokal, diftongisasi, monoftongisasi, perubahan posisi-lidah dalam produksi vokal, penggabungan bunyi, metatesis, penghilangan bunyi, haplologi, penambahan bunyi, asimilasi, disimilasi, glotalisasi, nasalisasi, perpanjangan bunyi, pemendekan kata, pemanjangan kata, dan de-reduplikasi kata menjadi temuan.
Kaidah fonotaktis serta persebaran segmen dalam kognat yang dimiliki oleh dua kode bahasa itu pun menjadi temuan.

Related Results

Sikap dan Motivasi Murid Sekolah Rendah dalam Kalangan Etnik Luar Bandar Terhadap Bahasa Melayu
Sikap dan Motivasi Murid Sekolah Rendah dalam Kalangan Etnik Luar Bandar Terhadap Bahasa Melayu
Sikap dan motivasi dalam kalangan etnik di luar bandar terhadap bahasa Melayu akan mempengaruhi penguasaan bahasa tersebut.walaupun bahasa Melayu telah digunakan secara meluas ole...
Vitaliti Semasa Bahasa Melayu di Negara Brunei Darussalam
Vitaliti Semasa Bahasa Melayu di Negara Brunei Darussalam
Perdebatan mengenai “pertelingkahan bahasa Melayu dan bahasa Inggeris” sentiasa wujud di alam Melayu. Walaupun bahasa Melayu merupakan bahasa rasmi/bahasa kebangsaan dan juga bahas...
MAKIAN DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SELIMBAU KAPUAS HULU (SWEARING IN MALAY LANGUAGE OF SELIMBAU KAPUAS HULU DIALECT)
MAKIAN DALAM BAHASA MELAYU DIALEK SELIMBAU KAPUAS HULU (SWEARING IN MALAY LANGUAGE OF SELIMBAU KAPUAS HULU DIALECT)
Fenomena makian di setiap daerah merupakan hal tabu. Makian di setiap daerah memiliki keunikan dan kecirikhasan tersendiri. Ungkapan makian merupakan bentuk pelampiasan perasaan ya...
MEMARTABATKAN BAHASA MELAYU MELALUI PENDIDIKAN DAN MENDEPANI CABARAN GLOBALISASI
MEMARTABATKAN BAHASA MELAYU MELALUI PENDIDIKAN DAN MENDEPANI CABARAN GLOBALISASI
ABSTRAK Makalah ini membincangkan usaha memartabatkan bahasa Melayu melalui pendidikan. Tujuan utama ke arah ini adalah kerana bahasa Melayu merupakan bahasa kebangsaan yang menja...
Analisis Dialek Kelantan dan Simbol Budaya Masyarakat Dalam Telefilem Ikan Singgang Cicah Budu
Analisis Dialek Kelantan dan Simbol Budaya Masyarakat Dalam Telefilem Ikan Singgang Cicah Budu
Dialek merupakan Bahasa daerah atau setempat yang digunakan di seluruh negara. Setiap negeri mempunya dialek yang tersendiri. Walaupun Masyarakat di Malaysia mempunyai kepelbagaian...
Vokal Beraspirat dan Konsonan Bergeminasi h [hh] ~ [hh] dalam Proses Penerbitan Kata Bahasa Melayu
Vokal Beraspirat dan Konsonan Bergeminasi h [hh] ~ [hh] dalam Proses Penerbitan Kata Bahasa Melayu
Kata dasar bahasa Melayu standard mempunyai satu grafem h yang sama tetapi membawa nilai bunyi yang berbeza menurut lingkungan fonetik, seperti konsonan aspirasi/ h /: [ h ...
Proses Fonologis Bahasa Gaul Generasi ‘Z’ di Sosial Media (Analisis Fonologi Generatif)
Proses Fonologis Bahasa Gaul Generasi ‘Z’ di Sosial Media (Analisis Fonologi Generatif)
Proses pembentukan bahasa gaul generasi Z di social media diperoleh pemendekan kata, singkatan dan kata yang dipelesetkan sehingga sangat menarik jika dikaji dari sisi fonologi gen...
REPRESENTASI BUDAYA MELAYU BERDASARKAN KERANGKA BUDAYA 3P DALAM PENGAJARAN BAHASA MELAYU DI TUFS, JEPUN
REPRESENTASI BUDAYA MELAYU BERDASARKAN KERANGKA BUDAYA 3P DALAM PENGAJARAN BAHASA MELAYU DI TUFS, JEPUN
Budaya sering kali dipersembahkan secara tidak seimbang dan tidak lengkap dalam pengajaran bahasa terutamanya bahasa asing. Oleh itu, Kajian ini dijalankan untuk meneroka represent...

Back to Top