Javascript must be enabled to continue!
DINAMIKA PEMETAAN BATAS DESA/KELURAHAN SECARA KARTOMETRIK TANPA KESEPAKATAN DI PROVINSI ACEH
View through CrossRef
Ketersediaan data spasial batas desa/kelurahan di Indonesia khususnya Provinsi Aceh yang secara geometri dan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan sangat minim. Kegiatan pemetaan batas desa/kelurahan secara kartometrik tanpa kesepakatan yang dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui Pusat Pemetaan Batas Wilayah (PPBW) bertujuan untuk mengisi tidak tersedianya data spasial batas desa/kelurahan di Provinsi Aceh. Jumlah lokasi yang dilakukan kegiatan tersebut sebanyak 5.376 desa/kelurahan di 222 kecamatan, dan 18 kabupaten/kota. Penggunaan citra satelit Spot 6/7, foto udara, toponimi, dan data dukung lain dilakukan untuk mempermudah dalam mengidentifikasi objek-objek yang berada disekitar batas. Metode yang digunakan dalam delineasi batas desa adalah metode kartometrik dan pemetaan partisipatif yang melibatkan aparat daerah mulai dari aparat kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan sampai dengan tokoh masyarakat. Dalam prosesnya di lapangan terjadi berbagai kendala baik hal teknis maupun non teknis. Keterbatasan pengetahuan aparat desa dalam memahami peta menjadi tantangan terbesar. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pemetaan batas desa/kelurahan secara kartometrik tanpa kesepakatan ini adalah data spasial garis batas desa/kelurahan yang menghasilkan 3 kriteria area yaitu area saling klaim, tidak saling klaim, dan tidak terdefinisi.
Geospatial Information Agency of The Republic of Indonesia
Title: DINAMIKA PEMETAAN BATAS DESA/KELURAHAN SECARA KARTOMETRIK TANPA KESEPAKATAN DI PROVINSI ACEH
Description:
Ketersediaan data spasial batas desa/kelurahan di Indonesia khususnya Provinsi Aceh yang secara geometri dan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan sangat minim.
Kegiatan pemetaan batas desa/kelurahan secara kartometrik tanpa kesepakatan yang dilakukan Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui Pusat Pemetaan Batas Wilayah (PPBW) bertujuan untuk mengisi tidak tersedianya data spasial batas desa/kelurahan di Provinsi Aceh.
Jumlah lokasi yang dilakukan kegiatan tersebut sebanyak 5.
376 desa/kelurahan di 222 kecamatan, dan 18 kabupaten/kota.
Penggunaan citra satelit Spot 6/7, foto udara, toponimi, dan data dukung lain dilakukan untuk mempermudah dalam mengidentifikasi objek-objek yang berada disekitar batas.
Metode yang digunakan dalam delineasi batas desa adalah metode kartometrik dan pemetaan partisipatif yang melibatkan aparat daerah mulai dari aparat kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan sampai dengan tokoh masyarakat.
Dalam prosesnya di lapangan terjadi berbagai kendala baik hal teknis maupun non teknis.
Keterbatasan pengetahuan aparat desa dalam memahami peta menjadi tantangan terbesar.
Hasil yang diperoleh dari kegiatan pemetaan batas desa/kelurahan secara kartometrik tanpa kesepakatan ini adalah data spasial garis batas desa/kelurahan yang menghasilkan 3 kriteria area yaitu area saling klaim, tidak saling klaim, dan tidak terdefinisi.
Related Results
Pemetaan Batas Desa Sebagai Model Perencanaan Partisipatif di Kabupaten Demak
Pemetaan Batas Desa Sebagai Model Perencanaan Partisipatif di Kabupaten Demak
Abstrak. Desa memiliki peran sentral dalam pembangunan nasional terutama setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Banyaknya permasalahan yang ditimbulkan ak...
METODE PENYELESAIAN SENGKETA BATAS DESA UPT TAMBAK SARI KECAMATAN POTO TANO KABUPATEN SUMBAWA BARAT
METODE PENYELESAIAN SENGKETA BATAS DESA UPT TAMBAK SARI KECAMATAN POTO TANO KABUPATEN SUMBAWA BARAT
Riwayat Artikel:Diterima: …-…-…Disetujui: …-…-… Abstrak: Faktor pemerataan merupakan alasan kebutuhan adanya pemekaraan wilayah desa, tidak sedikit dari pemekaran wilayah desa memi...
Penerapan Metode Kartometrik untuk Pemetaan Batas Wilayah Desa di Daerah Terpencil: Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Ampa Kolak
Penerapan Metode Kartometrik untuk Pemetaan Batas Wilayah Desa di Daerah Terpencil: Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Ampa Kolak
An administrative village boundary map is one of the essential elements needed for village development planning. However, many villages, especially those located in remote areas su...
PembuatanPeta Kerja Dalam Rangka Identifikasi Panjang Segmen Batas Kelurahan
PembuatanPeta Kerja Dalam Rangka Identifikasi Panjang Segmen Batas Kelurahan
Segmen batas adalah segmen berupa garis batas, biasanya antara dua blok tanah berdekatan. Garis segmen ini penting dalam menentukan batas properti dan menentukan kepemilikan tanah....
URGENSI PENGATURAN HUKUM PENYIARAN ACEH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENGAKTUALISASI NILAI ISLAM DAN BUDAYA MASYARAKAT ACEH
URGENSI PENGATURAN HUKUM PENYIARAN ACEH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENGAKTUALISASI NILAI ISLAM DAN BUDAYA MASYARAKAT ACEH
Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1). Pengaturan Hukum Penyiaran Aceh dalam mengaktualisasi nilai keislaman dan Kearifan budaya local masyarakat Aceh (2) Program Penyiaran Ac...
Analysis of Aceh TV Programs in An Effort to Preserve Aceh Culture
Analysis of Aceh TV Programs in An Effort to Preserve Aceh Culture
The problems contained in the problem formulation are (1) What is the vision and mission of Aceh TV. And how Aceh TV realizes the vision and mission. (2) What programs are aired by...
PERKEMBANGAN BENTUK KERAJINAN RENCONG DI DESA BAET KECAMATAN SUKA MAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR
PERKEMBANGAN BENTUK KERAJINAN RENCONG DI DESA BAET KECAMATAN SUKA MAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR
AbstrakRencong merupakan produk budaya lokal Aceh yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek monyangnya suku Aceh. Rencong sebagai senjata tradisional sekaligus simbol identit...
Pemetaan Partisipatif Batas Administrasi Dusun di Desa Singajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Pemetaan Partisipatif Batas Administrasi Dusun di Desa Singajaya, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat
Pemetaan batas desa (dusun) sangat penting untuk mengatasi masalah administrasi dan inventarisasi aset desa. Permasalahan yang sering dihadapi adalah ketidakjelasan batas administr...

