Javascript must be enabled to continue!
PERKEMBANGAN BENTUK KERAJINAN RENCONG DI DESA BAET KECAMATAN SUKA MAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR
View through CrossRef
AbstrakRencong merupakan produk budaya lokal Aceh yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek monyangnya suku Aceh. Rencong sebagai senjata tradisional sekaligus simbol identitas diri masyarakat Aceh memiliki sejarah panjang dan bentuk yang menarik. Sampai saat ini rencong Aceh tetap diminati oleh masyarakat Aceh maupun pendatang yang berkunjung ke daerah Aceh. Seiring dengan berlakunya PSBB di Aceh, juga berdampak terhadap pengrajin rencong, Kondisi ini juga menuntut masyarakat harus mencari pekerjaan lain untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dampak virus covid-19 dirasakan langsung oleh pengrajin rencong yang ada di tiga desa Baet yaitu, Baet Masjid, Baet Lampuot dan Baet Meusago di kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar. Beberapa pengrajin yang bertahan, dikarenakan tidak adanya pekerjaan lain seperti yang dilakukan oleh bapak Yudi Hidayat, Ibrahin dan Zuhri. Pemerintah Aceh bahkan telah menetapkan kampung-kampung ini sebagai kampung rencong yang menjadi destinasi wisata baru di Aceh. Sebelum Covid- 19 hampir semua penduduknya berpropesi sebagai pengrajin rencong. Membuat rencong dilakukan secara turun-temurun dimana pembuatan kerajinan ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Keunikan rencong dapat dilihat dari bentuknya yang menyerupai kalimat Bismillah ditulis dalam bahasa Arab. Hal ini menunjukkan adanya hubungan erat antara rencong dengan Islam. Perubahan zaman tentunya turut mengubah kebudayaan, dalam hal ini turut merubah bentuk rencong dan fungsi rencong itu sendiri, dimana dahulunya bentuk rencong hanya berukuran 35 cm dan dalam perkembanganya bentuk rencong saat ini sudah mulai ber pariasi mulai dari ukuran 15 cm sampai dengan 2 M, selain itu rencong pada saat ini produksi lebih memanfaatkan pamor rencong sebagai salah satu senjata khas Aceh yang ada di Indonesia sehingga fungsinya beralih dari fungsi praktis menjadi fungsi estetis sehingga tujuan produksinya turut mempengaruhinya, dimana rencong saat ini sudah digunakan sebagai aksesoris dalam pakaian adat Aceh dan aksesoris dalam pagelaran pertunjukan. Metode penelitian “Perkembangan Bentuk Kerajinan Rencong di Desa Baet Kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar” ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif. Metode ini dapat menjawab semua rumusan masalah dalam penelitian ini. metode kualitatif juga dapat menggali informasi secara mendalam. Kata Kunci: rencong, kerajinan, fungsi estetis.AbstractRencong is a product of local Aceh culture that has been passed down from generation to generation by his Acehnese mony grandmother. Rencong as a traditional weapon as well as a symbol of Acehnese identity has a long history and an interesting form. Until now, Aceh rencong is still in demand by Acehnese people and migrants visiting the area. Along with the enactment of the Large-Scale Social Restrictions in Aceh it also has an impact on rencong craftsmen, this condition also requires people to find other jobs to be able to meet their daily needs, the impact of the covid-19 virus is felt directly by rencong craftsmen in three Baet villages, namely, Baet Masjid, Baet Lampuot and Baet Meusago in Sukamakmur sub-district, Aceh Besar district. Some of the craftsmen who survived, were due to the absence of other jobs such as those done by Yudi Hidayat, Ibrahin and Zuhri. In this case, the Aceh government has even designated these villages as Rencong villages which have become new tourist destinations in Aceh. Almost all residents work as rencong craftsmen. Making rencong has been done from generation to generation. The making of this craft is done by both men and women. The uniqueness of rencong can be seen from its shape which resembles the sentence Bismillah written in Arabic. This shows the close relationship between rencong and Islam. Changes in time have certainly changed the culture, in this case also changing the shape of the rencong and the function of the rencong itself, where previously the shape of the rencong was only 35 cm in size and in its development the shape of the rencong now varies from 15 cm to 2 M in size, besides The current rencong production utilizes the prestige of rencong as one of Aceh's typical weapons in Indonesia so that its function is shifted from a practical function to an aesthetic function so that its production objectives also influence, where rencong is currently used as an accessory in Acehnese traditional clothing and accessories in performances the research method "Development of Rencong Craft Forms in Baet Village, Suka Makmur District, Aceh Besar District. "This is done using qualitative research. This method can answer all problem formulations in this study. Qualitative methods can also digging information. Keywords: rencong, craft, aesthetic function..
Title: PERKEMBANGAN BENTUK KERAJINAN RENCONG DI DESA BAET KECAMATAN SUKA MAKMUR KABUPATEN ACEH BESAR
Description:
AbstrakRencong merupakan produk budaya lokal Aceh yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek monyangnya suku Aceh.
Rencong sebagai senjata tradisional sekaligus simbol identitas diri masyarakat Aceh memiliki sejarah panjang dan bentuk yang menarik.
Sampai saat ini rencong Aceh tetap diminati oleh masyarakat Aceh maupun pendatang yang berkunjung ke daerah Aceh.
Seiring dengan berlakunya PSBB di Aceh, juga berdampak terhadap pengrajin rencong, Kondisi ini juga menuntut masyarakat harus mencari pekerjaan lain untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dampak virus covid-19 dirasakan langsung oleh pengrajin rencong yang ada di tiga desa Baet yaitu, Baet Masjid, Baet Lampuot dan Baet Meusago di kecamatan Sukamakmur Kabupaten Aceh Besar.
Beberapa pengrajin yang bertahan, dikarenakan tidak adanya pekerjaan lain seperti yang dilakukan oleh bapak Yudi Hidayat, Ibrahin dan Zuhri.
Pemerintah Aceh bahkan telah menetapkan kampung-kampung ini sebagai kampung rencong yang menjadi destinasi wisata baru di Aceh.
Sebelum Covid- 19 hampir semua penduduknya berpropesi sebagai pengrajin rencong.
Membuat rencong dilakukan secara turun-temurun dimana pembuatan kerajinan ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.
Keunikan rencong dapat dilihat dari bentuknya yang menyerupai kalimat Bismillah ditulis dalam bahasa Arab.
Hal ini menunjukkan adanya hubungan erat antara rencong dengan Islam.
Perubahan zaman tentunya turut mengubah kebudayaan, dalam hal ini turut merubah bentuk rencong dan fungsi rencong itu sendiri, dimana dahulunya bentuk rencong hanya berukuran 35 cm dan dalam perkembanganya bentuk rencong saat ini sudah mulai ber pariasi mulai dari ukuran 15 cm sampai dengan 2 M, selain itu rencong pada saat ini produksi lebih memanfaatkan pamor rencong sebagai salah satu senjata khas Aceh yang ada di Indonesia sehingga fungsinya beralih dari fungsi praktis menjadi fungsi estetis sehingga tujuan produksinya turut mempengaruhinya, dimana rencong saat ini sudah digunakan sebagai aksesoris dalam pakaian adat Aceh dan aksesoris dalam pagelaran pertunjukan.
Metode penelitian “Perkembangan Bentuk Kerajinan Rencong di Desa Baet Kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar” ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif.
Metode ini dapat menjawab semua rumusan masalah dalam penelitian ini.
metode kualitatif juga dapat menggali informasi secara mendalam.
Kata Kunci: rencong, kerajinan, fungsi estetis.
AbstractRencong is a product of local Aceh culture that has been passed down from generation to generation by his Acehnese mony grandmother.
Rencong as a traditional weapon as well as a symbol of Acehnese identity has a long history and an interesting form.
Until now, Aceh rencong is still in demand by Acehnese people and migrants visiting the area.
Along with the enactment of the Large-Scale Social Restrictions in Aceh it also has an impact on rencong craftsmen, this condition also requires people to find other jobs to be able to meet their daily needs, the impact of the covid-19 virus is felt directly by rencong craftsmen in three Baet villages, namely, Baet Masjid, Baet Lampuot and Baet Meusago in Sukamakmur sub-district, Aceh Besar district.
Some of the craftsmen who survived, were due to the absence of other jobs such as those done by Yudi Hidayat, Ibrahin and Zuhri.
In this case, the Aceh government has even designated these villages as Rencong villages which have become new tourist destinations in Aceh.
Almost all residents work as rencong craftsmen.
Making rencong has been done from generation to generation.
The making of this craft is done by both men and women.
The uniqueness of rencong can be seen from its shape which resembles the sentence Bismillah written in Arabic.
This shows the close relationship between rencong and Islam.
Changes in time have certainly changed the culture, in this case also changing the shape of the rencong and the function of the rencong itself, where previously the shape of the rencong was only 35 cm in size and in its development the shape of the rencong now varies from 15 cm to 2 M in size, besides The current rencong production utilizes the prestige of rencong as one of Aceh's typical weapons in Indonesia so that its function is shifted from a practical function to an aesthetic function so that its production objectives also influence, where rencong is currently used as an accessory in Acehnese traditional clothing and accessories in performances the research method "Development of Rencong Craft Forms in Baet Village, Suka Makmur District, Aceh Besar District.
"This is done using qualitative research.
This method can answer all problem formulations in this study.
Qualitative methods can also digging information.
Keywords: rencong, craft, aesthetic function.
.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
MAKNA RENCONG BAGI UREUENG ACEH
MAKNA RENCONG BAGI UREUENG ACEH
AbstrakSalah satu upaya manusia mempertahankan diri adalah dengan menggunakan senjata. Pada setiap suku bangsa di Indonesia memiliki senjata yang khas menurut budayanya masing-masi...
PENGEMBANGAN POTENSI RENCONG MELALUI PELATIHAN ELECTROCHEMICAL ETCHING WITH STENCIL MASKING DI DESA BAET ACEH BESAR
PENGEMBANGAN POTENSI RENCONG MELALUI PELATIHAN ELECTROCHEMICAL ETCHING WITH STENCIL MASKING DI DESA BAET ACEH BESAR
Rencong merupakan senjata tradisional sekaligus warisan budaya Aceh yang merepresentasikan sejarah, filosofi, dan identitas masyarakatnya. Seiring perkembangan zaman, fungsi rencon...
URGENSI PENGATURAN HUKUM PENYIARAN ACEH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENGAKTUALISASI NILAI ISLAM DAN BUDAYA MASYARAKAT ACEH
URGENSI PENGATURAN HUKUM PENYIARAN ACEH BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MENGAKTUALISASI NILAI ISLAM DAN BUDAYA MASYARAKAT ACEH
Penelitian ini bertujuan menganalisis: (1). Pengaturan Hukum Penyiaran Aceh dalam mengaktualisasi nilai keislaman dan Kearifan budaya local masyarakat Aceh (2) Program Penyiaran Ac...
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA KAWUNGLARANG, KECAMATAN RANCAH, KABUPATEN CIAMIS
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA KAWUNGLARANG, KECAMATAN RANCAH, KABUPATEN CIAMIS
Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraan Pemerintah...
SEJARAH DESA TALAGA BESAR KECAMATAN TALAGA RAYA KABUPATEN BUTON TENGAH (1977-2017)
SEJARAH DESA TALAGA BESAR KECAMATAN TALAGA RAYA KABUPATEN BUTON TENGAH (1977-2017)
ABSTRAK: Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah: (1) Apa latar belakang terbentuknya Desa Talaga Besar Kecamatan Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah? (2) Bagaimana berkemban...
KAJIAN ESTETIKA KUPIAH RIMAN DESA DAYAH ADAN KABUPATEN PIDIE
KAJIAN ESTETIKA KUPIAH RIMAN DESA DAYAH ADAN KABUPATEN PIDIE
Daerah Aceh kaya akan kebudayaan, banyak hasil kebudayaan Aceh yang tidak terlepas dari nuansa Islami, salah satu contoh dalam seni rupa adalah kupiah riman yang digunakan oleh kau...
Identifikasi Bangunan-Bangunan Peninggalan Sejarah Masa Kolonial Belanda di Pesisir Timur Aceh
Identifikasi Bangunan-Bangunan Peninggalan Sejarah Masa Kolonial Belanda di Pesisir Timur Aceh
The Dutch colonial presence in the eastern coastal region of Aceh had a significant influence on infrastructure development and cultural changes in the area. The buildings left ove...

