Javascript must be enabled to continue!
Nilai Aksiologis Pernikahan Jilu Pada Masyarakat Jawa
View through CrossRef
Abstrak
Penelitian ini membahas tentang nilai di balik mitos yang direpresentasikan oleh masyarakat Dusun Tempursari sebagai mitos pernikahan Jilu. Masyarakat Jawa dikenal dengan penduduknya yang menjaga tradisi leluhur, pernikahan adalah salah satunya. Penelitian ini menjabarkan dua hal pokok, yaitu gambaran umum mengenai mitos pernikahan Jilu di Dusun Tempursari dan bagaimana etika Jawa dalam memandang fenomena ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi lapangan. Sumber data penelitian ini adalah tokoh masyarakat dan pasangan Jilu, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari literatur lain, seperti buku, jurnal, serta artikel yang sesuai dengan tema penelitian. Setelah itu dianalisis menggunakan teori Etika Jawa Franz Magnis Suseno. Berdasarkan dari hasil analisis didapati bahwa masyarakat Dusun Tempursari dalam kesehariannya masih tetap menghindari mitos pernikahan Jilu. Selain itu masyarakat yang menghindari larangan dikarenakan mematuhi perintah orang tua dan tidak ingin merusak kedamaian masyarakat setempat. Hal ini selaras dengan pendapat Franz Magnis bahwa prinsip kerukunan memainkan peran penting dalam kehidupan orang Jawa. Melalui prinsip kerukunan ini Suseno membagi orang menjadi manusia bodoh dan manusia bijaksana. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Tempursari adalah manusia bijaksana karena memilih menjalankan mitos Jilu untuk menjaga keselarasan sosial dan mencegah terjadinya konflik-konflik sosial yang mungkin saja bisa terjadi.
Abstract
This study discusses the value behind the myth of Jilu's wedding. Javanese people are known for their inhabitants who uphold the traditions of their ancestors, marriage is one of them. This research describes two main things, namely a general description of the myths of Jilu's wedding and how Javanese ethics in viewing this phenomenon. This research is a qualitative research. After that it was analyzed using Javanese ethical theory Franz Magnis Suseno. Based on the results of the analysis, it was found that the people of Tempursari village in their daily lives still avoid the myths of Jilu's wedding. In addition, people who avoid the prohibition are due to complying with parents' orders and don’t want to damage the peace of the local community. This is in line with Franz Magnis's opinion that the principle of harmony plays an important role in the lives of Javanese people. Through this principle of harmony, Suseno divides people into stupid and wise humans. This phenomenon shows that the people of Tempursari village are wise humans because they choose to carry out the myths of the Jilu to maintain social harmony and prevent social conflicts that might occur.
Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama
Title: Nilai Aksiologis Pernikahan Jilu Pada Masyarakat Jawa
Description:
Abstrak
Penelitian ini membahas tentang nilai di balik mitos yang direpresentasikan oleh masyarakat Dusun Tempursari sebagai mitos pernikahan Jilu.
Masyarakat Jawa dikenal dengan penduduknya yang menjaga tradisi leluhur, pernikahan adalah salah satunya.
Penelitian ini menjabarkan dua hal pokok, yaitu gambaran umum mengenai mitos pernikahan Jilu di Dusun Tempursari dan bagaimana etika Jawa dalam memandang fenomena ini.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi lapangan.
Sumber data penelitian ini adalah tokoh masyarakat dan pasangan Jilu, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari literatur lain, seperti buku, jurnal, serta artikel yang sesuai dengan tema penelitian.
Setelah itu dianalisis menggunakan teori Etika Jawa Franz Magnis Suseno.
Berdasarkan dari hasil analisis didapati bahwa masyarakat Dusun Tempursari dalam kesehariannya masih tetap menghindari mitos pernikahan Jilu.
Selain itu masyarakat yang menghindari larangan dikarenakan mematuhi perintah orang tua dan tidak ingin merusak kedamaian masyarakat setempat.
Hal ini selaras dengan pendapat Franz Magnis bahwa prinsip kerukunan memainkan peran penting dalam kehidupan orang Jawa.
Melalui prinsip kerukunan ini Suseno membagi orang menjadi manusia bodoh dan manusia bijaksana.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Dusun Tempursari adalah manusia bijaksana karena memilih menjalankan mitos Jilu untuk menjaga keselarasan sosial dan mencegah terjadinya konflik-konflik sosial yang mungkin saja bisa terjadi.
Abstract
This study discusses the value behind the myth of Jilu's wedding.
Javanese people are known for their inhabitants who uphold the traditions of their ancestors, marriage is one of them.
This research describes two main things, namely a general description of the myths of Jilu's wedding and how Javanese ethics in viewing this phenomenon.
This research is a qualitative research.
After that it was analyzed using Javanese ethical theory Franz Magnis Suseno.
Based on the results of the analysis, it was found that the people of Tempursari village in their daily lives still avoid the myths of Jilu's wedding.
In addition, people who avoid the prohibition are due to complying with parents' orders and don’t want to damage the peace of the local community.
This is in line with Franz Magnis's opinion that the principle of harmony plays an important role in the lives of Javanese people.
Through this principle of harmony, Suseno divides people into stupid and wise humans.
This phenomenon shows that the people of Tempursari village are wise humans because they choose to carry out the myths of the Jilu to maintain social harmony and prevent social conflicts that might occur.
Related Results
Millennial Generation's Views On The Myth Of “Jilu Marriage” In Nganjuk East Java
Millennial Generation's Views On The Myth Of “Jilu Marriage” In Nganjuk East Java
One of Indonesia’s attractive cultures is available in the Javanese culture, especially in marriage tradition. Javanese marriage has been practiced in the forms of ritual or tradit...
Persepsi Remaja Mengenai Pernikahan Dini Yang Terjadi Di Kecamatan Kabawo Kab. Muna Tahun 2022
Persepsi Remaja Mengenai Pernikahan Dini Yang Terjadi Di Kecamatan Kabawo Kab. Muna Tahun 2022
Latar Belakang: Pernikahan dini menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) adalah pernikahan yang berlangsung pada umur di bawah usia reproduktif yaitu kurang dari 2...
Hubungan Antara Religiusitas dan Komitmen Pernikahan dengan Kepuasan Pernikahan Dini pada Remaja
Hubungan Antara Religiusitas dan Komitmen Pernikahan dengan Kepuasan Pernikahan Dini pada Remaja
Marital satisfaction is a feeling of satisfaction or happiness that arises from a balance between individual needs and the needs of a partner. This research is a quantitative study...
EKSISTENSI PERNIKAHAN SEKUFU PADA KALANGAN SYARIFAH GENERASI Z KETURUNAN BA-’ALAWI DI PURWAKARTA
EKSISTENSI PERNIKAHAN SEKUFU PADA KALANGAN SYARIFAH GENERASI Z KETURUNAN BA-’ALAWI DI PURWAKARTA
Dalam penelitian yang berjudul “Eksistensi Pernikahan Sekufu Pada Kalangan Syarifah Generasi Z Keturunan Ba-’Alawi di Purwakarta” ini memaparkan informasi mengenai eksistensi perni...
Nilai-nilai karakter budaya Belis dalam perkawinan adat masyarakat Desa Benteng Tado Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur
Nilai-nilai karakter budaya Belis dalam perkawinan adat masyarakat Desa Benteng Tado Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur
Penelitian ini dilatarbelakang oleh perubahan sistem perkawinan adat yang menggunakan belis di desa Benteng Tado. Budaya belis menjadi beban ekonomi bagi masyarakat karena sudah be...
TRADISI ADAT JAWA DALAM PELAKSANAAN PERNIKAHAN PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
TRADISI ADAT JAWA DALAM PELAKSANAAN PERNIKAHAN PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Penelitian ini menginvestigasi tradisi adat Jawa dalam pelaksanaan pernikahan dari perspektif hukum Islam. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis sejauh mana tradisi adat Jawa...
MARRIAGE AND JAVA’S TABOOS
MARRIAGE AND JAVA’S TABOOS
Abstrak: Masyarakat Jawa memiliki pantangan yang banyak dalam menentukan perjodohan. Pantangan tersebut ada pada saat memilih pasangan hidup, ada pula yang berlaku pada saat proses...
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM BUDAYA PERNIKAHAN MASYARAKAT KAJANG BULUKUMBA
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM BUDAYA PERNIKAHAN MASYARAKAT KAJANG BULUKUMBA
Nilai-nilai pendidikan Islam berorientasi pada pembentukan individu yang religius, bermoral dan berbudaya. Nilai-nilai tersebut meliputi tiga nilai pokok, yaitu: nilai i’tiqadiyah,...

