Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Millennial Generation's Views On The Myth Of “Jilu Marriage” In Nganjuk East Java

View through CrossRef
One of Indonesia’s attractive cultures is available in the Javanese culture, especially in marriage tradition. Javanese marriage has been practiced in the forms of ritual or traditional ceremonies one of which is Jilu marriage. Jilu marriage is a customary law that prohibits a marriage between the fisrt child and the third child. Javanese people believe that the transgression of this law may bring about misfortune. This study explores how millennial generations view this tradition This research was conducted by using qualitative and quantitative approaches. Methods of collecting data include interview, literature review, and questionnaire. Quantitative data relies upon the statistic method while qualitative data is analyzed by reducing, exposing, and making conclusion. The study found that the mythology of Jilu marriage derives from Javanese ancestors’ beliefs that regard number 3 as sacred number. Interestingly, millennials views of this can be categorized into three groups: those who believe, those who do not take it into consideration, and those who are neutral. Salah satu budaya di Indonesia yang menarik untuk dikaji adalah budaya Jawa. Salah satunya terletak pada bidang pernikahan. Dalam melaksanakan pernikahan ada serangkaian ritual atau upacara adat yang harus dilaksanakan. Salah satu aturannya adalah dilarang melakukan pernikahan Jilu, yakni menikahkan anak nomor satu dengan anak nomor tiga karena dipercaya akan mendatangkan malapetaka. Pada era modern masyarakat Jawa masih ada yang percaya terhadap tradisi tersebut dan ada juga yang sudah meninggalkan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang mitos pernikahan Jilu dan pendapat generasi milenial tentang mitos tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, studi pustaka, dan kuesioner. Data kuantitatif yang ada dianalis dan disajikan dengan model statistika (diagram batang dan lingkaran) dan dilakukan penarikan kesimpulan, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan cara mereduksi serta memaparkan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan mitos pernikahan Jilu berasal dari kepercayaan nenek moyang suku Jawa yang mengkeramatkan angka 3 dan dampaknya sering terjadi karena menjadi guneman masyarakat. Generasi milenial di Nganjuk ada yang percaya dengan tradisi Jilu, ada yang tidak percaya, dan ada yang bersikap netral.
Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI
Title: Millennial Generation's Views On The Myth Of “Jilu Marriage” In Nganjuk East Java
Description:
One of Indonesia’s attractive cultures is available in the Javanese culture, especially in marriage tradition.
Javanese marriage has been practiced in the forms of ritual or traditional ceremonies one of which is Jilu marriage.
Jilu marriage is a customary law that prohibits a marriage between the fisrt child and the third child.
Javanese people believe that the transgression of this law may bring about misfortune.
This study explores how millennial generations view this tradition This research was conducted by using qualitative and quantitative approaches.
Methods of collecting data include interview, literature review, and questionnaire.
Quantitative data relies upon the statistic method while qualitative data is analyzed by reducing, exposing, and making conclusion.
The study found that the mythology of Jilu marriage derives from Javanese ancestors’ beliefs that regard number 3 as sacred number.
Interestingly, millennials views of this can be categorized into three groups: those who believe, those who do not take it into consideration, and those who are neutral.
Salah satu budaya di Indonesia yang menarik untuk dikaji adalah budaya Jawa.
Salah satunya terletak pada bidang pernikahan.
Dalam melaksanakan pernikahan ada serangkaian ritual atau upacara adat yang harus dilaksanakan.
Salah satu aturannya adalah dilarang melakukan pernikahan Jilu, yakni menikahkan anak nomor satu dengan anak nomor tiga karena dipercaya akan mendatangkan malapetaka.
Pada era modern masyarakat Jawa masih ada yang percaya terhadap tradisi tersebut dan ada juga yang sudah meninggalkan.
Artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang mitos pernikahan Jilu dan pendapat generasi milenial tentang mitos tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, studi pustaka, dan kuesioner.
Data kuantitatif yang ada dianalis dan disajikan dengan model statistika (diagram batang dan lingkaran) dan dilakukan penarikan kesimpulan, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan cara mereduksi serta memaparkan data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan mitos pernikahan Jilu berasal dari kepercayaan nenek moyang suku Jawa yang mengkeramatkan angka 3 dan dampaknya sering terjadi karena menjadi guneman masyarakat.
Generasi milenial di Nganjuk ada yang percaya dengan tradisi Jilu, ada yang tidak percaya, dan ada yang bersikap netral.

Related Results

Nilai Aksiologis Pernikahan Jilu Pada Masyarakat Jawa
Nilai Aksiologis Pernikahan Jilu Pada Masyarakat Jawa
Abstrak Penelitian ini membahas tentang nilai di balik mitos yang direpresentasikan oleh masyarakat Dusun Tempursari sebagai mitos pernikahan Jilu. Masyarakat Jawa dikenal dengan p...
Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Nganjuk Tahun 2014 – 2018
Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Nganjuk Tahun 2014 – 2018
This study aims to analyze: 1) Contributions and Growth of Tourism Object Levies on Nganjuk Regency Original Revenue in 2014-2018. 2) Contributions and Growth of Hotel and Restaura...
Kajian Bahaya Kebakaran Hutan di Kabupaten Nganjuk
Kajian Bahaya Kebakaran Hutan di Kabupaten Nganjuk
ABSTRACTThe Nganjuk District is mostly planted by forests, both protection forests and production forests with a total area of 20 333.00 ha. Forest and land fires often occur in Ng...
ICONIS Book Two
ICONIS Book Two
The theme of this conference is "Being Muslim in a Disrupted Millenial Age". The conference was motivated by the real challenges of the millenial generation and era. Indonesia is p...
ICONIS Cover & Preliminary Pages
ICONIS Cover & Preliminary Pages
The theme of this conference is "Being Muslim in a Disrupted Millenial Age". The conference was motivated by the real challenges of the millenial generation and era. Indonesia is p...
Balancing Tradition and Marital Stability: An Interdependence Theory Approach to Jilu Marriage Prohibition
Balancing Tradition and Marital Stability: An Interdependence Theory Approach to Jilu Marriage Prohibition
Jilu marriage refers to a union between the first and third child in a family. The community of Rejomulyo Village believes that jilu marriage brings misfortune, household instabili...
Kritik Mitos Tentang “Hang Tuah” Karya Amir Hamzah
Kritik Mitos Tentang “Hang Tuah” Karya Amir Hamzah
This study reveals the myth criticism on rhyme "Hang Tuah", an Amir Hamzah’s work expressing Malay myth. The Malay myth found in the rhyme "Hang Tuah" is placed as a meeting place ...
Kata Kunci: Kenaikan Laba, Return Saham, Kenaikan Dividen.
Kata Kunci: Kenaikan Laba, Return Saham, Kenaikan Dividen.
  Abstract. In the company work life balance is a term for balancing personal life and work. The balance that occurs between each employee is viewed from work life and person...

Back to Top