Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

MENYIKAPI BUDAYA KEKERASAN

View through CrossRef
<p>Violence that occurred during the reign of Abdurrahman Wahid, whether nuanced, religion, race and intergroup (SARA) or nuanced disintegration of the nation can not be seen from the side lahiriyah, but the violence needs to be studied in depth from various aspects which surrounds it, as Abdurrahman Wahid's rise as president is a national compromise reflected in his cabinet structure that seeks to accommodate the aspirations of all political contestants who participate in the elections, so the cabinet is called the "National Unity" cabinet. This has led to the emergence of leadership dualism from his cabinet ministers, under certain conditions to his political party and in other conditions to the President. And more exacerbating, the rise of Abdurrahman Wahid inherited the condition of 'doomsday' in all its fields as the legacy of the New Order regime under the leadership of General Soeharto. In this paper the authors will examine the violence that occurred during the reign of Abdurrahman Wahid from various aspects. In addition the author offers several solutions from Islamic perspective.</p><p> </p><p>Kekerasan-kekerasan yang terjadi pada masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid, baik yang bernuansa Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) maupun yang bernuansa disintegrasi bangsa tidak bisa dilihat dari sisi lahiriyah saja, tetapi kekerasan-kekerasan tersebut perlu dikaji secara mendalam dari berbagai aspek yang melingkupinya, karena naiknya Abdurrahman Wahid sebagai presiden merupakan suatu kompromi nasional yang tercermin dalam susunan kabinetnya yang berusaha mewadahi aspirasi dari semua kontestan politik yang ikut pemilu, sehingga kabinet tersebut dinamakan kabinet "Persatuan Nasional". Hal ini berimbas kepada munculnya dualisme kepemimpinan dari para menteri kabinetnya, dalam kondisi tertentu kepada parpolnya dan dalam kondisi yang lain kepada Presiden. Dan yang lebih memperparah, naiknya Abdurrahman Wahid mewarisi kondisi 'kiamat' dalam segala bidangnya sebagai warisan rezim Orde Baru di bawah pimpinan Jendral Soeharto. Dalam tulisan ini penulis akan mengkaji kekerasan-kekerasan yang terjadi pada masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid dari berbagai aspek. Selain itu penulis menawarkan beberapa solusi dari perspektif Islam.</p><p> </p>
Maulana Malik Ibrahim State Islamic University
Title: MENYIKAPI BUDAYA KEKERASAN
Description:
<p>Violence that occurred during the reign of Abdurrahman Wahid, whether nuanced, religion, race and intergroup (SARA) or nuanced disintegration of the nation can not be seen from the side lahiriyah, but the violence needs to be studied in depth from various aspects which surrounds it, as Abdurrahman Wahid's rise as president is a national compromise reflected in his cabinet structure that seeks to accommodate the aspirations of all political contestants who participate in the elections, so the cabinet is called the "National Unity" cabinet.
This has led to the emergence of leadership dualism from his cabinet ministers, under certain conditions to his political party and in other conditions to the President.
And more exacerbating, the rise of Abdurrahman Wahid inherited the condition of 'doomsday' in all its fields as the legacy of the New Order regime under the leadership of General Soeharto.
In this paper the authors will examine the violence that occurred during the reign of Abdurrahman Wahid from various aspects.
In addition the author offers several solutions from Islamic perspective.
</p><p> </p><p>Kekerasan-kekerasan yang terjadi pada masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid, baik yang bernuansa Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) maupun yang bernuansa disintegrasi bangsa tidak bisa dilihat dari sisi lahiriyah saja, tetapi kekerasan-kekerasan tersebut perlu dikaji secara mendalam dari berbagai aspek yang melingkupinya, karena naiknya Abdurrahman Wahid sebagai presiden merupakan suatu kompromi nasional yang tercermin dalam susunan kabinetnya yang berusaha mewadahi aspirasi dari semua kontestan politik yang ikut pemilu, sehingga kabinet tersebut dinamakan kabinet "Persatuan Nasional".
Hal ini berimbas kepada munculnya dualisme kepemimpinan dari para menteri kabinetnya, dalam kondisi tertentu kepada parpolnya dan dalam kondisi yang lain kepada Presiden.
Dan yang lebih memperparah, naiknya Abdurrahman Wahid mewarisi kondisi 'kiamat' dalam segala bidangnya sebagai warisan rezim Orde Baru di bawah pimpinan Jendral Soeharto.
Dalam tulisan ini penulis akan mengkaji kekerasan-kekerasan yang terjadi pada masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid dari berbagai aspek.
Selain itu penulis menawarkan beberapa solusi dari perspektif Islam.
</p><p> </p>.

Related Results

“Jika Ditampar Pipi Kanan, Beri Pipi Kiri”: Pacifisme Kristen sebagai Wujud Iman dalam Pendamaian (Reconciliation) dan Perdamaian (Peace)
“Jika Ditampar Pipi Kanan, Beri Pipi Kiri”: Pacifisme Kristen sebagai Wujud Iman dalam Pendamaian (Reconciliation) dan Perdamaian (Peace)
Perlawanan tanpa kekerasan sering dikaitkan dengan istilah pacifisme. Istilah pacifisme berasal dari bahasa Latin yaitu paci- yang berarti “perdamaian” dan –ficus yang berarti “mem...
Kekerasan dalam Novel Dari Dalam Kubur Karya Soe Tjen Marching: Perspektif Johan Galtung
Kekerasan dalam Novel Dari Dalam Kubur Karya Soe Tjen Marching: Perspektif Johan Galtung
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kekerasan yang terdapat dalam novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching menggunakan perspektif Johan Galtung. Tujuan dilakukannya penel...
Kekerasan Fisik Terhadap Anak Pasca Pandemik Covid 19
Kekerasan Fisik Terhadap Anak Pasca Pandemik Covid 19
Anak merupakan kelompok rentan yang perlu mendapatkan perlindungan  dari segala tindak kejahatan dan kekerasan sesuai ketentuan perundang-undangan. Kekerasan terhadap anak bukanlah...
Studi Literatur Terhadap Kekerasan di Kalangan Remaja
Studi Literatur Terhadap Kekerasan di Kalangan Remaja
Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur yang mengangkat masalah terhadap kekerasan di kalangan remaja. Tujuan penelitian untuk memberikan pemahaman terhadap pembaca men...
Urgensi Perlindungan Anak dari Kejahatan Seksual dalam Perspektif Hukum Adat di Kabupaten Buleleng
Urgensi Perlindungan Anak dari Kejahatan Seksual dalam Perspektif Hukum Adat di Kabupaten Buleleng
Berbagai motif kejahatan seksual berkembang dalam dua dekade ini. Berkembangnya teknologi informasi serta arus globalisasi menambah kembali deretan modus operandi baru dalam kejaha...
Peran Aparat Desa dalam Menanggulangi Kekerasan di masyarakat di Desa Pomayagon Ditinjau dari Pendidikan Islam
Peran Aparat Desa dalam Menanggulangi Kekerasan di masyarakat di Desa Pomayagon Ditinjau dari Pendidikan Islam
Pembahasan Skripsi ini berkaitan dengan penelitian tentang peran Aparat Desa dalam menanggulangi kekerasan masyarakat di Desa Pomayagon ditinjau dari pendidikan Islam.  Pokok perma...
PENGABDIAN MASYARAKAT TENTANG BENTUK-BENTUK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DI DESA SUMURAN WETAN KRAGILAN
PENGABDIAN MASYARAKAT TENTANG BENTUK-BENTUK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KDRT) DI DESA SUMURAN WETAN KRAGILAN
Pengabdian ini bertujuan: (i) melakukan sosialisasi pentingnya mengetahui bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga (ii) memberikan penjelasan tentang pentingnya mengetahui bentuk...

Back to Top