Javascript must be enabled to continue!
LOGIKA WUJUD SADRA MERETAS NALAR RADIKALISME BERAGAMA
View through CrossRef
Abstract: Ṣadra was a philosopher whose thought remains unique. Its uniqueness lies in his ability to articulate the various traditions of thoughts that grew and developed rapidly in Persia, the land of his birth. The traditions were peripatetic, illuminative, gnostic, and theological tradition of Islam. It has necessitated Persia as a heterogeneous region. This heterogeneity, to some extent, can susceptibly bring conflict i.e., physical violence from hurting to even casting innocent human life. Indeed, the thought of Ṣadra was born within the era of a deep reflection process responding to the socio-cultural sphere. Also, it answered the issues that emerged at that time i.e., how the heterogeneous condition did not lead to intolerance, violence, and even acts of terror, instead created a safe, peace, and harmonious atmosphere. By his thought, Ṣadra did something very valuable to solve the problems in the country. Sadra’s thought is built up by and inherent with his basic idea, fundamental and logical structure of transcendence which are relevant to be socialized in a plural and heterogeneous society in which conflict and violence are vulnerable. Socialization of logica structure is relevant for attitudes and behaviors of people since they do not appear suddenly, yet are formed due to reason or logic or way of thinking. Thus, the study of the classical intellectual treasures potentially provides a meaningful contribution to be a basic solution for similar problems existing in nowadays.Abstrak: Sadra adalah seorang filosof yang produk pemikirannya tergolong unik. Keunikannya terletak pada kepiawaiannya mendialogkan antar berbagai tradisi pemikiran yang tumbuh dan berkembang pesat di Persia, tanah kelahirannya. Tradisi pemikiran dimaksud adalah tradisi paripatetik, tradisi illuminatif, tradisi gnosis, dan tradisi teologi Islam. Hal ini telah meniscayakan Persia menjadi sebuah wilayah yang heterogen. Heterogenitas rentan memunculkan konflik sampai aksi kekerasan fisik yang seringkali melukai, bahkan melayangkan jiwa manusia tak berdosa. Sesungguhnya pemikiran Sadra lahir sebagai anak zaman dari sebuah proses refleksi mendalam, merespon kondisi sosial-kultural, menjawab persoalan yang berkembang saat itu: bagaimana agar sebuah kondisi yang heterogen tidak melahirkan intoleransi, kekerasan, bahkan aksi-aksi teror, tetapi justru tercipta suasana aman, damai, dan harmonis. Dari pemikiran wujudnya, Sadra melakukan sesuatu yang sangat berharga di negerinya dalam rangka memecahkan persoalan tersebut. Dalam pemikiran wujudnya ini terbangun dan inheren di dalamnya ide dasar, struktur fundamental, struktur logika transendensi yang relevan untuk disosialisasikan dalam masyarakat berbasis plural dan heterogen yang rentan konflik dan kekerasan tersebut. Sosialisasi struktur logika tersebut relevan karena sikap dan perilaku seseorang tidaklah muncul secara tiba-tiba tetapi terbentuk berkat nalar atau logika atau cara berpikir yang dimilikinya. Dari sini maka kajian terhadap khasanah intelektual masa lalu berpeluang bermakna dan bisa memberikan kontribusinya bagi dasar solusi permasalahan senada yang ada pada saat sekarang ini.
Title: LOGIKA WUJUD SADRA MERETAS NALAR RADIKALISME BERAGAMA
Description:
Abstract: Ṣadra was a philosopher whose thought remains unique.
Its uniqueness lies in his ability to articulate the various traditions of thoughts that grew and developed rapidly in Persia, the land of his birth.
The traditions were peripatetic, illuminative, gnostic, and theological tradition of Islam.
It has necessitated Persia as a heterogeneous region.
This heterogeneity, to some extent, can susceptibly bring conflict i.
e.
, physical violence from hurting to even casting innocent human life.
Indeed, the thought of Ṣadra was born within the era of a deep reflection process responding to the socio-cultural sphere.
Also, it answered the issues that emerged at that time i.
e.
, how the heterogeneous condition did not lead to intolerance, violence, and even acts of terror, instead created a safe, peace, and harmonious atmosphere.
By his thought, Ṣadra did something very valuable to solve the problems in the country.
Sadra’s thought is built up by and inherent with his basic idea, fundamental and logical structure of transcendence which are relevant to be socialized in a plural and heterogeneous society in which conflict and violence are vulnerable.
Socialization of logica structure is relevant for attitudes and behaviors of people since they do not appear suddenly, yet are formed due to reason or logic or way of thinking.
Thus, the study of the classical intellectual treasures potentially provides a meaningful contribution to be a basic solution for similar problems existing in nowadays.
Abstrak: Sadra adalah seorang filosof yang produk pemikirannya tergolong unik.
Keunikannya terletak pada kepiawaiannya mendialogkan antar berbagai tradisi pemikiran yang tumbuh dan berkembang pesat di Persia, tanah kelahirannya.
Tradisi pemikiran dimaksud adalah tradisi paripatetik, tradisi illuminatif, tradisi gnosis, dan tradisi teologi Islam.
Hal ini telah meniscayakan Persia menjadi sebuah wilayah yang heterogen.
Heterogenitas rentan memunculkan konflik sampai aksi kekerasan fisik yang seringkali melukai, bahkan melayangkan jiwa manusia tak berdosa.
Sesungguhnya pemikiran Sadra lahir sebagai anak zaman dari sebuah proses refleksi mendalam, merespon kondisi sosial-kultural, menjawab persoalan yang berkembang saat itu: bagaimana agar sebuah kondisi yang heterogen tidak melahirkan intoleransi, kekerasan, bahkan aksi-aksi teror, tetapi justru tercipta suasana aman, damai, dan harmonis.
Dari pemikiran wujudnya, Sadra melakukan sesuatu yang sangat berharga di negerinya dalam rangka memecahkan persoalan tersebut.
Dalam pemikiran wujudnya ini terbangun dan inheren di dalamnya ide dasar, struktur fundamental, struktur logika transendensi yang relevan untuk disosialisasikan dalam masyarakat berbasis plural dan heterogen yang rentan konflik dan kekerasan tersebut.
Sosialisasi struktur logika tersebut relevan karena sikap dan perilaku seseorang tidaklah muncul secara tiba-tiba tetapi terbentuk berkat nalar atau logika atau cara berpikir yang dimilikinya.
Dari sini maka kajian terhadap khasanah intelektual masa lalu berpeluang bermakna dan bisa memberikan kontribusinya bagi dasar solusi permasalahan senada yang ada pada saat sekarang ini.
Related Results
Nalar dan Iman dalam Kehidupan Beragama: Dikotomi atau Harmoni
Nalar dan Iman dalam Kehidupan Beragama: Dikotomi atau Harmoni
Reason is the nature of human beings and those who are religious also have faith. Therefore, believers have two fundamental basics in their life: reason and faith. In the reality, ...
Eksistensialisme Mulla Sadra
Eksistensialisme Mulla Sadra
<p>This article seeks to analyze Mulla Sadra’s philosophical existentialism. Sadra seeks to provide answers to formulate a concept called the philosophy of wisdom. In outline...
Toleransi Beragama Perspektif Wahdat Al-Wujūd Ibnu Arabi
Toleransi Beragama Perspektif Wahdat Al-Wujūd Ibnu Arabi
Agama adalah panduan hidup bagi pemeluknya agar tercipta kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, namun akhir-akhir ini muncul sifat beragama yang eksklusif dan radikal, sehingg...
RADIKALISME DALAM ISLAM. MELACAK AKAR PERMASALAHAN RADIKALISME DAN BAGAIMANA PENCEGAHANNYA
RADIKALISME DALAM ISLAM. MELACAK AKAR PERMASALAHAN RADIKALISME DAN BAGAIMANA PENCEGAHANNYA
Berada di titik ekstrim atau melewati batas kewajaran dikenal sebagai radikalisme. Radikalisme dalam Islam dapat didefinisikan sebagai paham atau gerakan yang menginterpretasikan a...
PENGARUH PEMAHAMAN MODERASI BERAGAMA TERHADAP SIKAP TOLERANSI BERAGAMA DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN DENPASAR
PENGARUH PEMAHAMAN MODERASI BERAGAMA TERHADAP SIKAP TOLERANSI BERAGAMA DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN DENPASAR
Moderasi beragama dewasa ini perlu ditumbuhkan sehingga menjadi sikap yang melekat di masyarakat Indonesia. Sebagai penggerak moderasi beragama, pegawai BDK Denpasar sudah semestin...
Strategi Kepala Sekolah Dalam Menangkal Faham Radikalisme Di MASS Jombang Tebuireng
Strategi Kepala Sekolah Dalam Menangkal Faham Radikalisme Di MASS Jombang Tebuireng
Radikalisme merupakan sebuah paham dan gerakan yang sampai saat ini masih menjadi tantangan berat bagi masyarakat Indonesia termasuk umat Islam. Lembaga Pendidikan Nasional memilik...
Penanggulangan Penyebaran Radikalisme Melalui Media Sosial dalam Hukum Pidana Indonesia
Penanggulangan Penyebaran Radikalisme Melalui Media Sosial dalam Hukum Pidana Indonesia
Media sosial kini menjadi faktor penting dalam penyebaran radikalisme di Indonesia, hal ini didukung oleh pemakaian internet yang menunjukkan tren peningkatan di Indonesia. Peneli...
PERAN MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) DALAM PROSES DERADIKALISASI DAN MODERASI DI KOTA SURAKARTA
PERAN MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI) DALAM PROSES DERADIKALISASI DAN MODERASI DI KOTA SURAKARTA
Masyarakat Kota Surakarta sangat majemuk dan multikultur, sering terjadi Radikalisme di Kota Surakarta yang menimbulkan ketegangan dan konflik antar kelompok. Tujuan penelitian ini...

