Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Kontroversi Penafsiran Sistem Politik Khilafah HTI

View through CrossRef
Meskipun ada beberapa kelompok yang menginginkan sistem khilafah, namun HT/HTI mempunyai penafsiran sendiri terhadap ayat-ayat Al-Quran yang telah diyakininya sebagai kewajiban menegakkan khilafah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research (kajian kepustakaan) dengan menggunakan prosedur penelitian kualitatif.     Hasil dari penelitian dapat disimpulkan: Pertama, ayat-ayat Al-Quran yang ditafsiri HTI dan para tokohnya diyakininya sebagai kewajiban menegakkan khilafah, antara lain QS. Al-Maidah: 48-49, QS. An-Nur: 55, QS. An-Nisa: 59, QS. Al-Baqarah: 30. Mereka yang berkeinginan menegakkan khilafah beranggapan sistem pemerintahan yang ada di Indonesia merupakan sistem kufur. Sehingga perlu diubah pada sistem Islam dengan diterapkannya hukum syariat yang hanya bisa ditempuh dengan penegakan sistem khilafah. Kedua, erkait penafsiran HTI mengenai ayat-ayat tersebut yang diyakininya sebagai dalil wajibnya menegakkan khilafah menuai kritik dan kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia terutama pada kelompok NU, Muhammadiyah dan tokoh nasionalis. Menurut yang kontra, wajibnya sistem khilafah didasarkan pada ayat Al-Quran merupakan penafsiran yang memaksa karena Al-Quran sama sekali tidak pernah menyinggung bagaimana seharusnya  bentuk sistem pemerintahan. Penafsiran HTI di kalangan yang kontra dinilai janggal dan dirasa gagasannya membahayakan keutuhan ideologi negara. Ketiga, Menurut yang pro khilafah mempunyai implikasi atau dampak yang baik untuk kondisi politik di Indonesia. Khilafah sebagai kebutuhan umat sehingga tepat untuk ditegakkan. Menurut yang kontra, justru sebaliknya khilafah tidak mempunyai implikasi atau dampak yang baik bagi politik di Indonesia karena tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, sehingga tidak tepat apabila ditegakkan. [Although there are several groups who want a caliphate system, HT/HTI has their own interpretation of the verses of the Koran which they believe are the obligation to uphold the caliphate. The method used in this research is library research using qualitative research procedures. The results of the study can be concluded: First, the verses of the Koran interpreted by HTI and its figures are believed to be the obligation to uphold the caliphate, including QS. Al-Maidah: 48-49, QS. An-Nur: 55, QS. An-Nisa: 59, QS. Al-Baqarah: 30. Those who wish to establish a caliphate think that the system of government in Indonesia is a system of kufr. So that it is necessary to change the Islamic system with the implementation of sharia law which can only be reached by enforcing the caliphate system. Second, regarding HTI's interpretation of these verses, which he believes to be the argument for the obligation to uphold the caliphate, it has drawn criticism and controversy among the Indonesian people, especially among the NU, Muhammadiyah and nationalist figures. According to the cons, the obligation of the caliphate system to be based on the verses of the Qur'an is a compelling interpretation because the Qur'an never mentions how the system of government should be. The interpretation of HTI among those who oppose it is considered odd and it is felt that its ideas endanger the integrity of the state ideology. Third, according to those who are pro-khilafah, it has good implications for political conditions in Indonesia. Khilafah as the needs of the people so it is right to be enforced. According to the cons, on the contrary, the caliphate does not have good implications or impacts for politics in Indonesia because it is not in accordance with the conditions of the Indonesian people, so it is not appropriate if it is enforced.]
Title: Kontroversi Penafsiran Sistem Politik Khilafah HTI
Description:
Meskipun ada beberapa kelompok yang menginginkan sistem khilafah, namun HT/HTI mempunyai penafsiran sendiri terhadap ayat-ayat Al-Quran yang telah diyakininya sebagai kewajiban menegakkan khilafah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research (kajian kepustakaan) dengan menggunakan prosedur penelitian kualitatif.
    Hasil dari penelitian dapat disimpulkan: Pertama, ayat-ayat Al-Quran yang ditafsiri HTI dan para tokohnya diyakininya sebagai kewajiban menegakkan khilafah, antara lain QS.
Al-Maidah: 48-49, QS.
An-Nur: 55, QS.
An-Nisa: 59, QS.
Al-Baqarah: 30.
Mereka yang berkeinginan menegakkan khilafah beranggapan sistem pemerintahan yang ada di Indonesia merupakan sistem kufur.
Sehingga perlu diubah pada sistem Islam dengan diterapkannya hukum syariat yang hanya bisa ditempuh dengan penegakan sistem khilafah.
Kedua, erkait penafsiran HTI mengenai ayat-ayat tersebut yang diyakininya sebagai dalil wajibnya menegakkan khilafah menuai kritik dan kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia terutama pada kelompok NU, Muhammadiyah dan tokoh nasionalis.
Menurut yang kontra, wajibnya sistem khilafah didasarkan pada ayat Al-Quran merupakan penafsiran yang memaksa karena Al-Quran sama sekali tidak pernah menyinggung bagaimana seharusnya  bentuk sistem pemerintahan.
Penafsiran HTI di kalangan yang kontra dinilai janggal dan dirasa gagasannya membahayakan keutuhan ideologi negara.
Ketiga, Menurut yang pro khilafah mempunyai implikasi atau dampak yang baik untuk kondisi politik di Indonesia.
Khilafah sebagai kebutuhan umat sehingga tepat untuk ditegakkan.
Menurut yang kontra, justru sebaliknya khilafah tidak mempunyai implikasi atau dampak yang baik bagi politik di Indonesia karena tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, sehingga tidak tepat apabila ditegakkan.
[Although there are several groups who want a caliphate system, HT/HTI has their own interpretation of the verses of the Koran which they believe are the obligation to uphold the caliphate.
The method used in this research is library research using qualitative research procedures.
The results of the study can be concluded: First, the verses of the Koran interpreted by HTI and its figures are believed to be the obligation to uphold the caliphate, including QS.
Al-Maidah: 48-49, QS.
An-Nur: 55, QS.
An-Nisa: 59, QS.
Al-Baqarah: 30.
Those who wish to establish a caliphate think that the system of government in Indonesia is a system of kufr.
So that it is necessary to change the Islamic system with the implementation of sharia law which can only be reached by enforcing the caliphate system.
Second, regarding HTI's interpretation of these verses, which he believes to be the argument for the obligation to uphold the caliphate, it has drawn criticism and controversy among the Indonesian people, especially among the NU, Muhammadiyah and nationalist figures.
According to the cons, the obligation of the caliphate system to be based on the verses of the Qur'an is a compelling interpretation because the Qur'an never mentions how the system of government should be.
The interpretation of HTI among those who oppose it is considered odd and it is felt that its ideas endanger the integrity of the state ideology.
Third, according to those who are pro-khilafah, it has good implications for political conditions in Indonesia.
Khilafah as the needs of the people so it is right to be enforced.
According to the cons, on the contrary, the caliphate does not have good implications or impacts for politics in Indonesia because it is not in accordance with the conditions of the Indonesian people, so it is not appropriate if it is enforced.
].

Related Results

GERAKAN SOSIAL EKS HIZBUT TAHRIR INDONESIA PASCA PEMBUBARAN (Studi Kasus di Bengkulu)
GERAKAN SOSIAL EKS HIZBUT TAHRIR INDONESIA PASCA PEMBUBARAN (Studi Kasus di Bengkulu)
Gerakan reformasi pada tahun 1998 telah membuka kran kebebasan sosial politik bagi warga negara Indonesia. Akibatnya, animo masyarakat untuk mendirikan ormas sebagai wadah perkumpu...
The Securitization of Hizbut Tahrir Indonesia
The Securitization of Hizbut Tahrir Indonesia
Hizbut-Tahrir Indonesia (HTI) is a community organization that was born from the resistance of the Islamic community against Western occupation. Western values that hegemony nation...
PENGATURAN PARTAI POLITIK DI INDONESIA
PENGATURAN PARTAI POLITIK DI INDONESIA
Partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga Negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperj...
High-energy photons vs protons in their action on vascular function in rats
High-energy photons vs protons in their action on vascular function in rats
The goal of this work was to compare the effects of a photon (PTI) and proton/hadron (HTI) irradiation on rat’s cardiovascular system. Cardiovascular functions were studied in rats...
Menggugat Khilafah: Reaktualisasi Pemikiran Politik Ali Abdul Raziq
Menggugat Khilafah: Reaktualisasi Pemikiran Politik Ali Abdul Raziq
Abstract Among Islamic thinkers, the relationship between Islam and the state is still a matter of debate which has implications for the birth of typologies, namely integralistic,...
Negara, Politik Identitas, dan Makar: Pandangan Organisasi Massa Islam Tentang Makar dan Upaya Pencegahannya Melalui PERPPU Ormas
Negara, Politik Identitas, dan Makar: Pandangan Organisasi Massa Islam Tentang Makar dan Upaya Pencegahannya Melalui PERPPU Ormas
The discourse of mass organization dismissal of Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) by the government through the Government Regulation in Lieu of Law No. 2/2017 (Perppu), that now has b...
Shifting Paradigm Penafsiran Dalam Surat An-Nisa: 3 (Studi Perbandingan Tafsir Klasik Dan Kontemporer)
Shifting Paradigm Penafsiran Dalam Surat An-Nisa: 3 (Studi Perbandingan Tafsir Klasik Dan Kontemporer)
Abstrak Tulisan ini mendiskusikan pergeseran paradigma penafsiran dalam surah an-Nisa’ (4): 3 yang selama ini menjadi isu hangat dan sering diperbincangkan dalam dunia penafsiran t...
UAS ILMU POLITIK DAN PENDIDIKAN IPS
UAS ILMU POLITIK DAN PENDIDIKAN IPS
Ilmu Politik dan Pendidikan IPS merupakan dua bidang studi yang penting dalam memahami dan mempengaruhi dinamika politik dan partisipasi warga negara dalam suatu masyarakat. Mata k...

Back to Top