Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Larangan Flexing di Media Sosial dalam Perspektif Hadis

View through CrossRef
Tulisan ini memberikan penjelasan terhadap sebuah permasalahan yakni tentang  flexing di media sosial dalam perspektif hadis membahas fenomena flexing, di mana individu berlomba-lomba memamerkan harta dan gaya hidup di media sosial, termasuk aktivitas sedekah. Dalam Islam, perilaku ini dianggap tidak baik karena melibatkan riya' (pamer) dan sum’ah (ingin didengar). Penelitian ini bertujuan untuk memahami hadis-hadis yang melarang riya dan sum’ah, serta aplikasinya terhadap fenomena flexing. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif. Sumber data primer meliputi media massa dan kitab Shahih Bukhari, sedangkan sumber sekunder berasal dari buku, artikel, dan jurnal terkait. Peneliti merangkum pendapat para ahli untuk memperoleh data yang komprehensif dan mendukung analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena flexing, terutama dalam konteks membagi-bagikan uang, dapat menjerumuskan individu ke dalam perbuatan riya dan sum’ah. Banyak konten yang bertujuan menambah pengikut, menunjukkan niat yang tidak tulus dan lebih kepada keuntungan pribadi. Meskipun berlomba-lomba dalam kebaikan itu baik, tanpa niat ikhlas karena Allah SWT, perbuatan tersebut menjadi sia-sia.
Title: Larangan Flexing di Media Sosial dalam Perspektif Hadis
Description:
Tulisan ini memberikan penjelasan terhadap sebuah permasalahan yakni tentang  flexing di media sosial dalam perspektif hadis membahas fenomena flexing, di mana individu berlomba-lomba memamerkan harta dan gaya hidup di media sosial, termasuk aktivitas sedekah.
Dalam Islam, perilaku ini dianggap tidak baik karena melibatkan riya' (pamer) dan sum’ah (ingin didengar).
Penelitian ini bertujuan untuk memahami hadis-hadis yang melarang riya dan sum’ah, serta aplikasinya terhadap fenomena flexing.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif.
Sumber data primer meliputi media massa dan kitab Shahih Bukhari, sedangkan sumber sekunder berasal dari buku, artikel, dan jurnal terkait.
Peneliti merangkum pendapat para ahli untuk memperoleh data yang komprehensif dan mendukung analisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena flexing, terutama dalam konteks membagi-bagikan uang, dapat menjerumuskan individu ke dalam perbuatan riya dan sum’ah.
Banyak konten yang bertujuan menambah pengikut, menunjukkan niat yang tidak tulus dan lebih kepada keuntungan pribadi.
Meskipun berlomba-lomba dalam kebaikan itu baik, tanpa niat ikhlas karena Allah SWT, perbuatan tersebut menjadi sia-sia.

Related Results

PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
<p>Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang di...
Flexing
Flexing
The phenomenon of self-presenting behavior in terms of material or also known as contemporary showing off, namely flexing, is closely related to material and is certainly attached ...
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
Abstract: The Tahfiz Hadis program is one of the extracurricular programs carried out at the Al Falah Puteri Islamic Boarding School Banjarbaru. This program was formed because of ...
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
Hadis disepakati sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Namun, untuk dapat menjadikannya sebagai dasar ajaran, hadis harus melewati uji naqd al-hadis dan fiqh al-hadi...
MANHAJ AHMAD LUTFI FATHULLAH DALAM HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN
MANHAJ AHMAD LUTFI FATHULLAH DALAM HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN
Kitab Durratun Nashihin merupakan salah satu kitab yang bercorak targhib dan tarhib, banyak digunakan oleh masyarakat muslim khususnya di Indonesia. Ternyata di dalamnya banyak mem...
METODE MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENDAIFKAN HADIS: TELAAH KITAB DAIF SUNAN ABU DAUD
METODE MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENDAIFKAN HADIS: TELAAH KITAB DAIF SUNAN ABU DAUD
Sunan Abu Dawud merupakan salah satu dari enam kitab hadis utama dalam tradisi hadis Sunni. Kitab ini disusun oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Ash'ath al-Sijistani pada abad ke-...
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
Penelitian ini bermaksud menjelaskan penelitian hadis menurut standar prosedur ilmiah penelitian hadis yang disebut saintifik hadis. Wacana saintifik hadis dalam konstruksi kesahih...

Back to Top