Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Kaidah-kaidah Pemahaman Esoteris Al-Qur'an Abu al-Hasan al-Haralli

View through CrossRef
Abstract: This article describes the principles of esoteric understanding of the Qur’an by Abū al-Ḥasan al-Ḥarāllī, a Moroccan sufi and Qur’anic interpreter. Lack of studies have been paid attention to al-Ḥarāllī’s hermeneutical interpretation while he has successfully formulated ten rules on esoteric understanding of the Qur’an. By using descriptive-analytical method, the article argues that al-Ḥarallī’s rules of Qur’anic interpretation is related to the principles in the tafsīr bi al-Ishārah school. Al-Ḥarāllī calls the esoteric interpretation as fahm al-Qur’ān (understanding of the Qur’an) to distinguish it from the exoteric interpretation. Of the ten principles of al-Ḥarāllī’s esoteric understanding, there are three main interrelated principles, namely (1) ma‘rifatullāh (knowing God) through His beautiful Names (asmā’ al-ḥusnā) in the Qur’an, (2) mastering the scope of the Qur’anic text, and (3) self-purification (tazkiyat al-nafs) in order to arrive at the levels of meaning of the Qur’an.    Abstrak: Artikel ini mengkaji tentang kaidah-kaidah pemahaman esoterik al-Qur’an Abū Ḥasan al-Ḥarāllī, seorang sufi dan mufasir al-Qur’an asal Maroko. Tidak cukup banyak kajian akademik yang mengkaji pemahaman al-Qur’an al-Ḥarāllī, padahal dia telah merumuskan sepuluh kaidah tentang pemahaman esoterik atas al-Qur’an. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, artikel ini berargumen bahwa rumusan kaidah-kaidah tafsir al-Ḥarāllī dikategorikan dalam kaidah-kaidah mazhab tafsīr bi al-Ishārah. Al-Ḥarāllī menyebut tafsir esoterik atas al-Qur’an dengan istilah fahm al-Qur’ān (pemahaman al-Qur’an) untuk membedakannya dengan tafsir eksoterik. Dari kesepuluh kaidah pemahaman esoterik al-Ḥarāllī, terdapat tiga prinsip utama yang saling berkaitan, yaitu (1) Makrifatullah (mengenal Allah) melalui asmā’ al-ḥusnā dalam al-Qur’an; (2) pengetahuan tentang cakupan teks al-Qur’an, dan (3) penyucian diri (tazkiyat al-nafs) untuk mencapai tingkatan-tingkatan makna al-Qur’an.
State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel
Title: Kaidah-kaidah Pemahaman Esoteris Al-Qur'an Abu al-Hasan al-Haralli
Description:
Abstract: This article describes the principles of esoteric understanding of the Qur’an by Abū al-Ḥasan al-Ḥarāllī, a Moroccan sufi and Qur’anic interpreter.
Lack of studies have been paid attention to al-Ḥarāllī’s hermeneutical interpretation while he has successfully formulated ten rules on esoteric understanding of the Qur’an.
By using descriptive-analytical method, the article argues that al-Ḥarallī’s rules of Qur’anic interpretation is related to the principles in the tafsīr bi al-Ishārah school.
Al-Ḥarāllī calls the esoteric interpretation as fahm al-Qur’ān (understanding of the Qur’an) to distinguish it from the exoteric interpretation.
Of the ten principles of al-Ḥarāllī’s esoteric understanding, there are three main interrelated principles, namely (1) ma‘rifatullāh (knowing God) through His beautiful Names (asmā’ al-ḥusnā) in the Qur’an, (2) mastering the scope of the Qur’anic text, and (3) self-purification (tazkiyat al-nafs) in order to arrive at the levels of meaning of the Qur’an.
    Abstrak: Artikel ini mengkaji tentang kaidah-kaidah pemahaman esoterik al-Qur’an Abū Ḥasan al-Ḥarāllī, seorang sufi dan mufasir al-Qur’an asal Maroko.
Tidak cukup banyak kajian akademik yang mengkaji pemahaman al-Qur’an al-Ḥarāllī, padahal dia telah merumuskan sepuluh kaidah tentang pemahaman esoterik atas al-Qur’an.
Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, artikel ini berargumen bahwa rumusan kaidah-kaidah tafsir al-Ḥarāllī dikategorikan dalam kaidah-kaidah mazhab tafsīr bi al-Ishārah.
Al-Ḥarāllī menyebut tafsir esoterik atas al-Qur’an dengan istilah fahm al-Qur’ān (pemahaman al-Qur’an) untuk membedakannya dengan tafsir eksoterik.
Dari kesepuluh kaidah pemahaman esoterik al-Ḥarāllī, terdapat tiga prinsip utama yang saling berkaitan, yaitu (1) Makrifatullah (mengenal Allah) melalui asmā’ al-ḥusnā dalam al-Qur’an; (2) pengetahuan tentang cakupan teks al-Qur’an, dan (3) penyucian diri (tazkiyat al-nafs) untuk mencapai tingkatan-tingkatan makna al-Qur’an.

Related Results

AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
  Al-Qur’an is the Final divine revelation sent down to the Final Messenger of God, the Prophet Muhammad (PBUH). Allah SWT is the creator of all humankind, Jinns, and all creatures...
Idealisasi Metode Living Qur’an
Idealisasi Metode Living Qur’an
<p align="center"><strong>Abstract</strong></p><p> </p><p>Living Qur’an is one of the contemporary method which needs some supports to be ...
Metode Penerapan Dan Pengembangan Qowa`id Al-Ahkam
Metode Penerapan Dan Pengembangan Qowa`id Al-Ahkam
Walaupun sudah ada pengembangan dalam berbagai hal terkait hukum Islam, namun dalam bidang qawa`id al-ahkam (kaidah-kaidah hukum Islam)  pengembangan  itu belum begitu tampak. Pada...
KAIDAH-KAIDAH KEBAHASAAN
KAIDAH-KAIDAH KEBAHASAAN
Ilmu Tafsir bertujuan untuk memahami makna yang terkandung dalam Al-Qur’an. Disiplin ilmu yang menjadi syarat bagi para mufasir adalah Ilmu al-qawā’id al-lugawiyah karena bahasa Al...
PENERAPAN KAIDAH FIQH DALAM FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL (DSN) TENTANG PERBANKAN SYARIAH
PENERAPAN KAIDAH FIQH DALAM FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL (DSN) TENTANG PERBANKAN SYARIAH
Tulisan ini menjelaskan tentang subtansi kaidah-kaidah fiqh dalam fatwa Dewan Syariah Nasional dan penerapan kaidah-kaidah fiqh dalam fatwa Dewan Syariah Nasional. Maka ada 96 fatw...
Çağdaş Bir Yaklaşım Olarak Makâsıdu’l-Kur’ân
Çağdaş Bir Yaklaşım Olarak Makâsıdu’l-Kur’ân
Maqasıdu’l Qur’an as a Contemporary Approach rnSince its revelation, the Qur’an has left enduring religious, political, historical, and social marks on humanity and continues to do...
Kontroversi Kaidah Taraduf Dalam Al-Qur’an
Kontroversi Kaidah Taraduf Dalam Al-Qur’an
Dalam susunan bahasa al-Qur’an, terdapat beberapa kata dengan makna yang sama tetapi berbeda dalam pengucapannya (baca: sinonim). Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi persoa...
Penentuan Kandungan Logam Magnetik Komponen Penyusun Abu Layang Batubara
Penentuan Kandungan Logam Magnetik Komponen Penyusun Abu Layang Batubara
Telah dilakukan penelitian penentuan kandungan logam magnetik penyusun abu layang batubara. Abu layang merupakan material berupa serbuk halus yang dihasilkan dari pembakaran batuba...

Back to Top