Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Kontekstualitas Islam Tentang Identitas Gender Waria

View through CrossRef
This article aims to find out the answer of gender identity polemic of transsexual in Islamic thought. Therefore, tracking the foundation of Islamic thought in the Qur’an about transsexual’s gender identification is required due to the fact that someone’s Islamic attitude is always determined by one’s interpretation. The results found indicated that the Islamic contextuality of transsexual’s gender identity can be propped on QV. Al-Hajj [22]: 5 and QV. Al-Nur [24]: 31. From those two verses, it is understood that: (1) The transsexual phenomenon is “natural reality” as imperfect created beings since in the form of a fetus (mudlghah ghairi mukhallaqah); (2) The transsexual are exception for women to cover her aurat, because of the condition as men who do not have sexual desire on women (ghairi uli al-irbat min al-rijal). This conclusion is validated from the meaning of the hadith of the Prophet who cursed transvestites as intentional behavior (bi al-qashdi/ bi takalluf), not because of the nature that cannot be avoided (bi al-khalq/ min ashl al-khilqat). In the circumstances of this kind mukhannats khalqi, the existance of transsexual’s gender identity is not cursed and even received in Islam.[Artikel ini hendak menemukan jawaban atas polemik identitas gender waria dalam pemikiran keislaman. Untuk itu, pelacakan landasan pemikiran keislaman dalam al-Qur’an tentang identifikasi gender waria diperlukan mengingat sikap keislaman seseorang senantiasa ditentukan oleh cara “bertafsir”nya. Hasil yang ditemukan menunjukkan bahwa kontekstualitas Islam mengenai identitas gender waria dapat disandarkan pada QS. Al-Hajj [22]: 5 dan QS. Al-Nur [24]: 31. Dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa: (1) fenomena waria merupakan “kenyataan kodrati” sebagai makhluk yang tercipta tidak sempurna sejak dalam bentuk janin (mudlghah ghairi mukhallaqah); (2) karena kondisinya sebagai laki-laki yang tidak berhasrat secara seksual terhadap perempuan (ghairi uli al-irbat min al-rijal), waria menjadi pengecualian bagi perempuan untuk menutup auratnya. Kesimpulan ini dikuatkan dari pemaknaan atas hadits Nabi yang melaknat waria karena perilakunya yang disengaja (bi al-qashdi/ bi takalluf), bukan karena kodrat yang tidak mungkin dihindarinya (bi al-khalq/ min ashl al-khilqat). Dalam keadaan mukhannats khalqi semacam ini, kenyataan identitas gender waria tidak dilaknat dan bahkan diterima keberadaannya dalam Islam.]
Title: Kontekstualitas Islam Tentang Identitas Gender Waria
Description:
This article aims to find out the answer of gender identity polemic of transsexual in Islamic thought.
Therefore, tracking the foundation of Islamic thought in the Qur’an about transsexual’s gender identification is required due to the fact that someone’s Islamic attitude is always determined by one’s interpretation.
The results found indicated that the Islamic contextuality of transsexual’s gender identity can be propped on QV.
Al-Hajj [22]: 5 and QV.
Al-Nur [24]: 31.
From those two verses, it is understood that: (1) The transsexual phenomenon is “natural reality” as imperfect created beings since in the form of a fetus (mudlghah ghairi mukhallaqah); (2) The transsexual are exception for women to cover her aurat, because of the condition as men who do not have sexual desire on women (ghairi uli al-irbat min al-rijal).
This conclusion is validated from the meaning of the hadith of the Prophet who cursed transvestites as intentional behavior (bi al-qashdi/ bi takalluf), not because of the nature that cannot be avoided (bi al-khalq/ min ashl al-khilqat).
In the circumstances of this kind mukhannats khalqi, the existance of transsexual’s gender identity is not cursed and even received in Islam.
[Artikel ini hendak menemukan jawaban atas polemik identitas gender waria dalam pemikiran keislaman.
Untuk itu, pelacakan landasan pemikiran keislaman dalam al-Qur’an tentang identifikasi gender waria diperlukan mengingat sikap keislaman seseorang senantiasa ditentukan oleh cara “bertafsir”nya.
Hasil yang ditemukan menunjukkan bahwa kontekstualitas Islam mengenai identitas gender waria dapat disandarkan pada QS.
Al-Hajj [22]: 5 dan QS.
Al-Nur [24]: 31.
Dari kedua ayat ini dapat dipahami bahwa: (1) fenomena waria merupakan “kenyataan kodrati” sebagai makhluk yang tercipta tidak sempurna sejak dalam bentuk janin (mudlghah ghairi mukhallaqah); (2) karena kondisinya sebagai laki-laki yang tidak berhasrat secara seksual terhadap perempuan (ghairi uli al-irbat min al-rijal), waria menjadi pengecualian bagi perempuan untuk menutup auratnya.
Kesimpulan ini dikuatkan dari pemaknaan atas hadits Nabi yang melaknat waria karena perilakunya yang disengaja (bi al-qashdi/ bi takalluf), bukan karena kodrat yang tidak mungkin dihindarinya (bi al-khalq/ min ashl al-khilqat).
Dalam keadaan mukhannats khalqi semacam ini, kenyataan identitas gender waria tidak dilaknat dan bahkan diterima keberadaannya dalam Islam.
].

Related Results

Diskriminasi Terhadap Kelompok Waria di Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta
Diskriminasi Terhadap Kelompok Waria di Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta
Pondok Pesantren Waria Al-Fatah didirikan dengan tujuan sebagai wadah untuk para santri waria dapat memperbaiki diri dan memberikan pemahaman tentang agama. Meskipun pembangunan pe...
Pengalaman Komunikasi Santri Waria di Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta
Pengalaman Komunikasi Santri Waria di Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta
Interaksi antar santri waria atau santri waria dengan lingkungannya akan memberikan pengalaman dan menciptakan bangunan makna pada setiap individu. Penelitian ini berfokus untuk me...
Persepsi Masyarakat Terhadap Kelompok Waria Pesantren
Persepsi Masyarakat Terhadap Kelompok Waria Pesantren
Tranvestites as one part of the Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) can be categorized as a muted group. They get discrimination and rejection in their activities. When they...
PENERAPAN BAURAN PEMASARAN SOSIAL LEMBAGA PENGAJIAN WARIA AL-IKHLAS SURABAYA
PENERAPAN BAURAN PEMASARAN SOSIAL LEMBAGA PENGAJIAN WARIA AL-IKHLAS SURABAYA
Studi ini ditulis berdasarkan tesis dengan judul Bauran Pemasaran Sosial Lembaga Pengajian Al-Ikhlas Pada Kaum Waria Muslim Surabaya. Lembaga pengajian waria Al-Ikhlas adalah organ...
RAGAM BAHASA WARIA DI KOTA BALIKPAPAN
RAGAM BAHASA WARIA DI KOTA BALIKPAPAN
Bahasa binan/waria merupakan salah satu bagian dalam bahasa slang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kosakata bahasa waria/ binan di kota Balikpapan serta menge...
Menelisik politik identitas di Kalimantan Barat berdasarkan perspektif filsafat politik Armada Riyanto
Menelisik politik identitas di Kalimantan Barat berdasarkan perspektif filsafat politik Armada Riyanto
Artikel ini membahas politik identitas sebagai tindakan politis yang bertujuan untuk memajukan kepentingan kelompok berdasarkan kesamaan identitas atau karakteristik mereka. Politi...
KONSEP DIRI WARIA (FENOMENA WARIA DI AKADEMI PARIWISATA MAKASSAR)
KONSEP DIRI WARIA (FENOMENA WARIA DI AKADEMI PARIWISATA MAKASSAR)
ABSTRACTThis study aims to describe the self-concept of the transgender and the process of forming the self-concept of the transgender. The data analysis of the research results wa...
Penguatan Identitas Gender pada Siswa Laki-laki Melalui Kehadiran Guru Laki-laki di Tingkat PAUD
Penguatan Identitas Gender pada Siswa Laki-laki Melalui Kehadiran Guru Laki-laki di Tingkat PAUD
Abstract: Gender identity typically aware at the age of two and will strengthen until about five years old. It is important for parents and teacher of early childhood education to ...

Back to Top