Javascript must be enabled to continue!
RELOKASI PENDUDUK TERDAMPAK BANJIR/ROB DI KOTA SEMARANG
View through CrossRef
<p class="JudulABSInd"><strong>ABSTRAK</strong></p><p class="abstrak">Kota Semarang sering dilanda banjir, baik banjir harian akibat rob ataupun banjir sungai yang datang tiap musim hujan. Banjir sungai ataupun rob dapat menimbulkan genangan di kawasan pantai, terutama kawasan permukiman penduduk dan perkantoran yang berpengaruh pada kerusakan pondasi, lantai, dan dinding rumah/bangunan. Kerugian akibat banjir/rob, di antaranya penduduk harus mengeluarkan biaya untuk meninggikan lantai setiap 2-3 tahun, serta biaya untuk menyambung dinding dan atap rumah setiap 10-15 tahun. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang. Penelitian ini merekomendasikan agar penduduk di kawasan permukiman tersebut perlu direlokasi ke tempat lebih aman, dengan dibangunnya rumah susun (Rusun) yang bebas banjir dan aman dari longsor. Penelitian ini menggunakan analisis tumpangsusun (<em>overlay</em>) Sistem Informasi Geografis (SIG) pada peta tata guna lahan, peta sebaran penduduk, peta kawasan banjir, dan peta penurunan tanah untuk menghasilkan jumlah penduduk terpapar di dalam zona banjir/rob per kecamatan di kawasan pantai. Kemudian direncanakan jumlah Rusun yang dibutuhkan untuk menampung penduduk pada zona banjir/rob tersebut per kecamatan. Berdasarkan hasil analisis spasial, dapat disimpulkan bahwa penduduk yang terpapar di zona banjir/rob sebanyak 395.877 jiwa dimana pada Kecamatan Semarang Utara memiliki jumlah penduduk terpapar paling tinggi sebesar 111.096 jiwa. Sementara jumlah penduduk terpapar paling rendah adalah Kecamatan Tugu sebesar 15.755 jiwa. Dibutuhkan Rusun sebanyak 1.100 unit yang membutuhkan lahan berupa tanah kosong, tegalan, dan sawah seluas 15.853 km<sup>2</sup>.</p><p class="abstrak"> </p><p><strong>Kata kunci</strong>: banjir, banjir rob, analisis SIG, relokasi, rumah susun</p><p> </p><p class="judulABS"><strong>ABSTRACT</strong></p><p><em> S</em><em>emarang is a city in Indonesia that seriously prone to flood, both daily flood due to high tidal flood and river flood due to high rainfall intensity. Both tidal flood and river flood may cause inundation in the seashore area, mostly in a residential area and office building, which affected the building foundation, floor, and wall of the structure. The damage loss due to tidal flood is quite high, for instead, people need to reconstruct the settlements by raising the floor every 2–3 years and the wall including the roof every 10–15 years</em><em>. </em><em>This condition is continuing to this day. This research recommends the resident to relocate to the safer areas by constructing flats which are safe from flood and landslide threatens. This research used overlay analysis of Geographical Information System (GIS) on the land use map, population distribution map, flood zone map, and subsidence zone maps to provide the number of the population exposed for each district in flood area. Then the general overview planning of the flats needed to accommodate the population in the flood area per district. The spatial analysis showed that the exposed population in the tidal flood zone are 395,877 people where Semarang Utara district has the highest population exposed by the flood about 111.096 people. Meanwhile, the lowest number of the exposed people is in Tugu Sub-district as many as 15,755 people. The flats needed about 1.100 units and take an area of 15,853 km<sup>2</sup> which is in the form of the vacant area, moor, or rice fields.</em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: river</em><em> flood,</em><em> tidal flood,</em><em> GIS analysis, relocation, flats</em><em></em></p>
Geospatial Information Agency of The Republic of Indonesia
Title: RELOKASI PENDUDUK TERDAMPAK BANJIR/ROB DI KOTA SEMARANG
Description:
<p class="JudulABSInd"><strong>ABSTRAK</strong></p><p class="abstrak">Kota Semarang sering dilanda banjir, baik banjir harian akibat rob ataupun banjir sungai yang datang tiap musim hujan.
Banjir sungai ataupun rob dapat menimbulkan genangan di kawasan pantai, terutama kawasan permukiman penduduk dan perkantoran yang berpengaruh pada kerusakan pondasi, lantai, dan dinding rumah/bangunan.
Kerugian akibat banjir/rob, di antaranya penduduk harus mengeluarkan biaya untuk meninggikan lantai setiap 2-3 tahun, serta biaya untuk menyambung dinding dan atap rumah setiap 10-15 tahun.
Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang.
Penelitian ini merekomendasikan agar penduduk di kawasan permukiman tersebut perlu direlokasi ke tempat lebih aman, dengan dibangunnya rumah susun (Rusun) yang bebas banjir dan aman dari longsor.
Penelitian ini menggunakan analisis tumpangsusun (<em>overlay</em>) Sistem Informasi Geografis (SIG) pada peta tata guna lahan, peta sebaran penduduk, peta kawasan banjir, dan peta penurunan tanah untuk menghasilkan jumlah penduduk terpapar di dalam zona banjir/rob per kecamatan di kawasan pantai.
Kemudian direncanakan jumlah Rusun yang dibutuhkan untuk menampung penduduk pada zona banjir/rob tersebut per kecamatan.
Berdasarkan hasil analisis spasial, dapat disimpulkan bahwa penduduk yang terpapar di zona banjir/rob sebanyak 395.
877 jiwa dimana pada Kecamatan Semarang Utara memiliki jumlah penduduk terpapar paling tinggi sebesar 111.
096 jiwa.
Sementara jumlah penduduk terpapar paling rendah adalah Kecamatan Tugu sebesar 15.
755 jiwa.
Dibutuhkan Rusun sebanyak 1.
100 unit yang membutuhkan lahan berupa tanah kosong, tegalan, dan sawah seluas 15.
853 km<sup>2</sup>.
</p><p class="abstrak"> </p><p><strong>Kata kunci</strong>: banjir, banjir rob, analisis SIG, relokasi, rumah susun</p><p> </p><p class="judulABS"><strong>ABSTRACT</strong></p><p><em> S</em><em>emarang is a city in Indonesia that seriously prone to flood, both daily flood due to high tidal flood and river flood due to high rainfall intensity.
Both tidal flood and river flood may cause inundation in the seashore area, mostly in a residential area and office building, which affected the building foundation, floor, and wall of the structure.
The damage loss due to tidal flood is quite high, for instead, people need to reconstruct the settlements by raising the floor every 2–3 years and the wall including the roof every 10–15 years</em><em>.
</em><em>This condition is continuing to this day.
This research recommends the resident to relocate to the safer areas by constructing flats which are safe from flood and landslide threatens.
This research used overlay analysis of Geographical Information System (GIS) on the land use map, population distribution map, flood zone map, and subsidence zone maps to provide the number of the population exposed for each district in flood area.
Then the general overview planning of the flats needed to accommodate the population in the flood area per district.
The spatial analysis showed that the exposed population in the tidal flood zone are 395,877 people where Semarang Utara district has the highest population exposed by the flood about 111.
096 people.
Meanwhile, the lowest number of the exposed people is in Tugu Sub-district as many as 15,755 people.
The flats needed about 1.
100 units and take an area of 15,853 km<sup>2</sup> which is in the form of the vacant area, moor, or rice fields.
</em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: river</em><em> flood,</em><em> tidal flood,</em><em> GIS analysis, relocation, flats</em><em></em></p>.
Related Results
Kajian Penelusuran Banjir Batang Tambuo
Kajian Penelusuran Banjir Batang Tambuo
Batang Tambuo adalah sebuah sungai yang mengalir melewati di Kecamatan Aur Birugo, Kota Bukittinggi. Daerah Aliran Sungai Batang (DAS) Tambuo ini sering kali mengalami banjir. Musi...
PEMETAAN WILAYAH BAHAYA BANJIR DI KOTA SUNGAI PENUH
PEMETAAN WILAYAH BAHAYA BANJIR DI KOTA SUNGAI PENUH
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk, 1) mengetahui tingkat bahaya banjir di Kota Sungai Penuh. 2) mengetahui Persebaran dan luas area bahaya banjir di Kota Sungai Penuh. 3...
Alat Deteksi Banjir untuk Mitigasi Risiko Bencana Banjir Desa Trangsan Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah
Alat Deteksi Banjir untuk Mitigasi Risiko Bencana Banjir Desa Trangsan Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah
Banjir adalah peristiwa aliran air yang melimpah dan meluap ke daratan secara tiba-tiba, biasanya disebabkan oleh hujan lebat, pencairan salju yang cepat, atau kombinasi dari fakto...
Penelusuran Limpasan Kejadian Banjir Sungai Padolo Di Kota Bima
Penelusuran Limpasan Kejadian Banjir Sungai Padolo Di Kota Bima
Kota Bima mengalami banjir besar tanggal 21 dan 23 Desember 2016. Banjir berasal luapan Sungai Padolo dan Sungai Melayu. Sungai Padolo memberikan dampak...
ANALISIS CURAH HUJAN PENYEBAB BANJIR BANDANG DI UJUNG BERUNG, BANDUNG
ANALISIS CURAH HUJAN PENYEBAB BANJIR BANDANG DI UJUNG BERUNG, BANDUNG
Banjir bandang di Ujungberung terjadi sebanyak 3 kali selama tahun 2019. Kejadian banjir ini terjadi pada sungai yang sama. Kejadian banjir tersebut disebabkan oleh hujan yang sang...
Analisis Sistem Informasi Banjir Berbasis Media Twitter
Analisis Sistem Informasi Banjir Berbasis Media Twitter
Uji keakurataan data media sosial Twitter sebagai sumber informasi banjir telah diteliti melalui penyaringan twit yang memuat informasi banjir di wilayah DKI Jakarta pada tahun 201...
Strategi Daya Tindak Mangsa Banjir: Kajian Kes Bencana Banjir Di Kelantan Disember 2014
Strategi Daya Tindak Mangsa Banjir: Kajian Kes Bencana Banjir Di Kelantan Disember 2014
Pada Disember 2014, telah berlaku bencana banjir di Kelantan yang dianggap sebagai banjir terbesar dan terburuk di negeri tersebut selepas peristiwa banjir pada 1967. Kesan daripad...
Flood Modeling on the Dadap River and Estuary, Banten Province
Flood Modeling on the Dadap River and Estuary, Banten Province
Abstract
Dadap River is located in Kosambi, Tanggerang, which often experiences flooding in the estuary. The problem of flooding is caused by the lack of rivers capacity and ...

