Javascript must be enabled to continue!
PENCIPTAAN KUJANG WAYANG PANDAWA
View through CrossRef
AbstrakWayang merupakan hasil karya seni dan kebudayaan yang paling tinggi nilainya. Salah satu jenis yang populer bagi di masyarakat Jawa adalah wayang purwa ( wayang kulit). Mereka beranggapan bahwa kisah wayang berisi pedoman dan ajaran kehidupan yang patut dijadikan pedoman hidup. Dalam cerita wayang ada beberapa tokoh yang cukup terkenal salah-satunya adalah tokoh pandhawa. Pandhawa merupakan penggambaran kebaikan dalam berkehidupan, karena sifat yang dimilikinya. Oleh karena maka penulis tertarik terhadap tokoh pandhawa terutama bentuk wajahnya untuk dijadikan sebagai sumber ide dasar penciptaan kujang. Kujang merupakan puncak seni tempa logam yang kelahirannya dari sarana peralatan mahuma (petani/peladang) dalam menginterprestasikan rasa syukur mereka atas rezeki yang berlimpah dan pramarta (rasa welas asih serta pengasih) yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Kujang memiliki berbagai macam bentuk dan karakter, yang memilki konsep dasar dari alam flora maupun fauna. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk menghasilkan karya kujang yang memiliki karakter bentuk yang berbeda dari bentuk kujang yang sudah ada. Metode penciptaan yang diterapkan meliputi tahap eksplorasi, perancangan, perwujudan. analisis pada penciptakan ini menggunakan pendekatan estetika yang mengacu pada konsep tosan aji yang digagas Panembahan hadiwijaya, yaitu Greget, Guwoyo dan Wangun. Hasil dari penciptaan ini berjumlah lima yakni kujang Yudistira, Kujang Bhima, Kujang Arjuna, Kujang Nakula dan Kujang Sadewa. Kata Kunci: Wayang, pandawa, kujang. Abstract
Puppet is a work of art and culture of the highest value. One type that is popular in Javanese society is Puppet purwa (Puppet kulit). They think that the Puppet story contains guidelines and teachings of life that should be used as a guide for life. In the Puppet story, there are several characters who are quite famous, one of which is the pandhawa character. Pandhawa is a depiction of goodness in life, because of its characteristics. Therefore, the author is interested in the Pandhawa character, especially the shape of his face to serve as a source of basic ideas for the creation of a cleaver. Kujang is the pinnacle of the art of metal forging which was born from the means of mahuma (farmers /cultivators) tools in interpreting their gratitude for the abundant sustenance and pramarta (compassion and compassion) given by God Almighty. Cleaver has various forms and characters, which have the basic concept of flora and fauna. The purpose of this creation is to produce a cleaver that has a different character from the existing cleaver. The creation method applied includes the exploration, design, and embodiment stages. The analysis on this creator uses an aesthetic approach which refers to the concept of tosan aji which was initiated by Panembahan Hadiwijaya, namely Greget, Guwoyo and Wangun. The results of this creation amounted to five, namely the Kujang Yudistira, Kujang Bhima, Kujang Arjuna, Kujang Nakula and Kujang Sadewa. Keywords: Puppet, pandawa, kujang.
Title: PENCIPTAAN KUJANG WAYANG PANDAWA
Description:
AbstrakWayang merupakan hasil karya seni dan kebudayaan yang paling tinggi nilainya.
Salah satu jenis yang populer bagi di masyarakat Jawa adalah wayang purwa ( wayang kulit).
Mereka beranggapan bahwa kisah wayang berisi pedoman dan ajaran kehidupan yang patut dijadikan pedoman hidup.
Dalam cerita wayang ada beberapa tokoh yang cukup terkenal salah-satunya adalah tokoh pandhawa.
Pandhawa merupakan penggambaran kebaikan dalam berkehidupan, karena sifat yang dimilikinya.
Oleh karena maka penulis tertarik terhadap tokoh pandhawa terutama bentuk wajahnya untuk dijadikan sebagai sumber ide dasar penciptaan kujang.
Kujang merupakan puncak seni tempa logam yang kelahirannya dari sarana peralatan mahuma (petani/peladang) dalam menginterprestasikan rasa syukur mereka atas rezeki yang berlimpah dan pramarta (rasa welas asih serta pengasih) yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Kujang memiliki berbagai macam bentuk dan karakter, yang memilki konsep dasar dari alam flora maupun fauna.
Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk menghasilkan karya kujang yang memiliki karakter bentuk yang berbeda dari bentuk kujang yang sudah ada.
Metode penciptaan yang diterapkan meliputi tahap eksplorasi, perancangan, perwujudan.
analisis pada penciptakan ini menggunakan pendekatan estetika yang mengacu pada konsep tosan aji yang digagas Panembahan hadiwijaya, yaitu Greget, Guwoyo dan Wangun.
Hasil dari penciptaan ini berjumlah lima yakni kujang Yudistira, Kujang Bhima, Kujang Arjuna, Kujang Nakula dan Kujang Sadewa.
Kata Kunci: Wayang, pandawa, kujang.
Abstract
Puppet is a work of art and culture of the highest value.
One type that is popular in Javanese society is Puppet purwa (Puppet kulit).
They think that the Puppet story contains guidelines and teachings of life that should be used as a guide for life.
In the Puppet story, there are several characters who are quite famous, one of which is the pandhawa character.
Pandhawa is a depiction of goodness in life, because of its characteristics.
Therefore, the author is interested in the Pandhawa character, especially the shape of his face to serve as a source of basic ideas for the creation of a cleaver.
Kujang is the pinnacle of the art of metal forging which was born from the means of mahuma (farmers /cultivators) tools in interpreting their gratitude for the abundant sustenance and pramarta (compassion and compassion) given by God Almighty.
Cleaver has various forms and characters, which have the basic concept of flora and fauna.
The purpose of this creation is to produce a cleaver that has a different character from the existing cleaver.
The creation method applied includes the exploration, design, and embodiment stages.
The analysis on this creator uses an aesthetic approach which refers to the concept of tosan aji which was initiated by Panembahan Hadiwijaya, namely Greget, Guwoyo and Wangun.
The results of this creation amounted to five, namely the Kujang Yudistira, Kujang Bhima, Kujang Arjuna, Kujang Nakula and Kujang Sadewa.
Keywords: Puppet, pandawa, kujang.
Related Results
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Abstrak Indonesia merupakan Negara yang mempunyai banyak budaya dan artefak peninggalan nenek moyang salah satu yang mendunia adalah Wayang, Wayang di Indonesia sangat banyak jenis...
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN
<p><em>The life of modern society offers a variety of entertainment media, so traditional entertainment such as wayang is no longer interesting. Some religious institut...
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
ABSTRACT This paper is a study on the potential  of puppet (wayang)  in the scope of Sundanese  culture of  Priangan subculture,  especially  dance.  Formerly  the term  ...
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG
Wayang merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang ada di Bali. Sebagai sebuah kesenian wayang tentunya memiliki nilai yang sarat dengan religiusitas. Wayang merupakan kesenian yan...
Pembelajaran gamelan gender wayang pada generasi z di sanggar swasti swara denpasar (persektif pendidikan agama hindu)
Pembelajaran gamelan gender wayang pada generasi z di sanggar swasti swara denpasar (persektif pendidikan agama hindu)
Generasi muda saat ini mengalami krisis karakter yang ditandai dengan ketidakpedulian terhadap budaya sejak adanya perkembangan teknologi yang telah memasuki perkembangan era 4.0. ...
Wayang Bèbèr Damarwulan
Wayang Bèbèr Damarwulan
This “Wayang Bèbèr Damarwulan” work is an interpretation of wayang bèbèr based on the creator’s experience in studying arts. This work is a wayang Bèbèr artwork using traditional p...
Sunardi KREASI DAN INOVASI SENI PERTUNJUKAN WAYANG SEBAGAI PENGUATAN PRE-ARTISTIC RESEARCH UNIVERSITY
Sunardi KREASI DAN INOVASI SENI PERTUNJUKAN WAYANG SEBAGAI PENGUATAN PRE-ARTISTIC RESEARCH UNIVERSITY
Tulisan ini bertujuan memaparkan hasil kreasi dan inovasi seni pertunjukan wayang sebagai upaya penguatan pre-artistic research university di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakart...
Marketing Communications Manajement for Kamasan Painting Art In The Karangasem Tourism Vilaage, Klungkung Regency
Marketing Communications Manajement for Kamasan Painting Art In The Karangasem Tourism Vilaage, Klungkung Regency
Kamasan tourist village presents painting as a tourist destination. The painting art in question is Classical Wayang painting which originated during the reign of King Dalem Wature...

