Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Identifikasi Suhu Panas Permukaan Pada Bagian Wilayah Kota 1 Semarang

View through CrossRef
Abstract. Changes in land use in urban areas in Semarang aim to provide facilities and infrastructure that can increase the existing economic level, this results in a reduction in open land which can increase surface heat temperatures in urban areas. This study aims to identify changes in land surface temperature (LST) in the Sub-Region of Semarang City (BWK I) between 2020 and 2025. A quantitative approach was applied using spatial analysis through Landsat 8 satellite imagery and processed using ArcGIS with seven analytical stages. The results show a significant increase in surface temperature. Areas with low (<30.7°C) and moderate (30.7–32.7°C) temperatures decreased by 87.857 ha and 555.400 ha, respectively. Conversely, high-temperature areas (32.7–34.7°C) increased by 744.154 ha, and very high-temperature zones (>34.7°C) emerged in South Semarang, covering 4.313 ha. This temperature rise is primarily due to land use changes from vegetated to built-up areas with minimal green space. These findings reflect an urban microclimate warming trend, indicating environmental degradation. Therefore, mitigation efforts are necessary, including increasing vegetation cover, developing green open spaces, and controlling land use conversion to maintain urban ecological balance and slow the rise in surface temperatures. Abstrak. Perubahan fungsi lahan pada Kawasan perkotaan di Semarang bertujuan untuk memenuhi sarana dan prasarana yang bisa meningkatkan Tingkat perekonomian yang ada, hal ini mengakibatkan berkurangya lahan terbuka yang dapat meningkatkan suhu panas permukaan pada Kawasan perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan suhu panas permukaan di Bagian Wilayah Kota (BWK) 1 Semarang antara tahun 2020 dan 2025. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis spasial menggunakan citra satelit Landsat 8 dengan bantuan aplikasi ArcGIS melalui tujuh tahapan pengolahan data. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada suhu permukaan. Wilayah bersuhu rendah (<30,7°C) dan sedang (30,7–32,7°C) mengalami penurunan luas masing-masing sebesar 87,857 ha dan 555,400 ha. Sebaliknya, terjadi peningkatan luas pada suhu tinggi (32,7–34,7°C) sebesar 744,154 ha, dan munculnya wilayah bersuhu sangat tinggi (>34,7°C) seluas 4,313 ha di Semarang Selatan. Faktor utama peningkatan ini adalah perubahan penggunaan lahan dari vegetasi menjadi area terbangun yang minim ruang terbuka hijau. Kondisi ini menunjukkan tren pemanasan mikroklimat perkotaan yang mengarah pada penurunan kualitas lingkungan. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya mitigasi melalui peningkatan tutupan vegetasi, pengembangan ruang terbuka hijau, serta pengendalian alih fungsi lahan guna menjaga keseimbangan ekosistem kota dan menghambat laju peningkatan suhu permukaan.
Title: Identifikasi Suhu Panas Permukaan Pada Bagian Wilayah Kota 1 Semarang
Description:
Abstract.
Changes in land use in urban areas in Semarang aim to provide facilities and infrastructure that can increase the existing economic level, this results in a reduction in open land which can increase surface heat temperatures in urban areas.
This study aims to identify changes in land surface temperature (LST) in the Sub-Region of Semarang City (BWK I) between 2020 and 2025.
A quantitative approach was applied using spatial analysis through Landsat 8 satellite imagery and processed using ArcGIS with seven analytical stages.
The results show a significant increase in surface temperature.
Areas with low (<30.
7°C) and moderate (30.
7–32.
7°C) temperatures decreased by 87.
857 ha and 555.
400 ha, respectively.
Conversely, high-temperature areas (32.
7–34.
7°C) increased by 744.
154 ha, and very high-temperature zones (>34.
7°C) emerged in South Semarang, covering 4.
313 ha.
This temperature rise is primarily due to land use changes from vegetated to built-up areas with minimal green space.
These findings reflect an urban microclimate warming trend, indicating environmental degradation.
Therefore, mitigation efforts are necessary, including increasing vegetation cover, developing green open spaces, and controlling land use conversion to maintain urban ecological balance and slow the rise in surface temperatures.
Abstrak.
Perubahan fungsi lahan pada Kawasan perkotaan di Semarang bertujuan untuk memenuhi sarana dan prasarana yang bisa meningkatkan Tingkat perekonomian yang ada, hal ini mengakibatkan berkurangya lahan terbuka yang dapat meningkatkan suhu panas permukaan pada Kawasan perkotaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan suhu panas permukaan di Bagian Wilayah Kota (BWK) 1 Semarang antara tahun 2020 dan 2025.
Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui analisis spasial menggunakan citra satelit Landsat 8 dengan bantuan aplikasi ArcGIS melalui tujuh tahapan pengolahan data.
Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada suhu permukaan.
Wilayah bersuhu rendah (<30,7°C) dan sedang (30,7–32,7°C) mengalami penurunan luas masing-masing sebesar 87,857 ha dan 555,400 ha.
Sebaliknya, terjadi peningkatan luas pada suhu tinggi (32,7–34,7°C) sebesar 744,154 ha, dan munculnya wilayah bersuhu sangat tinggi (>34,7°C) seluas 4,313 ha di Semarang Selatan.
Faktor utama peningkatan ini adalah perubahan penggunaan lahan dari vegetasi menjadi area terbangun yang minim ruang terbuka hijau.
Kondisi ini menunjukkan tren pemanasan mikroklimat perkotaan yang mengarah pada penurunan kualitas lingkungan.
Oleh karena itu, dibutuhkan upaya mitigasi melalui peningkatan tutupan vegetasi, pengembangan ruang terbuka hijau, serta pengendalian alih fungsi lahan guna menjaga keseimbangan ekosistem kota dan menghambat laju peningkatan suhu permukaan.

Related Results

Karakteristik Pengeringan Ikan Kembung (Mackerel Fish) Menggunakan Metoda Pengeringan Konveksi Dengan Suhu Bertingkat
Karakteristik Pengeringan Ikan Kembung (Mackerel Fish) Menggunakan Metoda Pengeringan Konveksi Dengan Suhu Bertingkat
Ikan kembung kering merupakan salah satu solusi untuk mengatasi berlimpahnya hasil tangkapan dan pembusukan pada ikan kembung. Namun, saat ini proses pengeringan yang dilakukan ole...
SISTEM PANAS BUMI TEMPERATUR RENDAH-SEDANG PADA CEKUNGAN KUTAI DAN REKOMENDASI PEMANFAATANNYA
SISTEM PANAS BUMI TEMPERATUR RENDAH-SEDANG PADA CEKUNGAN KUTAI DAN REKOMENDASI PEMANFAATANNYA
Pengembangan panas bumi di Indonesia masih didominasi pada sistem panas bumi vulkanik yang digunakan sebagai pemanfaatan tidak langsung (listrik), padahal sekitar 70% dari 357 loka...
Analisis Perpindahan Panas Terhadap Penurunan Suhu Air Panas Pada Gelas Dengan Material Yang Berbeda
Analisis Perpindahan Panas Terhadap Penurunan Suhu Air Panas Pada Gelas Dengan Material Yang Berbeda
Ketika mendiamkan air panas pada gelas kemudian mengalami perubahan suhu dari awalnya panas lalu beberapa jam atau sejam kemudian suhu tersebut akan dingin, perpindahan panas terse...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., &amp; Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
POLA ARUS LAUT PERMUKAAN DI PERAIRAN TANJUNG TIRAM KONAWE SELATAN
POLA ARUS LAUT PERMUKAAN DI PERAIRAN TANJUNG TIRAM KONAWE SELATAN
Arus laut permukaan merupakan arus laut yang bergerak pada lapisan massa air permukaan. Beberapa faktor yang membangkitkan arus permukaan pada perairan sekitar pantai umumnya bersu...
Kaji efisiensi temperatur penukar panas dengan variasi aliran untuk aplikasi pengering
Kaji efisiensi temperatur penukar panas dengan variasi aliran untuk aplikasi pengering
Abstrak Heat exchanger atau alat penukar panas adalah alat-alat yang digunakan untuk mengubah temperatur fluida atau mengubah fasa fluida dengan cara mempertukarkan panasnya dengan...
Perpindahan Panas pada Pengering Tipe Drum Berputar pada Kondisi Tanpa Beban
Perpindahan Panas pada Pengering Tipe Drum Berputar pada Kondisi Tanpa Beban
Pengering tipe drum berputar yang dikembangkan merupakan sistem yang terdiri atas empat subsistem yaitu: tungku pembakaran, tangki air, penukar panas, dan silinder pengering. Penel...
Kajian karakteristik perpindahan panas pada ruang sistem pengering/pengasapan dengan enersi panas. dari bahan bakar 0
Kajian karakteristik perpindahan panas pada ruang sistem pengering/pengasapan dengan enersi panas. dari bahan bakar 0
Penggunaan lemari pengering untuk pengeringan masih mempunyai kelemahan, yaitu temperatur pengering di dalam lemari pengering sering tidak seragam atau tidak sama di setiap rak yan...

Back to Top