Javascript must be enabled to continue!
AKTIVASI KIMIA-FISIK LIMBAH SERUTAN ROTAN MENJADI KARBON AKTIF
View through CrossRef
Limbah rotan dari industri kerajinan dan mebel berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif karena memiliki kandungan holoselulosa dan kadar karbon yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas dari aktivasi kimia menggunakan larutan natrium klorida (NaCl) yang dilanjutkan dengan aktivasi fisik dalam pembuatan karbon aktif berbahan dasar limbah serutan rotan. Pembuatan karbon aktif diawali dengan proses karbonisasi pada suhu 250°C selama 1 jam. Selanjutnya aktivasi kimia menggunakan larutan NaCl dengan variasi konsentrasi 10%, 15% dan 20% serta waktu perendaman selama 10, 15 dan 20 jam. Aktivasi fisik dilakukan dengan pembakaran pada suhu 700°C selama 30 menit. Analisis karakteristik fisik-kimia karbon aktif mengacu pada SNI 06-3730-95, meliputi kadar air, fixed carbon, dan iodine number, sedangkan perhitungan luas permukaan spesifik karbon aktif dilakukan dengan Metode Sears. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi optimum aktivasi kimia terjadi pada konsentrasi NaCl 10% dan lama perendaman 10 jam dengan hasil analisis kadar air 2.90%, fixed carbon 72.70%, iodine number 994.59 mg/g dan luas permukaan 1587.67 m²/g. Peningkatan fixed carbon, iodine number dan luas permukaan karbon aktif berbanding terbalik dengan peningkatan konsentrasi NaCl dan lama waktu perendaman, sedangkan peningkatan kadar air pada karbon aktif berlaku sebaliknya.
Rattan waste from handicraft and furniture industry could potentially be used as raw material of activated carbon due to high content of holoselulosa and carbon. This paper investigates the effectiveness of chemical activation using sodium chloride (NaCl) followed by physical activation in the making of activated carbon-based on rattan shavings waste. Preparation of the activated carbon began with the carbonization process at 250°C for 1 hour. Furthermore chemical activation using a variation of NaCl concentrations 10%, 15% and 20% as well as the time of immersion 10, 15 and 20 hours. Physical activation was done by burning at 700°C for 30 minutes. Analysis of the physical and chemical characteristics of the activated carbon was referred to the SNI 06-3730-95, including of moisture content, fixed carbon and iodine number, while the calculation of the specific surface area was done by the Sears’s method. The results of this study showed that the optimum conditions of chemical activation occurred in impregnation by NaCl 10% for 10 hours. The water content, fixed carbon, iodine number and surface area of activated carbon was 2.90%, 72.70%, 994.59 mg/g and 1587.67 m²/g respectively. The increase values of fixed carbon, iodine number, and surface area was inversely proportional to the increase of NaCl concentration and the length of impregnation time, while the increase of water content applied vice versa.
Title: AKTIVASI KIMIA-FISIK LIMBAH SERUTAN ROTAN MENJADI KARBON AKTIF
Description:
Limbah rotan dari industri kerajinan dan mebel berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif karena memiliki kandungan holoselulosa dan kadar karbon yang tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas dari aktivasi kimia menggunakan larutan natrium klorida (NaCl) yang dilanjutkan dengan aktivasi fisik dalam pembuatan karbon aktif berbahan dasar limbah serutan rotan.
Pembuatan karbon aktif diawali dengan proses karbonisasi pada suhu 250°C selama 1 jam.
Selanjutnya aktivasi kimia menggunakan larutan NaCl dengan variasi konsentrasi 10%, 15% dan 20% serta waktu perendaman selama 10, 15 dan 20 jam.
Aktivasi fisik dilakukan dengan pembakaran pada suhu 700°C selama 30 menit.
Analisis karakteristik fisik-kimia karbon aktif mengacu pada SNI 06-3730-95, meliputi kadar air, fixed carbon, dan iodine number, sedangkan perhitungan luas permukaan spesifik karbon aktif dilakukan dengan Metode Sears.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi optimum aktivasi kimia terjadi pada konsentrasi NaCl 10% dan lama perendaman 10 jam dengan hasil analisis kadar air 2.
90%, fixed carbon 72.
70%, iodine number 994.
59 mg/g dan luas permukaan 1587.
67 m²/g.
Peningkatan fixed carbon, iodine number dan luas permukaan karbon aktif berbanding terbalik dengan peningkatan konsentrasi NaCl dan lama waktu perendaman, sedangkan peningkatan kadar air pada karbon aktif berlaku sebaliknya.
Rattan waste from handicraft and furniture industry could potentially be used as raw material of activated carbon due to high content of holoselulosa and carbon.
This paper investigates the effectiveness of chemical activation using sodium chloride (NaCl) followed by physical activation in the making of activated carbon-based on rattan shavings waste.
Preparation of the activated carbon began with the carbonization process at 250°C for 1 hour.
Furthermore chemical activation using a variation of NaCl concentrations 10%, 15% and 20% as well as the time of immersion 10, 15 and 20 hours.
Physical activation was done by burning at 700°C for 30 minutes.
Analysis of the physical and chemical characteristics of the activated carbon was referred to the SNI 06-3730-95, including of moisture content, fixed carbon and iodine number, while the calculation of the specific surface area was done by the Sears’s method.
The results of this study showed that the optimum conditions of chemical activation occurred in impregnation by NaCl 10% for 10 hours.
The water content, fixed carbon, iodine number and surface area of activated carbon was 2.
90%, 72.
70%, 994.
59 mg/g and 1587.
67 m²/g respectively.
The increase values of fixed carbon, iodine number, and surface area was inversely proportional to the increase of NaCl concentration and the length of impregnation time, while the increase of water content applied vice versa.
Related Results
PRODUKSI KARBON AKTIF DARI BUAH MANGROVE MENGGUNAKAN AKTIVATOR KALIUM HIDROKSIDA
PRODUKSI KARBON AKTIF DARI BUAH MANGROVE MENGGUNAKAN AKTIVATOR KALIUM HIDROKSIDA
Konsumsi karbon aktif di Indonesia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya penggunaan karbon aktif dalam bidang industri. Mangrove atau yang sering dikenal sebagai pohon baka...
Produksi Briket dari Karbon Aktif Serbuk Kayu Mahoni melalui Variasi Temperatur Aktivasi untuk Energi Terbarukan
Produksi Briket dari Karbon Aktif Serbuk Kayu Mahoni melalui Variasi Temperatur Aktivasi untuk Energi Terbarukan
Limbah serbuk kayu mahoni (Swietenia mahagoni) memiliki kandungan karbon yang tinggi, tetapi pemanfaatannya sebagai bahan bakar padat bernilai tambah masih terbatas. Selain itu, hu...
E EFEKTIFITAS KARBON AKTIF TONGKOL JAGUNG TERHADAP KADAR pH, TSS DAN TDS PADA LIMBAH CAIR PT PERTA SAMTAN GAS
E EFEKTIFITAS KARBON AKTIF TONGKOL JAGUNG TERHADAP KADAR pH, TSS DAN TDS PADA LIMBAH CAIR PT PERTA SAMTAN GAS
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat yang terpenting di dunia selain gandum dan padi. Jagung menghasilkan limbah padat berupa daun jagung dan...
PENGARUH PERBANDINGAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DAN TULANG SAPI PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK
PENGARUH PERBANDINGAN KARBON AKTIF DARI TEMPURUNG KELAPA DAN TULANG SAPI PADA PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DOMESTIK
Limbah Biomassa yang berasal dari pertanian seperti tempurung kelapa dan tulang sapi yang cukup berlimpah selama ini hanya dibuang begitu saja sehingga menyebabkan bertumpuknya lim...
Evaluasi Pengelolaan Limbah di Pusat Riset Teknologi Aplikasi Isotop dan Radiasi
Evaluasi Pengelolaan Limbah di Pusat Riset Teknologi Aplikasi Isotop dan Radiasi
Penggunaan bahan kimia ataupun radioaktif pada penelitian tentunya akan menjadi limbah berbahaya dan beracun bagi lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Limbah yang dihasil...
Kualitas Karbon Aktif Kulit Pisang Kepok Menggunakan Aktivator Kimia dengan Variasi Konsentrasi dan Waktu Aktivasi
Kualitas Karbon Aktif Kulit Pisang Kepok Menggunakan Aktivator Kimia dengan Variasi Konsentrasi dan Waktu Aktivasi
Buah pisang adalah sumber pangan yang banyak dikonsumsi karena memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Bagian lain dari buah pisang yaitu bagian kulit dapat dimanfaatkan sebaga...
KARBON AKTIF TEMPURUNG BUAH NIPAH (NYPA FRUTICANS) MENGGUNAKAN AKTIVATOR NACL
KARBON AKTIF TEMPURUNG BUAH NIPAH (NYPA FRUTICANS) MENGGUNAKAN AKTIVATOR NACL
Tempurung buah nipah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan karbon aktif setelah melakukan proses aktivasi secara fisika dan kimia hal ini terlihat dari mayoritas hasil pengujian ya...
PENURUNAN KADAR COD PADA LIMBAH CAIR CINCAU DENGAN METODE KARBON AKTIF DAN AERASI
PENURUNAN KADAR COD PADA LIMBAH CAIR CINCAU DENGAN METODE KARBON AKTIF DAN AERASI
Industri pangan merupakan salah satu industri yang berkembang pesat di Indonesia. Perkembangan industri haruslah diiringi dengan pengelolaan limbah yang baik agar tidak menimbulkan...

