Javascript must be enabled to continue!
Makna Ruwatan Wayang Cupak Dalang I Wayan Suaji
View through CrossRef
Wayang Cupak termasuk pertunjukan langka di Bali, keberadaannya menambah genre pertunjukan Wayang Kulit Bali yang terus berkembang. Pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai wali, bebali, dan balih-balihan. Sebagai seni wali, pertunjukan wayang kulit hadir dalam berbagai jenis upacara termasuk upacara ruwatan. Upacara ruwatan yang paling populer di Bali disebut dengan Sapuh Leger. Selain Wayang Sapuh Leger, Wayang Cupak pun juga difungsikan untuk ruwatan seperti di Kabupaten Badung. Banyak ditemukan dalang wayang kulit di Kabupaten Badung, namun tidak banyak yang khusus mementaskan Wayang Cupak, hanya Dalang I Wayan Suaji yang merupakan keturunan dalang Wayang Cupak mampu meneruskan budaya ruwatan melalui pertunjukan Wayang Cupak. Orang-orang yang diruwat umunnya telah menginjak dewasa yang memiliki sifat loba, rakus, pemalas, dan tidak mengenal etika. Fenomena ruwatan (fenomena budaya) dikaji melalui pendekatan ilmu kajian budaya dengan metode kualitatif yang hasilnya merupakan deskripsi pencatatan hasil pengumpulan data, pengolahan data hingga analisis data tentang gejala atau fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Ruwatan Wayang Cupak yang terpelihara masyarakat hanya di wilayah Desa Adat Kerobokan dan sekitarnya dan sudah menjadi sebuah tradisi. Bentuk ruwatan Wayang Cupak dapat dilihat sarana dan prasarananya, seperti: canang uleman, banten ruwatan, pementasan wayang, proses ruwatan, mantra ruwatan, dan tirta ruwatan. Setelah dikaji bentuk ruwatannya, kemudian maknanya bagi masyarakat Hindu Bali. Beberapa makna ditemukan berupa: makna filosofis, makna religius, makna simbolik, makna pembersihan diri, dan makna budaya. Dapat dikatakan bahwa pertunjukan Wayang Cupak pada umumnya hanya dipentaskan untuk ruwatan dan belum disentuh oleh teknologi canggih, pertunjukannya masih sangat tradisi, dan hanya diganti gamelannya saja sebagai media untuk menciptakan iringan sesuai dengan adegan dalam lakon. Lakonnya bersumber dari cerita panji/malat atau folklore, sehingga secara filosofis wacana dikaitkan dengan konsep rwa belum ditemukan bhineda yang harus dilalui dalam kehidupan untuk menuju moksartam.
Title: Makna Ruwatan Wayang Cupak Dalang I Wayan Suaji
Description:
Wayang Cupak termasuk pertunjukan langka di Bali, keberadaannya menambah genre pertunjukan Wayang Kulit Bali yang terus berkembang.
Pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai wali, bebali, dan balih-balihan.
Sebagai seni wali, pertunjukan wayang kulit hadir dalam berbagai jenis upacara termasuk upacara ruwatan.
Upacara ruwatan yang paling populer di Bali disebut dengan Sapuh Leger.
Selain Wayang Sapuh Leger, Wayang Cupak pun juga difungsikan untuk ruwatan seperti di Kabupaten Badung.
Banyak ditemukan dalang wayang kulit di Kabupaten Badung, namun tidak banyak yang khusus mementaskan Wayang Cupak, hanya Dalang I Wayan Suaji yang merupakan keturunan dalang Wayang Cupak mampu meneruskan budaya ruwatan melalui pertunjukan Wayang Cupak.
Orang-orang yang diruwat umunnya telah menginjak dewasa yang memiliki sifat loba, rakus, pemalas, dan tidak mengenal etika.
Fenomena ruwatan (fenomena budaya) dikaji melalui pendekatan ilmu kajian budaya dengan metode kualitatif yang hasilnya merupakan deskripsi pencatatan hasil pengumpulan data, pengolahan data hingga analisis data tentang gejala atau fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Ruwatan Wayang Cupak yang terpelihara masyarakat hanya di wilayah Desa Adat Kerobokan dan sekitarnya dan sudah menjadi sebuah tradisi.
Bentuk ruwatan Wayang Cupak dapat dilihat sarana dan prasarananya, seperti: canang uleman, banten ruwatan, pementasan wayang, proses ruwatan, mantra ruwatan, dan tirta ruwatan.
Setelah dikaji bentuk ruwatannya, kemudian maknanya bagi masyarakat Hindu Bali.
Beberapa makna ditemukan berupa: makna filosofis, makna religius, makna simbolik, makna pembersihan diri, dan makna budaya.
Dapat dikatakan bahwa pertunjukan Wayang Cupak pada umumnya hanya dipentaskan untuk ruwatan dan belum disentuh oleh teknologi canggih, pertunjukannya masih sangat tradisi, dan hanya diganti gamelannya saja sebagai media untuk menciptakan iringan sesuai dengan adegan dalam lakon.
Lakonnya bersumber dari cerita panji/malat atau folklore, sehingga secara filosofis wacana dikaitkan dengan konsep rwa belum ditemukan bhineda yang harus dilalui dalam kehidupan untuk menuju moksartam.
Related Results
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Abstrak Indonesia merupakan Negara yang mempunyai banyak budaya dan artefak peninggalan nenek moyang salah satu yang mendunia adalah Wayang, Wayang di Indonesia sangat banyak jenis...
Kiat dan keberhasilan masyarakat Jawa: “Memayu hayuning bawana” dalam bidang budaya seni wayang
Kiat dan keberhasilan masyarakat Jawa: “Memayu hayuning bawana” dalam bidang budaya seni wayang
Masyarakat Jawa sejak dulu sampai sekarang, merasa diri bagian dari sistem dunia, hingga merasa wajib memayu hayuning bawana dalam bidang apapun termasuk budaya seni wayang, agar d...
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
ABSTRACT This paper is a study on the potential  of puppet (wayang)  in the scope of Sundanese  culture of  Priangan subculture,  especially  dance.  Formerly  the term  ...
Pandangan Penonton Tentang Wayang Kulit di Kanal Youtube
Pandangan Penonton Tentang Wayang Kulit di Kanal Youtube
Menonton pertunjukan wayang kulit memerlukan penghayatan cukup dalam. Muatan nilai-nilai dalam pagelaran wayang menggambarkan nilai-nilai kehidupaan sehari-hari di masyarakat, men...
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN
WAYANG WAHYU : HIBURAN DAN MEDIA PEMBELAJARAN
<p><em>The life of modern society offers a variety of entertainment media, so traditional entertainment such as wayang is no longer interesting. Some religious institut...
Etika Wayang: Kebijaksanaan Hidup dalam Lakon Kresna Duta Sajian Pakeliran Ki Nartosabdo
Etika Wayang: Kebijaksanaan Hidup dalam Lakon Kresna Duta Sajian Pakeliran Ki Nartosabdo
Etika merupakan sebuah ilmu kritis dan rasional yang mempelajari tingkah laku manusia. Etika selalu berkembang dengan membuka cakrawala dialog melalui gagasan dan pemikiran baru, s...
SATUA CUPAK TEKEN GRANTANG (PAMASTIKA PSIKOLOGI TOKOH)
SATUA CUPAK TEKEN GRANTANG (PAMASTIKA PSIKOLOGI TOKOH)
<p>Satua Bali merupakan karya sastra tradisonal yang disebut sebagai sastra lisan. Salah satu jenis satua Bali adalah satua Cupak teken Grantan. Satua ini merupakan salah sat...
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEARIFAN LOKAL NGUPAH WAYANG
Wayang merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang ada di Bali. Sebagai sebuah kesenian wayang tentunya memiliki nilai yang sarat dengan religiusitas. Wayang merupakan kesenian yan...

