Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Perombakan Bahan Limbah Kelapa Sawit Dengan Metode Vermikompos

View through CrossRef
ABSTRAK Salah satu permasalahan limbah pabrik kelapa sawit adalah pengelolaan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Cara yang dapat dilakukan untuk penanganan limbah TKKS, yakni dengan konversinya secara biologis untuk menjadi green fertilizer. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan metode analisis deskriptif pada masing – masing perlakuan dan ditentukan lamanya penelitian selama 28 hari. Alat yang digunakan adalah cangkul, ember, gembor, dan tempat vermikomposting. Peralatan pengujian antara lain timbangan, pH meter dan jangka sorong. Kemudian bahan yang digunakan adalah limbah – limbah kelapa sawit (Sludge, Solid, dan Tankos). Perlakuan yang dilakukan adalah meng-kompositkan 3 bahan – bahan limbah sawit dengan proporsi 100%, 50%, dan 25% kemudian diberikan cacing Lumbricus rubellus sebesar 500 gr setiap perlakuan. Parameter yang dilakukan adalah pengujian laju penguraian, pH, karakteristik cacing yang kemudian dilakukan pengamatan setiap 7 hari sekali sampai dengan penentuan waktu selama 28 hari. Laju dekomposisi bahan organik yang dilakukan oleh cacing mendapatkan respon paling tinggi pada perlakuan pencampuran media L6 (65 %) dan L7 (88%). Proses dekomposisi ternyata tidak mempengaruhi pH media, pH yang didapat rerata adalah 6. Dari proses laju dekomposisi dan pH media tidak mempengaruhi karakteristik cacing Lumbricus rubellus dimana pertumbuhannya justru meningkat. Hal ini diduga karena kondisi media yang cocok untuk keberlangsungan hidupnya. ABSTRACT One of the problems with palm oil mill waste is the management of Oil Palm Empty Bunches (OPEFB). One method that can be used for handling OPEFB waste is by converting it biologically to green fertilizer. The method used in this research is observation and descriptive analysis methods for each treatment. The length of the study was 28 days. The tools used were a hoe, bucket, watering can, and a place for vermicomposting. Testing equipment includes scales, pH meters and calipers. Material used was palm oil waste (sludge, solid, and empty bunches). The treatment carried out was to composite 3 materials - palm oil waste materials with a proportion of 100%, 50%, and 25%. The composite was then given 500 grams of Lumbricus rubellus worms per treatment. The parameters measured were the decomposition rate, pH, characteristics of the worms which were observed every 7 days up to 28 days. The rate of decomposition of organic matter received the highest response in the mixing treatment of L6 (65%) and L7 (88%) media. The decomposition process did not affect the pH of the media. The average pH obtained was 6. The process of decomposition rate and media pH did not affect the characteristics of Lumbricus rubellus worms. The growth of the worms increased, which is presumably because the media conditions were suitable for their survival.
Title: Perombakan Bahan Limbah Kelapa Sawit Dengan Metode Vermikompos
Description:
ABSTRAK Salah satu permasalahan limbah pabrik kelapa sawit adalah pengelolaan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).
Cara yang dapat dilakukan untuk penanganan limbah TKKS, yakni dengan konversinya secara biologis untuk menjadi green fertilizer.
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan metode analisis deskriptif pada masing – masing perlakuan dan ditentukan lamanya penelitian selama 28 hari.
Alat yang digunakan adalah cangkul, ember, gembor, dan tempat vermikomposting.
Peralatan pengujian antara lain timbangan, pH meter dan jangka sorong.
Kemudian bahan yang digunakan adalah limbah – limbah kelapa sawit (Sludge, Solid, dan Tankos).
Perlakuan yang dilakukan adalah meng-kompositkan 3 bahan – bahan limbah sawit dengan proporsi 100%, 50%, dan 25% kemudian diberikan cacing Lumbricus rubellus sebesar 500 gr setiap perlakuan.
Parameter yang dilakukan adalah pengujian laju penguraian, pH, karakteristik cacing yang kemudian dilakukan pengamatan setiap 7 hari sekali sampai dengan penentuan waktu selama 28 hari.
Laju dekomposisi bahan organik yang dilakukan oleh cacing mendapatkan respon paling tinggi pada perlakuan pencampuran media L6 (65 %) dan L7 (88%).
Proses dekomposisi ternyata tidak mempengaruhi pH media, pH yang didapat rerata adalah 6.
Dari proses laju dekomposisi dan pH media tidak mempengaruhi karakteristik cacing Lumbricus rubellus dimana pertumbuhannya justru meningkat.
Hal ini diduga karena kondisi media yang cocok untuk keberlangsungan hidupnya.
ABSTRACT One of the problems with palm oil mill waste is the management of Oil Palm Empty Bunches (OPEFB).
One method that can be used for handling OPEFB waste is by converting it biologically to green fertilizer.
The method used in this research is observation and descriptive analysis methods for each treatment.
The length of the study was 28 days.
The tools used were a hoe, bucket, watering can, and a place for vermicomposting.
Testing equipment includes scales, pH meters and calipers.
Material used was palm oil waste (sludge, solid, and empty bunches).
The treatment carried out was to composite 3 materials - palm oil waste materials with a proportion of 100%, 50%, and 25%.
The composite was then given 500 grams of Lumbricus rubellus worms per treatment.
The parameters measured were the decomposition rate, pH, characteristics of the worms which were observed every 7 days up to 28 days.
The rate of decomposition of organic matter received the highest response in the mixing treatment of L6 (65%) and L7 (88%) media.
The decomposition process did not affect the pH of the media.
The average pH obtained was 6.
The process of decomposition rate and media pH did not affect the characteristics of Lumbricus rubellus worms.
The growth of the worms increased, which is presumably because the media conditions were suitable for their survival.

Related Results

Analisis Titik Kritis Penjaminan Kualitas Benih Kelapa Sawit di Indonesia
Analisis Titik Kritis Penjaminan Kualitas Benih Kelapa Sawit di Indonesia
Benih kelapa sawit merupakan elemen yang sangat penting dalam menentukan hasil produksi tanaman kelapa sawit. Penggunaan benih sawit berkualitas (unggul) akan memberikan produktifi...
KERAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DI LAHAN GAMBUT KONVERSI HUTAN ALAM MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
KERAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DI LAHAN GAMBUT KONVERSI HUTAN ALAM MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman Fungi Mikoriza Arbuskula(FMA) lahan gambut konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit diKotawaringin Timur. Penelit...
DAMPAK KELAPA SAWIT TERHADAP PEREKONOMIAN DIMASYARAKAT DI KABUPATEN ROKAN HILIR RIAU
DAMPAK KELAPA SAWIT TERHADAP PEREKONOMIAN DIMASYARAKAT DI KABUPATEN ROKAN HILIR RIAU
Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana tenaga kerja pabrik kelapa sawit dan bagaimana produtivitas petani sawit kontribusi perkebunana pabrik kelapa sawit terhadap pendapa...
Trend Produksi Dan Produktivitas Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Selatan
Trend Produksi Dan Produktivitas Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Selatan
Salah satu potensi unggulan sektor perkebunan di Kalimantan Selatan adalah kelapa sawit. Perlu pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara efisien dengan produktivitas tinggi, sehin...
RANCANG BANGUN PEMBIBITAN KELAPA SAWIT BERBASIS IOT(INTERNET OF THINGS)
RANCANG BANGUN PEMBIBITAN KELAPA SAWIT BERBASIS IOT(INTERNET OF THINGS)
Kelapa sawit adalah tanaman industri/ perkebunan yang diolah sebagai penghasil bahan baku minyak masak, minyak perseroan, maupun bahan bakar. Dalam pengembangan usaha budidaya tana...
Penerapan Teorema Bayes Untuk Mendiagnosa Hama dan Penyakit Pada Tanaman Kelapa Sawit
Penerapan Teorema Bayes Untuk Mendiagnosa Hama dan Penyakit Pada Tanaman Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman perkebunan sebagai penghasil minyak. Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Kelapa sawit tumbu...

Back to Top