Javascript must be enabled to continue!
KERAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DI LAHAN GAMBUT KONVERSI HUTAN ALAM MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
View through CrossRef
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman Fungi Mikoriza Arbuskula(FMA) lahan gambut konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit diKotawaringin Timur. Penelitian dilaksanakan pada 4 (empat) lokasi di KabupatenKotawaringin Timur, yakni: (1) Hutan rawa gambut alami di Kecamatan Kota Besi (2)Lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit umur tanam kurang dari 4 tahun diKecamatan Parenggean; (3) Lahan gambut perkebunan kelapa sawit umur tanam 4-10tahun di Kecamatan Cempaga; dan (4) Lahan gambut perkebunan kelapa sawit umurtanam di atas 10 tahun di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Pembuatan petakpengamatan ukuran 20 m x 20 m dibuat pada setiap lokasi sesuai metode ICRAF.Pengambilan sampel tanah dan akar secara komposit 5 (lima) titik pengambilan sampeltanah pada kedalaman 20 cm di masing-masing lokasi sekaligus sebagai ulangan. Berattanah sampel setiap titik sebanyak 500 gr, sehingga total sampel tanah tiap petakpengamatan adalah 2.500 gr. Sampel tanah tiap titik dalamsatu petak dicampur dalamsatu tempat hingga homogen untuk mewakili satu petak amatan, selanjutnya diambil 100g per titik. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif dan dibantu gambar, grafik,dan tabel. Hasil penelitian menunjukkan struktur infeksi yang membentuk struktur FMAberupa hifa dan vesikel, sedangkan struktur FMA berupa arbuskula tidak dijumpai.Kepadatan spora (100 g tanah gambut) tertinggi terjadi pada lahan gambut untukperkebunan kelapa sawit dengan usia tanam kurang dari 4 tahun (320,40), kelapa sawitusia antara 4-10 tahun (276,20), dan disusul tanaman kelapasawit usia di atas 10 tahun(211,20). Kepadatan spora terendah pada hutan gambut alami (152,20). Hasil identifikasispora FMA menemukan 12 (dua belas) spesies spora FMA genus Glomus sp. SporaFMA genus Glomus sp merupakan satu-satunya jenis spora FMA, baik pada hutangambut alami maupun lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dengan berbagaiusia tanam. Rata-rata kelimpahan Spora FMA Genus Glomus sp (100 g tanah gambut)tertinggi pada lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit usia tanam kurang 4 tahun(112,80), disusul kelapa sawit usia tanam antara 4-10 tahun (104,10), dan hutan gambutalami (64,20). Rata-rata terendah pada lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit usiatanam di atas 10 tahun (47,40). Rata-rata kelimpahan relatif Spora FMA Genus Glomus sp (100 g tanah gambut) tertinggi pada hutan gambut alami (42,64%), kemudian lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit usia tanam antara 4-10 tahun (37,69%), kelapa sawit usia tanam kurang 4 tahun (35,34%). Rata-rata terendah pada lahan gambut untukperkebunan kelapa sawit usia tanam di atas 10 tahun (22,48%).Kata kunci : mikoriza, lahan gambut, kelapa sawit, identifikasi, struktur, kelimpahan
Universitas Palangka Raya
Title: KERAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DI LAHAN GAMBUT KONVERSI HUTAN ALAM MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Description:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman Fungi Mikoriza Arbuskula(FMA) lahan gambut konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit diKotawaringin Timur.
Penelitian dilaksanakan pada 4 (empat) lokasi di KabupatenKotawaringin Timur, yakni: (1) Hutan rawa gambut alami di Kecamatan Kota Besi (2)Lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit umur tanam kurang dari 4 tahun diKecamatan Parenggean; (3) Lahan gambut perkebunan kelapa sawit umur tanam 4-10tahun di Kecamatan Cempaga; dan (4) Lahan gambut perkebunan kelapa sawit umurtanam di atas 10 tahun di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Pembuatan petakpengamatan ukuran 20 m x 20 m dibuat pada setiap lokasi sesuai metode ICRAF.
Pengambilan sampel tanah dan akar secara komposit 5 (lima) titik pengambilan sampeltanah pada kedalaman 20 cm di masing-masing lokasi sekaligus sebagai ulangan.
Berattanah sampel setiap titik sebanyak 500 gr, sehingga total sampel tanah tiap petakpengamatan adalah 2.
500 gr.
Sampel tanah tiap titik dalamsatu petak dicampur dalamsatu tempat hingga homogen untuk mewakili satu petak amatan, selanjutnya diambil 100g per titik.
Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif dan dibantu gambar, grafik,dan tabel.
Hasil penelitian menunjukkan struktur infeksi yang membentuk struktur FMAberupa hifa dan vesikel, sedangkan struktur FMA berupa arbuskula tidak dijumpai.
Kepadatan spora (100 g tanah gambut) tertinggi terjadi pada lahan gambut untukperkebunan kelapa sawit dengan usia tanam kurang dari 4 tahun (320,40), kelapa sawitusia antara 4-10 tahun (276,20), dan disusul tanaman kelapasawit usia di atas 10 tahun(211,20).
Kepadatan spora terendah pada hutan gambut alami (152,20).
Hasil identifikasispora FMA menemukan 12 (dua belas) spesies spora FMA genus Glomus sp.
SporaFMA genus Glomus sp merupakan satu-satunya jenis spora FMA, baik pada hutangambut alami maupun lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dengan berbagaiusia tanam.
Rata-rata kelimpahan Spora FMA Genus Glomus sp (100 g tanah gambut)tertinggi pada lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit usia tanam kurang 4 tahun(112,80), disusul kelapa sawit usia tanam antara 4-10 tahun (104,10), dan hutan gambutalami (64,20).
Rata-rata terendah pada lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit usiatanam di atas 10 tahun (47,40).
Rata-rata kelimpahan relatif Spora FMA Genus Glomus sp (100 g tanah gambut) tertinggi pada hutan gambut alami (42,64%), kemudian lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit usia tanam antara 4-10 tahun (37,69%), kelapa sawit usia tanam kurang 4 tahun (35,34%).
Rata-rata terendah pada lahan gambut untukperkebunan kelapa sawit usia tanam di atas 10 tahun (22,48%).
Kata kunci : mikoriza, lahan gambut, kelapa sawit, identifikasi, struktur, kelimpahan.
Related Results
PENGARUH DOSIS DAN DAYA SIMPAN MIKORIZA TERHADAP EFEKTIVITAS DAN INFEKTIVITAS PADA BIBIT KELAPA SAWIT PRE DAN MAIN NURSERY
PENGARUH DOSIS DAN DAYA SIMPAN MIKORIZA TERHADAP EFEKTIVITAS DAN INFEKTIVITAS PADA BIBIT KELAPA SAWIT PRE DAN MAIN NURSERY
Mikoriza merupakan pupuk hayati yang dapat bersimbiosis dengan akar tanaman, termasuk kelapa sawit. Mikoriza membantu akar tanaman untuk menyerap nutrisi, meningkatkan pertumbuhan,...
Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Ledakan dan Kerusakannya pada Tanaman Kelapa Sawit / Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Outbreak and Its Damage on Oil palm
Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Ledakan dan Kerusakannya pada Tanaman Kelapa Sawit / Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Outbreak and Its Damage on Oil palm
<p>Oil palm (Elaeis guineensis) is one of the major estate crops in West Papua in terms of total area and production. Thousand hectares of oil palm plantations in Manokwari, ...
Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dari Rizosfer Tanaman Hias: Karakterisasi Morfologi dan Seleksi
Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dari Rizosfer Tanaman Hias: Karakterisasi Morfologi dan Seleksi
Salah satu tantangan dalam budidaya tanaman hias adalah optimalisasi pertumbuhan tanpa ketergantungan berlebihan pada pupuk dan pestisida kimia. Oleh karena itu, pemanfaatan FMA se...
Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit Di Kabupaten Sambas
Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit Di Kabupaten Sambas
Indonesia dikenal sebagai negara agraris sektor pertanian dan perkebunan merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan devisa negara disamping sektor unggulan lainnya. Sektor per-ta...
Analisis Titik Kritis Penjaminan Kualitas Benih Kelapa Sawit di Indonesia
Analisis Titik Kritis Penjaminan Kualitas Benih Kelapa Sawit di Indonesia
Benih kelapa sawit merupakan elemen yang sangat penting dalam menentukan hasil produksi tanaman kelapa sawit. Penggunaan benih sawit berkualitas (unggul) akan memberikan produktifi...
Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat
Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat
Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) mempunyai beragam peran dalam banyak agroekosistem, termasuk perkebunan kelapa sawit. CMA menjadi bagian strategis dalam budidaya kelapa sawit sec...
Trend Produksi Dan Produktivitas Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Selatan
Trend Produksi Dan Produktivitas Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Selatan
Salah satu potensi unggulan sektor perkebunan di Kalimantan Selatan adalah kelapa sawit. Perlu pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara efisien dengan produktivitas tinggi, sehin...
Penetapan Pola Rehabilitasi Pemulihan Fungsi Ekosistem Hutan Lindung Gambut Sungai Bram Itam di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi
Penetapan Pola Rehabilitasi Pemulihan Fungsi Ekosistem Hutan Lindung Gambut Sungai Bram Itam di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi
Seluas 5.000 hektare areal hutan lindung gambut Sungai Bram Itam telah mengalami alih fungsi menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang didominasi oleh perkebunan sawit, pinang, d...

