Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Teater Tradisional Mendu dan Bangsawan di Asia Tenggara: Hubung Kait Sejarah dan Elemen Persembahan

View through CrossRef
This article was conducted due to the arising issues stating the connections between mendu or wayang mendu, and bangsawan but there is no further explanation regarding this matter. Moreover, there are statements from several scholar mention that the mendu or wayang mendu was the origin of bangsawan, but there is no detailed explanation. The data examined in this article involves: bangsawan performances that are still active in Kuala Lumpur, Kedah, and Sarawak which staged different stories; forms of bangsawan with different names in the coastal areas of West Sumatera and West Kalimantan, namely wayang (bangsawan) kampung, wayang Parsi, komedi Melayu, dul muluk and mamanda; while the mendu theatre which only staged Dewa Mendu story performed by respective active groups in Pulau Sedanau, Natuna (Riau Islands), Mempawah (Pontianak, West Kalimantan), and Malaysia (Universiti Malaya, Kuala Lumpur). All data collection was also obtained from interviews with mendu and bangsawan practitioners who are still active in both countries. From the data collected, this article only focusses on the connection between the historiography of mendu–bangsawan with the influence of Persian commercial theatre from Gujarat, especially in the period from 1870 to 1940. This is because, during that period, the bangsawan name was initially called wayang Parsi (mendu), tiruan wayang Parsi, and later became the main reference in the history of the development of traditional theatre in Southeast Asia. The results of the discussion in this article are divided into several important aspects which are: the relevance of historical aspects particularly the origin and development; conceptual elements (rituals and entertainment); language (dialogue); stage setting (acting space and curtain set); acting style (actors); and performance structure (scenes) of both theatres.   Artikel ini membincangkan tentang isu perkaitan sejarah dan elemen persembahan antara teater tradisional mendu dan teater bangsawan Malaysia–Indonesia. Hal ini kerana terdapat penyataan dari beberapa kajian sarjana menyatakan bahawa teater mendu atau wayang mendu adalah asal mula bangsawan, namun tiada keterangan secara terperinci. Bagi tujuan tersebut, data yang diteliti dalam artikel adalah melibatkan: persembahan bangsawan yang masih aktif di Kuala Lumpur, Kedah, dan Sarawak yang telah mementaskan cerita yang berlainan; dan juga bentuk bangsawan dengan nama lain yang masih aktif di kawasan pesisiran Sumatera Barat serta pesisiran Kalimantan Barat iaitu wayang (bangsawan) kampung, wayang Parsi, komedi Melayu, dul muluk, dan mamanda; manakala teater mendu pula hanya mengambil data dari kumpulan yang masih aktif mementaskan satu-satunya cerita Dewa Mendu di Pulau Sedanau, Natuna (Kepulauan Riau), Mempawah (Pontianak, Kalimantan Barat), dan Malaysia (Universiti Malaya, Kuala Lumpur). Pengumpulan data juga diperoleh melalui temu ramah tokoh-tokoh mendu dan bangsawan yang masih aktif di kedua-dua negara. Dari data yang dikumpul, fokus penelitian hanya dibuat ke atas perkaitan pensejarahan mendu bangsawan dengan pengaruh teater komersial Parsi seperti dari Gujerat terutama pada tahun 1870 hingga 1940. Hal ini kerana, pada tempoh tersebut nama bangsawan awalnya telah digelar wayang Parsi (mendu), tiruan wayang Parsi, dan kemudian telah menjadi sebuah bentuk teater rakyat kaum Melayu yang menjadi rujukan utama dalam sejarah perkembangan teater tradisional di Asia Tenggara. Hasil dari perbincangan dalam artikel ini terbahagi kepada beberapa aspek penting iaitu: hubung kait mendu–bangsawan dari aspek pensejarahan seperti fakta asal-usul dan perkembangan; perkaitan elemen konsep (ritual dan hiburan); bahasa (dialog); panggung (ruang lakon dan set tirai); gaya lakon (pelakon); dan struktur persembahan (babak).
Title: Teater Tradisional Mendu dan Bangsawan di Asia Tenggara: Hubung Kait Sejarah dan Elemen Persembahan
Description:
This article was conducted due to the arising issues stating the connections between mendu or wayang mendu, and bangsawan but there is no further explanation regarding this matter.
Moreover, there are statements from several scholar mention that the mendu or wayang mendu was the origin of bangsawan, but there is no detailed explanation.
The data examined in this article involves: bangsawan performances that are still active in Kuala Lumpur, Kedah, and Sarawak which staged different stories; forms of bangsawan with different names in the coastal areas of West Sumatera and West Kalimantan, namely wayang (bangsawan) kampung, wayang Parsi, komedi Melayu, dul muluk and mamanda; while the mendu theatre which only staged Dewa Mendu story performed by respective active groups in Pulau Sedanau, Natuna (Riau Islands), Mempawah (Pontianak, West Kalimantan), and Malaysia (Universiti Malaya, Kuala Lumpur).
All data collection was also obtained from interviews with mendu and bangsawan practitioners who are still active in both countries.
From the data collected, this article only focusses on the connection between the historiography of mendu–bangsawan with the influence of Persian commercial theatre from Gujarat, especially in the period from 1870 to 1940.
This is because, during that period, the bangsawan name was initially called wayang Parsi (mendu), tiruan wayang Parsi, and later became the main reference in the history of the development of traditional theatre in Southeast Asia.
The results of the discussion in this article are divided into several important aspects which are: the relevance of historical aspects particularly the origin and development; conceptual elements (rituals and entertainment); language (dialogue); stage setting (acting space and curtain set); acting style (actors); and performance structure (scenes) of both theatres.
  Artikel ini membincangkan tentang isu perkaitan sejarah dan elemen persembahan antara teater tradisional mendu dan teater bangsawan Malaysia–Indonesia.
Hal ini kerana terdapat penyataan dari beberapa kajian sarjana menyatakan bahawa teater mendu atau wayang mendu adalah asal mula bangsawan, namun tiada keterangan secara terperinci.
Bagi tujuan tersebut, data yang diteliti dalam artikel adalah melibatkan: persembahan bangsawan yang masih aktif di Kuala Lumpur, Kedah, dan Sarawak yang telah mementaskan cerita yang berlainan; dan juga bentuk bangsawan dengan nama lain yang masih aktif di kawasan pesisiran Sumatera Barat serta pesisiran Kalimantan Barat iaitu wayang (bangsawan) kampung, wayang Parsi, komedi Melayu, dul muluk, dan mamanda; manakala teater mendu pula hanya mengambil data dari kumpulan yang masih aktif mementaskan satu-satunya cerita Dewa Mendu di Pulau Sedanau, Natuna (Kepulauan Riau), Mempawah (Pontianak, Kalimantan Barat), dan Malaysia (Universiti Malaya, Kuala Lumpur).
Pengumpulan data juga diperoleh melalui temu ramah tokoh-tokoh mendu dan bangsawan yang masih aktif di kedua-dua negara.
Dari data yang dikumpul, fokus penelitian hanya dibuat ke atas perkaitan pensejarahan mendu bangsawan dengan pengaruh teater komersial Parsi seperti dari Gujerat terutama pada tahun 1870 hingga 1940.
Hal ini kerana, pada tempoh tersebut nama bangsawan awalnya telah digelar wayang Parsi (mendu), tiruan wayang Parsi, dan kemudian telah menjadi sebuah bentuk teater rakyat kaum Melayu yang menjadi rujukan utama dalam sejarah perkembangan teater tradisional di Asia Tenggara.
Hasil dari perbincangan dalam artikel ini terbahagi kepada beberapa aspek penting iaitu: hubung kait mendu–bangsawan dari aspek pensejarahan seperti fakta asal-usul dan perkembangan; perkaitan elemen konsep (ritual dan hiburan); bahasa (dialog); panggung (ruang lakon dan set tirai); gaya lakon (pelakon); dan struktur persembahan (babak).

Related Results

MENDU, BUDAYA TRADISIONAL NATUNA YANG DITINGGALKAN
MENDU, BUDAYA TRADISIONAL NATUNA YANG DITINGGALKAN
Abstract  This research is expected to foster a love for the Malay community, especially among the students of SMAN 1 Cemaga, towards the cultural heritage of Natuna. This way, it ...
STRUKTUR DRAMATIK PERTUNJUKAN DRAMA KLASIK SANGGAR TEATER MINI LAKON DEWA RUCI KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
STRUKTUR DRAMATIK PERTUNJUKAN DRAMA KLASIK SANGGAR TEATER MINI LAKON DEWA RUCI KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
ABSTRAK   Pada dasarnya nilai pendidikan karakter mempunyai tiga bagian yang saling bekaitan, yaitu pengetahuan moral, penghayatan moral dan perilaku moral. Oleh karena...
“Wayang Kreatif” Performance of Teater Koma and Its Audience
“Wayang Kreatif” Performance of Teater Koma and Its Audience
ABSTRAK Teater Koma merupakan teater modern yang berhasil bertahan selama 40 tahun, dari tahun 1977 sampai sekarang. Perjalanan yang cukup panjang, mendudukkan Teater Koma sebagai ...
KONVENSI TATA ARTISTIK TEATER PANGGUNG DALAM PEMENTASAN TEATER VIRTUAL SITI SEROJA OLEH TEATER KOMA
KONVENSI TATA ARTISTIK TEATER PANGGUNG DALAM PEMENTASAN TEATER VIRTUAL SITI SEROJA OLEH TEATER KOMA
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa tata artistik dari pertunjukan virtual Siti Seroja oleh Teater Koma mengacu pada hukum pementasan teater di atas panggung....
EKSISTENSI TARI PERSEMBAHAN DI KUMPULAN SENI SERI MELAYU PADA MASA PANDEMI COVID-19
EKSISTENSI TARI PERSEMBAHAN DI KUMPULAN SENI SERI MELAYU PADA MASA PANDEMI COVID-19
Kumpulan Seni Seri Melayu adalah sanggar yang berlokasi di pusat Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Di Kumpulan Seni Seri Melayu ada salah satu tari tradisi yang sering ditampilkan yait...
ANALISIS KURIKULUM JURUSAN PENDIDIKAN SENI TEATER ETHIOPIA
ANALISIS KURIKULUM JURUSAN PENDIDIKAN SENI TEATER ETHIOPIA
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis pendidikan seni teater Ethiopia sebagai bentuk seni kreatif. Di Ethiopia, seni teater baru terbentuk tahun 1978, yang hingga ...
“ARKANTI”: KONVENSI TEATER PANGGUNG DALAM PERTUNJUKAN VIRTUAL TEATER KOMA
“ARKANTI”: KONVENSI TEATER PANGGUNG DALAM PERTUNJUKAN VIRTUAL TEATER KOMA
ABSTRACT The current study aims to prove the conventions of stage theater in the virtual performance of “Arkanti” by Teater Koma. Virtual performances were conducted by Teater Koma...
MENENTUKAN WAKTU STANDAR PADA AKTIVITAS KERJA PRODUKSI SABLON MANUAL DI CV. DWIPUTRA IHWA
MENENTUKAN WAKTU STANDAR PADA AKTIVITAS KERJA PRODUKSI SABLON MANUAL DI CV. DWIPUTRA IHWA
Analisis waktu standar produksi merupakan salah satu analisis metoda kuantitatif yang dilakukan untuk mengukur waktu produksi dan bertujuan agar dapat memiliki waktu standar sebaga...

Back to Top