Javascript must be enabled to continue!
PENGENDALIAN KUTU DAUN PADA TANAMAN CABAI YANG DIAPLIKASI BIOCHAR DAN TRICHOKOMPOS BERDASARKAN AMBANG KENDALI
View through CrossRef
The control of aphids pests in chilli plantation often uses scheduled chemical control. This study aims to determine the development of aphid populations in the vegetative phase of chili plants treated with biochar from agricultural waste and trichokompos, and its control based on the threshold of control. The experiment was conducted on Chili Varietas Kencana of vegetative phase in Sangir Tengah Village, Kayu Aro Subdistrict, Kerinci Regency in 2016. The planting of chili was carried out with five treatments: 1) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha of bagasse biochar; 2) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha of corncob biochar; 3) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha of rice husk biochar; 4) Trichokompos 10 ton/ha; and 5) Control (farmer technology). Each treatment was repeated 4 times. The environmental design used is Group Random Design (RAK). Data collection through observation of population number of aphids done every week. Control measures with the use of pesticides are carried out after the population passes the economic threshold. The results showed that the use of agricultural waste biochar (rice husk, corncob, bagasse) and trichokompos did not significantly affect the number/population of aphids. Chemical control of aphids on chili plants in the vegetative phase based on the control threshold can reduce the frequency of insecticide application up to 50%.Keywords: control threshold, insecticide, chili pest AbstrakPengendalian hama kutu daun pada tanaman cabai sering menggunakan pengendalian kimia yang terjadwal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi kutu daun pada fase vegetatif tanaman cabai yang diberi perlakuan biochar asal limbah pertanian dan trichokompos dan pengendaliannya berdasarkan ambang kendali. Penelitian dilaksanakan pada pertanaman cabai varietas Kencana fase vegetatif di Desa Sangir Tengah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci pada tahun 2016. Penanaman cabai dilaksanakan dengan lima perlakuan yaitu : 1) Trichokompos 10 ton/ha dan biochar ampas tebu 2 ton/ha; 2) Trichokompos 10 ton/ha dan biochar tongkol jagung 2 ton/ha; 3) Trichokompos 10 ton/ha dan biochart sekam padi 2 ton/ha; 4) Trichokompos 10 ton/ha; dan 5) Kontrol (teknologi petani). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Rancangan lingkungan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Pengumpulan data melalui pengamatan jumlah populasi kutu daun yang dilakukan setiap minggu. Tindakan pengendalian dengan penggunaan insektisida dilakukan setelah populasi melewati ambang ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biochar limbah pertanian (sekam padi, tongkol jagung, ampas tebu) dan trichokompos tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah/populasi kutu daun. Pengendalian kimia kutu daun pada tanaman cabai varietas Kencana pada fase vegetatif yang dilakukan berdasarkan ambang kendali, dapat menurunkan frekuensi aplikasi insektisida sampai 50%.Kata kunci : ambang kendali, insektisida, hama cabai
Title: PENGENDALIAN KUTU DAUN PADA TANAMAN CABAI YANG DIAPLIKASI BIOCHAR DAN TRICHOKOMPOS BERDASARKAN AMBANG KENDALI
Description:
The control of aphids pests in chilli plantation often uses scheduled chemical control.
This study aims to determine the development of aphid populations in the vegetative phase of chili plants treated with biochar from agricultural waste and trichokompos, and its control based on the threshold of control.
The experiment was conducted on Chili Varietas Kencana of vegetative phase in Sangir Tengah Village, Kayu Aro Subdistrict, Kerinci Regency in 2016.
The planting of chili was carried out with five treatments: 1) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha of bagasse biochar; 2) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha of corncob biochar; 3) Trichokompos 10 ton/ha and 2 ton/ha of rice husk biochar; 4) Trichokompos 10 ton/ha; and 5) Control (farmer technology).
Each treatment was repeated 4 times.
The environmental design used is Group Random Design (RAK).
Data collection through observation of population number of aphids done every week.
Control measures with the use of pesticides are carried out after the population passes the economic threshold.
The results showed that the use of agricultural waste biochar (rice husk, corncob, bagasse) and trichokompos did not significantly affect the number/population of aphids.
Chemical control of aphids on chili plants in the vegetative phase based on the control threshold can reduce the frequency of insecticide application up to 50%.
Keywords: control threshold, insecticide, chili pest AbstrakPengendalian hama kutu daun pada tanaman cabai sering menggunakan pengendalian kimia yang terjadwal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi kutu daun pada fase vegetatif tanaman cabai yang diberi perlakuan biochar asal limbah pertanian dan trichokompos dan pengendaliannya berdasarkan ambang kendali.
Penelitian dilaksanakan pada pertanaman cabai varietas Kencana fase vegetatif di Desa Sangir Tengah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci pada tahun 2016.
Penanaman cabai dilaksanakan dengan lima perlakuan yaitu : 1) Trichokompos 10 ton/ha dan biochar ampas tebu 2 ton/ha; 2) Trichokompos 10 ton/ha dan biochar tongkol jagung 2 ton/ha; 3) Trichokompos 10 ton/ha dan biochart sekam padi 2 ton/ha; 4) Trichokompos 10 ton/ha; dan 5) Kontrol (teknologi petani).
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali.
Rancangan lingkungan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK).
Pengumpulan data melalui pengamatan jumlah populasi kutu daun yang dilakukan setiap minggu.
Tindakan pengendalian dengan penggunaan insektisida dilakukan setelah populasi melewati ambang ekonomi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan biochar limbah pertanian (sekam padi, tongkol jagung, ampas tebu) dan trichokompos tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah/populasi kutu daun.
Pengendalian kimia kutu daun pada tanaman cabai varietas Kencana pada fase vegetatif yang dilakukan berdasarkan ambang kendali, dapat menurunkan frekuensi aplikasi insektisida sampai 50%.
Kata kunci : ambang kendali, insektisida, hama cabai.
Related Results
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Aplikasi PGPR Akar Bambu dan Akar Putri Malu dalam Mengurangi Intensitas Serangan Aphis gosypii pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.)
Aplikasi PGPR Akar Bambu dan Akar Putri Malu dalam Mengurangi Intensitas Serangan Aphis gosypii pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.)
Plant growth promoting rhizobacter (PGPR) mengandung Rhizobacter yang dapat memfiksasi nitrogen bebas yang berada di alam, nitrogen tersebut diubah menjadi amonia yang selanjutnya ...
Preferensi Bemisia tabaci Genn. dan Kaitannya dengan Karakter Anatomi dan Morfologi Daun pada Cabai (Capsicum annuum L.)
Preferensi Bemisia tabaci Genn. dan Kaitannya dengan Karakter Anatomi dan Morfologi Daun pada Cabai (Capsicum annuum L.)
Identifikasi karakter seleksi yang tepat diperlukan dalam pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas cabai yang tahan terhadap kutu kebul Bemisia tabaci Genn. Tujuan penelitian ...
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI EDAMAME PADA PEMBERIAN BIOCHAR SEKAM PADI DAN PUPUK P DI TANAH GAMBUT
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI EDAMAME PADA PEMBERIAN BIOCHAR SEKAM PADI DAN PUPUK P DI TANAH GAMBUT
Tanaman edamame (Glycine max (L.) Merill) merupakan tanaman multiguna yang memiliki peluang cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia. Optimalisasi lahan gambut untuk areal produ...
Penerapan Model Biointensif untuk Mengendalikan Hama pada Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.)
Penerapan Model Biointensif untuk Mengendalikan Hama pada Tanaman Cabai Besar (Capsicum annuum L.)
Tanaman cabai besar (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura dari famili solanaceae yang banyak dibudidayakan secara komersial di Indonesia khususnya di Sulaw...
HUBUNGAN ANTARA PANJANG DAN LEBAR DAUN NENAS TERHADAP KUALITAS SERAT DAUN NANAS BERDASARKAN LETAK DAUN DAN LAMA PERENDAMAN DAUN
HUBUNGAN ANTARA PANJANG DAN LEBAR DAUN NENAS TERHADAP KUALITAS SERAT DAUN NANAS BERDASARKAN LETAK DAUN DAN LAMA PERENDAMAN DAUN
Proses panen nenas akan menghasilkan limbah berupa daun nenas sebesar 2 sampai 3 kg per tanaman. Karena daun nanas tidak dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, jadi biasanya peta...

