Javascript must be enabled to continue!
ETIKA MALU DALAM AL-QUR’AN (STUDI TEMATIK AYAT-AYAT TENTANG SIFAT MALU DALAM TAFSIR AL-AZHAR
View through CrossRef
Etika merupakan aspek fundamental dalam ajaran Islam yang mencakup berbagai nilai moral, salah satunya adalah sifat malu (ḥayā’). Sifat ini memiliki peran penting sebagai penjaga integritas moral dan spiritual seorang Muslim. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat konsep sifat malu, serta mengevaluasi tafsir Buya Hamka terhadap ayat-ayat tersebut sebagaimana tercantum dalam Tafsir al-Azhar. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah tafsir tematik (maudhu’i) dengan metode kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengandung sejumlah nilai yang menekankan pentingnya rasa malu, baik dalam interaksi sosial, tata cara berpakaian, maupun dalam sikap seorang hamba terhadap Tuhannya. Buya Hamka, dalam tafsirnya, menekankan bahwa malu bukan semata-mata etika personal, melainkan mencerminkan dimensi sosial dan spiritual yang luas. Dengan memahami konsep etika malu dalam Al-Qur’an melalui perspektif Tafsir al-Azhar, diharapkan pembaca memperoleh pemahaman yang mendalam dan relevan untuk diterapkan dalam kehidupan kontemporer yang cenderung mengabaikan nilai-nilai kesantunan dan adab.
Universitas Islam Indonesia (Islamic University of Indonesia)
Title: ETIKA MALU DALAM AL-QUR’AN (STUDI TEMATIK AYAT-AYAT TENTANG SIFAT MALU DALAM TAFSIR AL-AZHAR
Description:
Etika merupakan aspek fundamental dalam ajaran Islam yang mencakup berbagai nilai moral, salah satunya adalah sifat malu (ḥayā’).
Sifat ini memiliki peran penting sebagai penjaga integritas moral dan spiritual seorang Muslim.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat konsep sifat malu, serta mengevaluasi tafsir Buya Hamka terhadap ayat-ayat tersebut sebagaimana tercantum dalam Tafsir al-Azhar.
Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah tafsir tematik (maudhu’i) dengan metode kualitatif.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengandung sejumlah nilai yang menekankan pentingnya rasa malu, baik dalam interaksi sosial, tata cara berpakaian, maupun dalam sikap seorang hamba terhadap Tuhannya.
Buya Hamka, dalam tafsirnya, menekankan bahwa malu bukan semata-mata etika personal, melainkan mencerminkan dimensi sosial dan spiritual yang luas.
Dengan memahami konsep etika malu dalam Al-Qur’an melalui perspektif Tafsir al-Azhar, diharapkan pembaca memperoleh pemahaman yang mendalam dan relevan untuk diterapkan dalam kehidupan kontemporer yang cenderung mengabaikan nilai-nilai kesantunan dan adab.
Related Results
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
The Tafsir al-Azhar of HAMKA is one of the Malay world's tafsir which reveals the vastness of knowledge that encompasses and covers all disciplines of science. In this interpretati...
Idealisasi Metode Living Qur’an
Idealisasi Metode Living Qur’an
<p align="center"><strong>Abstract</strong></p><p> </p><p>Living Qur’an is one of the contemporary method which needs some supports to be ...
Karakteristik Tafsir Tahlili dan Tafsir Ijmali
Karakteristik Tafsir Tahlili dan Tafsir Ijmali
Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas perbedaan karakteristik antara tafsir tahlili dan tafsir ijmali dalam Al-Quran. Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif dengan analis...
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
Pada abad ke-20 M, penulisan tafsir al-Qur’an yang lahir di Nusantara umumnya menampilkan ciri kemodernannya, baik dari segi bahasa dan aksara. Namun, berbeda dengan Tafsīr Tūjuh S...
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
Al-Qur’an is the Final divine revelation sent down to the Final Messenger of God, the Prophet Muhammad (PBUH). Allah SWT is the creator of all humankind, Jinns, and all creatures...
Coping Stress Dalam Perspektif Al Qur’an
Coping Stress Dalam Perspektif Al Qur’an
Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita pernah mengalami stres, yang mendorong kita untuk melakukan coping stres supaya kita tidak terjebak dan terpuruk karenanya. Kajian coping str...
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
AbstrakKegiatan tafsir Al-Qu’ran telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad Saw dan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa, yaitu periode Nabi Muhammad Saw dan sahabatnya, peri...
Konvergensi Epistemologi Barat dalam Tafsir Ibnu Asyur
Konvergensi Epistemologi Barat dalam Tafsir Ibnu Asyur
Tafsir Al-Qur'an penting sekali karena menjadi jalan untuk memahami kalamullah, atau Al-Qur'an, sebagai pedoman hidup manusia. Tafsir Al-Qur'an memiliki banyak keutamaan, di antara...

