Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Studi Korelasi Kecemasan Dan Konsep Diri Pada Klien Pemasyarakatan

View through CrossRef
Abstrak   Latar Belakang: Persepsi sosial masyarakat terhadap narapidana (klien pemasyarakatan) cenderung negatif. Tidak hanya masyarakat, klien pemasyarakatan sendiri memiliki keraguan terhadap dirinya dapat diterima kembali oleh lingkungan, mendapat pekerjaan dan kehidupan yang layak. Tujuan:  mengetahui gambaran kecemasan dan konsep diri dari para klien pemasyarakatan di Bapas Denpasar dan mengetahui  korelasi antara kecemasan dan konsep diri pada klien pemasyarakatan di Bapas Denpasar. Metode: Sampel penelitian adalah 26 klien pemasyarakatan yang dipilih menggunakan purposive sampling menetapkan kriteria, seperti: usia 19-40 tahun, jenis kelamin laki-laki dan perempuan, dan minimal satu tahun masa tahanan. Kuesioner yang dipakai yaitu skala kecemasan disusun berdasarkan teori Nolen (2007) dengan jumlah 44 item pernyataan dan skala konsep diri yang disusun berdasarkan acuan teori Calhoun dan Acocella (dalam Nugroho, 2015) berjumlah 30 item pernyataan. Hasil : penelitian didapatkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,003, hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara kecemasan dan konsep diri pada klien pemasyarakatan di Bapas Denpasar. Nilai korelasi sebesar -0,553 yang menunjukkan arah hubungan tersebut bersifat negatif. Kesimpulan: Klien pemasyarakatan di Bapas Denpasar memiliki konsep diri yang tergolong rendah hingga sangat rendah. Partisipan penelitian memiliki kecemasan yang tergolong sedang sampai sangat tinggi. Terdapat korelasi antara kecemasan dengan konsep diri klien pemasyarakatan. Semakin tinggi kecemasan klien pemasyarakatan, maka semakin rendah nilai konsep dirinya. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kecemasan klien pemasyarakatan, maka konsep diri mereka akan semakin tinggi. Kata kunci: Kecemasan, Konsep diri, Klien Pemasyarakatan
Title: Studi Korelasi Kecemasan Dan Konsep Diri Pada Klien Pemasyarakatan
Description:
Abstrak   Latar Belakang: Persepsi sosial masyarakat terhadap narapidana (klien pemasyarakatan) cenderung negatif.
Tidak hanya masyarakat, klien pemasyarakatan sendiri memiliki keraguan terhadap dirinya dapat diterima kembali oleh lingkungan, mendapat pekerjaan dan kehidupan yang layak.
Tujuan:  mengetahui gambaran kecemasan dan konsep diri dari para klien pemasyarakatan di Bapas Denpasar dan mengetahui  korelasi antara kecemasan dan konsep diri pada klien pemasyarakatan di Bapas Denpasar.
Metode: Sampel penelitian adalah 26 klien pemasyarakatan yang dipilih menggunakan purposive sampling menetapkan kriteria, seperti: usia 19-40 tahun, jenis kelamin laki-laki dan perempuan, dan minimal satu tahun masa tahanan.
Kuesioner yang dipakai yaitu skala kecemasan disusun berdasarkan teori Nolen (2007) dengan jumlah 44 item pernyataan dan skala konsep diri yang disusun berdasarkan acuan teori Calhoun dan Acocella (dalam Nugroho, 2015) berjumlah 30 item pernyataan.
Hasil : penelitian didapatkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,003, hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara kecemasan dan konsep diri pada klien pemasyarakatan di Bapas Denpasar.
Nilai korelasi sebesar -0,553 yang menunjukkan arah hubungan tersebut bersifat negatif.
Kesimpulan: Klien pemasyarakatan di Bapas Denpasar memiliki konsep diri yang tergolong rendah hingga sangat rendah.
Partisipan penelitian memiliki kecemasan yang tergolong sedang sampai sangat tinggi.
Terdapat korelasi antara kecemasan dengan konsep diri klien pemasyarakatan.
Semakin tinggi kecemasan klien pemasyarakatan, maka semakin rendah nilai konsep dirinya.
Begitu pula sebaliknya, semakin rendah kecemasan klien pemasyarakatan, maka konsep diri mereka akan semakin tinggi.
Kata kunci: Kecemasan, Konsep diri, Klien Pemasyarakatan.

Related Results

KECEMASAN SAAT PANDEMI COVID 19: LITERATUR REVIEW Hardiyati, Efri Widianti, Taty Hernawaty Departemen Keperawatan Jiwa Poltekkes Kemenkes Mamuju Sulbar, Universitas Pad...
Evaluasi Kesesuaian Pola Bangunan Lembaga Pembinaan Khusus Anak dan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan
Evaluasi Kesesuaian Pola Bangunan Lembaga Pembinaan Khusus Anak dan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan
Fungsi dan Tujuan dari pendirian Lembaga Pemasyarakatan menjadikan pembangunannya tak dapat dilakukan secara asal, diperlukan standar dan standarisasi agar bangunan Lembaga Pemasya...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
“BADIKLAT” (BAPAS HADIR LEBIH DEKAT)
“BADIKLAT” (BAPAS HADIR LEBIH DEKAT)
Latar Belakang : Praktik bimbingan kemasyarakatan makro berfokus pada pelayanan sosial komunitas dan analisis kebijakan reintegrasi sosial dengan pendekatan ekologi. Hal ini bertuj...
Peran Balai Pemasyarakatan Terhadap Klien Anak Putus Sekolah
Peran Balai Pemasyarakatan Terhadap Klien Anak Putus Sekolah
Kehadiran anak-anak putus sekolah sebagai populasi yang rentan di masyarakat memerlukan perhatian khusus dalam konteks sistem pemasyarakatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaj...
PENINGKATAN KESEJAHTERAAN NARAPIDANA DILEMBAGA PEMASYARAKATAN
PENINGKATAN KESEJAHTERAAN NARAPIDANA DILEMBAGA PEMASYARAKATAN
Sistem pembinaan bagi narapidana telah berubah dari sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan, perusahaan dari rumah penjara menjadi Lembaga Pemasyarakatan, bukan semata-mat...
Konsep diri dengan kecenderungan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa
Konsep diri dengan kecenderungan kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa
The tendency of speaking anxiety is the condition of individuals who are uncomfortable and feel anxious so that they cannot compose messages when facing situations in public. Howev...
Dampak Over Kapasitas Terhadap Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIa Bogor
Dampak Over Kapasitas Terhadap Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIa Bogor
Lapas perlu melindungi warga binaan selayaknya manusia atau warga negara pada umumnya, tidak boleh ada asumsi bahwa lapas adalah tempat bagi narapidana yang merupakan tempat untuk ...

Back to Top