Javascript must be enabled to continue!
Karakteristik Fisikokimia dan Penerimaan Konsumen Kerupuk Rumput Laut Kappaphycus alvarezii
View through CrossRef
Kappaphycus alvarezii is widely used because it contains agar, carrageenan, porpyran, furcelaran and phycobilin pigments (consisting of phycoerethrin and phycocyanin). Optimization of the utilization of K. alvarezii still needs to be improved in an effort to diversify processed products from seaweed. One of the processed seaweed products that can be developed is crackers. This research was conducted to determine the physicochemical characteristics and consumer acceptance of K. alvarezii seaweed crackers. The treatment used in this study included 3 main ingredients, namely K.alvarezii seaweed, wheat flour, and tapioca flour. Data were processed using a completely randomized design (CRD) and continued with Tukey test at 95% confidence level. The results showed that K.alvarezii seaweed crackers had a moisture content between 11.41-14.52%, protein content 6.03-9.58%, fat content 3.51-5.68, and ash content 2.58 -4.11%. The protein content of seaweed crackers meets SNI 0272-2000 standards, but the ash content and moisture content of the crackers do not meet SNI standards. The degree of whiteness of the seaweed crackers ranged from 50.69-61.30%, the swelling power of the crackers ranged from 41.10-92.27%. Based on consumer acceptance, treatment P2 with a concentration of 40% seaweed, 12% wheat flour, and 28% tapioca flour was the most preferred treatment by consumers with an overall preference range of 5.40-6.57 (rather like to like very much).
Keywords: Kappaphycus alvarezii, Physicochemical Characteristics, Crackers, Consumer Acceptance.
Kappaphycus alvarezii banyak dimanfaatkan karena mengandung agar, karaginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin). Optimalisasi pemanfaatan K. alvarezii masih perlu ditingkatkan dalam upaya diversifikasi produk olahan dari rumput laut. Salah satu olahan produk rumput laut yang bisa dikembangkan adalah kerupuk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan penerimaan konsumen kerupuk rumput laut K. alvarezii. Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini meliputi 3 bahan utama yaitu rumput laut K.alvarezii, tepung terigu, dan tepung tapioka. Data diolah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerupuk rumput laut K.alvarezii memiliki kadar air antara 11,41-14,52%, kadar protein 6,03-9,58%, kadar lemak 3,51-5,68, dan kadar abu 2,58-4,11%. Kadar protein kerupuk rumput laut telah memenuhi standar SNI 0272-2000, namun kadar abu dan kadar air kerupuk belum memenuhi standar SNI. Derajat putih kerupuk rumput laut berkisar antara 50,69-61,30%, daya kembang kerupuk berkisar antara 41,10-92,27%. Berdasarkan penerimaan konsumen, perlakuan P2 dengan konsentrasi rumput laut 40%, tepung terigu 12%, dan tepung tapioka 28% merupakan perlakuan yang paling disukai konsumen dengan rentang kesukaan keseluruhan sebesar 5,40-6,57 (agak suka sampai sangat suka).
Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, Karakteristik Fisikokimia, Kerupuk, Penerimaan Konsumen
Universitas Sam Ratulangi
Title: Karakteristik Fisikokimia dan Penerimaan Konsumen Kerupuk Rumput Laut Kappaphycus alvarezii
Description:
Kappaphycus alvarezii is widely used because it contains agar, carrageenan, porpyran, furcelaran and phycobilin pigments (consisting of phycoerethrin and phycocyanin).
Optimization of the utilization of K.
alvarezii still needs to be improved in an effort to diversify processed products from seaweed.
One of the processed seaweed products that can be developed is crackers.
This research was conducted to determine the physicochemical characteristics and consumer acceptance of K.
alvarezii seaweed crackers.
The treatment used in this study included 3 main ingredients, namely K.
alvarezii seaweed, wheat flour, and tapioca flour.
Data were processed using a completely randomized design (CRD) and continued with Tukey test at 95% confidence level.
The results showed that K.
alvarezii seaweed crackers had a moisture content between 11.
41-14.
52%, protein content 6.
03-9.
58%, fat content 3.
51-5.
68, and ash content 2.
58 -4.
11%.
The protein content of seaweed crackers meets SNI 0272-2000 standards, but the ash content and moisture content of the crackers do not meet SNI standards.
The degree of whiteness of the seaweed crackers ranged from 50.
69-61.
30%, the swelling power of the crackers ranged from 41.
10-92.
27%.
Based on consumer acceptance, treatment P2 with a concentration of 40% seaweed, 12% wheat flour, and 28% tapioca flour was the most preferred treatment by consumers with an overall preference range of 5.
40-6.
57 (rather like to like very much).
Keywords: Kappaphycus alvarezii, Physicochemical Characteristics, Crackers, Consumer Acceptance.
Kappaphycus alvarezii banyak dimanfaatkan karena mengandung agar, karaginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin).
Optimalisasi pemanfaatan K.
alvarezii masih perlu ditingkatkan dalam upaya diversifikasi produk olahan dari rumput laut.
Salah satu olahan produk rumput laut yang bisa dikembangkan adalah kerupuk.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan penerimaan konsumen kerupuk rumput laut K.
alvarezii.
Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini meliputi 3 bahan utama yaitu rumput laut K.
alvarezii, tepung terigu, dan tepung tapioka.
Data diolah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dilanjutkan dengan uji Tukey pada taraf kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerupuk rumput laut K.
alvarezii memiliki kadar air antara 11,41-14,52%, kadar protein 6,03-9,58%, kadar lemak 3,51-5,68, dan kadar abu 2,58-4,11%.
Kadar protein kerupuk rumput laut telah memenuhi standar SNI 0272-2000, namun kadar abu dan kadar air kerupuk belum memenuhi standar SNI.
Derajat putih kerupuk rumput laut berkisar antara 50,69-61,30%, daya kembang kerupuk berkisar antara 41,10-92,27%.
Berdasarkan penerimaan konsumen, perlakuan P2 dengan konsentrasi rumput laut 40%, tepung terigu 12%, dan tepung tapioka 28% merupakan perlakuan yang paling disukai konsumen dengan rentang kesukaan keseluruhan sebesar 5,40-6,57 (agak suka sampai sangat suka).
Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, Karakteristik Fisikokimia, Kerupuk, Penerimaan Konsumen
.
Related Results
IbM Kelompok Pembuat Kerupuk Kerang di Desa Pepe Kabupaten Sidoarjo
IbM Kelompok Pembuat Kerupuk Kerang di Desa Pepe Kabupaten Sidoarjo
Kerupuk kerang belum dipasarkan secara luas padahal rasanya enak dan mempunyai nilai gizi yang tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan. Di desa Pepe Kec. Sedati, Kab. Sidoar...
ANALISIS PERBANDINGAN MESIN PEMOTONG RUMPUT BADJA BG435 BAHAN BAKAR MINYAK DAN K-ONE ELEKTRIK
ANALISIS PERBANDINGAN MESIN PEMOTONG RUMPUT BADJA BG435 BAHAN BAKAR MINYAK DAN K-ONE ELEKTRIK
Pemotongan rumput merupakan suatu aktivitas yang penting dalam pemeliharaan rumput. Hal itu bertujuan agar hamparan rumput menjadi rapat dan merata. Oleh karena itulah ada baiknya ...
Diversifikasi Pangan Berbahan Dasar Rumput Laut Produksi Petani di Watang Suppa Kec Suppa Kab Pinrang Guna Menunjang Ketahanan Pangan Keluarga
Diversifikasi Pangan Berbahan Dasar Rumput Laut Produksi Petani di Watang Suppa Kec Suppa Kab Pinrang Guna Menunjang Ketahanan Pangan Keluarga
Rumput laut merupakan salah satu kebutuhan industri yang cukup tinggi baik untuk industri makanan, minuman, farmasi dan industri lainnya. Tujuan pelatihan ini menambah pengetahuan ...
PENGOLAHAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) MENJADI DAWET RUMPUT LAUT
PENGOLAHAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) MENJADI DAWET RUMPUT LAUT
Diversifikasi produk rumput laut jenis Eucheuma cottoni menjadi minuman khas daerah berupadawet. Penelitian bertujuan untuk menghasilkan dawet rumput laut Eucheuma cottoni sertamen...
Review: Fitokimia dan Aktivitas Farmakologi dari Alga Kappaphycus alvareziiz
Review: Fitokimia dan Aktivitas Farmakologi dari Alga Kappaphycus alvareziiz
Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu alga merah yang termasuk ke dalam keluarga Solieriaceae. Kappaphycus alvarezii mayoritas dikembangkan di kawasan pesisir dan memiliki pot...
Rumput Laut, Makanan Sehat Abad 21
Rumput Laut, Makanan Sehat Abad 21
Pemanfaatan rumput laut sebagai bahan pangan telah dilakukan sejak jaman dahulu bahkan rumput laut disinyalir telah dikonsumsi sejak jaman manusia purba. Rumput laut umumnya bersif...
KAJIAN KUALITAS AIR TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii; STUDI KASUS DI DESA TAPI-TAPI KEC. MAROBO SULAWESI TENGGARA
KAJIAN KUALITAS AIR TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii; STUDI KASUS DI DESA TAPI-TAPI KEC. MAROBO SULAWESI TENGGARA
E cottonii adalah jenis rumput laut yang sangat familiar dibudidayakan sebab memiliki nilai ekonomis tinggi dan memiliki potensi pengembangan yang cukup besar di Desa Tapi-Tapi Kec...
Pelatihan Penerapan Teknologi Sauna UV untuk Pengeringan Rumput Laut yang Ramah Lingkungan
Pelatihan Penerapan Teknologi Sauna UV untuk Pengeringan Rumput Laut yang Ramah Lingkungan
Jumlah pembudidaya rumput laut di Pulau Lemukutan semakin bertambah, hal ini dikarenakan masyarakat yang sebelumnya menjadi nelayan tertarik juga pada usaha ini. Usaha budidaya rum...

