Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PERIODISASI PERAWI HADIS: Studi Komparasi dan Korelasi Konsep Thabaqat al-Ruwat Masa Klasik dan Modern

View through CrossRef
<p><span>Periodisasi perawi mulai dikaji sejak abad ke 2 H. untuk keperluan penelitian sanad Hadits dan kritik perawi. Buku-buku indeks periodik paling awal telah terbit di awal abad ke 3 H. Penentuan periodik saat itu masih sangat asumtif dan subjektif dari setiap penulis, belum ada kajian metodologis yang menjadi patokan umum. Embrio teoritis paling awal baru muncul sejak abad ke 7 H oleh Ibn Shalah, yang kemudian menjadi teori utuh pada abad ke 9 H oleh Ibn Hajar. Dalam penelitian ini, originalitas teori Ibn Hajar dalam <em>Taqrib at-Tahdzib</em> ini menjadi konsep klasik dalam periodisasi perawi. Kajian setelah abad itu belum menunjukkan pengembangan yang signifikan, hingga abad ke 15 H saat ini. sehingga pengembangan teori dari konsep klasik oleh Abu Ibrahim berupa tabulasi periodik kemudian menjadi konsep modern. Melalui studi komparasi dan korelasi, peneliti menemukan titik perbedaan dan superioritas kedua konsep tersebut. Konsep klasik adalah hasil analisis data historis, biografi, data pribadi dan data pertemuan perawi yang dirumuskan berdasarkan 6 indikator ke dalam bentuk Buku Indeks Periodik. Sementara konsep modern adalah hasil kalkulasi matematis dari 6 indikator ke dalam bentuk Tabulasi Periodik. Keunggulan konsep klasik adalah kekuatan data historis yang valid, sehingga indeks periodik menjadi prioritas data dalam penetuan periode perawi tertentu. Sementara keunggulan konsep modern terletak pada pendekatan matematis, yang memungkinkan tabulasi menjadi perangkat penentuan periode perawi yang tidak ditemukan data periodiknya sama sekali. </span></p><p>[<strong><span>Periodization of Hadith Narrators: Comparative and Correlation Studies of the Classical and Modern <em>Thabaqat al-Ruwat</em> Concepts</span></strong><span>. The study of the Periodization of Rawi germinated in the 2nd century of Hijriyah, for research on Hadith sanad and Rawi criticism. The earliest periodic index books were published in the early 3rd century of Hijriyah. The earliest theoretical embryos appeared only in the 7th century of Hijriyah by Ibn Salah, which later became a complete theory in the 9th century of Hijriyah by Ibn Hajar. The originality of Ibn Hajar's theory in Taqrib at-Tahdzib became a classical concept in the periodization of Rawi. Studies after that century have not shown significant development, until the 15th century of Hijriyah. The development of the classical concept by Abu Ibrahim, in the form of periodic tabulations, is regarded as a modern concept. Through comparative and correlation studies, we have managed to find a point of difference and superiority between the two concepts. The classic concept is the result of analysis of historical data, biographies, Rawis’ data, and data of their encounters, which are formulated based on 6 indicators into the form of a Periodic Index Book. Meanwhile, the modern concept is the result of mathematical calculations from 6 indicators into the form of Periodic Tabulations. The advantage of the classical concept is the strength of valid historical data, so that the periodic index is the priority of the data in determining the Rawi certain periods. Meanwhile, the advantage of the modern concept is in the mathematical approach, which allows tabulation to be a tool for determining the period of Rawi whose periodic data can’t be found.</span>]</p>
Universitas Islam Negeri Sunan Kudus
Title: PERIODISASI PERAWI HADIS: Studi Komparasi dan Korelasi Konsep Thabaqat al-Ruwat Masa Klasik dan Modern
Description:
<p><span>Periodisasi perawi mulai dikaji sejak abad ke 2 H.
untuk keperluan penelitian sanad Hadits dan kritik perawi.
Buku-buku indeks periodik paling awal telah terbit di awal abad ke 3 H.
Penentuan periodik saat itu masih sangat asumtif dan subjektif dari setiap penulis, belum ada kajian metodologis yang menjadi patokan umum.
Embrio teoritis paling awal baru muncul sejak abad ke 7 H oleh Ibn Shalah, yang kemudian menjadi teori utuh pada abad ke 9 H oleh Ibn Hajar.
Dalam penelitian ini, originalitas teori Ibn Hajar dalam <em>Taqrib at-Tahdzib</em> ini menjadi konsep klasik dalam periodisasi perawi.
Kajian setelah abad itu belum menunjukkan pengembangan yang signifikan, hingga abad ke 15 H saat ini.
sehingga pengembangan teori dari konsep klasik oleh Abu Ibrahim berupa tabulasi periodik kemudian menjadi konsep modern.
Melalui studi komparasi dan korelasi, peneliti menemukan titik perbedaan dan superioritas kedua konsep tersebut.
Konsep klasik adalah hasil analisis data historis, biografi, data pribadi dan data pertemuan perawi yang dirumuskan berdasarkan 6 indikator ke dalam bentuk Buku Indeks Periodik.
Sementara konsep modern adalah hasil kalkulasi matematis dari 6 indikator ke dalam bentuk Tabulasi Periodik.
Keunggulan konsep klasik adalah kekuatan data historis yang valid, sehingga indeks periodik menjadi prioritas data dalam penetuan periode perawi tertentu.
Sementara keunggulan konsep modern terletak pada pendekatan matematis, yang memungkinkan tabulasi menjadi perangkat penentuan periode perawi yang tidak ditemukan data periodiknya sama sekali.
 </span></p><p>[<strong><span>Periodization of Hadith Narrators: Comparative and Correlation Studies of the Classical and Modern <em>Thabaqat al-Ruwat</em> Concepts</span></strong><span>.
The study of the Periodization of Rawi germinated in the 2nd century of Hijriyah, for research on Hadith sanad and Rawi criticism.
The earliest periodic index books were published in the early 3rd century of Hijriyah.
The earliest theoretical embryos appeared only in the 7th century of Hijriyah by Ibn Salah, which later became a complete theory in the 9th century of Hijriyah by Ibn Hajar.
The originality of Ibn Hajar's theory in Taqrib at-Tahdzib became a classical concept in the periodization of Rawi.
Studies after that century have not shown significant development, until the 15th century of Hijriyah.
The development of the classical concept by Abu Ibrahim, in the form of periodic tabulations, is regarded as a modern concept.
Through comparative and correlation studies, we have managed to find a point of difference and superiority between the two concepts.
The classic concept is the result of analysis of historical data, biographies, Rawis’ data, and data of their encounters, which are formulated based on 6 indicators into the form of a Periodic Index Book.
Meanwhile, the modern concept is the result of mathematical calculations from 6 indicators into the form of Periodic Tabulations.
The advantage of the classical concept is the strength of valid historical data, so that the periodic index is the priority of the data in determining the Rawi certain periods.
Meanwhile, the advantage of the modern concept is in the mathematical approach, which allows tabulation to be a tool for determining the period of Rawi whose periodic data can’t be found.
</span>]</p>.

Related Results

PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
THE ROLE OF KIAI IN THE ISLAMIZATION OF “RUWAT DESA” TRADITION IN KALANGANYAR SEDATI, SIDOARJO
THE ROLE OF KIAI IN THE ISLAMIZATION OF “RUWAT DESA” TRADITION IN KALANGANYAR SEDATI, SIDOARJO
ABSTRAK Tradisi ruwat desa adalah cara yang diyakini masyarakat Jawa dalam meminta keselamatan dari arwah leluhur dengan menyajikan sesaji dan menggelar kesenian wayang kulit...
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
Hadis disepakati sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Namun, untuk dapat menjadikannya sebagai dasar ajaran, hadis harus melewati uji naqd al-hadis dan fiqh al-hadi...
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
<p>Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang di...
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
Abstract: The Tahfiz Hadis program is one of the extracurricular programs carried out at the Al Falah Puteri Islamic Boarding School Banjarbaru. This program was formed because of ...
METODE MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENDAIFKAN HADIS: TELAAH KITAB DAIF SUNAN ABU DAUD
METODE MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENDAIFKAN HADIS: TELAAH KITAB DAIF SUNAN ABU DAUD
Sunan Abu Dawud merupakan salah satu dari enam kitab hadis utama dalam tradisi hadis Sunni. Kitab ini disusun oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Ash'ath al-Sijistani pada abad ke-...
Perawi Utama Syiah yang Digelar Pendusta: Tinjauan Riwayat Zurārah Bin A’yan dalam Kitab Al-Kāfī
Perawi Utama Syiah yang Digelar Pendusta: Tinjauan Riwayat Zurārah Bin A’yan dalam Kitab Al-Kāfī
Perawi adalah individu berperanan dalam meriwayatkan hadis atau cerita. Karakter dan kriteria perawi memberi impak yang signifikan terhadap kandungan riwayatnya. Ilmu al-Jarḥ wa al...
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
Penelitian ini bermaksud menjelaskan penelitian hadis menurut standar prosedur ilmiah penelitian hadis yang disebut saintifik hadis. Wacana saintifik hadis dalam konstruksi kesahih...

Back to Top