Javascript must be enabled to continue!
PELESTARIAN BUDAYA LOKAL SUKU MAKASSAR “ANGNGARU” DI KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA
View through CrossRef
Kabupaten Gowa merupakan salah satu kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 10 km dari Ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan, terletak di antara 505’ -5034.7’ Lintang Selatan (LS) dan 12033 19’-13015 17’ Bujur Timur (BT), dengan batas-batas administrasi: Sebelah Utara: Berbatasan dengan Kota Makassar dan Kab. Maros . Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Kab. Takalar dan Kab. Jeneponto. Sebelah Barat: Berbatasan dengan Kota Makassar dan Kab. Takalar. Sebelah Timur: Berbatasan dengan Kab. Sinjai, Kab. Bulukumba dan Kab. Bantaeng Bontonompo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kotanya berada di Kelurahan Kelurahan Tamallayang yang berjarak sekitar 18,5 Km ke arah selatan dari ibu kota Kabupaten Gowa atau ditempuh dengan perjalanan darat kurang lebih 45 menit dari Kota Makassar. Angngaru berasal dari kata dasar aru, yang artinya adalah sumpah. Sedangkan angngaru (bersumpah) adalah ikrar yang diucapkan orang – orang Gowa pada jaman dulu. Ritual ini menyampaikan simbol jaminan keselamatan dan kenyamanan selama acara berlangsung atau selama mengunjungi tempat. Ikhtiar kita sebagai warga negara adalah ikut serta dalam pembangunan, dengan memahami bahwa adanya nilai-nilai kehidupan pada budaya aru, maka perlu melestarikan sebagai warisan leluhur yang masih relevan dengan situasi saat ini (Lutfi Mappasomba). Angngaru merupakan sastra lisan yang mempunyai esteika bahasa denotasi dan konotasi dengan nilai-nilai sastra yang dominan. Sastra adalah artefak budaya yang menyajikan tuntunan hidup (moral, etika, dan spiritualitas), pengetahuan, dan ajang perekat sosial yang mendekatkan hubungan antaranggota masyarakat. Syair Angngaru termasuk puisi-puisi rakyat yang memanfaatkan pilihan kata (diksi) berupa bahasa daerah Makassar yang sudah arkhais (jarang digunakan), kata-kata tersebut mengandung nilai estetis, menggunakan ungkapan-ungkapan klise penuh simbol. Kaderisasi generasi penutur Angngaru seusia anak Pendidikan Dasar secara berkelanjutan hanya sebatas harapan. Metode yang digunakan adalah metode penugasan (praktik) per peserta sebanyak 10 anak usia Sekolah Dasar dan anak usia Selokah Lanjutan pertama. Hasil PkM Skema Dosen adalah telah menpraktikkan pembacaan “Angngaru” dan menetapkan dua peserta terbaik sebagai cikal bakal pelanjut generasi “Angngaru”, di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.
Title: PELESTARIAN BUDAYA LOKAL SUKU MAKASSAR “ANGNGARU” DI KECAMATAN BONTONOMPO KABUPATEN GOWA
Description:
Kabupaten Gowa merupakan salah satu kabupaten di bagian selatan Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 10 km dari Ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan, terletak di antara 505’ -5034.
7’ Lintang Selatan (LS) dan 12033 19’-13015 17’ Bujur Timur (BT), dengan batas-batas administrasi: Sebelah Utara: Berbatasan dengan Kota Makassar dan Kab.
Maros .
Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Kab.
Takalar dan Kab.
Jeneponto.
Sebelah Barat: Berbatasan dengan Kota Makassar dan Kab.
Takalar.
Sebelah Timur: Berbatasan dengan Kab.
Sinjai, Kab.
Bulukumba dan Kab.
Bantaeng Bontonompo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Ibu kotanya berada di Kelurahan Kelurahan Tamallayang yang berjarak sekitar 18,5 Km ke arah selatan dari ibu kota Kabupaten Gowa atau ditempuh dengan perjalanan darat kurang lebih 45 menit dari Kota Makassar.
Angngaru berasal dari kata dasar aru, yang artinya adalah sumpah.
Sedangkan angngaru (bersumpah) adalah ikrar yang diucapkan orang – orang Gowa pada jaman dulu.
Ritual ini menyampaikan simbol jaminan keselamatan dan kenyamanan selama acara berlangsung atau selama mengunjungi tempat.
Ikhtiar kita sebagai warga negara adalah ikut serta dalam pembangunan, dengan memahami bahwa adanya nilai-nilai kehidupan pada budaya aru, maka perlu melestarikan sebagai warisan leluhur yang masih relevan dengan situasi saat ini (Lutfi Mappasomba).
Angngaru merupakan sastra lisan yang mempunyai esteika bahasa denotasi dan konotasi dengan nilai-nilai sastra yang dominan.
Sastra adalah artefak budaya yang menyajikan tuntunan hidup (moral, etika, dan spiritualitas), pengetahuan, dan ajang perekat sosial yang mendekatkan hubungan antaranggota masyarakat.
Syair Angngaru termasuk puisi-puisi rakyat yang memanfaatkan pilihan kata (diksi) berupa bahasa daerah Makassar yang sudah arkhais (jarang digunakan), kata-kata tersebut mengandung nilai estetis, menggunakan ungkapan-ungkapan klise penuh simbol.
Kaderisasi generasi penutur Angngaru seusia anak Pendidikan Dasar secara berkelanjutan hanya sebatas harapan.
Metode yang digunakan adalah metode penugasan (praktik) per peserta sebanyak 10 anak usia Sekolah Dasar dan anak usia Selokah Lanjutan pertama.
Hasil PkM Skema Dosen adalah telah menpraktikkan pembacaan “Angngaru” dan menetapkan dua peserta terbaik sebagai cikal bakal pelanjut generasi “Angngaru”, di Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA PG PAUD UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
ANALISIS KEMAMPUAN MAHASISWA PG PAUD UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
Bahasa merupakan aspek terpenting dalam hidup setiap individu. Bahasa adalah sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan m...
Gambaran Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Sulawesi Selatan
Gambaran Sosial Ekonomi Masyarakat Pesisir di Sulawesi Selatan
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengamati gambaran kehidupan social ekonomi masyarakat pesisir di Kota Makassar, Daerah Galesong di Kabupaten Gowa dan Takalar serta Bira, Tan...
Review of Islamic Law on the Erang-Erang Marriage Tradition in Sailong Hamlet, Sunggumanai Village, Pattallassang District, Gowa Regency
Review of Islamic Law on the Erang-Erang Marriage Tradition in Sailong Hamlet, Sunggumanai Village, Pattallassang District, Gowa Regency
This study examines the application of Islamic law to the Erang-erang marriage tradition in Sailong Hamlet, Sunggumanai Village, Pattallassang District, Gowa Regency. The following...
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP NAUNG RIERE
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP NAUNG RIERE
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mendeskripsikan proses adat Naung Riere di Desa Balassuka Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa. (2) Untuk mengetahui bentuk motiv...
Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Pengelolaan Keuangan UMKM Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa
Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Pengelolaan Keuangan UMKM Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa
This study aims to determine how much influence financial literacy has on the financial management of MSMEs in Bontonompo District, Gowa Regency. The population in this study was M...
PEMAHAMAN MASYARAKAT GOWA TENTANG NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM YANG TERINTEGRASI DALAM SARAK SEBAGAI UNSUR PANGNGADAKKANG DI KABUPATEN GOWA
PEMAHAMAN MASYARAKAT GOWA TENTANG NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM YANG TERINTEGRASI DALAM SARAK SEBAGAI UNSUR PANGNGADAKKANG DI KABUPATEN GOWA
The values of Islamic education are integrated in Sarak as a Pangngadakkang element for the community of Gowa. This research aims to describe the public understanding of Gowa about...
Adaptasi masyarakat suku baduy luar terhadap perkembangan global berbasis kearifan lokal
Adaptasi masyarakat suku baduy luar terhadap perkembangan global berbasis kearifan lokal
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman. Salah satu keanekaragaman yang dimiliki Indonesia yaitu terdapatnya beragam suku. Suku-suku tersebut tersebar dari Sabang hin...

