Javascript must be enabled to continue!
Reduksionisme Eksplanatif untuk Antropologi Transendental Jawadi Amuli
View through CrossRef
Abstract : This article explains how an explanatory reductionism theory can be applied to the integration of various disciplines in Jawadi Amuli’s transcendent anthropology. Departing from the trilemma among the demand of certain forms of reduction of concepts, propositions, and theories in the process of integrating two disciplines of knowledge or more; the Promethean man reductionism problem; and the essentialist framework of Aristotelian logic in Jawadi Amuli’s anthropology, the author explores some extent of possibility and certain forms of application of explanatory reductionism for such transcendent anthropology. By using the method of Ricoeurian hermeneutics that emphasizes distantiation, interpretation, and appropriation, the author conducts a qualitative literary research to arrive at a number of important conclusions as follows. First, Jawadi Amuli has implemented certain forms of an explanatory reductionism in integrating philosophy, 'irfan, and Quranic exegesis in his transcendent anthropology. Second, Mario Bunge’s explanatory reductionism can be applied in the integration of various disciplines of knowledge for constructing transcendent anthropology which is approached through the objective effects of human existence in the material universe. Third, explanatory reductionism principle could be modified into Sadrian psycho-physical reductionism and Sadrian immaterial composition reductionism. Fourth, the use of definitions need to be expanded to include those of loose definitions. Fifthly, the premises used in transcendent anthropology need to be expanded to include zhannî premises.Keywords : Explanatory reductionism, transcendent anthropology, integration of disciplines, Mario Bunge, Jawadi AmuliAbstrak : tulisan ini menjelaskan bagaimana teori reduksionisme eksplanatif bisa diterapkan pada integrasi berbagai disiplin ilmu dalam antropologi transendental Jawadi Amuli. Berangkat dari trilema antara tuntutan reduksi konsep, proposisi, dan teori dalam proses integrasi dua disiplin pengetahuan atau lebih; problem reduksionisme manusia Promethean; dan kerangka logika-esensialisme Aristotelian pada antropologi Jawadi Amuli, penulis menelusuri berbagai posibilitas dan bentuk-bentuk tertentu dari penerapan reduksionisme eksplanatif pada antropologi transendental. Dengan menggunakan metode hermeneutika Paul Ricoeur yang menekankan distansiasi, interpretasi, dan apropriasi, penulis melakukan penelitian kualitatif kepustakaan hingga sampai pada sejumlah kesimpulan penting berikut. Pertama, Jawadi Amuli telah menerapkan bentuk tertentu dari reduksi eksplanatif dalam mengintegrasikan filsafat, ‘irfan, dan tafsir Al-Qur’an dalam antropologi transendentalnya. Kedua, reduksionisme eksplanatif Mario Bunge bisa diterapkan dalam integrasi berbagai disiplin sains dalam konteks antropologi transendental yang didekati melalui efek-efek objektif eksistensi manusia di alam materi. Ketiga, prinsip reduksionisme eksplanatif bisa dimodifikasi menjadi reduksionisme psiko-fisis Sadrian dan reduksionisme komposisi imateri Sadrian. Keempat, penggunaan definisi perlu diperluas mencakup definisi longgar. Kelima, premis yang digunakan dalam antropologi transendental perlu diperluas hingga mencakup premis-premis zhannî. Kata-kata Kunci : Reduksionisme eksplanatif, antropologi transendental, integrasi ilmu, Mario Bunge, Jawadi Amuli
Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra
Title: Reduksionisme Eksplanatif untuk Antropologi Transendental Jawadi Amuli
Description:
Abstract : This article explains how an explanatory reductionism theory can be applied to the integration of various disciplines in Jawadi Amuli’s transcendent anthropology.
Departing from the trilemma among the demand of certain forms of reduction of concepts, propositions, and theories in the process of integrating two disciplines of knowledge or more; the Promethean man reductionism problem; and the essentialist framework of Aristotelian logic in Jawadi Amuli’s anthropology, the author explores some extent of possibility and certain forms of application of explanatory reductionism for such transcendent anthropology.
By using the method of Ricoeurian hermeneutics that emphasizes distantiation, interpretation, and appropriation, the author conducts a qualitative literary research to arrive at a number of important conclusions as follows.
First, Jawadi Amuli has implemented certain forms of an explanatory reductionism in integrating philosophy, 'irfan, and Quranic exegesis in his transcendent anthropology.
Second, Mario Bunge’s explanatory reductionism can be applied in the integration of various disciplines of knowledge for constructing transcendent anthropology which is approached through the objective effects of human existence in the material universe.
Third, explanatory reductionism principle could be modified into Sadrian psycho-physical reductionism and Sadrian immaterial composition reductionism.
Fourth, the use of definitions need to be expanded to include those of loose definitions.
Fifthly, the premises used in transcendent anthropology need to be expanded to include zhannî premises.
Keywords : Explanatory reductionism, transcendent anthropology, integration of disciplines, Mario Bunge, Jawadi AmuliAbstrak : tulisan ini menjelaskan bagaimana teori reduksionisme eksplanatif bisa diterapkan pada integrasi berbagai disiplin ilmu dalam antropologi transendental Jawadi Amuli.
Berangkat dari trilema antara tuntutan reduksi konsep, proposisi, dan teori dalam proses integrasi dua disiplin pengetahuan atau lebih; problem reduksionisme manusia Promethean; dan kerangka logika-esensialisme Aristotelian pada antropologi Jawadi Amuli, penulis menelusuri berbagai posibilitas dan bentuk-bentuk tertentu dari penerapan reduksionisme eksplanatif pada antropologi transendental.
Dengan menggunakan metode hermeneutika Paul Ricoeur yang menekankan distansiasi, interpretasi, dan apropriasi, penulis melakukan penelitian kualitatif kepustakaan hingga sampai pada sejumlah kesimpulan penting berikut.
Pertama, Jawadi Amuli telah menerapkan bentuk tertentu dari reduksi eksplanatif dalam mengintegrasikan filsafat, ‘irfan, dan tafsir Al-Qur’an dalam antropologi transendentalnya.
Kedua, reduksionisme eksplanatif Mario Bunge bisa diterapkan dalam integrasi berbagai disiplin sains dalam konteks antropologi transendental yang didekati melalui efek-efek objektif eksistensi manusia di alam materi.
Ketiga, prinsip reduksionisme eksplanatif bisa dimodifikasi menjadi reduksionisme psiko-fisis Sadrian dan reduksionisme komposisi imateri Sadrian.
Keempat, penggunaan definisi perlu diperluas mencakup definisi longgar.
Kelima, premis yang digunakan dalam antropologi transendental perlu diperluas hingga mencakup premis-premis zhannî.
Kata-kata Kunci : Reduksionisme eksplanatif, antropologi transendental, integrasi ilmu, Mario Bunge, Jawadi Amuli.
Related Results
KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
ABSTRAK
Komunikasi transendental nyenuk merupakan rangkaian dari upacara ngenteg linggih yang dilaksanakan oleh masyarakat setelah pemabngunan atau mepugaran pura...
Transformasi Bentuk Simbolik Arsitektur Candi Prambanan
Transformasi Bentuk Simbolik Arsitektur Candi Prambanan
Fenomena Arsitektur Candi Prambanan adalah unik karena memenuhi kriterium dimensi makna transendental sejak awal mula pembangunannya, masa kehidupan, masa kegelapan, penemuan kemba...
PERAN GURU ANTROPOLOGI TERHADAP PENGEMBANGAN MINAT MATA PELAJARAN ANTROPOLOGI DI SMA NEGERI SE-KABUPATEN BANTAENG
PERAN GURU ANTROPOLOGI TERHADAP PENGEMBANGAN MINAT MATA PELAJARAN ANTROPOLOGI DI SMA NEGERI SE-KABUPATEN BANTAENG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Peran guru Antropologi terhadap pengembangan minat mata pelajaran Antropologi di SMA Negeri se-Kabupaten Bantaeng (2) Faktor Penghamb...
Normatifikasi Nilai Transendental Dalam Pembentukan Hukum Positif di Indonesia: Perspektif Teori Hukum Transendental
Normatifikasi Nilai Transendental Dalam Pembentukan Hukum Positif di Indonesia: Perspektif Teori Hukum Transendental
Perkembangan sistem hukum Indonesia tidak dapat dilepaskan dari refleksi mendalam mengenai sumber dan legitimasi norma, di mana nilai-nilai transendental—yang bersumber pada agama,...
Perkembangan Arena Kajian Antropologi Hukum
Perkembangan Arena Kajian Antropologi Hukum
Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk bi...
PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM
PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM
Abstrak :
Pendekatan antropologi dalam meneliti dan mengkaji agama dapat dipahami sebagai upaya memahami agama melalui wujud praktiknya yang tumbuh dan berkembang dal...
PERBEDAAN KAJIAN ANTROPOLOGI HUKUM DENGAN ILMU SOSIAL LAINNYA
PERBEDAAN KAJIAN ANTROPOLOGI HUKUM DENGAN ILMU SOSIAL LAINNYA
Istilah antropologi berasal dari bahasa yunani, asal kata anthropos berarti manusia, dan logos berarti ilmu. Dengan demikian, secara harfiah antropologi ilmu tentang manusia. Pende...
Pendekatan Holistik dalam Antropologi Hukum Sebagai Bentuk Perkembangan Antropologi Hukum
Pendekatan Holistik dalam Antropologi Hukum Sebagai Bentuk Perkembangan Antropologi Hukum
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia. Oleh karena itu antropologi didasarkan pada kemajuan yang telah dicapai ilmu pengetahuan sebelumnya. Pengertian Antropologi dapat ...

