Javascript must be enabled to continue!
TRADISI MARTAHI PADA MASYARAKAT PADANG LAWAS
View through CrossRef
Salah satu tradisi yang terdapat pada masyarakat Padang Lawas pada saat akan mendirikan pesta adalah martahi. Acara martahi ini sudah cukup lama bersama dan terpelihara dalam masyarakat. Acara martahi ini memiliki makna yang cukup berarti bagi masyarakat dalam pelaksanaan satu acara pesta, sebab pelaksanaan sebuah pesta bagi masyarakat Padang Lawas harus dihadiri oleh fungsionaris adat baik dari pihak kahanggi, anak boru, mora dan hatobangon. Selain harus dihadiri oleh fungsionaris adat, melalui acara martahi tersebut berarti semua tanggungjawab pelaksanaan pesta sudah diserahkan kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses jalannya acara martahi yang terdapat dalam masyarakat pada saat akan mendirikan satu pesta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan hasil penelitian yang diperoleh dari tradisi martahi ini diantaranya bahwa tidak ada berdirinya satu pesta tanpa terlebih dahulu melaksanakan acara martahi, selain itu acara martahi harus dilaksanakan sesuai tahapan-tahapan yang ditentukan menurut adat dan yang terahir hatobangon (orang yang dituakan dalam desa tersebut menurut adat) adalah pengambil kebijakan dalam acara martahi tersebut.
Title: TRADISI MARTAHI PADA MASYARAKAT PADANG LAWAS
Description:
Salah satu tradisi yang terdapat pada masyarakat Padang Lawas pada saat akan mendirikan pesta adalah martahi.
Acara martahi ini sudah cukup lama bersama dan terpelihara dalam masyarakat.
Acara martahi ini memiliki makna yang cukup berarti bagi masyarakat dalam pelaksanaan satu acara pesta, sebab pelaksanaan sebuah pesta bagi masyarakat Padang Lawas harus dihadiri oleh fungsionaris adat baik dari pihak kahanggi, anak boru, mora dan hatobangon.
Selain harus dihadiri oleh fungsionaris adat, melalui acara martahi tersebut berarti semua tanggungjawab pelaksanaan pesta sudah diserahkan kepada masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses jalannya acara martahi yang terdapat dalam masyarakat pada saat akan mendirikan satu pesta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan hasil penelitian yang diperoleh dari tradisi martahi ini diantaranya bahwa tidak ada berdirinya satu pesta tanpa terlebih dahulu melaksanakan acara martahi, selain itu acara martahi harus dilaksanakan sesuai tahapan-tahapan yang ditentukan menurut adat dan yang terahir hatobangon (orang yang dituakan dalam desa tersebut menurut adat) adalah pengambil kebijakan dalam acara martahi tersebut.
Related Results
Lawas Samawa dalam Konfigurasi Budaya Nusantara
Lawas Samawa dalam Konfigurasi Budaya Nusantara
Sastra lisan merupakan media pengungkap ekspresi manusia yang hidup dan berkembang pada masyarakat pemiliknya. Sastra lisan sebagai fenomena budaya merupakan cerminan dari kandunga...
Efektivitas Kinerja Pegawai pada Sekretariat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Padang Lawas Utara Provinsi Sumatera Utara
Efektivitas Kinerja Pegawai pada Sekretariat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Padang Lawas Utara Provinsi Sumatera Utara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Kerja Pegawai Pada Sekretariat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Padang Lawas Utara Provinsi Sumatera Utara atau d...
SEJARAH KALENTUNO GHOLEO PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA LABUNTI KECAMATAN LASALEPA KABUPATEN MUNA (1971-2022)1
SEJARAH KALENTUNO GHOLEO PADA MASYARAKAT MUNA DI DESA LABUNTI KECAMATAN LASALEPA KABUPATEN MUNA (1971-2022)1
ABSTRAK: Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk menguraikan latar belakang pelaksanaan tradisi kalentuno gholeo pada masyarakat di desa Labunti Kecamatan Lasalepa Kabupaten M...
MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM PROSESI TRADISI MAPPABOTTING DESA AMPARITA KECAMATAN TELLU LIMPOE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG SULAWESI SELATAN
MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM PROSESI TRADISI MAPPABOTTING DESA AMPARITA KECAMATAN TELLU LIMPOE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG SULAWESI SELATAN
Tradisi perkawinan adat bugis atau yang dikenal dengan tradisi Mappabotting khususnya masyarakat Hindu Bugis memiliki beberapa tahap atau proses komunikasi. Tentunya untuk ...
Dampak Keberadaan Objek Wisata Candi Bahal Terhadap Perekonomian Masyarakat Di Desa Bahal Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara
Dampak Keberadaan Objek Wisata Candi Bahal Terhadap Perekonomian Masyarakat Di Desa Bahal Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberadaan objek wisata candi Bahal di Desa Bahal Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara, perekonomian masyarakat di Des...
Tradisi Bulusan Hadipolo sebagai Wujud Kearifan Lokal dalam Mempertahankan Nilai Sosial-Religius dan Identitas Budaya Masyarakat Hadipolo
Tradisi Bulusan Hadipolo sebagai Wujud Kearifan Lokal dalam Mempertahankan Nilai Sosial-Religius dan Identitas Budaya Masyarakat Hadipolo
Tradisi Bulusan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang masih dijaga dengan baik di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol...
TRADISI MEMUTRU PADA UPACARA NGABEN DI DESA DARMASABA KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)
TRADISI MEMUTRU PADA UPACARA NGABEN DI DESA DARMASABA KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)
Tradisi memutru adalah salah satu tradisi yang ada di Desa Adat Darmasaba yang dilaksanakan pada upacara ngaben. Adapun masalah yang akan dibahas antara lain: (1) Bagaimanak...
K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru
K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru
Kearifan Lokal merupakan nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya tradisi pada kelompok masyarakat dari generasi ke generasi yang diwariskan secara turun temurun. Oleh kar...

