Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM PROSESI TRADISI MAPPABOTTING DESA AMPARITA KECAMATAN TELLU LIMPOE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG SULAWESI SELATAN

View through CrossRef
  Tradisi perkawinan adat bugis atau yang dikenal dengan tradisi Mappabotting khususnya masyarakat Hindu Bugis memiliki beberapa tahap atau proses komunikasi. Tentunya untuk menunjang kelancaran prosesi acara Mappabottingtersebut maka perlu mempersiapkan proses manajemen komunikasi dalam berlangsungnya prosesi Mappabotting. Masyarakat modern sekarang ini terutama generasi muda sebagai besar belum tentu memahami proses komunikasi dalam tradisi Mappabotting, fungsi dan implikasi manajemen komunikasi dalam prosesi tradisi Mappabotting masyarakat Hindu Bugis di Desa Amparita. Penelitian tentang manajemen komunikasi dalam prosesi tadisi Mappabotting penting dilakukan supaya masyarakat dapat memahami proses, fungsi dan implikasi manajemen komunikasi Prosesi Mappabotting. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1). Bagaimana Proses Manajemen Komunikasi dalam Prosesi Tradisi Mappabotting?, 2). Apa Fungsi manajemen komunikasi dalam Prosesi tradisi Mappabotting ?, 3). Apa Implikasi manajemen Komunikasi dalam prosesi Tradisi Mappabotting?. Teori yang digunakan untuk membedah permasalahan di atas adalah: Teori Interaksionisme simbolik, Teori Struktural Fungsional, Teori Tindakan Berbicara. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi baru. Lokasi dan waktu penelitian: Desa Amparita Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan. Sumber data dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Data primer, 2) Data sekunder. Objek penelitian yaitu manajemen komunikasi dalam prosesi tradisi Mappabotting desa Amparita dan subjek penelitian adalah Tokoh Adat dan masyarakat, keluarga kedua mempelai. Teknik penentuan informan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis data etnografi baru. Berdasarkan hal tersebut diperoleh hasil penelitian bahwa: 1) Proses manajemen komunikasi dalam prosesitradisi Mappabotting mencakup; a) Tahapan awal persiapan yang terdiri dari: Mabbaja Laleng, Mita Esso dan Mappisseng, b) tahapan musyawarah atau tahap yang terdiri dari: Madduppa dan Mappasuru Ada, c) tahapan akhir atau penutup dalam musyawarah  yang terdiri dari: Mappalisu dan Mappettu Ada. 2) Fungsi manajemen komunikasi dalam tradisi Mappabotting yaitu; a) fungsi perencanaan, b) fungsi pengorganisasian, c). fungsi pengarahan, d). fungsi pengordinasian, e). fungsi pengendalian. 3) Implikasi manajemen komunikasi dalam tradisi Mappabotting dilihat dari; a)Implikasi social dan masyarakat yaitu menumbuh kembangkan rasa kebersamaan dan mempererat hubungan kedua keluarga mempelai, mempermudah dan memperlancar jalannya kegiatan pesta pernikahan, c). Mempererat hubungan sosial ke masyarakat, b) Implikasi budaya dan adat tradisi yaitu a). Melestarikan budaya adat dan tradisi secara turun temurun sebagai warisan leluhur masyarakat Hindu Bugis dalam tradisi perkawinan bugis atau Mappabotting. b). memberikan doa/harapan keselamatan dan kelancaran pernikahaan yang akan berlangsung.
Title: MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM PROSESI TRADISI MAPPABOTTING DESA AMPARITA KECAMATAN TELLU LIMPOE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG SULAWESI SELATAN
Description:
  Tradisi perkawinan adat bugis atau yang dikenal dengan tradisi Mappabotting khususnya masyarakat Hindu Bugis memiliki beberapa tahap atau proses komunikasi.
Tentunya untuk menunjang kelancaran prosesi acara Mappabottingtersebut maka perlu mempersiapkan proses manajemen komunikasi dalam berlangsungnya prosesi Mappabotting.
Masyarakat modern sekarang ini terutama generasi muda sebagai besar belum tentu memahami proses komunikasi dalam tradisi Mappabotting, fungsi dan implikasi manajemen komunikasi dalam prosesi tradisi Mappabotting masyarakat Hindu Bugis di Desa Amparita.
Penelitian tentang manajemen komunikasi dalam prosesi tadisi Mappabotting penting dilakukan supaya masyarakat dapat memahami proses, fungsi dan implikasi manajemen komunikasi Prosesi Mappabotting.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1).
Bagaimana Proses Manajemen Komunikasi dalam Prosesi Tradisi Mappabotting?, 2).
Apa Fungsi manajemen komunikasi dalam Prosesi tradisi Mappabotting ?, 3).
Apa Implikasi manajemen Komunikasi dalam prosesi Tradisi Mappabotting?.
Teori yang digunakan untuk membedah permasalahan di atas adalah: Teori Interaksionisme simbolik, Teori Struktural Fungsional, Teori Tindakan Berbicara.
Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi baru.
Lokasi dan waktu penelitian: Desa Amparita Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan.
Sumber data dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Data primer, 2) Data sekunder.
Objek penelitian yaitu manajemen komunikasi dalam prosesi tradisi Mappabotting desa Amparita dan subjek penelitian adalah Tokoh Adat dan masyarakat, keluarga kedua mempelai.
Teknik penentuan informan dengan teknik purposive sampling.
Pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan kepustakaan.
Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode analisis data etnografi baru.
Berdasarkan hal tersebut diperoleh hasil penelitian bahwa: 1) Proses manajemen komunikasi dalam prosesitradisi Mappabotting mencakup; a) Tahapan awal persiapan yang terdiri dari: Mabbaja Laleng, Mita Esso dan Mappisseng, b) tahapan musyawarah atau tahap yang terdiri dari: Madduppa dan Mappasuru Ada, c) tahapan akhir atau penutup dalam musyawarah  yang terdiri dari: Mappalisu dan Mappettu Ada.
2) Fungsi manajemen komunikasi dalam tradisi Mappabotting yaitu; a) fungsi perencanaan, b) fungsi pengorganisasian, c).
fungsi pengarahan, d).
fungsi pengordinasian, e).
fungsi pengendalian.
3) Implikasi manajemen komunikasi dalam tradisi Mappabotting dilihat dari; a)Implikasi social dan masyarakat yaitu menumbuh kembangkan rasa kebersamaan dan mempererat hubungan kedua keluarga mempelai, mempermudah dan memperlancar jalannya kegiatan pesta pernikahan, c).
Mempererat hubungan sosial ke masyarakat, b) Implikasi budaya dan adat tradisi yaitu a).
Melestarikan budaya adat dan tradisi secara turun temurun sebagai warisan leluhur masyarakat Hindu Bugis dalam tradisi perkawinan bugis atau Mappabotting.
b).
memberikan doa/harapan keselamatan dan kelancaran pernikahaan yang akan berlangsung.

Related Results

DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
TRADISI NGEDEBLAG DI DESA PAKRAMAN KEMENUH KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR (Kajian Teologi Hindu)
TRADISI NGEDEBLAG DI DESA PAKRAMAN KEMENUH KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR (Kajian Teologi Hindu)
<p>Umat Hindu selalu memegang teguh ajaran <em>Tri Hita Karana </em>yaitu tiga sumber</p><p>yang mendatangkan kebahagiaan, yakni hubungan manusia deng...
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
POLA KOMUNIKASI DALAM SANGKEPAN DESA ADAT PENGLIPURAN KECAMATAN BANGLI KABUPATEN BANGLI
Pemimpin desa adat dalam hal ini kelian desa merupakan pemegang otoritas utama dalam kepemerintahan desa adat di desa adat Penglipuran, Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten ...
Skripsi Nurhamidah Lubis
Skripsi Nurhamidah Lubis
Tuor merupakan tradisi turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Mandailing. Disamping itu tuor menjadi hukum yang tidak tertulis namun memiliki nilai historis dan soiologis. Pemb...
KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
ABSTRAK             Komunikasi transendental nyenuk merupakan rangkaian dari upacara ngenteg linggih yang dilaksanakan oleh masyarakat setelah pemabngunan atau mepugaran pura...
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA KAWUNGLARANG, KECAMATAN RANCAH, KABUPATEN CIAMIS
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA KAWUNGLARANG, KECAMATAN RANCAH, KABUPATEN CIAMIS
Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraan Pemerintah...
PERANAN KEPEMIMPINAN DALAM PEMBANGUNAN FISIK DI DESA KULO KECAMATAN KULO KABUPATEN SIDENRENG
PERANAN KEPEMIMPINAN DALAM PEMBANGUNAN FISIK DI DESA KULO KECAMATAN KULO KABUPATEN SIDENRENG
the village of Kulo, Kulo District, Sidenreng Rappang Regency 2. Factors that influence the leadership role of the village head in physical development in the Kulo Village, Kulo Di...
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA KALIMATI, KECAMATAN ADIWERNA, KABUPATEN TEGAL, JAWA TENGAH
BIMBINGAN TEKNIS PEMBUATAN PERATURAN DESA DI DESA KALIMATI, KECAMATAN ADIWERNA, KABUPATEN TEGAL, JAWA TENGAH
Peraturan Desa ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama BadanPermusyawaratan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraanPemerintahan...

Back to Top