Javascript must be enabled to continue!
Rasio neutrofil limfosit sebagai faktor risiko terjadinya kejang pascastroke pada pasien stroke iskemik
View through CrossRef
Background: Ischaemic stroke is a leading cause of death and disability. About 3.3% of patients experience post-stroke seizures, which worsen outcomes. Seizures are classified into early and late onset, both increasing morbidity and mortality risk. Local and systemic inflammatory responses, including neutrophil-lymphocyte ratio (NLR), contribute to the pathophysiology of post-stroke seizures. High NLR correlates with stroke severity and poor prognosis, making it important to assess as a seizure risk factor after ischaemic stroke. Objective: The aim of this study is to demonstrate the predictive value of a high NLR for the occurrence of post-stroke seizures in acute ischemic stroke.Methods: This retrospective study used Case Report Form (CRF) medical record data from 2020–2025 at Dr Sardjito General Hospital Yogyakarta. Total sampling was applied, and subjects meeting inclusion and exclusion criteria were analysed. NLR values were compared between patients with and without post-stroke seizures due to ischaemic stroke. Data were analysed using Chi-Square, Fisher’s exact test, and logistic regression. Results: ROC analysis identified an optimal NLR cut-off of 2.64. Bivariate analysis showed a significant association between NLR and post-stroke seizures. Patients with NLR > 2.64 had an odds ratio (OR) of 3.158, indicating a threefold higher seizure risk compared with those with NLR < 2.64.Conclusion: Elevated neutrophil-to-lymphocyte ratio is a significant risk factor for post-stroke seizures. An NLR cut-off of 2.64 may serve as an early predictive marker for seizure development in ischaemic stroke patients.ABSTRAKLatar Belakang: Stroke iskemik merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan, dengan 3,3% pasien mengalami kejang pascastroke yang memperburuk hasil klinis. Kejang dibagi menjadi early onset dan late onset, keduanya meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas. Respon inflamasi lokal dan sistemik, termasuk rasio neutrofil-limfosit (NLR), berperan dalam patofisiologi kejang pascastroke. NLR yang tinggi berkaitan dengan keparahan stroke dan prognosis buruk, sehingga penting diteliti sebagai faktor risiko kejang pascastroke iskemik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan nilai prediktif tingginya NLR terhadap terjadinya kejang pascastroke pada stroke iskemik akut.Metode: Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data rekam medis CRF pada tahun 2020 hingga 2025 di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi lalu dilihat membandingkan NLR antara kelompok kontrol dibandingkan dengan kelompok kejang pascastroke akibat stroke iskemik. Hasil data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-square, uji Fisher dan menggunakan regresi logistik. Hasil: Dari hasil uji ROC ditemukan bahwa nilai yang paling sesuai adalah untuk batas NLR adalah 2,64. Pada hasil analisis bivariat didapatkan bahwa NLR memiliki hubungan dengan kejadian kejang pascastroke pada pasien stroke iskemik. Pada pasien dengan nilai NLR >2,64 memiliki nilai OR 3,158 yang menunjukkan bahwa pasien memiliki risiko kejang 3 kali daripada pasien dengan NLR <2,64.Kesimpulan: Dari penelitian didapatkan kesimpulan bahwa NLR tinggi terbukti secara signifikan sebagai faktor risiko terjadinya kejang pascastroke dengan nilai cut-off berupa 2,64 sebagai marker awal untuk kejadian kejang pascastroke pada stroke iskemik.
Universitas Gadjah Mada
Title: Rasio neutrofil limfosit sebagai faktor risiko terjadinya kejang pascastroke pada pasien stroke iskemik
Description:
Background: Ischaemic stroke is a leading cause of death and disability.
About 3.
3% of patients experience post-stroke seizures, which worsen outcomes.
Seizures are classified into early and late onset, both increasing morbidity and mortality risk.
Local and systemic inflammatory responses, including neutrophil-lymphocyte ratio (NLR), contribute to the pathophysiology of post-stroke seizures.
High NLR correlates with stroke severity and poor prognosis, making it important to assess as a seizure risk factor after ischaemic stroke.
Objective: The aim of this study is to demonstrate the predictive value of a high NLR for the occurrence of post-stroke seizures in acute ischemic stroke.
Methods: This retrospective study used Case Report Form (CRF) medical record data from 2020–2025 at Dr Sardjito General Hospital Yogyakarta.
Total sampling was applied, and subjects meeting inclusion and exclusion criteria were analysed.
NLR values were compared between patients with and without post-stroke seizures due to ischaemic stroke.
Data were analysed using Chi-Square, Fisher’s exact test, and logistic regression.
Results: ROC analysis identified an optimal NLR cut-off of 2.
64.
Bivariate analysis showed a significant association between NLR and post-stroke seizures.
Patients with NLR > 2.
64 had an odds ratio (OR) of 3.
158, indicating a threefold higher seizure risk compared with those with NLR < 2.
64.
Conclusion: Elevated neutrophil-to-lymphocyte ratio is a significant risk factor for post-stroke seizures.
An NLR cut-off of 2.
64 may serve as an early predictive marker for seizure development in ischaemic stroke patients.
ABSTRAKLatar Belakang: Stroke iskemik merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan, dengan 3,3% pasien mengalami kejang pascastroke yang memperburuk hasil klinis.
Kejang dibagi menjadi early onset dan late onset, keduanya meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas.
Respon inflamasi lokal dan sistemik, termasuk rasio neutrofil-limfosit (NLR), berperan dalam patofisiologi kejang pascastroke.
NLR yang tinggi berkaitan dengan keparahan stroke dan prognosis buruk, sehingga penting diteliti sebagai faktor risiko kejang pascastroke iskemik.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan nilai prediktif tingginya NLR terhadap terjadinya kejang pascastroke pada stroke iskemik akut.
Metode: Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data rekam medis CRF pada tahun 2020 hingga 2025 di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling.
Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi lalu dilihat membandingkan NLR antara kelompok kontrol dibandingkan dengan kelompok kejang pascastroke akibat stroke iskemik.
Hasil data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-square, uji Fisher dan menggunakan regresi logistik.
Hasil: Dari hasil uji ROC ditemukan bahwa nilai yang paling sesuai adalah untuk batas NLR adalah 2,64.
Pada hasil analisis bivariat didapatkan bahwa NLR memiliki hubungan dengan kejadian kejang pascastroke pada pasien stroke iskemik.
Pada pasien dengan nilai NLR >2,64 memiliki nilai OR 3,158 yang menunjukkan bahwa pasien memiliki risiko kejang 3 kali daripada pasien dengan NLR <2,64.
Kesimpulan: Dari penelitian didapatkan kesimpulan bahwa NLR tinggi terbukti secara signifikan sebagai faktor risiko terjadinya kejang pascastroke dengan nilai cut-off berupa 2,64 sebagai marker awal untuk kejadian kejang pascastroke pada stroke iskemik.
Related Results
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
PERBEDAAN LAMA PENURUNAN NILAI PT DAN APTT PADA PASIEN STROKE ISKEMIK YANG DIBERIKAN CLOPIDOGREL DI RUMAH SAKIT FATMAWATI TAHUN 2023
PERBEDAAN LAMA PENURUNAN NILAI PT DAN APTT PADA PASIEN STROKE ISKEMIK YANG DIBERIKAN CLOPIDOGREL DI RUMAH SAKIT FATMAWATI TAHUN 2023
Stroke iskemik merupakan kondisi di mana terjadi gangguan atau kerusakan pada jaringan otak akibat terhambatnya aliran darah menuju otak, yang mengakibatkan sel-sel saraf dan sel-s...
Hubungan Kadar Hemoglobin dan Hematokrit dengan Kejadian Kejang Demam Pasien Anak yang di Rawat Inap di RSUD Umar Wirahadikusumah Januari - Juli 2025
Hubungan Kadar Hemoglobin dan Hematokrit dengan Kejadian Kejang Demam Pasien Anak yang di Rawat Inap di RSUD Umar Wirahadikusumah Januari - Juli 2025
Abstract. Febrile seizures are one of the most common neurological conditions in children and often cause significant concern for parents. Various factors are thought to influence ...
Karakteristik Kejang Demam pada Anak di RSUD Tabanan pada Tahun 2021-2022
Karakteristik Kejang Demam pada Anak di RSUD Tabanan pada Tahun 2021-2022
Kejang demam merupakan kasus kegawatdaruratan yang sering terjadi pada anak usia 6 bulan-5 tahun dan menjadi kasus anak terbanyak di rawat inap RSUD Tabanan tahun 2021. Faktor risi...
Karakteristik Kejang Demam pada Anak di RSUD Tabanan pada Tahun 2021-2022
Karakteristik Kejang Demam pada Anak di RSUD Tabanan pada Tahun 2021-2022
Kejang demam merupakan kasus kegawatdaruratan yang sering terjadi pada anak usia 6 bulan-5 tahun dan menjadi kasus anak terbanyak di rawat inap RSUD Tabanan tahun 2021. Faktor risi...
Gambaran Motorik Kasar Pasien Stroke Iskemik Setelah Fisioterapi di RSAU Salamun
Gambaran Motorik Kasar Pasien Stroke Iskemik Setelah Fisioterapi di RSAU Salamun
Abstract. Stroke is the second leading cause of death worldwide, accounting for 11.13% of total deaths, and is the primary cause of disability globally. The most common type of str...
Karakteristik Penderita Stroke Iskemik dan Stroke Hemoragik
Karakteristik Penderita Stroke Iskemik dan Stroke Hemoragik
Stroke merupakan gambaran klinis dari disfungsi otak yang terlokalisir dan meluas, yang mengakibatkan kematian tanpa teridentifikasinya kondisi medis yang mendasari selain kelainan...

