Javascript must be enabled to continue!
Hubungan Kadar Hemoglobin dan Hematokrit dengan Kejadian Kejang Demam Pasien Anak yang di Rawat Inap di RSUD Umar Wirahadikusumah Januari - Juli 2025
View through CrossRef
Abstract. Febrile seizures are one of the most common neurological conditions in children and often cause significant concern for parents. Various factors are thought to influence seizure thresholds, including hematological parameters such as hemoglobin and hematocrit levels. However, evidence regarding the relationship between these parameters and febrile seizures remains inconsistent. This study aimed to describe hemoglobin and hematocrit levels in children with febrile seizures and to analyze their relationship with the occurrence of febrile seizures at Umar Wirahadikusumah Regional Hospital, Sumedang. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted. The sample consisted of 120 hospitalized children from January to July 2025. Collected data included sex, age, hemoglobin level, hematocrit level, and febrile seizure status. Bivariate analysis was performed using the chi-square test. Most children with febrile seizures had hemoglobin and hematocrit levels within normal ranges. A significant association was found between hemoglobin levels and febrile seizure occurrence, where lower hemoglobin levels tended to be associated with an increased incidence of febrile seizures. Conversely, no significant association was found between hematocrit levels and febrile seizures. Hemoglobin levels play a significant role in febrile seizure occurrence, whereas hematocrit levels show no meaningful relationship. Hemoglobin assessment should be considered as part of the clinical evaluation in febrile children to identify potential seizure risks. Further research is needed to explore other contributing factors in the mechanism of febrile seizures.
Abstrak. Kejang demam merupakan salah satu kondisi neurologis tersering pada anak dan sering menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Berbagai faktor diduga berperan dalam memengaruhi ambang kejang, termasuk status hematologis seperti kadar hemoglobin dan hematokrit. Namun, bukti hubungan antara kedua parameter ini dengan kejadian kejang demam masih bervariasi. Mengetahui gambaran kadar hemoglobin dan hematokrit pada anak dengan kejang demam serta menganalisis hubungan keduanya dengan kejadian kejang demam di RSUD Umar Wirahadikusumah Kabupaten Sumedang. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri dari 120 anak yang dirawat pada periode Januari hingga Juli 2025. Data meliputi jenis kelamin, usia, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, dan status kejang demam. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square. Sebagian besar anak dengan kejang demam memiliki kadar hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal. Terdapat hubungan signifikan antara kadar hemoglobin dengan kejadian kejang demam di mana hemoglobin lebih rendah cenderung berkaitan dengan peningkatan kejadian kejang demam. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar hematokrit dengan kejadian kejang demam. Kadar hemoglobin berperan signifikan terhadap kejadian kejang demam, sedangkan kadar hematokrit tidak menunjukkan hubungan bermakna. Pemeriksaan hemoglobin perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari evaluasi klinis pada anak dengan demam untuk mengidentifikasi potensi risiko kejang. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi faktor lain yang berkontribusi terhadap mekanisme terjadinya kejang demam.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Hubungan Kadar Hemoglobin dan Hematokrit dengan Kejadian Kejang Demam Pasien Anak yang di Rawat Inap di RSUD Umar Wirahadikusumah Januari - Juli 2025
Description:
Abstract.
Febrile seizures are one of the most common neurological conditions in children and often cause significant concern for parents.
Various factors are thought to influence seizure thresholds, including hematological parameters such as hemoglobin and hematocrit levels.
However, evidence regarding the relationship between these parameters and febrile seizures remains inconsistent.
This study aimed to describe hemoglobin and hematocrit levels in children with febrile seizures and to analyze their relationship with the occurrence of febrile seizures at Umar Wirahadikusumah Regional Hospital, Sumedang.
An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted.
The sample consisted of 120 hospitalized children from January to July 2025.
Collected data included sex, age, hemoglobin level, hematocrit level, and febrile seizure status.
Bivariate analysis was performed using the chi-square test.
Most children with febrile seizures had hemoglobin and hematocrit levels within normal ranges.
A significant association was found between hemoglobin levels and febrile seizure occurrence, where lower hemoglobin levels tended to be associated with an increased incidence of febrile seizures.
Conversely, no significant association was found between hematocrit levels and febrile seizures.
Hemoglobin levels play a significant role in febrile seizure occurrence, whereas hematocrit levels show no meaningful relationship.
Hemoglobin assessment should be considered as part of the clinical evaluation in febrile children to identify potential seizure risks.
Further research is needed to explore other contributing factors in the mechanism of febrile seizures.
Abstrak.
Kejang demam merupakan salah satu kondisi neurologis tersering pada anak dan sering menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua.
Berbagai faktor diduga berperan dalam memengaruhi ambang kejang, termasuk status hematologis seperti kadar hemoglobin dan hematokrit.
Namun, bukti hubungan antara kedua parameter ini dengan kejadian kejang demam masih bervariasi.
Mengetahui gambaran kadar hemoglobin dan hematokrit pada anak dengan kejang demam serta menganalisis hubungan keduanya dengan kejadian kejang demam di RSUD Umar Wirahadikusumah Kabupaten Sumedang.
Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan potong lintang.
Sampel terdiri dari 120 anak yang dirawat pada periode Januari hingga Juli 2025.
Data meliputi jenis kelamin, usia, kadar hemoglobin, kadar hematokrit, dan status kejang demam.
Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square.
Sebagian besar anak dengan kejang demam memiliki kadar hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal.
Terdapat hubungan signifikan antara kadar hemoglobin dengan kejadian kejang demam di mana hemoglobin lebih rendah cenderung berkaitan dengan peningkatan kejadian kejang demam.
Sebaliknya, tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar hematokrit dengan kejadian kejang demam.
Kadar hemoglobin berperan signifikan terhadap kejadian kejang demam, sedangkan kadar hematokrit tidak menunjukkan hubungan bermakna.
Pemeriksaan hemoglobin perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari evaluasi klinis pada anak dengan demam untuk mengidentifikasi potensi risiko kejang.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengeksplorasi faktor lain yang berkontribusi terhadap mekanisme terjadinya kejang demam.
Related Results
Karakteristik Kejang Demam pada Anak di RSUD Tabanan pada Tahun 2021-2022
Karakteristik Kejang Demam pada Anak di RSUD Tabanan pada Tahun 2021-2022
Kejang demam merupakan kasus kegawatdaruratan yang sering terjadi pada anak usia 6 bulan-5 tahun dan menjadi kasus anak terbanyak di rawat inap RSUD Tabanan tahun 2021. Faktor risi...
Hubungan antara Kadar Hemoglobin dengan Terjadinya Kejang Demam pada Anak Usia Balita
Hubungan antara Kadar Hemoglobin dengan Terjadinya Kejang Demam pada Anak Usia Balita
Abstrak
Kejang demam adalah kelainan pada neurologis yang biasa ditemukan pada anak. Penyakit ini mampu diakibatkan oleh tingkat hemoglobin. Jika hemoglobin berkadar rendah, ma...
Kejang Demam
Kejang Demam
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang timbul akibat kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38̊ C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranial. Beberapa faktor yang berperan meny...
PERBANDINGAN LAMA RAWAT INAP PENGOBATAN DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK-ANAK MENGGUNAKAN OBAT SUPORTIF YANG MENGANDUNG EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DAN OBAT IMUNOMODULATOR COMPARATIVE LONG HOSPITALIZATION TREATMENT TO THE CHILDREN USI
PERBANDINGAN LAMA RAWAT INAP PENGOBATAN DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK-ANAK MENGGUNAKAN OBAT SUPORTIF YANG MENGANDUNG EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DAN OBAT IMUNOMODULATOR COMPARATIVE LONG HOSPITALIZATION TREATMENT TO THE CHILDREN USI
PERBANDINGAN LAMA RAWAT INAP PENGOBATAN DEMAM BERDARAH DENGUE PADA ANAK-ANAK MENGGUNAKAN OBAT SUPORTIF YANG MENGANDUNG EKSTRAK DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DAN OBAT IMUN...
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK DI INSTALASI RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN RSUD DR. ADJIDARMO LEBAK TAHUN 2021
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK DI INSTALASI RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN RSUD DR. ADJIDARMO LEBAK TAHUN 2021
Antibiotik merupakan salah satu golongan obat yang sampai saat ini menjadi pilihan utama yang digunakan pada pasien rawat jalan dan rawat inap yang mengalami infeksi bakteri di rum...
Tinjauan Kepuasan Pasien Terhadap Mutu Pelayanan Kesehatan
Tinjauan Kepuasan Pasien Terhadap Mutu Pelayanan Kesehatan
Dari survey pendahuluan terhadap 20 pasien diperoleh 5 (25%) pasien menyatakan kurang puas terhadap mutu pelayanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasa...
Tugas Metodologi Penelitian
Tugas Metodologi Penelitian
Latar Belakang : Congestive Heart Failure atau lebih sering dikenal dengan penyakit gagal jantung adalah penyakit sindrom klinis yang ditandai dengan sesak nafas saat istirahat ata...
HIPERTENSI, USIA, JENIS KELAMIN DAN KEJADIAN STROKE DI RUANG RAWAT INAP STROKE RSUD dr. M. YUNUS BENGKULU
HIPERTENSI, USIA, JENIS KELAMIN DAN KEJADIAN STROKE DI RUANG RAWAT INAP STROKE RSUD dr. M. YUNUS BENGKULU
Hypertension, Age, Sex, and Stroke Incidence In Stroke Installation Room RSUD dr. M. Yunus BengkuluABSTRAKStroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatka...

