Javascript must be enabled to continue!
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TIDAK SEBIDANG SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN HUTAN KOTA DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN
View through CrossRef
Perkembangan jumlah penduduk di pemukiman lama maupun daerah yang baru dikembangkan semakin meningkat, hal ini memerlukan penyediaan lokasi pemukiman yang semakin luas juga. Pembangunan infrasruktur tidak sebidang sepantasnya menjadi alternatif, sebab pembangunan ke arah horizontal menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan, dan mengancam hutan kota termasuk kelestarian lingkungan. Penolakan oleh sebagian masyarakat diakibatkan belum dipahaminya konsep pembangunan infrastruktur tidak sebidang terutama yang terkait dengan kearifan lokal. Perasaan cemer/leteh timbul saat masuk ke lantai bawah bangunan bertingkat karena merasa ada yang melangkahi oleh mereka yang sedang berada di lantai atasnya. Permasalahan yang dikaji adalah apa yang menjadi tantangan pembangunan infrastruktur tidak sebidang, dan bagaimana pendapat masyarakat tentang infrastruktur tidak sebidang untuk mempertahankan hutan kota dan menjaga kelestraian lingkungan. Tujuan kajian ini adalah ingin mengetahui tantangan yang dihadapi dan pendapat masyarakat terhadap infrastruktur tidak sebidang. Metode yang dilakukan wawancara dengan stake holder dan menginput pendapat masyarakat melalui pengedaran kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum masyarakat merasakan tantangan yang tidak begitu berat, dan sangat menerima dilakukannya pembangunan infrastruktur tidak sebidang, Saran yang disampaikan adalah melakukan sosialisasi secara intens terhadap keberadaan infrastruktur tidak sebidang, dan perlu dibuatkan legalitas sebagai bukti keseriusan dalam pelaksanaannya.
Title: PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TIDAK SEBIDANG SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN HUTAN KOTA DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN
Description:
Perkembangan jumlah penduduk di pemukiman lama maupun daerah yang baru dikembangkan semakin meningkat, hal ini memerlukan penyediaan lokasi pemukiman yang semakin luas juga.
Pembangunan infrasruktur tidak sebidang sepantasnya menjadi alternatif, sebab pembangunan ke arah horizontal menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan, dan mengancam hutan kota termasuk kelestarian lingkungan.
Penolakan oleh sebagian masyarakat diakibatkan belum dipahaminya konsep pembangunan infrastruktur tidak sebidang terutama yang terkait dengan kearifan lokal.
Perasaan cemer/leteh timbul saat masuk ke lantai bawah bangunan bertingkat karena merasa ada yang melangkahi oleh mereka yang sedang berada di lantai atasnya.
Permasalahan yang dikaji adalah apa yang menjadi tantangan pembangunan infrastruktur tidak sebidang, dan bagaimana pendapat masyarakat tentang infrastruktur tidak sebidang untuk mempertahankan hutan kota dan menjaga kelestraian lingkungan.
Tujuan kajian ini adalah ingin mengetahui tantangan yang dihadapi dan pendapat masyarakat terhadap infrastruktur tidak sebidang.
Metode yang dilakukan wawancara dengan stake holder dan menginput pendapat masyarakat melalui pengedaran kuisioner.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum masyarakat merasakan tantangan yang tidak begitu berat, dan sangat menerima dilakukannya pembangunan infrastruktur tidak sebidang, Saran yang disampaikan adalah melakukan sosialisasi secara intens terhadap keberadaan infrastruktur tidak sebidang, dan perlu dibuatkan legalitas sebagai bukti keseriusan dalam pelaksanaannya.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
PENENTUAN PRIORITAS PENANGANAN PERLINTASAN SEBIDANG JALAN REL DAN JALAN UMUM DI KOTA BANDUNG
PENENTUAN PRIORITAS PENANGANAN PERLINTASAN SEBIDANG JALAN REL DAN JALAN UMUM DI KOTA BANDUNG
Abstract
The problem of traffic congestion and the high risk of accidents at level crossings between railways and public roads in Bandung City requires urgent handling of these...
Analisis Strategi Pengembangan Hutan Kota Gunung Kembang Sarolangun Di Kabupaten Sarolangun
Analisis Strategi Pengembangan Hutan Kota Gunung Kembang Sarolangun Di Kabupaten Sarolangun
ABSTRACT
The Gunung Kembang Sarolangun City Forest is located in the Sarolangun Regency Government Office Complex. The urban forest was originally a biodiversity park and is includ...
IMPLIKASI SELOKO RIMBO SEBAGAI KONVENSI ORANG RIMBA DALAM UPAYA PELESTARIAN HUTAN TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS JAMBI
IMPLIKASI SELOKO RIMBO SEBAGAI KONVENSI ORANG RIMBA DALAM UPAYA PELESTARIAN HUTAN TAMAN NASIONAL BUKIT DUABELAS JAMBI
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keunikan kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi yang boleh ditempati oleh manusia. Pada penelitian ini menggunakan Teori Biod...
Pembelajaran Pengelolaan Hutan di Pulau Jawa (Studi di KPH Yogyakarta, TN Gunung Halimun Salak, dan TN Gunung Ciremai)
Pembelajaran Pengelolaan Hutan di Pulau Jawa (Studi di KPH Yogyakarta, TN Gunung Halimun Salak, dan TN Gunung Ciremai)
Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, menyebutkan bahwa penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
Gastropoda test family of Neritidae as bioindicator to health status of mangrove forest Pulau Tunda Serang Banten, Indonesia
Gastropoda test family of Neritidae as bioindicator to health status of mangrove forest Pulau Tunda Serang Banten, Indonesia
Uji gastropoda famili Neritidae terhadap habitatnya di ekosistem mangrove dilakukan di dua stasiun pengamatan di Pulau Tunda Serang Banten pada Januari 2014. Penelitian ini bertuju...

