Javascript must be enabled to continue!
Perbandingan Perubahan Saturasi Oksigen Pasca Nebulisasi dan Kombinasi Nebulisasi-Injeksi Metilprednisolon pada Asma
View through CrossRef
Abstract. Acute asthma exacerbation is an emergency condition characterized by airway narrowing and may lead to decreased oxygen saturation. Bronchodilator nebulization is the mainstay of therapy; however, in certain conditions, methylprednisolone injection is added to enhance treatment effectiveness. This study aimed to compare changes in oxygen saturation after bronchodilator nebulization alone and combination therapy of bronchodilator nebulization with methylprednisolone injection in patients with acute asthma exacerbation in the Emergency Department of Al Islam Hospital Bandung. This study employed an analytic observational design with a retrospective cross-sectional approach. A total of 436 patients were selected using purposive sampling and divided into two groups: 229 patients received bronchodilator nebulization alone, and 207 patients received combination therapy of bronchodilator nebulization and methylprednisolone injection. Data were obtained from medical records and analyzed using the Mann–Whitney test. The results showed that the mean difference in oxygen saturation in the combination therapy group tended to be higher than that in the bronchodilator-only group, at 2.33% and 0.71%, respectively, with a statistically significant difference (p = 0.000). Based on these findings, combination therapy of bronchodilator nebulization and methylprednisolone injection provides a slightly better improvement in oxygen saturation compared to bronchodilator nebulization alone in patients with acute asthma exacerbation. Both therapies are effective in increasing oxygen saturation and can be used in the management of acute asthma exacerbation in the emergency department.
Abstrak. Asma eksaserbasi akut merupakan kondisi gawat darurat yang ditandai dengan penyempitan saluran napas dan dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Nebulisasi bronkodilator merupakan terapi utama, namun pada kondisi tertentu ditambahkan injeksi metilprednisolon untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan saturasi oksigen pasca pemberian nebulisasi bronkodilator dan kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon pada pasien asma eksaserbasi akut di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Al Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospective cross-sectional. Sampel sebanyak 436 pasien dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok nebulisasi bronkodilator yang berjumlah 229 pasien dan kelompok kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon berjumlah 207 pasien. Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata selisih saturasi oksigen pada kelompok kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok nebulisasi bronkodilator, masing-masing sebesar 2,33% dan 0,71%, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,000). Berdasarkan hasil penelitian ini, pemberian terapi kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon memberikan peningkatan saturasi oksigen sedikit lebih baik dibandingkan nebulisasi bronkodilator saja pada pasien asma eksaserbasi akut. Kedua jenis terapi ini dapat meningkatkan saturasi oksigen sehingga keduanya dapat digunakan sebagai penanganan pada pasien asma eksaserbasi akut di instalasi gawat darurat.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Perbandingan Perubahan Saturasi Oksigen Pasca Nebulisasi dan Kombinasi Nebulisasi-Injeksi Metilprednisolon pada Asma
Description:
Abstract.
Acute asthma exacerbation is an emergency condition characterized by airway narrowing and may lead to decreased oxygen saturation.
Bronchodilator nebulization is the mainstay of therapy; however, in certain conditions, methylprednisolone injection is added to enhance treatment effectiveness.
This study aimed to compare changes in oxygen saturation after bronchodilator nebulization alone and combination therapy of bronchodilator nebulization with methylprednisolone injection in patients with acute asthma exacerbation in the Emergency Department of Al Islam Hospital Bandung.
This study employed an analytic observational design with a retrospective cross-sectional approach.
A total of 436 patients were selected using purposive sampling and divided into two groups: 229 patients received bronchodilator nebulization alone, and 207 patients received combination therapy of bronchodilator nebulization and methylprednisolone injection.
Data were obtained from medical records and analyzed using the Mann–Whitney test.
The results showed that the mean difference in oxygen saturation in the combination therapy group tended to be higher than that in the bronchodilator-only group, at 2.
33% and 0.
71%, respectively, with a statistically significant difference (p = 0.
000).
Based on these findings, combination therapy of bronchodilator nebulization and methylprednisolone injection provides a slightly better improvement in oxygen saturation compared to bronchodilator nebulization alone in patients with acute asthma exacerbation.
Both therapies are effective in increasing oxygen saturation and can be used in the management of acute asthma exacerbation in the emergency department.
Abstrak.
Asma eksaserbasi akut merupakan kondisi gawat darurat yang ditandai dengan penyempitan saluran napas dan dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen.
Nebulisasi bronkodilator merupakan terapi utama, namun pada kondisi tertentu ditambahkan injeksi metilprednisolon untuk meningkatkan efektivitas pengobatan.
Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan saturasi oksigen pasca pemberian nebulisasi bronkodilator dan kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon pada pasien asma eksaserbasi akut di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Al Islam Bandung.
Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospective cross-sectional.
Sampel sebanyak 436 pasien dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok nebulisasi bronkodilator yang berjumlah 229 pasien dan kelompok kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon berjumlah 207 pasien.
Data diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Mann–Whitney.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata selisih saturasi oksigen pada kelompok kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon cenderung lebih tinggi dibandingkan kelompok nebulisasi bronkodilator, masing-masing sebesar 2,33% dan 0,71%, dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,000).
Berdasarkan hasil penelitian ini, pemberian terapi kombinasi nebulisasi-injeksi metilprednisolon memberikan peningkatan saturasi oksigen sedikit lebih baik dibandingkan nebulisasi bronkodilator saja pada pasien asma eksaserbasi akut.
Kedua jenis terapi ini dapat meningkatkan saturasi oksigen sehingga keduanya dapat digunakan sebagai penanganan pada pasien asma eksaserbasi akut di instalasi gawat darurat.
Related Results
PENGARUH TINDAKAN SUCTION TERHADAP PERUBAHAN SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN PENURUNAN KESADARAN DI RUANG ICU RSD dr. H. SOEMARNO SOSTROATMODJO
PENGARUH TINDAKAN SUCTION TERHADAP PERUBAHAN SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN PENURUNAN KESADARAN DI RUANG ICU RSD dr. H. SOEMARNO SOSTROATMODJO
Gagal napas yang disebabkan oleh karena adanya obstruksi pada saluran pernapasan bisa diatasi, dengan tindakan suction. Jika tindakan suction ini tidak tepat dilakukan maka yang ak...
Perbedaan Siklus Menstruasi Akseptor KB Pil Dan Injeksi Kombinasi
Perbedaan Siklus Menstruasi Akseptor KB Pil Dan Injeksi Kombinasi
Latar Belakang: Pemilihan kontrasepsi yang digunakan oleh wanita perlu mempertimbangkan pengaruh metode tersebut terhadap fungsi reproduksi sekaligus kesejahteraan umum. Alat kontr...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
PENGARUH TINDAKAN SUCTION TERHADAP SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN TERPASANG ENDOTRACHEAL TUBE DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT RUMAH SAKIT dr. CHASBULLAH ABDULMAJID KOTA BEKASI
PENGARUH TINDAKAN SUCTION TERHADAP SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN TERPASANG ENDOTRACHEAL TUBE DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT RUMAH SAKIT dr. CHASBULLAH ABDULMAJID KOTA BEKASI
Latar Belakang: Pemasangan endotracheal tube di ruang intensive care unit berdampak pada penumpukan sputum yang berlebih di area jalan nafas, kondisi ini disebabkan oleh benda asin...
PENGARUH PEMBERIAN POSISI ELEVASI KEPALA 30° TERHADAP PENINGKATAN SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN STROKE
PENGARUH PEMBERIAN POSISI ELEVASI KEPALA 30° TERHADAP PENINGKATAN SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN STROKE
Latar Belakang : Stroke merupakan defisit neurologis yang mempunyai awitan tiba–tiba, berlangsung lebih dari 24jam dan disebabkan oleh penyakit serebrovascular. Posisi Head up adal...
PENGARUH INJEKSI SURFAKTAN DAN POLIMER PADA RECOVERY FACTOR MINYAK SUMUR ASL
PENGARUH INJEKSI SURFAKTAN DAN POLIMER PADA RECOVERY FACTOR MINYAK SUMUR ASL
Pengembangan teknologi proses produksi surfaktan MES (Metil Ester Sulfonat) dari minyak sawit untuk aplikasi EOR/IOR pada lapangan ASL telah dilakukan sebelumnya melalui penelitian...
Penerapan Modifikasi Pursed Lips Breathing dan Aromaterapi Eucalyptus terhadap Saturasi Oksigen dan Frekuensi Napas Anak dengan ISPA
Penerapan Modifikasi Pursed Lips Breathing dan Aromaterapi Eucalyptus terhadap Saturasi Oksigen dan Frekuensi Napas Anak dengan ISPA
Anak rentan mengalami ISPA yang merupakan masuk dan berkembangnya mikroorganisme di saluran pernafasan sehingga menyebabkan timbulnya gejala kurang lebih selama 14 hari. Studi kasu...

