Javascript must be enabled to continue!
Pemanfaatan Data Sifat Tanah Dalam Pendugaan Laju Infiltrasi Pada Areal Hutan Berlereng Curam
View through CrossRef
Kendala pengukuran infiltrasi pada lahan hutan pegunungan adalah posisi lokasi yang jauh dan mempunyai kelerengan yang curam sampai sangat curam. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan model hubungan antara sifat tanah pada areal hutan yang berlereng curam dengan laju infiltrasi. Penelitian dilakukan di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara. Sifat tanah yang dijadikan sebagai parameter penduga adalah tekstur tanah, bulk density (kepadatan tanah) dan bahan organik. Pengukuran infiltrasi di lapangan dilakukan dengan metode double ring infiltrometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi liat, bulk density, porositas dan bahan organic mampu memberikan nilai pendugaan laju infiltrasi maksimum dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,567 dan pendugaan waktu mencapai konstan dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,760. Adapaun model persamaan penduga laju infiltrasi minimum hanya memberikan nilai koefisien determinasi sebesar 0,162. Variabilitas spasial laju infiltrasi yang tinggi mengakibatkan pendugaan menggunakan sifat fisik tanah masih memberikan koefisisen determinasi yang rendah. Namun demikian model persamaan ini dapat dijadikan sebagai penduga infiltrasi pada areal pebukitan dengan kelerengan curam dan jauh dari sumber air.
The constraints on measuring infiltration on mountain forest land are the remote locations and have steep slopes to very steep. This research was conducted to obtain a model of the relationship between the soil properties in steep slope forests with infiltration rates. The study was held in the Bukit Barisan Forest Park (Tahura), Karo Regency, North Sumatra Province. The properties of the soil which are used as estimating parameters are soil texture, bulk density and soil organic matter. Measurement of infiltration in the field was done by t double ring infiltrometer method. The results show that the clay fraction, bulk density, porosity and soil organic matter were able to provide the estimation values of maximum infiltration rate with a coefficient of determination (R2) of 0.567 and the estimation of constant time with a coefficient of determination (R2) of 0.760. However, the estimation equation of minimum infiltration rate model only gives a determination coefficient of 0.162. The high spatial variability of infiltration rate in the field resulting in the low of the coefficient of determination of the model. However, this equation model can be used as an estimator of infiltration in hills with steep slopes and far from water sources.
Universitas Sumatera Utara
Title: Pemanfaatan Data Sifat Tanah Dalam Pendugaan Laju Infiltrasi Pada Areal Hutan Berlereng Curam
Description:
Kendala pengukuran infiltrasi pada lahan hutan pegunungan adalah posisi lokasi yang jauh dan mempunyai kelerengan yang curam sampai sangat curam.
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan model hubungan antara sifat tanah pada areal hutan yang berlereng curam dengan laju infiltrasi.
Penelitian dilakukan di Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara.
Sifat tanah yang dijadikan sebagai parameter penduga adalah tekstur tanah, bulk density (kepadatan tanah) dan bahan organik.
Pengukuran infiltrasi di lapangan dilakukan dengan metode double ring infiltrometer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi liat, bulk density, porositas dan bahan organic mampu memberikan nilai pendugaan laju infiltrasi maksimum dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,567 dan pendugaan waktu mencapai konstan dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,760.
Adapaun model persamaan penduga laju infiltrasi minimum hanya memberikan nilai koefisien determinasi sebesar 0,162.
Variabilitas spasial laju infiltrasi yang tinggi mengakibatkan pendugaan menggunakan sifat fisik tanah masih memberikan koefisisen determinasi yang rendah.
Namun demikian model persamaan ini dapat dijadikan sebagai penduga infiltrasi pada areal pebukitan dengan kelerengan curam dan jauh dari sumber air.
The constraints on measuring infiltration on mountain forest land are the remote locations and have steep slopes to very steep.
This research was conducted to obtain a model of the relationship between the soil properties in steep slope forests with infiltration rates.
The study was held in the Bukit Barisan Forest Park (Tahura), Karo Regency, North Sumatra Province.
The properties of the soil which are used as estimating parameters are soil texture, bulk density and soil organic matter.
Measurement of infiltration in the field was done by t double ring infiltrometer method.
The results show that the clay fraction, bulk density, porosity and soil organic matter were able to provide the estimation values of maximum infiltration rate with a coefficient of determination (R2) of 0.
567 and the estimation of constant time with a coefficient of determination (R2) of 0.
760.
However, the estimation equation of minimum infiltration rate model only gives a determination coefficient of 0.
162.
The high spatial variability of infiltration rate in the field resulting in the low of the coefficient of determination of the model.
However, this equation model can be used as an estimator of infiltration in hills with steep slopes and far from water sources.
Related Results
ANALISIS TINGKAT LAJU INFILTRASI PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) SAIL
ANALISIS TINGKAT LAJU INFILTRASI PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) SAIL
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat laju infiltrasi berdasarkan tata guna lahan dan karakteristik tanah. Penelitian dilakukan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Sail ...
DAMPAK PENCEMARAN TANAH DAN LANGKAH PENCEGAHAN
DAMPAK PENCEMARAN TANAH DAN LANGKAH PENCEGAHAN
Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Seperti kita ketahui rantai makanan bermula dari tumbuhan. Manusia, hewan hidup dari tumbuhan. ...
Perhitungan Laju Infiltrasi pada Kebun Percontohan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Papua
Perhitungan Laju Infiltrasi pada Kebun Percontohan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Papua
Ketersediaan air bagi tanaman pertanian sangat fluktuatif yang dipengaruhi oleh musim, lokasi sumber air, serta usaha-usaha konservasi air. Penyediaan air bagi lahan pertanian dapa...
Sistem Konservasi Pertanian pada Tanah Regosol dengan Teknologi IoT Smart Biosoildam
Sistem Konservasi Pertanian pada Tanah Regosol dengan Teknologi IoT Smart Biosoildam
Tujuan dari analisis peningkatan laju infiltrasi tanah pada agroland Andosol dengan melibatkan pupuk hayati MA-11 pada Biosoildam. Sebagai kontrol adalah tanah asli tanpa dipicu ak...
Nur Puspita Sari
Nur Puspita Sari
Limbah masker yang sulit didaur ulang secara alami menjadikan masalah bagi lingkungan. Masker memiliki sifat terluar menolak air, bagian tengah bersifat menahan virus, dan paling d...
Pengaruh Permeabilitas Terhadap Kecepatan Infiltrasi
Pengaruh Permeabilitas Terhadap Kecepatan Infiltrasi
Kecepatan infiltrasi pada suatu massa tanah dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah tingkat permeabilitas tanah tersebut. Infiltrasi adalah proses masuknya air dari at...
ANALISIS LAJU INFILTRASI TANAH PADA PERTANAMAN NANAS YANG DIROTASI TANAMAN UBI KAYU DAN PISANG DI PT. GREAT GIANT PINEAPPLE TERBANGGI BESAR LAMPUNG TENGAH
ANALISIS LAJU INFILTRASI TANAH PADA PERTANAMAN NANAS YANG DIROTASI TANAMAN UBI KAYU DAN PISANG DI PT. GREAT GIANT PINEAPPLE TERBANGGI BESAR LAMPUNG TENGAH
Pertanian monokultur menyebabkan degradasi lahan dan pemadatan tanah, yang mengurangi aerasi, ketersediaan air, dan perkembangan akar tanaman. Untuk mengatasi masalah ini, PT. Grea...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...

