Javascript must be enabled to continue!
EVALUASI KEBIJAKAN PEMERIKSAAN FISIK BARANG PADA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
View through CrossRef
ABSTRACT: Customs clearance activities carried out by the Directorate General of Customs and Excise (DJBC) is closely related to the competitiveness of national economy indicators specifically ease of doing business, logistics performance index and dwelling time. Physical Examination of goods (bahandle) is a performance indicator of DJBC. Physical Examination was performed by the customs because of the number error and type of goods (red channel) or an error of the customs value and/or classification/tariff as well as random examination (green channel and priority channel). This research aims to analyze the effectiveness of the physical examination performed by DJBC. This research exploits descriptive qualitative analysis method using secondary data import (PIB) during 2015-2016. The results of the study showed that the error found (hitrate) was 5.9% meaning among 2.165.243 PIB checked, 127.775 documents were false. This proves that the physical examination conducted by DJBC is not efficient. Risk management is required through the evaluation of the determination of the variables in the physical examination not only because of the number and type of error, but also the customs value and/or classification/tariffs. Improved physical examination can result in the potential for efficient results and implement good governance.Keywords: physical examination, red line, efficientABSTRAK:Kegiatan pemeriksaan pabean (customs clearance) yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) berkaitan erat dengan daya saing perekonomian nasional dalam hal kemudahan melakukan bisnis, indeks performa logistik dan dwelling time. Pemeriksaan fisik barang (bahandle) merupakan indikator kinerja DJBC. Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap pemberitahuan pabean karena kesalahan jumlah dan jenis barang (jalur merah) maupun kesalahan karena nilai pabean dan/atau klasifikasi/tarif serta pemeriksaan secara acak (jalur hijau dan jalur prioritas). Penelitian ini bertujuan menganalisa efektivitas kegiatan pemeriksaan fisik (bahandle) yang dilakukan oleh DJBC. Penelitian ini menggunakan metode analisa kualitatif deskriptif dengan menggunakan data sekunder importasi Pemberitahuan Impor Barang nasional (PIB) pada kurun waktu 2015-2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya kesalahan yang ditemukan (hitrate) adalah 5,9% yaitu artinya bahwa terhadap 2.165.243 PIB yang diperiksa, terdapat 127.775 dokumen yang salah. Hal ini membuktikan bahwa pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh DJBC belum efisien. Diperlukan penataan manajemen yang baik melalui evaluasi penentuan variabel dalam pemeriksaan fisik dengan manajemen risiko yang obyektif dan terukur, bukan hanya karena kesalahan jumlah dan jenis saja, melainkan juga kesalahan karena nilai pabean dan/atau klasifikasi/tarif. Perbaikan tata kelola pemeriksaan fisik dapat memberikan potensi hasil yang efisien dan dapat mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance).Kata Kunci: pemeriksaan fisik, jalur merah, efisien
Politeknik Keuangan Negara STAN
Title: EVALUASI KEBIJAKAN PEMERIKSAAN FISIK BARANG PADA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
Description:
ABSTRACT: Customs clearance activities carried out by the Directorate General of Customs and Excise (DJBC) is closely related to the competitiveness of national economy indicators specifically ease of doing business, logistics performance index and dwelling time.
Physical Examination of goods (bahandle) is a performance indicator of DJBC.
Physical Examination was performed by the customs because of the number error and type of goods (red channel) or an error of the customs value and/or classification/tariff as well as random examination (green channel and priority channel).
This research aims to analyze the effectiveness of the physical examination performed by DJBC.
This research exploits descriptive qualitative analysis method using secondary data import (PIB) during 2015-2016.
The results of the study showed that the error found (hitrate) was 5.
9% meaning among 2.
165.
243 PIB checked, 127.
775 documents were false.
This proves that the physical examination conducted by DJBC is not efficient.
Risk management is required through the evaluation of the determination of the variables in the physical examination not only because of the number and type of error, but also the customs value and/or classification/tariffs.
Improved physical examination can result in the potential for efficient results and implement good governance.
Keywords: physical examination, red line, efficientABSTRAK:Kegiatan pemeriksaan pabean (customs clearance) yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) berkaitan erat dengan daya saing perekonomian nasional dalam hal kemudahan melakukan bisnis, indeks performa logistik dan dwelling time.
Pemeriksaan fisik barang (bahandle) merupakan indikator kinerja DJBC.
Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap pemberitahuan pabean karena kesalahan jumlah dan jenis barang (jalur merah) maupun kesalahan karena nilai pabean dan/atau klasifikasi/tarif serta pemeriksaan secara acak (jalur hijau dan jalur prioritas).
Penelitian ini bertujuan menganalisa efektivitas kegiatan pemeriksaan fisik (bahandle) yang dilakukan oleh DJBC.
Penelitian ini menggunakan metode analisa kualitatif deskriptif dengan menggunakan data sekunder importasi Pemberitahuan Impor Barang nasional (PIB) pada kurun waktu 2015-2016.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya kesalahan yang ditemukan (hitrate) adalah 5,9% yaitu artinya bahwa terhadap 2.
165.
243 PIB yang diperiksa, terdapat 127.
775 dokumen yang salah.
Hal ini membuktikan bahwa pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh DJBC belum efisien.
Diperlukan penataan manajemen yang baik melalui evaluasi penentuan variabel dalam pemeriksaan fisik dengan manajemen risiko yang obyektif dan terukur, bukan hanya karena kesalahan jumlah dan jenis saja, melainkan juga kesalahan karena nilai pabean dan/atau klasifikasi/tarif.
Perbaikan tata kelola pemeriksaan fisik dapat memberikan potensi hasil yang efisien dan dapat mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance).
Kata Kunci: pemeriksaan fisik, jalur merah, efisien .
Related Results
PENGARUH TARIF BEA MASUK, VOLUME IMPOR, DAN NILAI IMPOR TERHADAP PENERIMAAN BEA MASUK
PENGARUH TARIF BEA MASUK, VOLUME IMPOR, DAN NILAI IMPOR TERHADAP PENERIMAAN BEA MASUK
Penerimaan bea masuk adalah penerimaan negara dari pungutan atas barang impor yang masuk ke Indonesia. Pada tahun 2014 dan 2019 penerimaan bea masuk pada Kantor Pengawasan dan Pela...
TARIF BEA MASUK BARANG DIGITAL YANG BERSEDIA DIBAYAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KESEDIAAN MEMBAYAR BEA MASUK BARANG DIGITAL
TARIF BEA MASUK BARANG DIGITAL YANG BERSEDIA DIBAYAR DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KESEDIAAN MEMBAYAR BEA MASUK BARANG DIGITAL
AbstrakStudi ini bertujuan untuk mengukur tarif bea masuk atas barang digital yang bersedia dibayar berdasarkan pendekatan willingness to pay (WTP) dan menganalisis pengaruh kesada...
Kewenangan direktorat jenderal bea dan cukai dalam menanggulangi tindak pidana pemalsuan pita cukai
Kewenangan direktorat jenderal bea dan cukai dalam menanggulangi tindak pidana pemalsuan pita cukai
Banyaknya kasus pemalsuan pita cukai di Indonesia telah menimbulkan kerugian negara. Hal ini mengakibatkan berkurangnya pendapatan bagi pemerintah, dan diharapkan dengan peningkata...
PERLUASAN MAKNA BARANG KENA CUKAI YANG SELESAI DIBUAT MENGAKIBATKAN KETIDAKPASTIAN HUKUM
PERLUASAN MAKNA BARANG KENA CUKAI YANG SELESAI DIBUAT MENGAKIBATKAN KETIDAKPASTIAN HUKUM
Pengaturan barang kena cukai yang selesai dibuat dalam Peraturan Menteri Keuangan No.94/PMK.4/2016 menghadapi berbagai permasalahan yuridis. Luasnya makna dan ruang lingkup barang ...
295. RELATIONSHIP BETWEEN ABDOMINAL FAT DISTRIBUTION AND PROGRESSION OF BARRETT’S ESOPHAGUS TO ADENOCARCINOMA
295. RELATIONSHIP BETWEEN ABDOMINAL FAT DISTRIBUTION AND PROGRESSION OF BARRETT’S ESOPHAGUS TO ADENOCARCINOMA
Abstract
Background
Obesity was known to be a risk factor of the incidence of Barrett’s esophagus (BE) and Barrett’s esophageal ...
TINJAUAN TERHADAP IDENTIFIKASI RISIKO PENETAPAN TARIF KEPABEANAN PADA KANTOR PELAYANAN UTAMA BEA DAN CUKAI TANJUNG PRIOK
TINJAUAN TERHADAP IDENTIFIKASI RISIKO PENETAPAN TARIF KEPABEANAN PADA KANTOR PELAYANAN UTAMA BEA DAN CUKAI TANJUNG PRIOK
Penetapan tarif kepabeanan adalah pemeriksaan administrasi kepabeanan untuk menentukan klasifikasi barang guna perhitungan bea masuk yang dilakukan oleh Pejabat Fungsional Pemeriks...
UJI BEDA PREFERENSI BELANJA IMPOR BARANG KIRIMAN ATAS PERUBAHAN BATAS PEMBEBASAN BEA MASUK
UJI BEDA PREFERENSI BELANJA IMPOR BARANG KIRIMAN ATAS PERUBAHAN BATAS PEMBEBASAN BEA MASUK
ABSTRACT: Modification of threshold exemption from import duties was tested whether changing consumer preferences in shopping from abroad. This study uses a paired test with the i...
OPTIMALISASI PERAN PPNS BEA DAN CUKAI DALAM PENANGANAN PERKARA KEPABEANAN PERDAGANGAN SATWA DILINDUNGI
OPTIMALISASI PERAN PPNS BEA DAN CUKAI DALAM PENANGANAN PERKARA KEPABEANAN PERDAGANGAN SATWA DILINDUNGI
ABSTRACT: The rise of illegal wildlife trade threatens Indonesia's biodiversity. This was compounded by the development of an increasingly organized and transnational mode of perp...

