Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Pandangan Nasionalisme

View through CrossRef
Gus Dur or Abdurahman Wahid is a national figure who is often referred to as the father of Pluralism due to his open attitude towards the existence of other religions in his life's journey, especially when he led as President. This paper provides an explanation of Gus Dur's views on nationalism and religious life in Indonesia. The research method used is a qualitative research method. The conclusion of this paper is that in the view of "Gus Dur", the image of nationalism is embodied in the values of Pancasila. Pancasila for Gus Dur is a series of principles that are sustainable. He considers that basically Pancasila contains good ideas about living as a nation and also religion which is absolutely to be fought for. In the life of the nation as well as the state, "Gus Dur" shows respect for the choice of religion and beliefs of other people as a reality or the principle of freedom of religion and belief in accordance with what is stated in the first part of the Pancasila. In relations with other religions, Abdurrahman often took off his religious attire or religious formalism, but he remained in his substantive religious world.Gus Dur atau Abdurahman Wahid merupakan seorang tokoh nasional yang sering disebut sebagai bapak Pluralisme akibat sikapnya yang terbuka terhadap keberadaan agama lain dalam perjalanan hidupnya secara khusus pada saat ia memipin sebagai seorang Presiden. Tulisan ini memberikan sebuah penjelasan mengenai pandangan Gus Dur terhadap nasionalisme dan kehidupan beragama di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif. Kesimpulan dari tulisan ini adalah dalam pandangan ”Gus Dur”, gambaran nasionalisme itu terwujud dalam nilai-nilai Pancasila. Pancasila bagi Gus Dur merupakan serangkaian prinsip-prinsip yang bersifat lestari. Ia menganggap bahwa pada dasarnya Pancasila memuat ide yang baik mengenai hidup bernegara dan juga beragama yang mutlak untuk diperjuangkan. Dalam kehidupan berbangsa dan juga bernegara, “Gus Dur” menunjukkan sikap menghormati terhadap pilihan agama dan keyakinan orang lain sebagai suatu kenyataan ataupun prinsip kebebasan dalam beragama dan berkeyakinan sesuai dengan yang tercantum dalam bagian pertama Pancasila. Di dalam relasi dengan agama lain, Gus Dur sering melepas baju agamanya atau formalisme agamanya, akan tetapi iatetapi tetap berada di dalam dunia keberagamaannya yang substantif.
Title: Pandangan Nasionalisme
Description:
Gus Dur or Abdurahman Wahid is a national figure who is often referred to as the father of Pluralism due to his open attitude towards the existence of other religions in his life's journey, especially when he led as President.
This paper provides an explanation of Gus Dur's views on nationalism and religious life in Indonesia.
The research method used is a qualitative research method.
The conclusion of this paper is that in the view of "Gus Dur", the image of nationalism is embodied in the values of Pancasila.
Pancasila for Gus Dur is a series of principles that are sustainable.
He considers that basically Pancasila contains good ideas about living as a nation and also religion which is absolutely to be fought for.
In the life of the nation as well as the state, "Gus Dur" shows respect for the choice of religion and beliefs of other people as a reality or the principle of freedom of religion and belief in accordance with what is stated in the first part of the Pancasila.
In relations with other religions, Abdurrahman often took off his religious attire or religious formalism, but he remained in his substantive religious world.
Gus Dur atau Abdurahman Wahid merupakan seorang tokoh nasional yang sering disebut sebagai bapak Pluralisme akibat sikapnya yang terbuka terhadap keberadaan agama lain dalam perjalanan hidupnya secara khusus pada saat ia memipin sebagai seorang Presiden.
Tulisan ini memberikan sebuah penjelasan mengenai pandangan Gus Dur terhadap nasionalisme dan kehidupan beragama di Indonesia.
Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif.
Kesimpulan dari tulisan ini adalah dalam pandangan ”Gus Dur”, gambaran nasionalisme itu terwujud dalam nilai-nilai Pancasila.
Pancasila bagi Gus Dur merupakan serangkaian prinsip-prinsip yang bersifat lestari.
Ia menganggap bahwa pada dasarnya Pancasila memuat ide yang baik mengenai hidup bernegara dan juga beragama yang mutlak untuk diperjuangkan.
Dalam kehidupan berbangsa dan juga bernegara, “Gus Dur” menunjukkan sikap menghormati terhadap pilihan agama dan keyakinan orang lain sebagai suatu kenyataan ataupun prinsip kebebasan dalam beragama dan berkeyakinan sesuai dengan yang tercantum dalam bagian pertama Pancasila.
Di dalam relasi dengan agama lain, Gus Dur sering melepas baju agamanya atau formalisme agamanya, akan tetapi iatetapi tetap berada di dalam dunia keberagamaannya yang substantif.

Related Results

MEMUPUK JIWA NASIONALISME MELALUI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PPKN
MEMUPUK JIWA NASIONALISME MELALUI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PPKN
Students are the younger generation as the nation's successors, should have a good spirit of nationalism, who can uphold the dignity of the Indonesian nation. The development of gl...
NASIONALISME DALAM FILM SUSI SUSANTI LOVE ALL
NASIONALISME DALAM FILM SUSI SUSANTI LOVE ALL
Penelitian ini mengkaji tentang nilai nasionalisme yang terkandung pada Film Susi Susanti Love All. Film ini mengisahkan perjuangan Susi Susanti yang mengharumkan nama Indonesia di...
REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM RUDY HABIBIE (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)
REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM RUDY HABIBIE (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)
Semiotika merupakan ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.Periset akan menganalisis film dengan menggunakan kajian semiotika Charles Sanders Pierce. Film yang akan di rise...
Apreasasi karya nasionalisme seni moden Malaysia dalam Pameran Seni Negaraku 2017, Balai Seni Visual Negara, Kuala Lumpur
Apreasasi karya nasionalisme seni moden Malaysia dalam Pameran Seni Negaraku 2017, Balai Seni Visual Negara, Kuala Lumpur
Kajian ini dibuat sempena pameran Negaraku 2017 di Balai Seni Visual Negara, Kuala Lumpur. Karya yang dipilih dalam pameran ini berbentuk nasionalisme mengupas tentang apreasasi ka...
Perbandingan Pemikiran Nasionalisme Adolf Hitler, Sukarno dan Gamal Abdul Nasir
Perbandingan Pemikiran Nasionalisme Adolf Hitler, Sukarno dan Gamal Abdul Nasir
Nasionalisme secara historis yang dianut oleh berbagai bangsa dan negara memiliki karakteristik dan watak yang berbeda-beda. Fokus dan tujuan pada artikel ini adalah untuk membandi...
Relevansi Nasionalisme dan Moderasi Beragama di Lingkungan Multikultural: Paradigma Al-Qur’an dalam Membangun Harmoni Umat
Relevansi Nasionalisme dan Moderasi Beragama di Lingkungan Multikultural: Paradigma Al-Qur’an dalam Membangun Harmoni Umat
Konflik keberagaman di lingkungan multikultural menjadi tantangan yang tidak kunjung berhenti. Terutama di Indonesia  sebagai negara dengan latar belakang heterogen menjadikan kea...
NASIONALISME DALAM BINGKAI KRITIK SOSIAL: KAJIAN SOSIO-PRAGMATIK TERHADAP PUISI INDONESIA MODERN
NASIONALISME DALAM BINGKAI KRITIK SOSIAL: KAJIAN SOSIO-PRAGMATIK TERHADAP PUISI INDONESIA MODERN
Kajian ini bertujuan menemukan bentuk-bentuk kritik sosial yang mengekspresikan nasionalisme dan mengungkapkan relasi antara bentuk-bentuk kritik sosial dan nasionalisme. Puisi seb...
Pembinaan Jiwa Nasionalisme Anak-Anak Sekolah Minggu GPdI Imanuel Kagungan Rahayu Melalui Bercerita dan Lomba Kebangsaan
Pembinaan Jiwa Nasionalisme Anak-Anak Sekolah Minggu GPdI Imanuel Kagungan Rahayu Melalui Bercerita dan Lomba Kebangsaan
Melihat kurangnya wawasan kebangsaan yang dimiliki anak-anak sekolah minggu di Gereja Pantekosta di Indonesia Imanuel Kagungan Rahayu, maka dianggap perlu untuk melakukan pembinaan...

Back to Top