Javascript must be enabled to continue!
Problematika Kesiapan Pernikahan Individu Dewasa Awal
View through CrossRef
This article discusses the readiness of individuals in early adulthood to enter marriage. Marriage is a relationship forged by a man and a woman to balance life biologically, psychologically, and socially. Although an age above 19 years is considered ideal for marriage, the main factor in marriage is the agreement and readiness between both partners before marriage. The method used in this article is a literature review by analyzing the psychological impact of the lack of readiness for marriage in early adulthood. The results of this article show that marriage must be prepared physically, mentally, and financially, and factors such as self-disclosure, trust, equality, intimacy, good conflict management, and open communication also contribute to marital satisfaction. Emotional readiness and emotional intelligence are important in maintaining the continuity of marriage and household success. Marriage without careful consideration has the risk of causing depression in partners, especially women. Therefore, individuals must carefully consider wedding preparations to avoid long-term negative impacts and ensure the family remains harmonious.
AbstrakArtikel ini membahas tentang kesiapan individu pada masa dewasa awal dalam memasuki pernikahan, sebagai salah satu tugas perkembangan pada masa ini. Meskipun usia di atas 19 tahun dianggap ideal untuk menikah, faktor utama dalam pernikahan adalah persetujuan dan kesiapan yang disepakati oleh kedua pasangan sebelum melangsungkan pernikahan. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah review literatur dengan menganalisis dampak psikologis yang muncul akibat kurangnya kesiapan dalam pernikahan pada masa dewasa awal. Hasil dari artikel ini dapat diketahui bahwa pernikahan harus dipersiapkan secara fisik, mental, dan finansial, serta faktor-faktor seperti self-disclosure, kepercayaan, kesetaraan, keintiman, pengelolaan konflik yang baik, dan komunikasi yang terbuka juga berkontribusi pada kepuasan pernikahan. Kesiapan emosional dan kecerdasan emosi memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan pernikahan dan keberhasilan rumah tangga. Pernikahan tanpa pertimbangan yang matang berisiko menyebabkan depresi pada pasangan, terutama perempuan. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memikirkan persiapan pernikahan dengan matang agar terhindar dari dampak negatif jangka panjang.
Title: Problematika Kesiapan Pernikahan Individu Dewasa Awal
Description:
This article discusses the readiness of individuals in early adulthood to enter marriage.
Marriage is a relationship forged by a man and a woman to balance life biologically, psychologically, and socially.
Although an age above 19 years is considered ideal for marriage, the main factor in marriage is the agreement and readiness between both partners before marriage.
The method used in this article is a literature review by analyzing the psychological impact of the lack of readiness for marriage in early adulthood.
The results of this article show that marriage must be prepared physically, mentally, and financially, and factors such as self-disclosure, trust, equality, intimacy, good conflict management, and open communication also contribute to marital satisfaction.
Emotional readiness and emotional intelligence are important in maintaining the continuity of marriage and household success.
Marriage without careful consideration has the risk of causing depression in partners, especially women.
Therefore, individuals must carefully consider wedding preparations to avoid long-term negative impacts and ensure the family remains harmonious.
AbstrakArtikel ini membahas tentang kesiapan individu pada masa dewasa awal dalam memasuki pernikahan, sebagai salah satu tugas perkembangan pada masa ini.
Meskipun usia di atas 19 tahun dianggap ideal untuk menikah, faktor utama dalam pernikahan adalah persetujuan dan kesiapan yang disepakati oleh kedua pasangan sebelum melangsungkan pernikahan.
Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah review literatur dengan menganalisis dampak psikologis yang muncul akibat kurangnya kesiapan dalam pernikahan pada masa dewasa awal.
Hasil dari artikel ini dapat diketahui bahwa pernikahan harus dipersiapkan secara fisik, mental, dan finansial, serta faktor-faktor seperti self-disclosure, kepercayaan, kesetaraan, keintiman, pengelolaan konflik yang baik, dan komunikasi yang terbuka juga berkontribusi pada kepuasan pernikahan.
Kesiapan emosional dan kecerdasan emosi memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan pernikahan dan keberhasilan rumah tangga.
Pernikahan tanpa pertimbangan yang matang berisiko menyebabkan depresi pada pasangan, terutama perempuan.
Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memikirkan persiapan pernikahan dengan matang agar terhindar dari dampak negatif jangka panjang.
Related Results
Persepsi Dewasa Awal Mengenai Kursus Pranikah
Persepsi Dewasa Awal Mengenai Kursus Pranikah
<p><em>Abstrak</em> -<strong> Pernikahan merupakan salah satu tugas perkembangan dewasa awal. Persiapan pernikahan yang dilakukan oleh pasangan dapat dilaku...
Eksistensi Digital Wedding Di Era Disrupsi Dalam Maqashid Syariah
Eksistensi Digital Wedding Di Era Disrupsi Dalam Maqashid Syariah
Abstract
The era of disruption has presented a new phenomenon in wedding procedures, namely digital weddings. The emergence of digital marriage raises questions about its validity...
Problematika Pernikahan Usia Dini
Problematika Pernikahan Usia Dini
Penelitian ini membahas tentang Problematika Pernikahan Usia Dini (Studi Kasus Di Desa Kabubu Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat). Pokok masalah terse...
Perspektif Alkitab Terhadap Pernikahan Semarga
Perspektif Alkitab Terhadap Pernikahan Semarga
Pernikahan semarga adalah pernikahan yang dilakukan oleh kedua pasangan dengan marga yang sama. Contohnya bila si pria bermarga Siagian, maka pasangannya juga bermarga Siagian. Dal...
DAMPAK PERNIKAHAN ANAK TERHADAP KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
DAMPAK PERNIKAHAN ANAK TERHADAP KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Masalah pokok pada penelitian ini adalah bagaimana dampak pernikahan anak terhadap kesejahteraan rumah tangga perspektif hukum Islam di Desa Cikoang. Dari pokok masalah tersebut mu...
HUBUNGAN STATUS EKONOMI TERHADAP PERNIKAHAN DINI PADA PEREMPUAN DI PERDESAAN INDONESIA
HUBUNGAN STATUS EKONOMI TERHADAP PERNIKAHAN DINI PADA PEREMPUAN DI PERDESAAN INDONESIA
Abstract
Background: Early marriage practice in Indonesia is more often found in rural than in urban areas.
Objective: The aim of this study is to examine the relationship of socio...
Dampak Sosiologis dan Kesehatan Psikologis Masyarakat atas Pernikahan Dini
Dampak Sosiologis dan Kesehatan Psikologis Masyarakat atas Pernikahan Dini
Pernikahan dini adalah masalah umum di banyak masyarakat, termasuk Desa Kayumas, Arjasa Situbondo. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak kesehatan sosiologis dan psi...
KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP MAKNA MA’KAPA’I DALAM PERNIKAHAN ORANG KRISTEN DI GEREJA TORAJA JEMAAT TANDO- TANDO
KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP MAKNA MA’KAPA’I DALAM PERNIKAHAN ORANG KRISTEN DI GEREJA TORAJA JEMAAT TANDO- TANDO
Di dalam pernikahan Kristen merupakan suatu ikatan yang resmi dan diakui oleh gereja sebagai lembaga keagamaan.pernikahan yang telah diberkati dalam gereja yang kudus, setiap orang...

