Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Seleksi Galur Jagung Tahan terhadap Cekaman Kekeringan Menggunakan PEG 6000 pada Fase Perkecambahan

View through CrossRef
Seleksi galur jagung terhadap cekaman kekeringan merupakan langkah awal untuk merakit varietas jagung dengan karakter produksi tinggi dan tahan terhadap cekaman kekeringan.  Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakter galur jagung pada fase perkecambahan dan menseleksi ketahanan galur jagung pada fase perkecambahan menggunakan PEG 6000. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama adalah 20 galur jagung dan faktor kedua adalah kosentrasi PEG 6000 yaitu 0% (Potensial osmotik : 0 Mpa), 5 % (potensial osmotik -0,03 Mpa), 10 % (potensial osmotik : -0,19 Mpa), 15% (potensial osmotik : -0.41 Mpa), dan 20% (potensial osmotik : -0,67 Mpa). Karakter yang diamati adalah daya berkecambah, panjang akar dan tunas, berat basah kecambah, berat kering kecambah, dan Indeks Sensitivitas Kekeringan (ISK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian larutan PEG 6000 sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20% sebagian besar menurunkan nilai karakter daya kecambah, panjang akar dan tunas, berat basah kecambah, dan berat kering kecambah dibandingkan dengan kontrol (pemberian larutan PEG sebesar 0%).  Perlakuan pemberian larutan PEG 6000 pada kosentrasi 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% pada semua karakter terdapat perbedaan nyata pada 20 galur yang diuji kecuali untuk karakter berat kering kecambah pada perlakuan pemberian PEG 6000 sebesar 15%. Galur jagung yang toleran terhadap cekaman kekeringan adalah G1, G2, G3, G8, G9, G13, dan G20.
Title: Seleksi Galur Jagung Tahan terhadap Cekaman Kekeringan Menggunakan PEG 6000 pada Fase Perkecambahan
Description:
Seleksi galur jagung terhadap cekaman kekeringan merupakan langkah awal untuk merakit varietas jagung dengan karakter produksi tinggi dan tahan terhadap cekaman kekeringan.
  Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakter galur jagung pada fase perkecambahan dan menseleksi ketahanan galur jagung pada fase perkecambahan menggunakan PEG 6000.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun secara faktorial dengan dua faktor.
Faktor pertama adalah 20 galur jagung dan faktor kedua adalah kosentrasi PEG 6000 yaitu 0% (Potensial osmotik : 0 Mpa), 5 % (potensial osmotik -0,03 Mpa), 10 % (potensial osmotik : -0,19 Mpa), 15% (potensial osmotik : -0.
41 Mpa), dan 20% (potensial osmotik : -0,67 Mpa).
Karakter yang diamati adalah daya berkecambah, panjang akar dan tunas, berat basah kecambah, berat kering kecambah, dan Indeks Sensitivitas Kekeringan (ISK).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian larutan PEG 6000 sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20% sebagian besar menurunkan nilai karakter daya kecambah, panjang akar dan tunas, berat basah kecambah, dan berat kering kecambah dibandingkan dengan kontrol (pemberian larutan PEG sebesar 0%).
  Perlakuan pemberian larutan PEG 6000 pada kosentrasi 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% pada semua karakter terdapat perbedaan nyata pada 20 galur yang diuji kecuali untuk karakter berat kering kecambah pada perlakuan pemberian PEG 6000 sebesar 15%.
Galur jagung yang toleran terhadap cekaman kekeringan adalah G1, G2, G3, G8, G9, G13, dan G20.

Related Results

PEMANFAATAN PUPUK HAYATI MIKORIZA UNTUK MENINGKATKAN TOLERANSI KEKERINGAN PADA TANAMAN NILAM
PEMANFAATAN PUPUK HAYATI MIKORIZA UNTUK MENINGKATKAN TOLERANSI KEKERINGAN PADA TANAMAN NILAM
ABSTRAK<br />Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan tanaman<br />atsiri utama di Indonesia. Saat ini sekitar 90% minyak nilam dunia<br />dihasilkan ole...
Cekaman Polyethylene Glycol 6000 (Peg 6000) Terhadap Perkecambahan 24 Genotipe Cabai Lokal (Capsicum annum L.) Dari Sumatera Barat
Cekaman Polyethylene Glycol 6000 (Peg 6000) Terhadap Perkecambahan 24 Genotipe Cabai Lokal (Capsicum annum L.) Dari Sumatera Barat
Perkecambahan benih cabai sangat dipengaruhi oleh ketersedian air. Hambatan ketersedian air pada fase ini sering dimanfaatkan untuk megetahui toleransi tanaman dalam menghadapi cek...
Skrining Ketahanan Galur S1 Jagung terhadap Penyakit Bulai dan Pembentukan Galur S2 Tahan Penyakit Bulai
Skrining Ketahanan Galur S1 Jagung terhadap Penyakit Bulai dan Pembentukan Galur S2 Tahan Penyakit Bulai
<p>Biotic stress, especially downy mildew (Peronosclerospora philippinensis) incidence, is one of the most important constraints in the development of corn in the country, be...
KECEPATAN PELARUTAN PIROKSIKAM HASIL PEMBENTUKAN DISPERSI PADAT DENGAN PEG 4000 DAN PEG 6000
KECEPATAN PELARUTAN PIROKSIKAM HASIL PEMBENTUKAN DISPERSI PADAT DENGAN PEG 4000 DAN PEG 6000
Latar belakang: Piroksikam merupakan obat analgetika – antipiretika dan anti inflamasi yang memiliki kelarutan dalam air sangat kecil. Mekanisme absorpsinya difusi pasif, maka kece...
Konfirmasi Toleransi Galur-galur Padi terhadap Cekaman Kekeringan secara Molekuler
Konfirmasi Toleransi Galur-galur Padi terhadap Cekaman Kekeringan secara Molekuler
Seleksi secara fenotipik, terutama terhadap cekaman abiotik, seringkali sulit dilakukan. Kegiatan seleksi secara molekuler diperlukan untuk mengidentifikasi hingga taraf molekuler ...
PEMANFAATAN MESIN PENGERING JAGUNG UNTUK PENINGKATAN KUALITAS DAN PRODUKTIFITAS KELOMPOK TANI DESA NGENDEN AMPEL BOYOLALI
PEMANFAATAN MESIN PENGERING JAGUNG UNTUK PENINGKATAN KUALITAS DAN PRODUKTIFITAS KELOMPOK TANI DESA NGENDEN AMPEL BOYOLALI
Permasalahan yang dihadapi oleh Kelompok Tani Ngenden 5 di Desa Ngenden Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali adalah pengeringan jagung yang masih konvensional mengandalkan sinar mata...
Analisis Karakteristik Kekeringan DAS Kapuas Kalimantan Barat Berdasarkan Luaran Global Climate Model
Analisis Karakteristik Kekeringan DAS Kapuas Kalimantan Barat Berdasarkan Luaran Global Climate Model
Daerah aliran sungai (DAS) Kapuas, walaupun berada di wilayah benua maritim Indonesia dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, namun sering mengalami kebakaran lahan dan hut...
KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
<p>Feasibility Study of Hybrid Maize Farming in Muna District Southeast Sulawesi Province. Maize harvest area in 2015 in Muna District was 13,159 ha with the production by 32...

Back to Top