Javascript must be enabled to continue!
Skrining Ketahanan Galur S1 Jagung terhadap Penyakit Bulai dan Pembentukan Galur S2 Tahan Penyakit Bulai
View through CrossRef
<p>Biotic stress, especially downy mildew (Peronosclerospora philippinensis) incidence, is one of the most important constraints in the development of corn in the country, because it attack on young plant of susceptible varieties, it can cause damage up to 100%. Resistance screening of 84 of S1 maize lines to downy mildew and the formation of S2 lines resistant to downy mildew was conducted in Bajeng Experimental Farm at Gowa, South Sulawesi lasted from February to May 2013. This study aimed to screen the S1 lines resistant to downy mildew and forming S2 lines resistant to downy mildew. Four weeks before the S1 lines planted, the source of inoculum (Anoman variety) was planted in two rows around the test plot. One week after Anoman was planted, it was sprayed with a conidial suspension of the fungus P. philipinensis in the early morning. Three weeks after inoculation of Anoman, 84 of S1 lines to be screened for downy mildew were planted. In this test, resistant check MR14 and susceptible check Anoman was included, each planted in two rows along the 5 m, a spacing of 75 x 25 cm with two replications. Urea fertilizer was used at a dose of 350 kg/ha and Ponska with a dose of 300 kg/ha. Observation of the percentage of downy mildew incidence started at 30 days after planting. The results showed that only three lines and MR14 resistant showed moderately resistant to downy mildew. Percentage of disease incidence ranged from 36&ndash;100 percent. However, from this test a number of 580 S2 lines resistant to downy mildew were obtained.</p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Cekaman biotik terutama serangan penyakit bulai (Peronosclerospora philippinensis) merupakan salah satu kendala dalam pengembangan jagung di tanah air, karena serangan umur muda pada varietas rentan, akan menyebabkan kerusakan tanaman sampai 100% (puso). Skrining dan reaksi ketahanan 84 galur S1 jagung tahan terhadap penyakit bulai dan pembentukan galur S2 tahan penyakit bulai dilakukan di Kebun Percobaan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan pada Februari hingga Mei 2013. Penelitian ini bertujuan menyaring galur-galur S1 tahan penyakit bulai dan membentuk galur-galur S2 tahan bulai. Empat minggu sebelum penanaman galur S1, terlebih dahulu dilakukan penanaman varietas Anoman sebagai sumber inokulum dua baris di sekeliling petak pengujian. Satu minggu setelah penanaman varietas Anoman, dilakukan penyemprotan dengan suspensi konidia cendawan P. philipinensis pada pagi hari. Tiga minggu setelah inokulasi pada Anoman, 84 galur S1 yang akan diskrining terhadap penyakit bulai ditanam. Pada pengujian ini, diikutkan MR14 sebagai cek tahan dan varietas Anoman sebagai cek rentan, masingmasing ditanam dalam dua baris sepanjang 5 m, jarak tanam 75 x 25 cm dengan dua ulangan. Pupuk yang digunakan ialah urea dengan takaran 350 kg/ha dan Ponska dengan takaran 300 kg/ha. Pengamatan terhadap persentase serangan penyakit bulai dilakukan mulai pada umur 30 hari setelah tanam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa hanya tiga galur dan cek tahan MR14 yang menunjukkan reaksi agak tahan terhadap penyakit bulai. Persentase serangan berkisar antara 36&ndash;100 persen. Namun, dari pengujian ini diperoleh 580 galur S2 tahan bulai.</p>
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Title: Skrining Ketahanan Galur S1 Jagung terhadap Penyakit Bulai dan Pembentukan Galur S2 Tahan Penyakit Bulai
Description:
<p>Biotic stress, especially downy mildew (Peronosclerospora philippinensis) incidence, is one of the most important constraints in the development of corn in the country, because it attack on young plant of susceptible varieties, it can cause damage up to 100%.
Resistance screening of 84 of S1 maize lines to downy mildew and the formation of S2 lines resistant to downy mildew was conducted in Bajeng Experimental Farm at Gowa, South Sulawesi lasted from February to May 2013.
This study aimed to screen the S1 lines resistant to downy mildew and forming S2 lines resistant to downy mildew.
Four weeks before the S1 lines planted, the source of inoculum (Anoman variety) was planted in two rows around the test plot.
One week after Anoman was planted, it was sprayed with a conidial suspension of the fungus P.
philipinensis in the early morning.
Three weeks after inoculation of Anoman, 84 of S1 lines to be screened for downy mildew were planted.
In this test, resistant check MR14 and susceptible check Anoman was included, each planted in two rows along the 5 m, a spacing of 75 x 25 cm with two replications.
Urea fertilizer was used at a dose of 350 kg/ha and Ponska with a dose of 300 kg/ha.
Observation of the percentage of downy mildew incidence started at 30 days after planting.
The results showed that only three lines and MR14 resistant showed moderately resistant to downy mildew.
Percentage of disease incidence ranged from 36&ndash;100 percent.
However, from this test a number of 580 S2 lines resistant to downy mildew were obtained.
</p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Cekaman biotik terutama serangan penyakit bulai (Peronosclerospora philippinensis) merupakan salah satu kendala dalam pengembangan jagung di tanah air, karena serangan umur muda pada varietas rentan, akan menyebabkan kerusakan tanaman sampai 100% (puso).
Skrining dan reaksi ketahanan 84 galur S1 jagung tahan terhadap penyakit bulai dan pembentukan galur S2 tahan penyakit bulai dilakukan di Kebun Percobaan Bajeng Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan pada Februari hingga Mei 2013.
Penelitian ini bertujuan menyaring galur-galur S1 tahan penyakit bulai dan membentuk galur-galur S2 tahan bulai.
Empat minggu sebelum penanaman galur S1, terlebih dahulu dilakukan penanaman varietas Anoman sebagai sumber inokulum dua baris di sekeliling petak pengujian.
Satu minggu setelah penanaman varietas Anoman, dilakukan penyemprotan dengan suspensi konidia cendawan P.
philipinensis pada pagi hari.
Tiga minggu setelah inokulasi pada Anoman, 84 galur S1 yang akan diskrining terhadap penyakit bulai ditanam.
Pada pengujian ini, diikutkan MR14 sebagai cek tahan dan varietas Anoman sebagai cek rentan, masingmasing ditanam dalam dua baris sepanjang 5 m, jarak tanam 75 x 25 cm dengan dua ulangan.
Pupuk yang digunakan ialah urea dengan takaran 350 kg/ha dan Ponska dengan takaran 300 kg/ha.
Pengamatan terhadap persentase serangan penyakit bulai dilakukan mulai pada umur 30 hari setelah tanam.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa hanya tiga galur dan cek tahan MR14 yang menunjukkan reaksi agak tahan terhadap penyakit bulai.
Persentase serangan berkisar antara 36&ndash;100 persen.
Namun, dari pengujian ini diperoleh 580 galur S2 tahan bulai.
</p>.
Related Results
Potensi Pemanfaatan Teknik Molekuler Berbasis DNA dalam Penelitian Penyakit Bulai pada Jagung
Potensi Pemanfaatan Teknik Molekuler Berbasis DNA dalam Penelitian Penyakit Bulai pada Jagung
Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman jagung yang dapat menurunkan produksi jagung di Indonesia. Penyakit bulai pada jagung disebabkan oleh Pero...
KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
KELAYAKAN USAHATANI JAGUNG HIBRIDA DI KABUPATEN MUNA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
<p>Feasibility Study of Hybrid Maize Farming in Muna District Southeast Sulawesi Province. Maize harvest area in 2015 in Muna District was 13,159 ha with the production by 32...
Efikasi berbagai Dosis Cuka Bambu Sebagai Bahan Penginduksi Ketahanan Tanaman Jagung (Zea mays) terhadap Penyakit Bulai (Peronoclerospora maydis)
Efikasi berbagai Dosis Cuka Bambu Sebagai Bahan Penginduksi Ketahanan Tanaman Jagung (Zea mays) terhadap Penyakit Bulai (Peronoclerospora maydis)
Pemanfaatan cuka asal tanaman terutama cuka bambu sebagai inducer ketahanan tanaman, khususnya tanaman jagung belum banyak dilaporkan di Indonesia. Cuka bambu diyakini dapat menjad...
KARAKTERISASI Peronosclerospora sp. ISOLAT BANDAR JAYA, ISOLAT SRIKATON, DAN ISOLAT SUKARAJA NUBAN
KARAKTERISASI Peronosclerospora sp. ISOLAT BANDAR JAYA, ISOLAT SRIKATON, DAN ISOLAT SUKARAJA NUBAN
Penyakit bulai di provinsi Lampung semula diidentifikasi disebabkan oleh satu spesies. Beberapa tahun terakhir ini laporan menyebutkan bahwa penyakit bulai pada tanaman jagung dis...
A Analisis Komparatif Pendapatan Usaha Tani Jagung Manis Dan Usaha Tani Jagung Pipil Di Kecamatan Singkawang Selatan
A Analisis Komparatif Pendapatan Usaha Tani Jagung Manis Dan Usaha Tani Jagung Pipil Di Kecamatan Singkawang Selatan
Jagung memiliki peran yang penting bagi ekonomi nasional tidak hanya di perdesaan tetapi juga di perkotaan. Pemilihan lokasi dalam usahtani jagung manis dan usahatani jagung pipil ...
Analisis Pertumbuhan Produktivitas Jagung di Kabupaten Tanah Laut
Analisis Pertumbuhan Produktivitas Jagung di Kabupaten Tanah Laut
Jagung merupakan salah satu komoditas penting, karena kebutuhannya yang meningkat setiap tahunnya. Salah satu daerah yang menghasilkan jagung dengan hasil tinggi adalah Kabupaten T...
ANALISIS USAHATANI JAGUNG MANIS (Zea mays) DI DESA DALUNG KECAMATAN KUTA UTARA KABUPATEN BADUNG
ANALISIS USAHATANI JAGUNG MANIS (Zea mays) DI DESA DALUNG KECAMATAN KUTA UTARA KABUPATEN BADUNG
Salah satu komoditas yang diusahakan oleh petani sejak lima tahun terakhir di Desa Dalung Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung dalam upaya mewujudkan ketahan pangan seperti tertu...

