Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

INTERPRETASI KONTEKSTUAL DALAM MEMAHAMI HADIS PENETAPAN AWAL BULAN QAMARIAH

View through CrossRef
Penulisan Jurnal ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana interpretasi kontekstual dalam memahami hadis penetapan awal bulan Qamariah. Tidak adanya dalil-dalil yang secara tegas merinci batasan-batasan waktu, umur atau lamanya suatu bulan, menyebabkan sering terjadi perbedaan dalam pelaksanaan awal puasa Ramadhan, Idul fitri, puasa arafah dan Idul adha di Indonesia. Hal itu diakibatkan karena adanya perbedaan metode dalam penetapan awal bulan Qamariah. Ada kelompok memahami dalil dengan interpretasi tekstual sehingga metode yang digunakan dalam menentukan awal masuknya bulan Ramadhan adalah metode ru’yat al-hilal. Adapun kelompok yang lain memahaminya dengan interpretasi kontekstual, sehingga metode yang digunakan adalah metode hisab. Di era modern ini, tentunya problematika kehidupan terus berubah baik dari segi social, budaya, ekonomi, politik, perkembangan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Oleh karenanya di butuhkan interpretasi kontekstual dalam memahami dalil-dalil al-Quran dan hadis agar sesuai untuk dipakai di semua tempat dan sejalan dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman. Dengan pendekatan metode ini diharapkan mampu menginterpretasikan nash-nash al-Qur’an dan hadis tidak secara temporal sehingga terkesan kaku, akan tetapi mampu menjawab problematika di tengah masyarakat dimana dan kapan pun. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode kepustakaan (library research) yakni penelitian dengan mengumpulkan data dari buku-buku, jurnal, dan data-data yang lain yang ada sangkut pautnya dengan tema pembahasan. Hasil dari penelitian ini adalah Penggunaan metode interpretasi kontekstual dalam memahami dalil-dalil di masa kini perlu dimassifkan dengan mempertimbangkan konteks yang melingkupi atau berkaitan dengan nash tersebut, baik dari segi historis maupun dari segi sosio kultural, kemudian dihubungkan dengan konteks kekinian melalui pendekatan holistik, multidispliner, ushul fiqih atau pendekatan yang terkait ilmu kontemporer. Adapun upaya kontekstualisasi pemahaman hadis-hadis mengenai penetapan awal masuk bulan Qamariyah, maka perlu memperhatikan konteks masa lampau (zaman Rasulullah saw.) dan konteks kekinian. Di zaman Rasulullah saw. ummat Islam paling memungkinkan pada masa itu dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan atau Syawal adalah dengan melakukan rukyat. Adapun zaman sekarang, di mana ilmu pengetahuan, sains, astronomi, dan teknologi semakin berkembang pesat, ummat Islam bertebaran di segala penjuru dunia. Tentunya penggunaan hisab lebih relevan dan lebih mashlahat di gunakan dimasa kini dan bukanlah sesuatu yang bid’ah apalagi haram. Adapun penerapan rukyat dimasa kini, tentunya menghambat penyatuan ummat Islam dalam memasuki awal bulan Qamariyah lantaran hambatan alam itu sendiri. Begitu juga dengan penyatuan kalender Islam tidak akan terelisasi tanpa penerapan hisab. Keuntungan menggunakan hisab dibandingkan rukyat adalah: (1) dapat memastikan tanggal jauh hari ke depan, (2) memberi peluang dalam penyatuan penanggalan Islam, (3) lebih pasti dan prediktif, (4) hemat biaya.
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Title: INTERPRETASI KONTEKSTUAL DALAM MEMAHAMI HADIS PENETAPAN AWAL BULAN QAMARIAH
Description:
Penulisan Jurnal ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana interpretasi kontekstual dalam memahami hadis penetapan awal bulan Qamariah.
Tidak adanya dalil-dalil yang secara tegas merinci batasan-batasan waktu, umur atau lamanya suatu bulan, menyebabkan sering terjadi perbedaan dalam pelaksanaan awal puasa Ramadhan, Idul fitri, puasa arafah dan Idul adha di Indonesia.
Hal itu diakibatkan karena adanya perbedaan metode dalam penetapan awal bulan Qamariah.
Ada kelompok memahami dalil dengan interpretasi tekstual sehingga metode yang digunakan dalam menentukan awal masuknya bulan Ramadhan adalah metode ru’yat al-hilal.
Adapun kelompok yang lain memahaminya dengan interpretasi kontekstual, sehingga metode yang digunakan adalah metode hisab.
Di era modern ini, tentunya problematika kehidupan terus berubah baik dari segi social, budaya, ekonomi, politik, perkembangan ilmu pengetahuan dan lain sebagainya.
Oleh karenanya di butuhkan interpretasi kontekstual dalam memahami dalil-dalil al-Quran dan hadis agar sesuai untuk dipakai di semua tempat dan sejalan dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan zaman.
Dengan pendekatan metode ini diharapkan mampu menginterpretasikan nash-nash al-Qur’an dan hadis tidak secara temporal sehingga terkesan kaku, akan tetapi mampu menjawab problematika di tengah masyarakat dimana dan kapan pun.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan metode kepustakaan (library research) yakni penelitian dengan mengumpulkan data dari buku-buku, jurnal, dan data-data yang lain yang ada sangkut pautnya dengan tema pembahasan.
Hasil dari penelitian ini adalah Penggunaan metode interpretasi kontekstual dalam memahami dalil-dalil di masa kini perlu dimassifkan dengan mempertimbangkan konteks yang melingkupi atau berkaitan dengan nash tersebut, baik dari segi historis maupun dari segi sosio kultural, kemudian dihubungkan dengan konteks kekinian melalui pendekatan holistik, multidispliner, ushul fiqih atau pendekatan yang terkait ilmu kontemporer.
Adapun upaya kontekstualisasi pemahaman hadis-hadis mengenai penetapan awal masuk bulan Qamariyah, maka perlu memperhatikan konteks masa lampau (zaman Rasulullah saw.
) dan konteks kekinian.
Di zaman Rasulullah saw.
ummat Islam paling memungkinkan pada masa itu dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan atau Syawal adalah dengan melakukan rukyat.
Adapun zaman sekarang, di mana ilmu pengetahuan, sains, astronomi, dan teknologi semakin berkembang pesat, ummat Islam bertebaran di segala penjuru dunia.
Tentunya penggunaan hisab lebih relevan dan lebih mashlahat di gunakan dimasa kini dan bukanlah sesuatu yang bid’ah apalagi haram.
Adapun penerapan rukyat dimasa kini, tentunya menghambat penyatuan ummat Islam dalam memasuki awal bulan Qamariyah lantaran hambatan alam itu sendiri.
Begitu juga dengan penyatuan kalender Islam tidak akan terelisasi tanpa penerapan hisab.
Keuntungan menggunakan hisab dibandingkan rukyat adalah: (1) dapat memastikan tanggal jauh hari ke depan, (2) memberi peluang dalam penyatuan penanggalan Islam, (3) lebih pasti dan prediktif, (4) hemat biaya.

Related Results

PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
<p>Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang di...
Eksistensi Wilayatul Hukmi Dalam Penanggalan Qamariah Perspektif Empat Madzhab
Eksistensi Wilayatul Hukmi Dalam Penanggalan Qamariah Perspektif Empat Madzhab
Eksistensi Wilayatul Hukmi Dalam Penanggalan Qamariah Perspektif Empat Madzhab. Penerapan awal bulan Qamariah merujuk pada kewenangan pemimpin atau otoritas Islam dalam memutuskan ...
MANHAJ AHMAD LUTFI FATHULLAH DALAM HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN
MANHAJ AHMAD LUTFI FATHULLAH DALAM HADIS-HADIS LEMAH DAN PALSU DALAM KITAB DURRATUN NASIHIN
Kitab Durratun Nashihin merupakan salah satu kitab yang bercorak targhib dan tarhib, banyak digunakan oleh masyarakat muslim khususnya di Indonesia. Ternyata di dalamnya banyak mem...
Metode Penelitian Fiqh al-Hadis
Metode Penelitian Fiqh al-Hadis
Hadis Nabi dalam hierarki sumber hukum Islam berada pada kedudukan kedua selepas al-Quran. Hadis berfungsi untuk menjelaskan, menafsirkan apa yang terkandung dalam al-Qur...
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
Abstract: The Tahfiz Hadis program is one of the extracurricular programs carried out at the Al Falah Puteri Islamic Boarding School Banjarbaru. This program was formed because of ...
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
Penelitian ini bermaksud menjelaskan penelitian hadis menurut standar prosedur ilmiah penelitian hadis yang disebut saintifik hadis. Wacana saintifik hadis dalam konstruksi kesahih...
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
Hadis disepakati sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Namun, untuk dapat menjadikannya sebagai dasar ajaran, hadis harus melewati uji naqd al-hadis dan fiqh al-hadi...

Back to Top