Javascript must be enabled to continue!
Hubungan Status Gizi dan Perawatan Luka Mandiri terhadap Penyembuhan Pasca Sirkumsisi
View through CrossRef
Abstract. Circumcision is a common surgical procedure performed on male children and results in wounds that require an optimal healing process. Post-circumcision wound healing is influenced by systemic factors, such as nutritional status, as well as behavioral factors, including home-based self-wound care practices. Inappropriate wound care may delay healing and increase the risk of complications.This study aimed to determine the relationship between nutritional status and self-wound care practices with the post-circumcision wound healing process among children at Bale Khitan Clinic, Garut. This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach. The study subjects consisted of 54 children aged 3–6 years who underwent circumcision at Bale Khitan Clinic, Garut, in 2025. Nutritional status was assessed using anthropometric indices, self-wound care practices were measured using a questionnaire, and the wound healing process was evaluated through medical records. Data were analyzed using the Chi-Square test and Fisher’s Exact test. The results showed that most respondents had good wound healing outcomes (77.8%) and good self-wound care practices (96.3%). The majority of respondents were classified as having poor nutritional status (46.3%). Statistical analysis indicated no significant relationship between nutritional status and post-circumcision wound healing (p = 0.153). In contrast, a significant relationship was found between self-wound care practices and post-circumcision wound healing (p = 0.046). In conclusion, self-wound care practices are significantly associated with the post-circumcision wound healing process, whereas nutritional status shows no significant association.
Abstrak. Sirkumsisi merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada anak laki-laki dan menimbulkan luka yang memerlukan proses penyembuhan optimal. Proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi dipengaruhi oleh faktor sistemik, seperti status gizi, serta faktor perilaku berupa pola perawatan luka mandiri di rumah. Perawatan luka yang kurang tepat dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi.irkumsisi merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada anak laki-laki dan menimbulkan luka yang memerlukan proses penyembuhan optimal. Proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi dipengaruhi oleh faktor sistemik, seperti status gizi, serta faktor perilaku berupa pola perawatan luka mandiri di rumah. Perawatan luka yang kurang tepat dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi. Tujuan nya mengetahui hubungan status gizi dan pola perawatan luka mandiri terhadap proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi pada anak di Klinik Bale Khitan Garut. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross- sectional. Subjek penelitian berjumlah 54 anak usia 3–6 tahun yang menjalani sirkumsisi di Klinik Bale Khitan Garut tahun 2025. Status gizi dinilai berdasarkan indeks antropometri, pola perawatan luka mandiri diukur menggunakan kuesioner, dan proses penyembuhan luka dinilai melalui rekam medis. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan uji Fisher’s Exact. Sebagian besar responden memiliki proses penyembuhan luka yang baik (77,8%) dan pola perawatan luka mandiri yang baik (96,3%). Status gizi responden paling banyak berada pada kategori gizi buruk (46,3%). Tidak terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi (p = 0,153). Sebaliknya, terdapat hubungan signifikan antara pola perawatan luka mandiri dan proses penyembuhan luka pasca- sirkumsisi (p = 0,046). Pola perawatan luka mandiri berhubungan signifikan dengan proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi, sedangkan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Hubungan Status Gizi dan Perawatan Luka Mandiri terhadap Penyembuhan Pasca Sirkumsisi
Description:
Abstract.
Circumcision is a common surgical procedure performed on male children and results in wounds that require an optimal healing process.
Post-circumcision wound healing is influenced by systemic factors, such as nutritional status, as well as behavioral factors, including home-based self-wound care practices.
Inappropriate wound care may delay healing and increase the risk of complications.
This study aimed to determine the relationship between nutritional status and self-wound care practices with the post-circumcision wound healing process among children at Bale Khitan Clinic, Garut.
This study employed an analytic observational design with a cross-sectional approach.
The study subjects consisted of 54 children aged 3–6 years who underwent circumcision at Bale Khitan Clinic, Garut, in 2025.
Nutritional status was assessed using anthropometric indices, self-wound care practices were measured using a questionnaire, and the wound healing process was evaluated through medical records.
Data were analyzed using the Chi-Square test and Fisher’s Exact test.
The results showed that most respondents had good wound healing outcomes (77.
8%) and good self-wound care practices (96.
3%).
The majority of respondents were classified as having poor nutritional status (46.
3%).
Statistical analysis indicated no significant relationship between nutritional status and post-circumcision wound healing (p = 0.
153).
In contrast, a significant relationship was found between self-wound care practices and post-circumcision wound healing (p = 0.
046).
In conclusion, self-wound care practices are significantly associated with the post-circumcision wound healing process, whereas nutritional status shows no significant association.
Abstrak.
Sirkumsisi merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada anak laki-laki dan menimbulkan luka yang memerlukan proses penyembuhan optimal.
Proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi dipengaruhi oleh faktor sistemik, seperti status gizi, serta faktor perilaku berupa pola perawatan luka mandiri di rumah.
Perawatan luka yang kurang tepat dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi.
irkumsisi merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada anak laki-laki dan menimbulkan luka yang memerlukan proses penyembuhan optimal.
Proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi dipengaruhi oleh faktor sistemik, seperti status gizi, serta faktor perilaku berupa pola perawatan luka mandiri di rumah.
Perawatan luka yang kurang tepat dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko komplikasi.
Tujuan nya mengetahui hubungan status gizi dan pola perawatan luka mandiri terhadap proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi pada anak di Klinik Bale Khitan Garut.
Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross- sectional.
Subjek penelitian berjumlah 54 anak usia 3–6 tahun yang menjalani sirkumsisi di Klinik Bale Khitan Garut tahun 2025.
Status gizi dinilai berdasarkan indeks antropometri, pola perawatan luka mandiri diukur menggunakan kuesioner, dan proses penyembuhan luka dinilai melalui rekam medis.
Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan uji Fisher’s Exact.
Sebagian besar responden memiliki proses penyembuhan luka yang baik (77,8%) dan pola perawatan luka mandiri yang baik (96,3%).
Status gizi responden paling banyak berada pada kategori gizi buruk (46,3%).
Tidak terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi (p = 0,153).
Sebaliknya, terdapat hubungan signifikan antara pola perawatan luka mandiri dan proses penyembuhan luka pasca- sirkumsisi (p = 0,046).
Pola perawatan luka mandiri berhubungan signifikan dengan proses penyembuhan luka pasca-sirkumsisi, sedangkan status gizi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Related Results
EFEKTIFITAS PERAWATAN LUKA METODE MOISTWOUND HEALING DAN METODE KONVENSIONAL TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PADA POST SIRKUMSISI METODE ELEKTRIK CAUTER DI KLINIK KHITAN SMART INDONESIA LAMANDAU
EFEKTIFITAS PERAWATAN LUKA METODE MOISTWOUND HEALING DAN METODE KONVENSIONAL TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PADA POST SIRKUMSISI METODE ELEKTRIK CAUTER DI KLINIK KHITAN SMART INDONESIA LAMANDAU
Abstrak
Sterilitas yang kurang baik pada saat sirkumsisi dan higiene pasca sirkumsisi yang tidak terjaga menyebabkan infeksi luka operasi, sehingga membutuhkan perawatan luka post ...
PEMANFAATAN HERBAL DALAM PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DAN LUKA SEKSIO SESAREA
PEMANFAATAN HERBAL DALAM PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DAN LUKA SEKSIO SESAREA
Pendahuluan : Masa nifas (puerperium) merupkan masa kembalinya organ reproduksi seperti keadaan sebelum hamil dalam waktu enam minggu setelah melahirkan (Nirwana, 2011). Pada masa ...
Penerapan perawatan perineum terhadap proses penyembuhan luka pada ibu nifas
Penerapan perawatan perineum terhadap proses penyembuhan luka pada ibu nifas
Pendahuluan: Masa nifas merupakan periode pemulihan organ reproduksi setelah persalinan yang berlangsung sekitar enam minggu dan menjadi fase yang rentan terhadap infeksi, terutama...
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PERAWATAN LUKA KANKER BERBASIS MOBILE APP: LITERATUR REVIEW
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PERAWATAN LUKA KANKER BERBASIS MOBILE APP: LITERATUR REVIEW
Latar Belakang: Luka kanker merupakan salah satu permasalahan pada penyakit kanker. Luka kanker termasuk dalam luka kronis dimana ada kegagalan atau faktor penghambat pada proses p...
ANALISIS PERAWATAN DAN PENYEMBUHAN LUKA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2
ANALISIS PERAWATAN DAN PENYEMBUHAN LUKA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2
Latar belakang: Prevalensi Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) terus meningkat secara global, terutama di negara berkembang. Hiperglikemia kronik pada pasien DMT2 dapat merusak pembulu...
Perbandingan Efek Getah Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L) dengan Lendir Bekicot (Achantina Fulica) terhadap Lama Penyembuhan Luka pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster
Perbandingan Efek Getah Tanaman Jarak Pagar (Jatropha Curcas L) dengan Lendir Bekicot (Achantina Fulica) terhadap Lama Penyembuhan Luka pada Mencit Jantan Galur Swiss Webster
Abstract. A wound is a break in body tissue from the epithelial layer of the skin to the inner layer, such as subcutaneous tissue, fat, muscle, and bone. Jatropha sap and snail sli...
PERBEDAAN PENGETAHUAN GIZI, BODY IMAGE, ASUPAN ENERGI DAN STATUS GIZI PADA MAHASISWI GIZI DAN NON GIZI UNIVERSITAS DIPONEGORO
PERBEDAAN PENGETAHUAN GIZI, BODY IMAGE, ASUPAN ENERGI DAN STATUS GIZI PADA MAHASISWI GIZI DAN NON GIZI UNIVERSITAS DIPONEGORO
Latar Belakang: Sebesar 8.7% penduduk usia >18 tahun mengalami gizi kurang. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan gizi di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan utama. Pada...
Efektivitas Konsumsi Jus Nanas dan Madu terhadap Penyembuhan Luka Perineum pada Ibu Post Partum
Efektivitas Konsumsi Jus Nanas dan Madu terhadap Penyembuhan Luka Perineum pada Ibu Post Partum
Latar Belakang: Latar belakang: Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Jika penanganan luka perineum tidak ...

