Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Keefektifan Trichoderma asperellum dari Sumber Berbeda Terhadap Colletotrichum sp. Penyebab Penyakit Antraknosa Pada Tomat

View through CrossRef
Colletotrichum sp. merupakan kelompok cendawan yang dapat menyebabkan penyakit antraknosa pada berbagai tanaman inang, salah satunya buah tomat. Kehilangan hasil akibat penyakit antraknosa ini pada musim hujan dapat mencapai 80%, sedangkan pada musim kemarau berkisar antara 20-35%. Salah satu langkah pengendaliannya adalah dengan memanfaatkan Trichoderma asperellum. Penelitian ini menggunakan T. asperellum dari sumber yang berbeda yang memiliki morfologi mirip. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan T. asperellum dari sumber berbeda terhadap Colletotrichum sp. penyebab penyakit antraknosa pada tomat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 3 perlakuan dan 6 kali ulangan. Setiap perlakuan terdiri dari 3 unit percobaan sehingga diperoleh 54 unit percobaan. Selanjutnya agen antagonis terbaik diuji ke buah tomat dengan 2 perlakuan (kontrol dan T. asperellum), setiap perlakuan menggunakan 3 buah tomat yang setengah matang dan ukuran yang seragam dengan 9 kali ulangan sehingga jumlah keseluruhan sebanyak 54 buah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isolat T. asperellum yang paling efektif menghambat patogen Colletotrichum sp. in vitro adalah T. asperellum asal gambut, dengan persentase penghambatan sebesar 72,25%. Setelah diaplikasi ke buah tomat,T. asperellum asal gambut dapat menekan pertumbuhan Colletotrichum sp. dengan masa inkubasi 9,00 hari, diameter koloni sekitar 0,04 cm. 
Title: Keefektifan Trichoderma asperellum dari Sumber Berbeda Terhadap Colletotrichum sp. Penyebab Penyakit Antraknosa Pada Tomat
Description:
Colletotrichum sp.
merupakan kelompok cendawan yang dapat menyebabkan penyakit antraknosa pada berbagai tanaman inang, salah satunya buah tomat.
Kehilangan hasil akibat penyakit antraknosa ini pada musim hujan dapat mencapai 80%, sedangkan pada musim kemarau berkisar antara 20-35%.
Salah satu langkah pengendaliannya adalah dengan memanfaatkan Trichoderma asperellum.
Penelitian ini menggunakan T.
asperellum dari sumber yang berbeda yang memiliki morfologi mirip.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan T.
asperellum dari sumber berbeda terhadap Colletotrichum sp.
penyebab penyakit antraknosa pada tomat.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Non Faktorial dengan 3 perlakuan dan 6 kali ulangan.
Setiap perlakuan terdiri dari 3 unit percobaan sehingga diperoleh 54 unit percobaan.
Selanjutnya agen antagonis terbaik diuji ke buah tomat dengan 2 perlakuan (kontrol dan T.
asperellum), setiap perlakuan menggunakan 3 buah tomat yang setengah matang dan ukuran yang seragam dengan 9 kali ulangan sehingga jumlah keseluruhan sebanyak 54 buah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isolat T.
asperellum yang paling efektif menghambat patogen Colletotrichum sp.
in vitro adalah T.
asperellum asal gambut, dengan persentase penghambatan sebesar 72,25%.
Setelah diaplikasi ke buah tomat,T.
asperellum asal gambut dapat menekan pertumbuhan Colletotrichum sp.
dengan masa inkubasi 9,00 hari, diameter koloni sekitar 0,04 cm.
 .

Related Results

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
UJI KEMEMPANAN ISOLAT Trichoderma sp. TERHADAP NEMATODA PURU AKAR TOMAT
UJI KEMEMPANAN ISOLAT Trichoderma sp. TERHADAP NEMATODA PURU AKAR TOMAT
Nematoda puru akar (Meloidogyne sp.) merupakan salah satu kendala dalam budidaya tomat. Pengendalian hayati dengan menggunakan mikroba antagonis Trichoderma sp. adalah alternatif p...
Pengendalian penyakit busuk buah kakao menggunakan Trichoderma dan pupuk Kalium
Pengendalian penyakit busuk buah kakao menggunakan Trichoderma dan pupuk Kalium
AbstrakKerugian akibat serangan penyakit busuk buah kakao (BBK) mencapai 40-100%, produktivitas hanya 669,9 kg/ha/tahun. Upaya pengendalian dapat dilakukan melalui penggunaan cenda...
Pengaruh Aplikasi Kitosan Antifungi Untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa Pada Cabai
Pengaruh Aplikasi Kitosan Antifungi Untuk Pengendalian Penyakit Antraknosa Pada Cabai
Penyakit antraknosa (Colletotrichum spp.) dapat menyebabkan rendahnya kuantitas maupun kualitas buah yang dihasilkan. Untuk menghindari penggunaan pestisida sintetik maka diperluka...
The Isolation and Characterization of Antagonist Trichoderma spp. from the Soil of Abha, Saudi Arabia
The Isolation and Characterization of Antagonist Trichoderma spp. from the Soil of Abha, Saudi Arabia
Background: The genus Trichoderma is widely spread in the environment, mainly in soils. Trichoderma are filamentous fungi and are used in a wide range of fields to manage plant pat...
Development of Trichoderma Formulation and Application to Control Durian Anthracnose Disease
Development of Trichoderma Formulation and Application to Control Durian Anthracnose Disease
Anthracnose is a plant fungal disease that damages both quantitative and qualitative crop yields. Biological control of plant disease is an alternative method enabling reduced use ...
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI TOMAT (Studi Kasus di Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli)
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI TOMAT (Studi Kasus di Desa Buahan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli)
Tomat tidak asing lagi bagi masyarakat, karena dalam kehidupan sehari–hari selalu hadir tanpa mengenal musim.Selain itu masyarakat telah membudidayakannya sebagai usaha pertanian y...

Back to Top