Javascript must be enabled to continue!
Pengendalian penyakit busuk buah kakao menggunakan Trichoderma dan pupuk Kalium
View through CrossRef
AbstrakKerugian akibat serangan penyakit busuk buah kakao (BBK) mencapai 40-100%, produktivitas hanya 669,9 kg/ha/tahun. Upaya pengendalian dapat dilakukan melalui penggunaan cendawan antagonis Trichoderma dan peningkatan dosis pupuk Kalium. Penelitian bertujuan menguji efektivitas Trichoderma viride dan pupuk K dalam mengendalikan penyakit BBK. Penelitian dilakukan pada Januari sampai Desember 2019 di kebun kakao rakyat (Klon CSA 6) berumur 10 tahun dengan tanaman pelindung Gliricidia sp. Desa Suka Bandung, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan. Macam perlakuan yaitu fungisida Trichoderma viride, fungisida kimia (mancozeb), pupuk KCl 100 g/phn, dosis KCl 110 g/phn, dosis KCl 125 g/phn, Trichoderma + KCl 100 g/phn, Trichoderma + KCl 110 g/phn, Trichoderma + KCl 125 g/phn, fungisida kimia + KCl 100 g/phn, fungisida kimia + KCl 110 g/phn, fungisida kimia + KCl 125 g/phn, dan cara petani (tanpa fungisida + KCl 50 g/phn). Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas serangan terendah (7,79%), daya hambat penyakit tertinggi (68,84%), dan produksi biji kering mencapai 1.327,86 kg/ha/tahun (166,86%) diperoleh pada penggunaan Trichoderma viride dan pupuk KCl 125 g/pohon. Efektivitas fungisida Trichoderma viride tidak berbeda dibandingkan dengan fungisida kimia dalam mengendalikan penyakit BBK, dan makin tinggi dosis pupuk K, makin tinggi pula daya hambat terhadap penyakit.Kata Kunci: Busuk buah kakao, pengendalian, pupuk kalium, Trichoderma virideAbstractLosses due to cacao pod rot disease is varied from 40 to 100% leaving the productivity into 669.9 kg per ha per year. To control the disease, Trichoderma and potassium (K) fertilizer are used. The study aimed to test the effectiveness of Trichoderma viride and K fertilizer in controlling cocoa pod rot disease. The study was conducted from January to December 2019 in South Lampung Regency, by using cocoa clone of CSA 6 aged 10 years as plant material. The study used a randomized block design with 12 treatments and 3 replications. The treatment were Trichoderma viride fungicide, chemical fungicide (mancozeb), KCl fertilizer 100 g plant-1, KCl 110 g plant-1, KCl 125 g plant-1, Trichoderma + KCl 100 g plant-1, Trichoderma + KCl 110 g plant-1, Trichoderma + KCl 125 g plant-1, chemical fungicide + KCl 100 g plant-1, chemical fungicide + KCl 110 g plant-1, chemical fungicide + KCl 125 g plant-1, and farmer's method (no fungicide + KCl 50 g plant-1). The results showed that the lowest attack intensity (7.79%), the highest disease inhibition (68.84%), and production reached 1,327.86 kg per haper year (166.86%) was obtained in the combination treatment of Trichoderma viride + KCl 125 g plant-1. The effectiveness to control the disease on the treatment of Trichoderma viride was not different compared to chemical fungicides, and the higher applied dose of K fertilizer, the higher the inhibition against cacao pod rot disease.Keywords: Cocoa pod rot, control, Trichoderma viride, potassium fertilizer
Title: Pengendalian penyakit busuk buah kakao menggunakan Trichoderma dan pupuk Kalium
Description:
AbstrakKerugian akibat serangan penyakit busuk buah kakao (BBK) mencapai 40-100%, produktivitas hanya 669,9 kg/ha/tahun.
Upaya pengendalian dapat dilakukan melalui penggunaan cendawan antagonis Trichoderma dan peningkatan dosis pupuk Kalium.
Penelitian bertujuan menguji efektivitas Trichoderma viride dan pupuk K dalam mengendalikan penyakit BBK.
Penelitian dilakukan pada Januari sampai Desember 2019 di kebun kakao rakyat (Klon CSA 6) berumur 10 tahun dengan tanaman pelindung Gliricidia sp.
Desa Suka Bandung, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.
Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 12 perlakuan dan 3 ulangan.
Macam perlakuan yaitu fungisida Trichoderma viride, fungisida kimia (mancozeb), pupuk KCl 100 g/phn, dosis KCl 110 g/phn, dosis KCl 125 g/phn, Trichoderma + KCl 100 g/phn, Trichoderma + KCl 110 g/phn, Trichoderma + KCl 125 g/phn, fungisida kimia + KCl 100 g/phn, fungisida kimia + KCl 110 g/phn, fungisida kimia + KCl 125 g/phn, dan cara petani (tanpa fungisida + KCl 50 g/phn).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas serangan terendah (7,79%), daya hambat penyakit tertinggi (68,84%), dan produksi biji kering mencapai 1.
327,86 kg/ha/tahun (166,86%) diperoleh pada penggunaan Trichoderma viride dan pupuk KCl 125 g/pohon.
Efektivitas fungisida Trichoderma viride tidak berbeda dibandingkan dengan fungisida kimia dalam mengendalikan penyakit BBK, dan makin tinggi dosis pupuk K, makin tinggi pula daya hambat terhadap penyakit.
Kata Kunci: Busuk buah kakao, pengendalian, pupuk kalium, Trichoderma virideAbstractLosses due to cacao pod rot disease is varied from 40 to 100% leaving the productivity into 669.
9 kg per ha per year.
To control the disease, Trichoderma and potassium (K) fertilizer are used.
The study aimed to test the effectiveness of Trichoderma viride and K fertilizer in controlling cocoa pod rot disease.
The study was conducted from January to December 2019 in South Lampung Regency, by using cocoa clone of CSA 6 aged 10 years as plant material.
The study used a randomized block design with 12 treatments and 3 replications.
The treatment were Trichoderma viride fungicide, chemical fungicide (mancozeb), KCl fertilizer 100 g plant-1, KCl 110 g plant-1, KCl 125 g plant-1, Trichoderma + KCl 100 g plant-1, Trichoderma + KCl 110 g plant-1, Trichoderma + KCl 125 g plant-1, chemical fungicide + KCl 100 g plant-1, chemical fungicide + KCl 110 g plant-1, chemical fungicide + KCl 125 g plant-1, and farmer's method (no fungicide + KCl 50 g plant-1).
The results showed that the lowest attack intensity (7.
79%), the highest disease inhibition (68.
84%), and production reached 1,327.
86 kg per haper year (166.
86%) was obtained in the combination treatment of Trichoderma viride + KCl 125 g plant-1.
The effectiveness to control the disease on the treatment of Trichoderma viride was not different compared to chemical fungicides, and the higher applied dose of K fertilizer, the higher the inhibition against cacao pod rot disease.
Keywords: Cocoa pod rot, control, Trichoderma viride, potassium fertilizer.
Related Results
TINGKAT SERANGAN PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO (Phytophthora palmivora L.) DAN KEHILANGAN HASIL TANAMAN KAKAO DI KECAMATAN DARUL IHSAN KABUPATEN ACEH TIMUR
TINGKAT SERANGAN PENYAKIT BUSUK BUAH KAKAO (Phytophthora palmivora L.) DAN KEHILANGAN HASIL TANAMAN KAKAO DI KECAMATAN DARUL IHSAN KABUPATEN ACEH TIMUR
Indonesia merupakan salah satu satu negara pembudidaya tanaman kakao paling luas di dunia dan termasuk negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana, yakn...
Pengujian Lapangan Efikasi Fungisida Alami Phymar C SL Untuk Pengendalian Penyakit Busuk Buah dan Kanker Batang Pada Kakao di Kabupaten Luwu Utara
Pengujian Lapangan Efikasi Fungisida Alami Phymar C SL Untuk Pengendalian Penyakit Busuk Buah dan Kanker Batang Pada Kakao di Kabupaten Luwu Utara
Saat ini produktivitas kakao nasional masih cukup rendah hanya berkisar 600-800 kg/ha sementara potensi produksi dapat mencapai lebih dari 1 ton/ha. Salah satu penyebab turunnya pr...
PENGARUH DOSIS PUPUK PETROGANIK DAN KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SEMANGKA (Citrulus vulgaris SCARD)
PENGARUH DOSIS PUPUK PETROGANIK DAN KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SEMANGKA (Citrulus vulgaris SCARD)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk petroganik, dosis pupuk kalium dan interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil semangka. Penelitian ini dilakukan...
DAYA SAING EKSPOR KAKAO OLAHAN INDONESIA
DAYA SAING EKSPOR KAKAO OLAHAN INDONESIA
Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Sebagian besar kakao diekspor keluar negeri. Maka pemerintah menerapkan peraturan yang membatasi ekspor kakao. Menurun...
PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK KAKAO DI DESA SUNGAI LANGKA KABUPATEN PESAWARAN
PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK KAKAO DI DESA SUNGAI LANGKA KABUPATEN PESAWARAN
Agribisnis kakao di Kabupaten Pesawaran masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain rendahnya produktivitas kakao, mutu produk masih rendah, dan belum adanya nilai tamba...
DISERTASI (FERMENTASI BIJI KAKAO KERING TERKENDALI MENGGUNAKAN INOKULUM MIKROBIA)
DISERTASI (FERMENTASI BIJI KAKAO KERING TERKENDALI MENGGUNAKAN INOKULUM MIKROBIA)
Biji kakao kering ditingkat petani sebagian besar dihasilkan tanpa fermentasiyang mempunyai beberapa kelemahan diantaranya tidak menghasilkan prekursorflavour khas kakao. Upaya unt...
Analisis Pengaruh Produksi, Harga Dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Biji Kakao Indonesia Ke Belanda
Analisis Pengaruh Produksi, Harga Dan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Biji Kakao Indonesia Ke Belanda
Indonesia adalah salah satu produsen biji kakao terbesar di dunia. Kakao menjadi salah satu komoditi unggulan Indonesia yang di ekspor ke pasar internasional. Belanda menjadi salah...
The Isolation and Characterization of Antagonist Trichoderma spp. from the Soil of Abha, Saudi Arabia
The Isolation and Characterization of Antagonist Trichoderma spp. from the Soil of Abha, Saudi Arabia
Background: The genus Trichoderma is widely spread in the environment, mainly in soils. Trichoderma are filamentous fungi and are used in a wide range of fields to manage plant pat...

